-Sepuluhribu kilometer-
Bersamamu aku tahu sudah Tidak akan mungkin lagi, tapi bolehkah kutuliskan beberapa kenangan yang kuingat tentangmu ? Tidak, aku tidak berharap banyak padamu. Lagipula aku sudah mengucapkan selamat tinggal.
Dari Senyumu aku belajar bagaimana cara menikmati keindahan Tuhan, memandangimu seperti dua orang karib lama ketika dipertemukan kembali. Dari tuturmu, aku bahkan sejenak melupakan peluh hidupku yang sudah separuh keruh.
Entah Tuhan Punya niat apa mempertemukan kita saat itu, di ujung jalan pinggiran sudut Kota. Kamu seperti cahaya ditengah gelap keruhnya hidupku.
Hari-hari berlalu, dari aku yang masih berumur belasan menantikan kabar darimu. Kamu pulang ke Kota dimana debur ombak, langit biru dan aroma kayu lama yang di pernis ulang.
Aku mendatangi kotamu, untuk merasakan bagaimana riuh redam bagaimana Malaikat tanpa sayap itu tumbuh. Suasana yang selalu kurindu selain kamu.
Akupun mulai kehilangan jejakmu, sampai pada akhirnya aku tahu cara supaya bisa sedetik saja melihatmu, setidaknya. Kita di Kota dan di bawah langit yang sama, tapi tidak pernah saling menemukan. Lalu ada pesan masuk darimu “Segera Temukan Cinta Sejatimu, yang Akan memoles Kenangan Lebih Dalam Dari Pada Ini”
Tadinya aku ingin berbagi gelapku denganmu, tapi Kau Hanya Malaikat Tanpa Sayap, bukan pengabul keinginan. Di Sepuluhribu Kilometer Jauhnya dari tempatku Doaku tetap sama, semoga kau baik-baik disana. Terimakasih.
Lutfi Fathurachman Qodrie/ Jakarta, 17 Oktober 2021











