❝ I keep my feelings that I care of you behind the hidden wings. I keep my affection from you into my prison. But, in the end; I keep all my secret about you into my blanket.
— Fai Sadra, 2022. From “Hidden Feelings.”

Jar Jar Binks Fan Club
🪼

Game Changer & Make Some Noise
YOU ARE THE REASON
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Lint Roller? I Barely Know Her
The Stonewall Inn
Show & Tell
he wasn't even looking at me and he found me
ojovivo
EXPECTATIONS
d e v o n

bliss lane
occasionally subtle

Andulka
h

ellievsbear
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH

seen from France
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from United States

seen from Italy

seen from Poland
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Mexico
seen from United States

seen from United States

seen from United States
@fjellatelie
❝ I keep my feelings that I care of you behind the hidden wings. I keep my affection from you into my prison. But, in the end; I keep all my secret about you into my blanket.
— Fai Sadra, 2022. From “Hidden Feelings.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
❝ Aku melangkah, berkelana Di antara para ancala Dengan atma tiada rupa Nan tak seindah sang aurora Aku bersinggah, hilangkan rasa Penatnya berkelana Mencari seutas asa Di antara lika-liku sang ancala Aku bertapa, tenangkan jiwa Di antara sang ancala Teta saja, tiada guna Luka ini, 'kan terus melanda
— Fai Sadra, 2022. Dari "Di Antara Sang Ancala."
❝ Bagaimana jika kita bertukar jiwa sejenak saja? Kau akan melihatnya, Bagaimana nestapa menggiling kepala, Bagaimana derita mencabik-cabik sukma, Bagaimana duka menghempas rasa, Hingga lautan luka melanda Dan asa... ... menjadi binasa.
— Fai Sadra, 2022. Dari "Jiwa nan Penuh Lara."
❝ Buang jauh sekuntum bunga Penyebab sukar di jiwa Lepaskan tali duka Nan kuat mengikat dada— Penyebab hidup sengsara Lupakan sejenak nestapa Membayang di kepala Ah, biarkan ku tertidur sejenak saja Dari segudang melankoli di jiwa Bak gerhana penyebab hati gelita Lihatlah, Bentang-bentang cakrawala, Bayang-bayang samudra, Tarian-tarian daun kelapa— Dalam diorama nidera Nan tiada penjara sukma Begitu indah, begitu cerah Apakah fantasi ini ‘kan terus menemani, Menjadi sang pelipur lara, lalu kekal abadi Tiada revolusi, bahkan berotasi— Selama ku pergi dan terus berlari Dari hayat nan penuh lautan luka ini? Ah, biarkan ku tertidur sejenak saja ‘Tuk hilangkan penat menahan perihnya luka Biarkan ku tertidur dengan cendera Hingga ku lupa akan perihnya dunia Jikalau duniaku ibarat laut biru— Tenang tapi tak bisu, namun tak jua pilu Jikalau hidupku ibarat pohon dedalu— Teduh tapi tak sayu, namun tak jua layu Jikalau bahagiaku adalah semu— Dengan leluasa ragaku mendayu Tanpa diselimuti awan kelabu Mungkin saja, Bayang-bayang awan sendu Pun tak perlu lagi menyelimuti kalbu Hingga ku merintih, tersedu-sedu— Akan perihnya irisan sembilu Ah, biarkan ku tertidur sejenak saja Dari hayat nan penuh gundah gulana Ku tak ingin pulang ke rimba lara
— Fai Sadra, 2022. Dari “Biarkan Ku Tertidur Sejenak Saja.”
En Beroligende Bjelle
“Ini adalah sebuah dongeng kecil di negeri utara Eropa. Dewa itu serba gelap. Memiliki tanduk bercabang layaknya Sang Rusa. Ia telah menghabiskan masa hidupnya untuk bersembunyi di balik kegelapan kahaf tepi pantai…. … dengan sebagian jiwanya yang hilang, dan tiada ketenangan.”
***
Bagi Sang Penjelajah, mengikuti haluan udara adalah bagian dari hidupnya.
Penjelajah itu bernama Lukas. Jika diperkirakan berdasarkan pergantian sang mentari, sudah hampir tiga tahun ia menghabiskan waktu untuk menjelajah setiap sudut Kepulauan Lofoten.
Pulau yang indah, baginya.
Ia pandangi setiap sisi pegunungan dan ladang nan begitu luas dan hijau, dengan udara yang begitu sejuk. Dan yang paling menarik dari tempat ini baginya adalah: tiada kata malam bagi sang cakrawala negeri ini. Sang surya terus menerus memancarkan cahayanya dan tetap abadi hingga pertengahan malam pun tiba. Dan tak lupa pula dengan para aurora yang menari di sekelilingnya.
Rasa kagum dalam dirinya perlahan bergejolak. Hingga air muka kebahagiaannya itu tercampur begitu sempurna dengan teriknya mentari dan tarian para aurora di bawah langit malam.
Hanya saja, di saat yang sama; entah mengapa ia merasa begitu lelah setelah perjalanan panjangnya ini dan membutuhkan tempat untuk istirahat.
“Wahai Sang Anemo… tuntunlah aku dengan anginmu,” gumam sang pengembara sembari menenteng sebuah lonceng bulat berwarna emas, lalu dengan perlahan ia mendentingkannya. “Kemanakah aku harus bersinggah untuk mengistirahatkan ragaku ini?”
***
Langkah kakinya terhenti di sebuah desa bernama Værøy. Desa itu tampak begitu sepi. Hampir tiada rumah di sekelilingnya.
Tidak ada rumah. Tiada tempat untuk bersinggah, pikir Lukas.
Ia pun mencoba memutar otak. Sembari berjalan dengan mengikuti haluan udara, ia tak sengaja menemukan sebuah pantai nan begitu luas.
Puinn Sand. Pantai yang tampak begitu indah menurut Lukas. Dikelilingi perbukitan nan diselimuti salju tipis, meski saat ini bukanlah musim dingin. Di saat itu juga, ia menemukan sebuah lubang besar—yang kemungkinan adalah kahaf—tepat di kaki bukit.
“Aku menemukannya,” gumam penjelajah itu dengan hati yang cukup tenang. “Mungkin, aku bisa melepaskan rasa penatku di gua ini untuk sementara waktu.”
Lukas—sebagai sang penjelajah, yang notabene tidak masalah jika ia tidur atau bersinggah di mana saja—memutuskan untuk bersinggah di kahaf itu. Setidaknya untuk satu malam saja.
Hanya saja, ketika ia mencoba memasuki kahaf itu….
“… sepasang cabang pohon?”
Melihatnya saja sudah membuat Lukas tersentak.
“… bukan,” gumamnya dengan rasa tak menyangka. “Manusia…? Bertanduk rusa…?”
Sosok manusia dengan tanduk layaknya rusa—yang sejak tadi duduk meringkuk di dalam kegelapan kahaf itu—menoleh ke arah pemuda berambut cokelat di hadapannya.
“… manusia tersesat lagi,” gumam manusia bertanduk rusa itu. Hal itu menimbulkan sebuah asumsi di benak seorang Lukas Hagen.
“Er du ikke et menneske?”
“Apakah di matamu aku terlihat seperti seorang manusia?”
Sungguh tak disangka. Lukas benar-benar tak menyangka dengan hal ini. Untuk pertama kalinya, ia bertemu dengan makhluk mitologi—yang sejauh ini, ia pikir itu hanyalah dongeng belaka. Meskipun ia percaya: tiada yang mustahil ada dan terjadi di dunia ini.
“Hai, manusia tersesat. Kalau kau tahu legenda Dewa Rusa atau Cervus sang Dewa Pelindung Jiwa, akulah wujudnya.”
Mendengarnya saja sudah membuat Lukas tersentak. Di sisi lain, ia merasa dirinya masih sedang bermimpi, sebab ia telah bertemu dengan Sang Dewa Rusa. Tetapi, entah mengapa ia teringat sesuatu.
Sebuah dongeng kecil dari sang Ibu. Ia masih ingat, ibunya pernah menceritakan sebuah dongeng tragis—yang mungkin—ada hubungannya dengan Sang Dewa yang tinggal di kahaf ini.
“… Sang Dewa adalah Cervus. Sang Pelindung Jiwa.” Lebih dari enam ribu tahun Sang Dewa hidup di tepi pantai negeri utara. Meski Sang Dewa tampak gelap, ia bagaikan payung teduh. Cervus, Sang Dewa Pelindung Jiwa yang sungguh tenang. Sang Dewa selalu menyelamatkan jiwa para manusia yang tersesat. Tetapi saat itu, Sang Dewa dipertemukan dengan seorang manusia. Manusia yang sungguh tersesat. Tanpa arah. Tanpa harapan hidup. Sang Dewa berpikir bahwa ia bisa menyelamatkanmanusia berparas indah dan berjiwa suci itu. Hanya saja, Sang Dewa gagal menyelamatkannya. Jiwa manusia itu telah tenggelam dalam genggaman samudra,lalu tak pernah kembali lagi di mata Sang Dewa. Sang Dewa terpuruk. Ia kehilangan separuh jiwanya. Ia gagal menjadi Sang Dewa Pelindung Jiwa. Hingga akhirnya, Sang Dewa menutup diri dan bersembunyi di balik kegelapan kahaf selama lebih dari dua ribu tahun….… lalu tak pernah menunjukkan dirinya lagi di hadapan dunia nan fana.”
Mengingat hal itu, Lukas sungguh penasaran. Ia ingin memastikan bahwa dongeng itu ada hubungannya dengan keberadaan dewa di hadapannya saat ini dengan sebongkah pertanyaan kritis.
“Apakah kahaf ini memang singgasana Engkau, Wahai Sang Dewa—”
“—panggil saja aku Cervus,” jawabnya dengan nada begitu datar.
“Baiklah, Cervus,” ucap Lukas dengan nada santai, meski terdengar tidak etis. “Apa kahaf ini merupakan singgasana Engkau?”
“Seperti yang kau lihat,” jawab Cervus dan mengangguk pelan. “Tetapi, maaf jika aku tak bisa menerima lagi manusia tersesat yang ingin berteduh di kahaf ini.”
Mendengar itu, Lukas tersentak.
“Engkau tahu betul tujuanku di kahaf ini,” ucapnya sembari tertawa kecil, lalu meneruskan pertanyaannya. “Tetapi, mengapa Engkau tak bisa menerimaku untuk berteduh di kahaf ini … setidaknya sejenak saja?”
Jika Cervus mengikuti instingnya, ia ingin menerima pemuda berambut cokelat di hadapannya itu untuk berteduh di singgasananya. Hanya saja,
“Karena aku … gagal menjadi Sang Dewa Pelindung Jiwa.”
Oh. Jawaban itu. Sama seperti di dalam dongeng itu, batin Lukas.
Jawaban Cervus tak hanya sampai di situ. Ia lanjut menjelaskannya lagi mengapa ia tak bisa menerima manusia tersesat di hadapannya itu.
“Aku tak ingin jiwamu hanyut lagi dalam dekapan samudra sebab kegagalanku untuk kedua kalinya….”
Entah mengapa, tiada angin tiada hujan, gelak tawa terlontarkan dari mulut Lukas. Membuat Cervus merasa tidak nyaman—tidak, Sang Dewa Rusa justru merasa kesal.
“Tidak etis. Kau hanya manusia, tetapi kau tertawa di hadapanku—Sang Dewa.”
“Habisnya, ini pertama kalinya aku menemukan sosok dewa yang berbeda dari filosofi dewa yang kuketahui selama hidupku,” ujar Lukas masih tertawa. “Dewa yang unik.”
“Oh, maafkan aku. Aku lupa memperkenalkan diri kepada Engkau,” ucap pemuda berambut cokelat itu sembari tersenyum lembut. “Namaku Lukas. Lukas Hagen, dari Oslo. Hanya seorang penjelajah biasa yang hendak menikmati indahnya ciptaan Tuhan.”
Cervus tersentak mendengar ucapan itu. Jarang-jarang ia menemukan sosok manusia yang tak jauh dari definisi mentari. Ia begitu bercahaya. Sudah begitu, terik pula. Manusia yang sungguh ceria.
Cervus sudah begitu pasrah menghadapi pemuda berambut cokelat di hadapannya itu. Ia tak tahan dengan air muka keceriaan itu, lalu membiarkan pemuda itu bertindak sesuka hati. Dan secara tidak langsung, Sang Dewa Rusa membiarkan pemuda itu untuk bersinggah sementara di kahafnya.
***
Selama Sang Dewa Rusa bersemayam di kahaf ini, yang ia rasakan adalah keheningan, kegelapan, atau mungkin hampa. Tetapi, sejak Lukas berada di kahaf ini, rasanya sungguh berbeda.
Pemuda itu … berbeda dari manusia-manusia tersesat yang pernah ia temui sebelumnya. Bukan tersesat, bukan pula tiada tujuan. Pemuda itu rela mengorbankan waktu, jiwa, dan raganya untuk menjelajah wilayah ini—hanya untuk menikmati indahnya ciptaan Tuhan. Bukan untuk mengakhiri hidupnya.
Sementara, Cervus masih merasakan ketakutan yang tak terbendung sejak kegagalannya saat itu. Ia kehilangan separuh jiwanya dan tidak menjadi payung teduh lagi. Bagi Sang Dewa Rusa, ia berbanding terbalik dengan manusia bernama Lukas itu. Ibarat siang dan malam. Bak cahaya dan bayangan di antara pepohonan. Sang Dewa begitu gelap, sementara Lukas sungguh bersinar—
“Omong-omong, aku akan melanjutkan perjalananku lagi.”
Seketika, ucapan dari sang penjelajah itu menghentikan pikiran-pikirannya. Hal itu membuatnya kaget bukan kepalang.
“Sekarang…?” tanya Cervus terkejut.
Lukas menghela napas. “Iya. Masih ada lagi keindahan dunia yang ingin kujelajahi. Maafkan aku jika ini terkesan mendadak….”
***
Masa terus berjalan, lalu berputar. Padahal, baru saja jiwanya merasa sedikit terisi berkat kehadiran Lukas sang penjelajah.
Jika Cervus boleh berkata jujur, ia merasa tidak tenang. Pemuda itu akan segera meninggalkan kahaf ini. Hampa? Mungkin saja. Cervus berpikir, tak semudah itu ia akan menemukan manusia secerah Lukas lagi. Menyakitkan.
Entah mengapa, Cervus tak ingin berpisah dengan pemuda berambut cokelat itu. Ia takut untuk merasakan hal yang sama seperti dulu lagi. Tetapi, Lukas menyodorkan sebuah lonceng bulat berwarna emas secara tiba-tiba di hadapan Sang Dewa Rusa.
“Untuk Cervus,” ucap Lukas sembari tersenyum lembut.
“Omong-omong, Cervus. Bagiku, Engkau tidaklah gagal menjadi Sang Dewa Pelindung Jiwa. Kau memberiku tempat untuk berteduh sejenak saja, itu sudah berarti bagiku,” lanjut Lukas dengan nada yang menenangkan. “Ini lonceng untuk Engkau. Sebagai rasa terima kasih Ibuku pernah bilang, jika kita mendentingkan lonceng ini, jiwa kita akan merasakan ketenangan. Jika Engkau merasa cemas karena kita harus berpisah, Engkau bisa mendentingkannya dengan khidmat. Terimalah ini.”
Lukas bergegas menenteng ransel miliknya, lalu berpamitan dengan Sang Dewa. Tepat di depan kahaf itu.
“Tusen takk, Cervus.”
***
“Sejak malam itu, tepat di bawah cakrawala negeri utara, dengan cahaya sang surya yang abadi,beserta tarian para aurora di sekelilingnya,Cervus, Sang Dewa Pelindung Jiwabangkit dari kegelapan, dengan “Lonceng Penenang Jiwa”.
Glosarium
☆ Lofoten adalah satu kepulauan kecil yang ada di Norwegia ☆ (Dalam bahasa Norwegia) Er du ikke et menneske=Apakah kau bukan manusia? ☆ (Dalam bahasa Norwegia) Tusen takk=Terima kasih banyak

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Dari Asmaraloka, untuk Sang Anggrek
Menjelang September 1983, tepatnya di sebuah kota nan berhawa dingin di Pulau Jawa.
Konon, ada seorang pemuda kurir surat yang terkenal dengan ketekunannya. Pemuda itu sungguh manis. Paduan warna rambut dan mata cokelatnya itu benar-benar tampak bagaikan madu. Ketika ia mengantarkan setiap surat yang masuk dalam Brievenbus di tengah kota, banyak warga yang terkesima dengannya.
Meski begitu, tidak ada yang tahu dari mana pemuda itu berasal dan di mana ia tinggal.
***
Saat itu, sang pemuda kurir surat bertugas di distrik Kota Lama. Pemuda itu bergegas mengantarkan surat-surat yang harus ia kirimkan, lalu memasukkannya ke setiap kotak pos tujuan.
Di saat yang bersamaan, ada satu kotak pos yang paling ia dambakan. Kotak pos itu merupakan kotak milik seorang penulis ternama bernama Shinta.
Ya. Pemuda itu … jatuh cinta kepada Shinta.
Sebenarnya, pemuda itu sudah lama saling kenal dengan Shinta selama setahun terakhir. Dan sudah setahun juga ia memiliki rasa kepada wanita itu. Hanya saja, sang pemuda tidak pernah sama sekali mengungkapkan perasaannya kepada wanita bernama Shinta itu.
Sang pemuda kurir surat teringat setiap senyum manis yang dipancarkan paras indah wanita itu—ketika sang wanita menitipkan setiap surat miliknya kepada pemuda itu. Sungguh, pemuda itu hampir tak sanggup melihat senyum manis itu. Tidak hanya itu saja; wanita itu selalu memberi perhatian kepadanya.
Rasanya, pemuda itu ingin mengungkapkan perasaannya kepada sang penulis berparas indah bernama Shinta. Hanya saja, ia terlalu kikuk untuk memberi perhatian secara langsung kepada wanita itu. Bahkan, untuk mengungkapkan rasa cinta saja sungguh sulit baginya.
Hingga akhirnya, timbul sebuah ide dari pikiran pemuda kurir surat itu. Ia bergegas menuliskan sebuah ungkapan hatinya melalui sepucuk surat.
❝ Halo, Shinta. Perkenalkan, namaku Asmaraloka. Kuharap kau baik-baik saja dan sehat selalu. Sebelumnya, maafkan aku jika aku menuliskan surat ini kepadamu. Jikalau aku boleh berkata jujur, aku memiliki rasa kepadamu. Kau bagaikan Anggrek nan begitu indah. Hanya saja, aku terlalu takut untuk mengungkapkannya kepadamu secara langsung. Dan aku, merasa bahwa dinding di antara kita terlalu kuat. Aku memang bukan pribadi yang percaya diri. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk menarik perhatianmu. Tetapi, kau telah memberiku perhatian—yang entah mengapa rasanya sungguh hangat. Aku menyukainya. Terima kasih telah mengajarkanku apa arti cinta, Shinta. Maka dari itu, aku hanya bisa mengungkapkan perasaanku melalui secarik kertas ini. Tetapi, aku harap, aku bisa bertemu denganmu lagi; melihat senyum indah nan bagaikan anggrek itu. Tertanda, Asmaraloka.
Pemuda itu memasukkan surat itu pada sebuah amplop berwarna cokelat. Di bagian amplop itu, ia menempelkan sebuah prangko edisi anggrek pada sisi kanan atasnya, seolah-olah surat itu mirip dengan surat-surat dari sahabat pena pada umumnya.
Pemuda itu sengaja memilih prangko bergambar anggrek sebagai tanda cinta kepada wanita itu. Ia juga sengaja tidak memberi cap pos pada bagian amplopnya, dengan harapan sang wanita bernama Shinta dapat menebak siapa pengirim surat itu.
***
Esoknya, pemuda itu bertugas dan segera mengambil kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang diidamkannya; sembari membawa sepucuk surat ungkapan hatinya.
Pemuda itu membunyikan lonceng pertanda sepucuk surat telah tiba di tujuan. Membuat sang pemilik rumah bergegas keluar menuju kotak pos yang terletak di sudut kiri gerbang rumahnya, hingga pemuda itu berpapasan dengan wanita yang diidamkannya.
“Permisi,” sapa sang pemuda kurir dengan nada sedikit bergetar.
“Ah, Kak Kurir!” ucap Shinta dengan nada yang begitu ceria. “Bagaimana kabar Kakak?”
“Cukup baik…” jawab sang pemuda kurir surat terbata-bata. “Omong-omong… ini surat untukmu.”
Pemuda itu memberikan sepucuk surat—yang bersampulkan amplop cokelat dengan secarik prangko edisi anggrek—kepada Shinta. Sejujurnya, Shinta merasa tak menyangka ada surat yang datang hari ini. Sudah begitu, tidak ada cap dari pihak pos sama sekali. Tetapi, Shinta tetap menerima sepucuk surat itu dengan air muka kebahagiaan.
“Untukku?” tanya Shinta. “Wah, terima kasih banyak, Kak Kurir!”
Senyum ceria—nan bagaikan mentari di pagi hari—itu terpancar dari paras indah Shinta setelah menerima sepucuk surat itu. Benar-benar membuat pemuda kurir surat itu mendadak kikuk; parasnya menjadi merah merona setelah melihat senyum manis wanita itu.
Pemuda itu mengangguk pelan, menundukkan pandangannya. Wanita bernama Shinta itu pun masuk ke perkarangan rumahnya sembari memegang sepucuk surat yang diterimanya.
Debar jantung pemuda itu semakin bergejolak setelah melihat paras manis sang wanita. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan wanita itu lagi untuk kesekian kalinya.
Pemuda itu mencoba melihat dari kejauhan gerbang rumah wanita itu sekali lagi. Sepucuk surat dari sang pemuda kurir surat benar-benar dibaca wanita itu. Ia melihatnya dengan jelas bahwa Shinta tersenyum bahagia sembari memandang kotak pos—tempat mereka bertatap muka. Seolah-olah wanita itu juga memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Tiada angin tiada hujan, air mata mengalir dari paras manis sang pemuda kurir surat.
Meski ia mengirimkan surat cinta kepada wanita itu, baik sekali maupun berkali-kali; sang pemuda kurir surat tersadar akan suatu hal.
Mereka tetaplah tak dapat bersatu. Bagaimanapun itu.
Wanita itu hanyalah seorang manusia. Sementara, pemuda itu hanyalah wujud jiwa yang tak tenang dan hanya bisa mencintai wanita itu dalam sepucuk surat.
[]
Glosarium
☆ Brievenbus: Kotak pos (dalam bahasa Belanda). Brievenbus merupakan kotak pos besar yang ada sejak penjajahan Belanda. ☆ Prangko edisi anggrek yang digunakan sang pemuda kurir merupakan Prangko Republik Indonesia seri Anggrek, keluaran 10 Desember 1980.
Seutas Melankolia di Antara Petrikor
Malang, 1983. Beserta petrikor yang khas.
Rintik hujan telah membuat sekitaran Stasiun Malang menjadi basah kuyup. Bahkan pohon hujan nan tumbuh di seberangnya pun turut menitikkan air dari dedaunannya.
Sang kucing kembang telon sejak tadi memandang langit kelabu yang tampak begitu kelam, lalu mengendus aroma hujan itu dengan khusyuk. Di antara petrikor yang khas itu, ada satu aroma yang membuatnya cukup gelisah.
“Sendu,” ucap sang kucing sembari mengendus hawa hujan di kala itu.
“Hari ini begitu kelam, ya?”
Tiada tanda-tanda, sudah ada seorang wanita duduk di sebelahnya. Tersenyum lembut di hadapan sang kucing. Ia berteduh sembari menunggu hentinya rintik hujan, layaknya beberapa manusia yang biasa ditemui sang kucing.
Sang kucing menoleh ke sampingnya. Wanita berkulit sawo matang itu mengenakan selampai berwarna merah. Rambut ikalnya terurai dengan indah. Dengan warna cokelat tua pada kedua rambut dan matanya, sang kucing mengibaratkan wanita itu seperti madu. Sungguh manis, bercahaya. Sudah begitu, wanita itu sungguh murah senyum. Tak tampak seperti ada masalah hidup.
Hanya saja, perawakan wanita itu seperti ada yang janggal. Penuh luka lebam. Mengenakan perekat luka. Ia tampak babak belur.
Wanita itu memandang setiap titik air yang turun dari langit kelabu. Ia menghela napas begitu berat. Sang kucing merasakan hawa janggal itu hanya dari helaan napasnya. Merasa penasaran, sang kucing memperhatikan wanita itu.
“Bahkan langit hari ini pun sama kelamnya dengan hari-hariku,” ucap wanita itu sembari tertawa renyah. Membuat benak sang kucing terketuk.
“Sama kelamnya dengan hari-harimu?” tanya sang kucing merasa penasaran. Mendengar itu, sang wanita sedikit tercengang.
“Oh. Kau bisa bicara layaknya manusia?”
“Ah, ketahuan,” ucap sang kucing pelan.
Wanita itu tertawa kecil. “Tidak mengherankan jika ada kucing ajaib yang hidup di sekitar sini. Lagi pula, sudah banyak hal magis yang terjadi di kota ini bagiku.”
Wanita itu tak merasa takut sama sekali dengan keberadaan sang kucing. Ia justru tampak santai setelah bertemu dengan kucing kembang telon di sampingnya. Setidaknya, beban di kalbunya seperti berkurang satu kilogram—usai bercengkrama dengan seekor kucing yang mampu bicara layaknya manusia itu.
Wanita itu mulai angkat bicara.
“Kalau dipikir-pikir, hidup menjadi seekor kucing cukup enak, ya. Bisa bergerak bebas tanpa merasa terkekang.”
Wanita itu tersenyum tipis. Hanya saja, entah mengapa sang kucing merasakan hawa ironi nan begitu kuat dari air mukanya.
Ia bersandar di batang pohon hujan tua nan besar itu. Memejamkan matanya sejenak, lalu lanjut bercerita dengan sang kucing.
“Ah, andai aku terlahir menjadi seekor kucing.…”
Sang kucing mendengarnya. Tetapi ia tak ingin menanyakan alasan sang wanita yang tengah berandai untuk hidup seperti kucing.
“Hei, kucing. Omong-omong, mengapa hidup ini begitu kelam, ya?” ujar wanita itu beserta tawa mirisnya. “Seperti hidupku. Tak luput dari tragedi. Banyak hal buruk yang terjadi padaku.”
Sang kucing mendengarkannya. Ia mencoba mendekati wanita itu hingga jarak mereka tak sampai sejengkal.
Ia melihat begitu banyak luka lebam pada paras manis wanita itu. Tetapi, wanita itu tetap bersikap seolah-olah ia sedang baik-baik saja.
“Lukamu itu…” gumam sang kucing.
“Ah, kau menyadarinya?” ucap wanita itu sembari menyentuh luka lebam di pipinya. “Tentu saja. Ini adalah salah satunya.”
Wanita itu mulai bercerita bagaimana ia bisa mendapatkan luka lebam di tubuhnya.
“Dulu, kondisi keluargaku baik-baik saja. Hanya saja, sejak ibuku meninggal, sikap ayahku berubah menjadi tak seperti biasanya. Beliau begitu kasar kepadaku,” lanjut sang wanita bercerita. “Beliau tak segan-segan melayangkan tangannya kepadaku jika aku membuat kesalahan sepele saja. Tetapi, tenang saja. Itu bukan masalah besar. Salahku juga karena tak bisa membuat hatinya senang.”
‘Bukan masalah besar’ katanya? batin sang kucing.
Sang wanita melanjutkan ceritanya. “Saudaraku juga demikian. Aku pikir, aku bisa berkeluh kesah dengan mereka. Tetapi, ketika aku mencoba mengungkapkan perasaanku bahwa aku lelah menghadapi hidup seperti ini, mereka justru menjawab “Semua orang juga lelah.” Menyakitkan memang, namun batinku tertahan untuk melawannya. Sejak itu, aku memutuskan untuk menjauh dari keluarga dan merantau ke kota ini. Aku pikir, aku akan baik-baik saja jika berada di sini. Bertemu teman-teman baru, lingkungan baru….”
Sang kucing melihat perubahan air muka wanita itu. Semakin kelam. Bahkan, ia merasakan hawa sendu yang begitu kuat dari sang wanita.
“Meskipun…” lanjut wanita itu dengan nada pelan. “Aku merasa batinku seperti di penjara. Aku bahkan merasa tertekan untuk bercerita tentang diriku kepada orang-orang sekitar, hingga akhirnya aku menjadi pribadi yang tertutup.”
Lagi-lagi, senyum penuh ironi dari paras manis wanita itu. Melihatnya saja sudah menyesakkan dada sang kucing.
“Ah, maafkan aku,” ucap wanita itu terbata-bata, menyadari reaksi sang kucing yang tampak begitu khawatir dengannya. “Aku malah jadi berkeluh kesah denganmu, ya?”
“Tidak apa-apa,” ucap sang kucing sembari menggelengkan kepala.
***
Dengan perlahan rintik hujan itu tiada mengguyur kota ini lagi.
Wanita itu beranjak dari tempat ia berteduh, lalu bersiap-siap meninggalkan pohon hujan itu beserta sang kucing kembang telon di sampingnya. Melihat itu, sang kucing penasaran.
“Kau mau ke mana?”
“Pulang ke asrama,” jawab wanita itu sembari tersenyum lembut.
Sejujurnya, sang kucing merasa khawatir dengan kondisi wanita itu. Tetapi, wanita itu tetap tersenyum seolah-olah tanpa masalah hidup.
Wanita itu mengulurkan tangannya, kemudian mengusap kepala sang kucing dengan lembut. “Tenang saja, aku tidak apa-apa. Omong-omong, terima kasih untuk hari ini. Sampai ketemu di lain waktu, wahai kucing.”
Ia pun melambaikan tangannya, lalu pergi meninggalkan sang kucing.
Wanita itu penuh tanda tanya. Itulah yang dipikirkan sang kucing. Bagaimana ia bisa tetap tersenyum dan berkata “tidak apa-apa”, meski luka lebam di sekujur tubuhnya tampak begitu mengkhawatirkan?
Tampak sepucuk surat nan dilekatkan sebuah prangko bergambar lambang Provinsi Sulawesi Utara tepat di belakang sang kucing. Hanya saja, prangko itu tidak diberi cap basah petanda surat akan dikirimkan ke alamat tujuan. Pada sisi belakang amplop itu, terdapat sebuah kalimat berbahasa Belanda yang ditulis dengan tegak bersambung. Sang kucing yakin, surat itu pasti milik wanita yang mengajaknya bercengkrama tadi menjelang hujan berhenti.
Sang kucing ingin mengembalikannya, namun instingnya berkata bahwa ia harus membaca apa yang dituliskan sang wanita pada surat itu.
Een gedicht voor jullie die mijn ware gevoelens willen weten, — Pingkan Alina Theresia Maramis.
Ia membuka perlahan isi amplop itu. Sebuah sajak tampak ditulis begitu indah dan kelam dalam waktu bersamaan pada secarik kertas putih nan kusam. Sang kucing membaca sajak itu dengan begitu khusyuk tepat di bawah pohon hujan nan rindang singgasananya.
❝ Gelap. Begitu gelap. Beribu duka melahap. Membuat jiwaku terperangkap dan terengap-engap; dalam gumpalan asap penyebab hati senyap— nan begitu kuat mendekap. Meski begitu, ku tak dapat berucap seutas pun kata harap.
Entah mengapa, hati sang kucing terasa begitu panas.
Satu per satu, air mata menitik dari sepasang matanya nan bagaikan langit biru itu.
Ia hanyalah seekor kucing yang hidup tiga ratus tahun lebih tua dari wanita itu. Tetapi, mengapa hatinya merasakan tekanan yang sama dengan wanita itu?
Benar-benar tertekan. Bagai hidup di penjara bawah laut.
Sang kucing pun memasukkan kembali kertas nan berisikan sajak itu pada amplopnya. Ia pun bergumam dalam batinnya,
Teruntuk kau yang sedari tadi tetap tersenyum di hadapanku, tepat di bawah pohon hujan ini;
Sungguh… apa kau tidak sadar, bahwa kau sebenarnya tengah tidak baik-baik saja?
[]
Glosarium
☆ Prangko Republik Indonesia, seri lambang provinsi Sulawesi Utara. Nominal 100 Rupiah. Perforasi 12½. Dikeluarkan pada 28 Juli 1982. ☆ Een gedicht voor jullie die mijn ware gevoelens willen weten=Sebuah sajak untuk kau yang ingin tahu perasaanku yang sebenarnya.
❝ Di dunia ini, tidak ada yang tidak mungkin. Jika dunia ini saling berdampingan, bisa jadi adalah benar. Namun, apakah itu baik atau bukan, selagi sejarah hidup tidak berubah, itu bukanlah sebuah masalah besar.
— Mikazuki Abe, 1998. Dari "Mikazuki dan Kotak Pos di Asakusa."
Svanepostkasse dan Sajak untuk Tuhan
Norwegia, 1970.
Pada masa itu, kemajuan peradaban telah mengubah kepercayaan masyarakat Norwegia akan keberadaan makhluk mitologi beserta legendanya.
Tetapi, tidak dengan orang-orang yang tinggal di Desa Fjell.
Ada sebuah mitos yang dipercaya penduduk Desa Fjell tentang Danau Kolavatnet kala itu. Konon, ada seorang pemuda serbaputih yang muncul pada matahari terbenam sembari membawa kotak pos berwarna merah. Pemuda itu begitu tampan. Dengan warna rambut putih keemasan dan mata berwarna biru terang itu, ia tampak elegan saat mengambang dan mengepakkan sepasang sayap putihnya itu. Bak seekor angsa yang tengah menikmati indahnya pemandangan senja di perairan Kolavatnet.
Pemuda itu dipercaya dapat mengirimkan sepucuk surat secara magis—harapan-harapan yang dituliskan para pengirim pun dapat terkabul hingga ke tujuan. Tidak sedikit penduduk Desa Fjell yang menitipkan suratnya kepada pemuda itu. Mereka cukup memberikan suratnya kepadanya, lalu ia akan mengabulkan surat-surat itu melalui sebuah kotak pos magis miliknya.
Pemuda itu adalah Cygni; bersama kotak pos magisnya itu,
Svanepostkasse.
“Permisi, Tuan Cygni.”
Gadis berambut pirang—yang diduga adalah kliennya itu—mendekat ke tepian danau dan tersenyum lebar kepadanya. Senyuman itu membuat hati Cygni begitu tenang.
“Senyumanmu tampak berkilau. Ada kabar bahagia yang terjadi padamu, gadis cantik?” tanya Cygni tersenyum lembut.
“Mengenai surat yang kutitipkan pada minggu lalu, aku sangat berterima kasih kepadamu,” jawab gadis itu dengan penuh semangat. “Akhirnya aku berpacaran dengan pemuda yang pernah kuceritakan padamu saat itu!”
Cygni memperhatikan senyum manis yang terpancar dari paras cantik sang klien. Ia turut bahagia mendengar kabar dari gadis berambut pirang itu.
“Senang mendengar kabar indah darimu, gadis cantik. Semoga bahagia hingga masa tua mendatang.”
Cygni membelai rambut gadis itu dengan lembut. Sang gadis tersipu usai mendengar ucapan Cygni. Namun, ia senang bisa berbagi cerita dengan sang penjaga Svanepostkasse.
“Terima kasih banyak, Tuan Cygni!”
Gadis itu beranjak dari tepi danau Kolavatnet, lalu pamit kepada Cygni untuk kembali ke rumah. Ia melambaikan tangannya dari kejauhan sembari tersenyum—yang menurut Cygni tampak berkilau baginya.
***
Matahari perlahan menghilang dari langit senja.
Bayang-bayang aurora pun mulai terlukis dengan indah di sepanjang langit Desa Fjell.
Hari ini, tak begitu banyak orang yang datang mengunjunginya. Cygni mengambil kesempatan itu untuk beristirahat sejenak. Ia melipat sayapnya kembali dan perlahan menutup matanya, hanya saja—
“Svanemann…?”
Perjalanan tidur singkatnya tertunda usai mendengar sapaan itu. Dengan perlahan ia membuka matanya, mengembangkan sayap putihnya itu dengan elegan, lalu menoleh ke arah sumber suara baru saja.
Seorang pemuda berambut pirang sudah berdiri di tepi danau Kolavatnet—tepat di hadapan Cygni—sejak tadi.
Pemuda itu sungguh menawan. Rambutnya yang lurus itu tampak begitu indah. Poninya itu hampir menutup sebagian matanya yang berwarna merah—tak jauh dengan warna buah persik.
Hanya saja, aura pemuda itu terasa begitu hampa—menurut Cygni.
“Apa kau… svanemann yang banyak dibicarakan warga desa ini?”
Pemuda itu menatap Cygni begitu dalam. Mencoba memastikan kebenaran yang ingin ia temukan. Sementara itu, Cygni menduga—mungkin, pemuda albino ini memang sejak awal ingin bertemu dengannya.
“Mungkin kau bertemu dengan orang yang tepat.”
Cygni menyambut pemuda albino itu dengan sekali kepakan sayapnya. Membuat bulu-bulu dari sayapnya yang indah itu berterbangan di sekitar perairan. Pemandangan itu berhasil memukau pemuda tampan di hadapannya saat ini.
Pemuda itu masih ragu. Ia ingin memastikan pemuda bersayap itu lagi dengan pertanyaan lain.
“Kotak pos di belakangmu itu… apakah Svanepostkasse… yang bisa mengabulkan surat dengan kekuatan magis?”
“Tepat sekali,” jawab Cygni dengan ramah. “Selamat datang di Svanepostkasse. Ada yang bisa kubantu?”
Pemuda albino itu tercengang. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan legenda kotak pos magis di Danau Kolavatnet—yang banyak dipercaya penduduk Desa Fjell—di malam yang tenang ini.
Ia pun mencari posisi duduk di tepi danau dan mengeluarkan sepucuk surat—yang bersampulkan amplop berwarna putih—dari tas kecil berwarna cokelat miliknya, lalu ia berikan surat itu kepada sang penjaga Svanepostkasse.
“Aku… ingin kau mengirimkan surat ini untukku.”
Cygni menerima surat itu darinya. Ia melihat sebuah tulisan pada bagian belakang amplop berwarna putih itu dengan cermat. Membuatnya tercengang.
“Dari Theo Bjørk… untuk Tuhan?”
Pemuda albino itu mengangguk. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Namun, pemuda itu tampak menaruh harapan besar kepadanya.
Kalau Cygni boleh berkata jujur, ia ingin membantunya. Tetapi, ia tak bisa mengabulkan permintaan kliennya itu.
“Mungkin kau akan kecewa…” ucap Cygni pelan. “Tetapi, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa mengantarkan surat ini kepada Tuhan.”
Cygni melihatnya. Senyum penuh ironi itu tergambar dengan jelas pada paras indah pemuda albino di hadapannya.
“Aku sudah tahu itu…” ucap pemuda albino itu dengan lirih. “Sungguh hal yang mustahil jika aku bisa mengirimkan surat ini kepada Tuhan.”
Tawa kecil pemuda albino itu terdengar begitu renyah. Rasa bersalah pada diri Cygni pun semakin bergejolak.
“Jeg beklager så mye,” ucap Cygni pelan.
“Tidak apa-apa,” kata pemuda albino itu setelah tersenyum miris di hadapannya. “Hanya saja… aku berharap bisa mengakhiri hidupku dengan cara ini.”
Mendengar itu, sang penjaga Svanepostkasse kaget bukan kepalang. Ia merasakan suasana hatinya perlahan kaku dan mencekam.
Kendati demikian, ia tetap menjaga sikap tenangnya itu—seperti biasa—di hadapan kliennya.
“… mengakhiri hidupmu?”
“Ya.” Pemuda albino itu menundukkan kepalanya. “Sebenarnya, aku bukan penduduk desa ini. Aku pindah dari Trondheim. Namun, ibuku—keluargaku satu-satunya—sudah meninggal. Dan aku bertahun-tahun hidup dalam kesendirian. Tak ada yang sudi menerimaku, karena ibuku seorang pelacur. Hanya saja, aku sudah lelah hidup seperti ini. Aku ingin mengakhiri hidupku, tetapi aku tak ingin menyakiti diriku.”
Pemuda albino itu tersenyum miris, lalu melanjutkan ceritanya dengan tatapan kosong. “Aku dengar dari beberapa warga kalau kau bisa mengabulkan harapan dari surat. Aku pikir, aku bisa meminta kepada Tuhan untuk mengakhiri hidupku melalui sebuah sajak.”
Mendengar itu, Cygni semakin penasaran.
“… sebuah sajak?”
“Aku menulis sajak pada surat itu.”
Rasanya, ia ingin sekali melihat seluruh isi surat yang ia pegang saat ini. Namun, tak baik baginya jika ia membaca surat ini tanpa seizin pemuda albino itu.
“Apa kau berkenan jika aku membaca surat ini?”
Pemuda albino itu hanya mengangguk, lalu Cygni mengeluarkan isi surat itu dari amplopnya.
Tampak sekuntum sajak tertulis dengan indah pada surat itu. Cygni membacanya dengan serius.
❝ Ku pergi ke pegunungan, Di kegelapan malam. Membawa jiwaku, Dan harapan terakhirku.
Ku duduk di antara pegunungan, Menerbangkan suratku. “Bawalah jiwaku,” Dari hidupku.
Terima kasih, kesunyian ini. Terima kasih, duka ini. Biarkan ku menutup mata, Tentang hidup ini.
Cygni merasakan dirinya seolah-olah tengah digiling dan dicabik-cabik setelah membaca sajak yang ditulis pemuda albino itu. Ya, ia merasakan hal yang sama dengan pemuda itu.
Kesepian.
Ia turut berkaca pada dirinya yang sudah hampir seabad ini menjadi penjaga Svanepostkasse di Danau Kolavatnet. Hidup dalam kesunyian. Tidak memiliki keluarga. Hanya ditemani oleh sebuah kotak pos magis berwarna merah itu.
Hanya saja, Cygni tak ingin berlarut dalam duka.
Ia melipat surat itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Mencoba mencari cara untuk membantu pemuda albino itu. Setidaknya, ia ingin pemuda itu tetap hidup.
Cygni bergegas mengambil pena dan secarik kertas dari jubahnya. Menulis ungkapan untuk pemuda albino itu. Ia melipat surat yang ditulisnya tadi menjadi seperti amplop, lalu memasukkannya ke dalam kotak pos magis itu. Membuat pemuda albino itu menjadi penasaran.
“Apa yang sedang kau lakukan—”
Sepucuk surat tergeletak secara tiba-tiba di samping pemuda albino itu. Ia pun tercengang melihatnya.
“Bacalah,” ucap Cygni pelan. “Untukmu, dariku.”
Pemuda albino itu menyipitkan matanya, lalu membaca surat itu dengan penuh keraguan.
❝ Dari Cygni, untuk Theo Bjørk.
Sajakmu telah mengingatkan perasaanku yang sebenarnya. Diselimuti rasa sepi itu melelahkan, ya? Aku rasa, aku paham perasaanmu. Karena aku pun juga demikian.
Tetapi, bagiamana jika kau tetap bertahan? Kau tak akan sendiri lagi. Kau bisa mencurahkan isi hati bersamaku. Berbagi rasa bersamaku. Bersandar padaku. Aku siap menjadi temanmu, dan jadilah teman pertamaku dalam hidup ini.
Perlahan air mata mengalir dan membasahi paras tampan pemuda albino itu. Tangisan itu bukanlah sebuah pertanda kekecewaan. Ia justru terharu dengan ungkapan perasaan sang penjaga Svanepostkasse pada surat itu.
Ia tak menyangka hal ini terjadi. Ia menemukan sosok yang nyaris ia lupakan sejauh ini: teman. Setelah bertahun-tahun hidup dalam kesendirian dan dikucilkan, ia terlarut dalam rasa putus asa hingga lupa untuk berteman.
Pemuda albino itu melihat sang penjaga Svanepostkasse tersenyum lembut di hadapannya. Senyuman itu begitu tulus baginya. Entah mengapa, ia tak meragukannya.
Malam itu, tepat di Danau Kolavatnet.
Untuk pertama kalinya sang penjaga Svanepostkasse itu menjalin pertemanan dengan seorang manusia; disaksikan oleh indahnya aurora yang tengah menari di langit Desa Fjell.
[]
Glosarium
☆ Desa Fjell: Nama desa yang terletak di sekitar Semenanjung Bergen, Norwegia. ☆ Svanepostkasse: Berasal dari bahasa Norwegia; kotak pos angsa. ☆ Svanemann: Manusia angsa. ☆ Jeg beklager så mye: Saya benar-benar minta maaf.
❝ Ku pergi ke pegunungan, Di kegelapan malam. Membawa jiwaku, Dan harapan terakhirku. Ku duduk di antara pegunungan, Menerbangkan suratku. “Bawalah jiwaku,” Dari hidupku. Terima kasih, kesunyian ini. Terima kasih, duka ini. Biarkan ku menutup mata, Tentang hidup ini.
— Theo Bjørk, 1970. Dari "Svanepostkasse dan Sajak untuk Tuhan.”

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Salam Pembuka
Halo semuanya. Di sini Fai Sadra sudah lama tak bersua di Tumblr.
Kali ini, aku ingin mengarsipkan beberapa tulisanku—entah itu potongan cerita yang bisa dikatakan cukup random, cerita pendek, dan sajak—di sini dari FC2 Blog milikku supaya Tumblr ini berguna juga.
Harapanku, aku bisa lebih konsisten menulis walaupun writer's block menerjangku. Ha ha ha.
Tertanda, Fai Sadra.