“Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka.
Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!”
-Andrea Hirata dalam Edensor.
Ketika bercerita kepada teman kuliah tentang rencana perjalanan mengunjungi sebuah desa di Sheffield, England bernama Edensor (baca: “Ensor”, atau “Ensa” pengucapannya hampir mirip seperti: “answer”) kebanyakan dari mereka mengernyitkan dahi seraya mengatakan “What? Where is it?” atau bahkan memasang ekspresi tak percaya kalau ada desa bernama Edensor. Bahkan yang asli orang Scotland saja belum tentu tahu kalau kota itu exist. Ada.
Desa kecil ini memang ternyata tidak populer di telinga pribumi Britania Raya, tapi sangat menggema ketenarannya di kalangan orang-orang Indonesia. Thanks to Mas Andrea Hirata karena memiliki supervisor tesis yang pensiun dari Sorbonne dan pindah ke desa tersebut, hingga di akhir perjalanan studinya, terpaparlah mas Andrea dengan keindahan dan ‘keperawanan’ desa Edensor, yang akhirnya kecantikan desa itu tertuang menjadi cerita dan juga menjadi judul buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi yang fenomenal.
“Berjalan bermusafirlah melihat keagungan Allah..”
Perjalanan ke Edensor ini kami lakukan di sela-sela summer thesis dan summer course saat master, pada 31 Juli-1 Agustus 2015 lalu. Sebagai mahasiswa dan new parents, jalan-jalan jadi obat tersendiri yang bisa melapangkan hati dan pikiran. Tentunya, sambil melihat dan menyelami keagungan Allah di bumiNya yang maha luas.
Menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam 30 menit dengan 2 kali transit pindah kereta dari Glasgow Central Station ke Sheffield Train Station. Tentunya itu harus ditambah perjalanan kereta 3 jam bagi saya dari Aberdeen ke Glasgow, tempat suami kuliah.
Perjalanan kereta malam yang untuk pertama kalinya benar-benar terasa panjang dan melelahkan karena sepanjang perjalanan kereta Neilan (saat itu berusia 3 bulan) menangis rewel tak bisa diam. Untuk bayi ukuran 3 bulan, total perjalanan dari Aberdeen sampai ke Sheffield yang menempuh hampir 9 jam sungguh sangat melelahkan. Hasilnya ia rewel meronta-ronta meminta haknya untuk istirahat.
Bahkan, ketika sudah tiba di kamar penginapan dan lewat tengah malam, tangis Neilan belum juga reda, sampai kami harus membawanya ke dokter spesialis anak karena khawatir Neilan kenapa-kenapa, dan subhanallah sesampainya di rumah sakit, yang dikhawatirkan malah ketawa-ketawa saat dipegang dokter. Jadilah kami pulang tanpa diagnosa atau resep apa-apa, karena Neilan ternyata hanya stress saja dengan perjalanan yang jauh nan panjang itu.
(Kamar Airbnb di Sheffiled. Sumber: Koleksi pribadi).
Dari keseluruhan trip yang pernah kami jalani, kamar yang kami sewa disini adalah yang termewah dan terindah fasilitasnya. Design interiornya klasik retro dengan menggabungkan beberapa nuansa shabby chic di furniture dan gordennya. Sayangnya kami tidak memfoto kamar mandinya, benar-benar bagus dan berkelas. Minimalis dan mewah. Kurangnya, history pemesanan airbnbnya sudah hilang dan saya cek lagi di website airbnb sudah tidak ada, jadi tidak bisa menginformasikan berapa biaya per malamnya dan alamat rumah ini.
Esok paginya, selepas sarapan kami berangkat pagi-pagi ke Edensor. Dari rumah yang kami sewa menuju Sheffiled train station cukup ditempuh dengan jalan kaki. Dari situ kami tinggal naik 1 kali bus peak line nomor 218 yang menuju Chatsworth house, dengan durasi perjalanan kira-kira 50 menit dan membayar £6 per orang untuk tiket pulang pergi (return). Tips, saat berangkat, ambillah brosur yang tersedia di bus untuk mengetahui time tables bus tersebut guna mengira-ngira jam kepulangan nantinya.
Edensor adalah sebuah desa yang berusia lebih dari 1000 tahun di distrik Derbyshire Dales, kabupaten Derbyshire, provinsi East Midlands, England. Layaknya kebanyakan desa-desa tua di Inggris, Edensor dikelilingi oleh area padang rumput hijau yang luas dan rumah-rumah kecil dengan pekarangan yang penuh tumbuhan dan bunga-bunga.
Berada di lingkungan yang tidak ramai lalu lalang kendaraan dan hanya ada 1 bus yang beroperasi setiap 30 menit sekali, memiliki kendaraan pribadi menjadi sebuah kebutuhan tersendiri. Bahkan dari desa tersebut kita akan kesulitan sekali mencari supermarket dan toko-toko keperluan rumah tangga karena harus pergi lagi ke pusat kota yang jaraknya tidak bisa ditempuh jalan kaki, atau kalau pun mau sangat jauh sekali.
(Pemandangan dari gerbang masuk Edensor. Sumber: Koleksi Pribadi).
Dan tahukan kamu, kalau ternyata Edensor ini adalah desa model atau percontohan. Desa ini dibangun ulang dan di-setting sedemikian rupa agar enak dipandang mata. Berdasarkan data, awalnya desa ini ada di dekat Chatsworth House (main attractions kalau ke Sheffield dan lebih dikenal oleh para turis asing), tempat tinggal Duke of Devonshire.
Namun, seperti yang tertuang dalam the Domesday book, karena di anggap mengganggu pemandangan dan keindahan kawasan mewah orang ‘penting’ tersebut, Duke of Devonshire yang ke-4 meminta semua rumah yang terlihat dari Chatsworth house dirubuhkan agar tidak mengganggu keindahannya, akhirnya di masa Duke of Devonshire yang ke-6, antara tahun 1838-1842, pembongkaran desa lama rampung dan desa Edensor baru dipindahkan ke lokasinya yang sekarang sejauh kurang lebih 2 km dari Chatsworth house.
Jadi, Edensor yang sekarang kita lihat adalah hasil rancangan Sir Joseph Paxton, dimana saat penataan ulang desa ini hanya sedikit sekali bangunan yang mirip bangunan aslinya. Konon, Encyclopaedia of Cottage, Farm and Villa Architecture karya John Claudius Loudon lah yang menjadi inspirasi dari desain dan pola desa Edensor.
(The famous Edensor tea cottage. Sumber: Koleksi Pribadi).
Makanya pas ke Edensor, dari masuk gerbang kita hanya akan menemukan 1 gereja besar yang jadi cover buku Andrea hirata, 1 kedai teh (Edensor tea cottage) yang jadi tempat hang-out penduduk setempat sekaligus kantor pos, dan rumah-rumah bergaya arsitektur Eropa yang berjejer rapi berhadap-hadapan. Semua tampak rapi dan tenang. Karena memang dari pertama kali ‘di ciptakan’, Duke of Devonshire men-setting agar kebun dan kandang hewan ternak berada jauh dari pandangan pengunjung maupun wisatawan. Menjemur pakaian pun ada tempat khususnya. Jadi wisatawan hanya melihat padang rumput dan bangunan yang tertata rapi bak dongeng-dongeng fairy tale.
(Jalan setapak yang menghubungkan Chatsworth house dengan desa Edensor. Sumber: Koleksi Pribadi).
Memangnya seberapa penting sih posisi Duke of Devonshire?
Nah, pernah denger kan istilah Prince William yang diberi gelar Duke of Cambridge dan istrinya Kate yang bergelar Duchess of Cambridge? Keduanya memiliki gelar kebangsawanan yang posisinya lebih tinggi dari Duke biasa. Jadi Duke itu ada Duke royal dan Duke non-royal. Pada dahulu kala, posisi Duke langsung di bawah raja atau ratu, dan memiliki wilayah kekuasaan dimana ia memerintah dan berkuasa, maka dari itu di belakang gelar duke selalu ada nama kota atau kabupatennya, sama halnya dengan Duke of Devonshire ini.
Terus siapa Duke of Devonshire yang sampe berani-beraninya memindahkan desa Edensor hanya karena merusak pemandangan rumahnya di Chatsworth house?? Dia sebenarnya hanya Duke biasa (non-royal) jadi bukan anggota keluarga kerajaan Inggris, seperti Duke lainnya, itu hanya gelar turun temurun yang dianugerahkan kepada keluarga bangsawan dan aristokrat Inggris.
Duke of Devonshire termasuk gelar Duke non-royal yang dipegang turun temurun oleh keluarga Cavendish dan tidak memiliki daerah kekuasaan administratif. Namun karena mereka keluarga aristokrat paling kaya dan paling berpengaruh di Inggris sejak abad ke-16 dengan nilai aset paling banyak, jadilah mereka orang yang berkuasa di kota Devonshire. Katakanlah Bupatinya Devonshire. Dan juga menjadi salah satu Duke non royal paling terkenal dan populer di Inggris dengan tempat tinggal mansion mewah bak istana raja bernama Chatsworth house itu.
(Salah satu bagian luar Chatsworth house. Sumber: Koleksi Pribadi).
Berdasarkan data, sampai sekarang ada sekitar 575 orang bekerja di Chatsworth house termasuk orang yang bekerja di taman, maintanance rumah, ngurusin visitor, farm shop dan lain sebagainya. Salah satu pemasukan mereka tentunya dari harga tiket pengunjung dan turis, dimana untuk masuk ke mansion dan taman saja kita dikenakan £19.90, mereka pun memiliki beberapa opsi tiket dan harga yang bisa dilihat di sini. Sayangnya, karena keterbatasan waktu dan tujuan wisata utama kami memang explore Edensor, kami hanya berkeliling di bagian luar Chatsworth house saja.
(Pekarangan Chatsworth house sejauh mata memandang. Tak tampak desa Edensor yang mengganggu pemandangan The Duke ;p. Sumber: Koleksi Pribadi).
Nah, desa Edensor ini ada di area Chatsworth Estate yang jadi milik Duke of Devonshire, maka dari itu ia bisa merubuhkan dan memindahkan desa sesuka hatinya karena memang Edensor itu dimiliki keluarga mereka. Bahkan kebanyakan penduduk yang tinggal di desa Edensor adalah staf, pekerja atau pensiunan Chatsworth house itu.
(Tampak samping dari Chatsworth house. Sumber: Koleksi pribadi).
Makanya jangan heran, kalau kebanyakan wisatawan tidak melirik desa Edensor sebagai tujuan wisata, hampir semua yang datang ke Sheffiled bisa dipastikan mau berkunjung ke Chatsworth house. Karena bisa dibilang kediaman Duke of Devonshire ini memang indah dan memanjakan mata. Sebagai mansion paling luas se-Inggris dan beberapa kali menang country house terfavorit se-United Kingdom, jangan heran kalau ada banyak turis justru memadati lokasi ini bukannya desa Edensor.
(Chatsworth house dan pekarangannya yang luas. Sumber: Koleksi Pribadi).
Kenal Keira Knightley yang jadi putri di film The Duches tahun 2008? Itu syutingnya ya di Chatsworth ini, karena selain Keira berperan sebagai the Duches of Devonshire dan bagian keluarga Cavendish, memang juga karena mewahnya Chatsworth ini tak kalah dengan istana kerajaan sungguhan. Film Pride and Prejudice (2005) dan The Wolfman (2009) juga dilatar belakangi mansion mewah ini.
Terus apa dong bagusnya Edensor?
Banyak kok, jangan khawatir. Pas baru datang, bisa ngeteh-ngopi dulu di Edensor Tea cottage. Karena waktu itu sudah tengah hari, saya dan suami sempat mencicipi nikmatnya jacket potatoes khas Edensor dengan harga per porsi £6.75. Persis di sebelah Edensor tea cottage, kita bisa langsung melihat St. Peter Church.
(Jacket Potatoes Served with a mixed leaf salad, homemade coleslaw and a prawn and crayfish. Sumber: Koleksi pribadi).
(Neilan di Edensor. Sumber: Koleksi Pribadi).
Waktu kami datang, sedang berlangsung prosesi pernikahan, jadi keadaan di dalam gereja cukup ramai. Kami tidak masuk sih, justru main-main ke belakang gereja yang terdapat beberapa pemakaman.
(St. Peter’s church. Sumber: Koleksi pribadi).
St. Peter’s churchyard ini menjadi tempat peristirahatan terakhir keluarga Cavendish dari mulai Duke of Devonshire ke-6,7,8,9,10 sampai ke-11 yang wafat tahun 2004 lalu. Makam yang paling terkenal adalah makam saudara kandung John F. Kennedy, mantan presiden Amerika, dimana disitu ada flat tablet sebagai tanda bahwa John F. Kennedy pernah mengunjungi makam adiknya, Kathleen Kennedi. Kathleen sendiri adalah istri dari putra tertua Duke of Devonshire ke-10 yang wafat diusia ke-28 tahun karena plane crash, 4 tahun setelah kematian suaminya saat invasi Eropa.
(Salah satu ruas jalan di desa Edensor. Sumber: Koleksi Pribadi).
Kedatangan John F. Kennedy ke Edensor pada tahun 1963 juga tercatat dalam buku “The house: a portrait of Chatsworth” yang ditulis oleh Deborah Cavendish, The Duchess of Devonshire dimana ia menggambarkan reaksi salah seorang warga yang kehilangan ayamnya saat helikopter Kennedy (yang dirahasiakan kedatangannya karena alasan keamanan) mendarat di desa, dengan reaksi sangat lucu “the wind from that machine blew my chickens away, and I haven’t seen them since”. Lol, lucu sekali!
Gerejanya sendiri, seperti kebanyakan geraja, tidak ada yang begitu spesial. Berdiri 166 feet above the village dan dan juga merupakan salah satu bangunan yang dibangun ulang, jadi new church yang selesai di bangun tahun 1870 ini banyak yang tidak sesuai dengan bangunan aslinya. Lagi-lagi yang foto dengan background gereja St. Peter Church sudah bisa dipastikan pasti orang Indonesia yang baca buku Edensor ;p
(salah satu orang Indonesia di Edensor, baca: saya. Sumber: Koleksi Pribadi).
Setelah puas dengan St. Peter church, kamu bisa berkeliling melihat-lihat rumah yang ada di dalam desa. Tidak banyak rumahnya, namun tetap memanjakan mata. Pekarangan rumah mereka tertata cantik dengan pagar pendek yang menjadi pemisah antara rumah tetangga dan jalan. Dindingnya dibiarkan tanpa plester sehingga batu-batanya tampak sendu kecoklatan. Rumah yang tidak terkesan mewah namun asri dan elegan. Unik sekali. Tidak sampai sehari, tur mengelilingi desa Edensor selesai hanya dengan berjalan kaki.
(Rumah batu bata dengan cerobong asap di Edensor. Sumber: Koleksi Pribadi).
(Salah satu pekarangan rumah di Edensor yang menjual home-made selai buah dan fresh cookies, uang pembelanjaannya diletakkan di toples bening di atas kursi biru (self-service/kantin kejujuran). Sumber: Koleksi Pribadi).
Well, sejujurnya saya mau bilang kalau beruntung banget Edensor pernah di datangi seorang Andrea Hirata. Dengan kemampuannya merangkai kata metafora, Edensor menjadi sepenggal surga duniawi yang populer dan menjadi magnet tersendiri. Tapi, kalau saya boleh jujur, seandainya Ikal yang saat kuliah master di Sorbonne pernah menginjakkan kaki di Skotlandia sebelum ia menjejak di Edensor, mungkin ceritanya akan lain. Paris dengan ‘kekotaannya’ dan Edensor dengan ‘keperawanannya’ memang dua sisi yang berbeda. Mereka cantik dengan pesonanya masing-masing.
“Jalan-jalan desa menanjak berliku dihiasi deretan pohon oak. Rumah-rumah petani Edensor yang terbuat dari batu-batu kukuh dan berwarna kelabu bak pulau di tengah ladang. Di pekarangan, taman bunga mawar menjadi pohon yang tinggi. Buah persik, buah pir, buah ceri, bergelantungan di atas tembok. Lalu terbentang luas padang rumput, permukaannya disebari awan-awan kapas.” (Edensor, Andrea Hirata, 2009)
(Salah satu pekarangan rumah di Edensor. Sumber: Koleksi pribadi).
Ah ya, mungkin juga Andrea yang bernama asli Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun, pada akhirnya mengambil setting Edensor karena ia memang pernah tinggal tak jauh dari sana, saat mengenyam pendidikan master kedua, MSc International Business and Management di Sheffield Hallam University dan lulus pada 2002 lalu. Dimana, 3 tahun setelahnya (2005) buku pertama berjudul Laskar Pelangi rilis dipasaran dan menjadi Indonesia’s best-selling novel of all time.
Namun, keindahan Edensor, harus saya akui, tak secantik keindahan Skotlandia. Keindahan negeri dongeng yang damai, hamparan padang rumput hijau dengan kumpulan hewan ternak yang berlarian kesana kemari, perpaduan langit luas yang seolah saling bersentuhan dengan luasnya perairan di sepanjang laut utara, juga rumah-rumah kecil nan tua dengan tembok-tembok khas tanpa plester yang berjendela lebar-lebar, semua tampak indah mempesona di Skotlandia, wilayah yang dijuluki oleh hampir seluruh traveller mancanegara sebagai surganya dunia.
Aah.. seandainya Andrea menginjakkan kaki di Isle of Skye sebelum Edensor, seandainya ia bertemu Aberdeen, Glasgow atau Edinburgh sebelum Edensor, seandainya ia berkenalan dengan Fort William sebelum bertemu dengan Edensor..
Edensor memang indah.. tapi… yang jauh lebih mempesona banyak. ^^
Setidaknya begitulah hikmahnya, dengan begitu Edensor mendapat tempat tersendiri di hati orang-orang Indonesia. Karena memang banyak orang yang mendapat kesempatan berkeliling dunia, mencicipi atmosfer dan euforia negara yang berbeda-beda, namun tidak memiliki kecakapan menuangkannya ke dalam karya tulis yang bisa dinikmati banyak orang (saya contohnya, hiks). #terimakasihAndreaHirata atas teladannya.
Tentunya, jika ada kesempatan atau jika sekarang teman-teman berada di UK dan sekitarnya, tidak ada salahnya menyempatkan ke sana dan merasakan euforianya, Edensor merupakan desa yang layak untuk dikunjungi.
Jadi, setelah memiliki perbandingan antara satu daerah dengan daerah yang lainnya, semakin besar rasa ingin tahu untuk menjelajah bagian bumi Allah yang lain dan mengenali pesonanya masing-masing.
“Jika ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak membaca Al Qur'an, dan berkelana.” – unknown.
Yuk, kita jalan-jalan (lagi).
“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.“ (QS 67:15)
Sampai jumpa lagi, Edensor!