Proses healing tidak selalu menyenangkan, tapi kita harus hidup berdampingan dengan rasa sakit ini π₯° | Kadang cerita tentang kehidupan, hobi, film, atau buku.
Hi, aku memutuskan untuk membuat akun Tumblr karena aku ingin mencurahkan perasaan-perasaan yang belum bisa aku curahkan di sosial mediaku yang lain.
Sebenarnya akun ini tidak hanya berbagi kesedihan kok, tapi aku akan membagi pelajaran hidup yang bisa kita dapatkan selama proses aku mencari potongan diriku yang hilang. Bisa dibilang tumblr ini akan berisikan tentang my healing process to search a lost pieces of mine. Aku juga akan membagikan hal-hal baru yang sudah kucoba.
Kalian bisa panggil aku dengan username aku saja π. Sekali lagi, akun ini tidak mencari ketenaran, tapi ini hanya tulisan-tulisan tentang healing process aku dan sedikit menunjukkan sisi "melankolisku".
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Qualityβ Free Actions
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Ya Allah, bantulah aku dan teman-teman diluar sana untuk melupakan galau terhadap lawan jenis dan menemukan hal-hal yang lebih penting diperjuangkan.
- Fallen Lily -
Aku pikir, lebih baik puaskan dirimu untuk mengejar hal-hal yang kamu inginkan sebelum memutuskan untuk punya pasangan. Kalau nggak kamu akan menyesal karena sudah tidak punya waktu lagi untuk melakukan hal itu.
- Fallen Lily -
Dulu aku adalah seorang yang ambisius dalam mencapai suatu hal. Aku belajar terus, mengikuti organisasi, dan mencoba ikut kompetisi (walaupun gak menang). Aku juga tidak segan-segan buat mengikuti berbagai macam online course untuk meningkatkan skillku. Yang lebih hebatnya lagi aku jarang mikirin lawan jenis (Kadang naksir sih, tapi hanya sebatas naksir dan cuma mau temenan sama orang tersebut).
Tapi, belakangan ini aku merasa ada perubahan dari aku. Sebenarnya ini terjadi semenjak teman-temanku satu-satu sudah menikah. Selain itu ada sebagian teman-temanku dideketin oleh banyak pria. Aku merasa minder karena aku selalu gagal menjalin hubungan dengan lawan jenis. Mulai dari ditinggal sampai dighosting. Aku mulai mempertanyakan diriku sendiri, "Apa yang salah dari diriku?" "Kenapa dia lost interest sama aku?", dan lain-lain. Bahkan aku sampai di tahap membenci diri sendiri karena gak dipilih oleh pria.
Ternyata benar, ketika seorang perempuan "yang mentalnya belum matang" sudah kenal pria dia menjadi "gila". Hidupnya akan selalu berfokus kepada pria itu. Setiap hari dia akan stalking sosial medianya, terus menunggu kapan "pujaan hatinya" itu membalas pesannya, dan semakin frustasi karena tidak bisa menemukan pengganti dia.
Akupun juga merasakan kalau sekali kita mencoba untuk pdkt, maka kita akan "ketagihan" dan pasti akan mencoba untuk segera mencari pengganti bila gagal menjalin hubungan. Ternyata memang larangan berpacaran dalam islam itu seperti ini ya, bisa mempengaruhi "akal sehat" perempuan dan menjadi tidak produktif, lupa sama Allah SWT, dan terlebih lagi bisa meningkatkan peluang dalam terjerumus ke dalam hal yang berbahaya.
Selain itu, ketika perempuan "yang mentalnya belum matang" ini melihat cewek-cewek yang dekat dengan pria "pujaan hatinya", kebanyakan akan merasa insecure terhadap dirinya sendiri. Dia akan terus membandingkan dirinya dengan cewek-cewek yang berada di dekat pria itu, mulai dari fisiknya, kecerdasannya, dan lain sebagainya. Padahal kita sudah diberikan kelebihan dan kekurangan masing-masing oleh Allah SWT, tapi karena "standar" dari pria tersebut tidak bisa kita penuhi kita menjadi tidak bisa menerima diri sendiri.
Mendapatkan chat dari lawan jenis itu bisa membuat kecanduan ternyata. Ketika tidak ada chat sehari saja, maka kita akan menghabiskan waktu untuk mencari kabar pria itu, mulai dari stalking, spam chat, dan lain sebagainya. Tak jarang kalau kita akan berpikir kalau pria tersebut sedang menjalin hubungan dengan cewek lain.
Sampai sekarangpun, aku juga begitu. Sejujurnya aku masih berada di bawah bayang-bayang seorang pria. Apa yang aku lakukan semuanya hanya untuk mendapatkan perhatian pria. Aku berusaha, tapi tidak ada pria yang melihatku. Ini semakin membuatku frustasi. Aku terlalu menginginkan hal-hal yang manfaatnya gak long-lasting untukku.
Seharusnya, aku lebih mengejar hal-hal yang bisa long-lasting untukku. Misalnya pengembangan skill yang akan bisa dipakai untuk bertahan hidup, atau misalnya menjaga kesehatan yang bisa membuatku lebih bahagia dan sehat di masa tua nanti. Ternyata, validasi pria juga bisa melewatkan hal-hal baik dalam hidupku. Sudah berapa banyak kesempatan yang aku sia-siakan hanya untuk memikirkan mereka yang belum tentu memikirkanku? Mungkin kalau misalnya aku tidak memikirkan pria aku bisa jadi pemimpin negara (?).
Tapi percuma, menyesal itu tiada guna. Mulai sekarang aku akan kembali mengerjakan apa yang aku sukai dan menekuni bidang tersebut. Kalau aku pintar akan banyak peluang-peluang yang jauh lebih baik daripada hanya sekedar mengejar pria yang belum tentu berarti di hidup kita. Mari kembali ambis dan bekerja keras!
Oh iya, ini video yang bisa menampar kalian sedikit. Selamat menikmati!
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Qualityβ Free Actions
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
Apa kamu galau karena kehilangan dia? Atau galau karena sudah ketergantungan chat dan kabar dari dia? Kalau pilihan kedua sudah saatnya untuk sembuh dari kecanduanmu dan carilah kebahagiaan dari dalam dirimu sendiri.
"Aku mencintai diriku. Aku ingin menikmati hidupku sebagai diriku yang utuh. Aku ingin membayar waktuku yang terbuang sia-sia untuk pencarian validasi orang lain. Aku juga sudah tidak mau lagi mengikuti pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan prinsip hidupku."
Hai, aku baru sempat menulis untuk tahun baru ini. Seharusnya aku nulis di tahun 2023, tapi aku udah keburu mengantuk π€£ ya sudah karena ini masih vibes tahun baru jadi aku tulis aja sekarang
Kalau sekarang aku gak kemana-mana. Aku di rumah aja menikmati waktuku di kamar (Karena aku kerja WFO dan tidak ada waktu untuk bersantai di rumah, maka aku manfaatkan kesempatan ini). Aku melakukan beberapa kegiatan, seperti makeover meja belajarku, membereskan buku-buku yang berceceran, dan lain sebagainya. Nothing special, hanya melakukan hal-hal sehari-hari.
Oh iya, sebelumnya kita harus ucapkan terima kasih untuk diri kita sendiri karena kita sudah bisa bertahan di tahun 2023 ini. Mungkin aku akan mulai dengan refleksi diriku sendiri di tahun ini.
Pertama Kali Bekerja
Alhamdulillah, aku berhasil mendapatkan pekerjaan di tahun 2023. Ada beberapa hal yang aku pelajari di dunia kerja.
No hard feeling terhadap teman kerja yang memberikan kritikan. Dalam dunia kerja akan ada banyak kritikan yang kita dapatkan, bisa berupa kinerja kita, sikap kita, dan masih banyak lagi. Sering mendapatkan kritikan membuat aku menjadi rendah diri, namun akhirnya pun aku belajar dari kritikan-kritikan tersebut.
Tidak semua teman kerja itu jahat. Jangan sekalipun percaya dulu sama menfess di twitter, karena belum tentu terjadi di kita jadi jangan minder duluan. Banyak teman-teman yang membantuku saat bekerja.
Tidak ada pekerjaan yang sempurna, selalu cari titik positif dari pekerjaanmu. Awalnya aku merasa tidak bersyukur dengan pekerjaanku. Aku merasa kalau pekerjaan ini tidak sesuai ekspektasiku. Namun kalau aku lihat dengan kacamata yang lain, pekerjaan ini menantangku untuk membuat solusi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis. Aku bisa bereksplorasi untuk membangun sistem yang sesuai dengan target pasar yang beragam.
Tetaplah professional. Jika ada masalah pribadi, lebih baik cerita terlebih dahulu sama teman-teman di luar kantormu. Atau cerita saja ke psikolog/psikiater, sekarang beberapa aplikasi kedokteran menyediakan layanan psikolog melalui chat.
Jangan membaca berita negatif sebelum bekerja. Hal ini bisa mempengaruhi mood kita saat bekerja. Usahakan untuk menjaga mood kita tetap stabil di pagi hari.
Ini lima pelajaran yang aku dapatkan di dunia kerja. Ada beberapa hal yang masih menjadi PR untukku di tahun 2024
Perlu belajar untuk tidak insecure duluan saat mendapat task yang sulit.
Perlu mencoba untuk mengobrol sedikit demi sedikit dengan teman kerja, asal bukan ke ranah hal pribadi.
Perlu belajar untuk melawan rasa malas setelah pulang kerja agar bisa produktif.
Perlu belajar untuk manage emosi ketika mendapati masalah yang membuat mood turun.
Perlu belajar untuk switch konsentrasi dengan cepat (contohnya menyempatkan diri untuk belajar walaupun ada masalah di kantor)
Perlu berani bertanya dengan rekan kerja/atasan saat menghadapi hal sulit.
Perlu belajar untuk menyampaikan pendapat kepada rekan kerja atau atasan tanpa takut di-judge.
Menjalin Hubungan dengan Orang Lain
Selama tahun 2023, aku menjalin pertemanan dengan banyak orang. Ada pertemanan yang masih awet, namun ada juga orang yang menghilang dari hidupku. Ada beberapa hal yang aku highlight disini.
Sampaikan hal-hal bahagia di hidupmu dulu, baru kamu boleh curhat ke temanmu. Aku selalu awali dengan kabar gembira dariku dulu, baru aku mencoba untuk menyampaikan masalahku ke temanku. Tidak lupa juga aku meendengarkan temanku dengan seksama, dan tidak perlu sungkan bertanya kalau misalnya ada cerita temanmu yang kurang jelas.
Tidak apa-apa orang lain meninggalkanmu di saat kamu lagi berproses ke arah yang lebih baik. Awalnya aku merasa sedih dan menyalahkan diriku sendiri. Tidak apa-apa, aku sedang dalam proses belajar dan aku gak masalah kalau mereka meninggalkanku yang belum matang. Itu hak mereka.
Tetap berpegang teguh pada batasanmu sendiri ketika berhubungan dengan orang lain. Aku juga belajar untuk membantu orang lain sesuai dengan kemampuanku dan menolak kalau belum mampu menolong mereka.
Hal yang masih menjadi PR untukku di tahun 2024 adalah sebagai berikut
Belajar untuk minta tolong ketika mengalami kesulitan.
Belajar untuk menyampaikan pendapat bila ada hal-hal yang mengganjal dalam pikiran.
Belajar untuk tetap baik terhadap teman-teman, tapi dengan batasan yang sewajarnya.
Belajar untuk stay connected dengan teman-teman yang sudah jauh.
Belajar untuk tidak mengejar validasi orang lain.
Hubungan dengan Lawan Jenis
Tahun 2023, banyak sekali teman-temanku yang sudah menikah dan berumah tangga. Aku senang kalau mereka bahagia, tapi di sisi lain aku juga merasa iri hati terhadap mereka. Mereka bisa bahagia dengan pasangan mereka, sedangkan hubunganku dengan lawan jenis hanya sebentar, belum sampai ke arah yang serius. Ada beberapa hal yang aku pelajari terkait hal ini.
Berhenti membanding-bandingkan dirimu dengan wanita lain yang terlihat lebih cantik dari kamu. Aku selalu yakin aku ini spesial di mata orang yang tepat, buktinya orang tuaku sayang denganku.
Kenali diri sendiri lebih dalam. Sudah saatnya untuk menyelam lebih dalam tentang diri sendiri supaya kita tau betul kriteria dari pasangan kita di masa depan. Sehingga nantinya kita bisa memfilter mana laki-laki yang sevisi dan sefrekuensi dengan kita dan mana yang tidak.
Tidak apa-apa kalau laki-laki meninggalkanku, mungkin dia belum siap untuk menemani proses pengembangan diriku. Tidak perlu menyalahkan diri sendiri, karena kita sedang berproses ke arah yang lebih baik. Insyaallah ada laki-laki yang bersedia menemani kita selama berproses.
Jangan percaya konten tiktok tentang tips menjalin hubungan romantis. Aku gak mau terpengaruh dengan konten-konten tersebut, karena konten tersebut terlalu mengkotak-kotakkan manusia. Manusia itu beragam dan tips-tips tersebut seringkali tidak valid. Tetap perlakukan manusia dengan baik, maka kita akan mendapatkan karma baik suatu saat.
Stop searching tentang kejadian buruk dalam hubungan romantis. Hal ini yang selalu membuatku terlalu waspada sampai berprasangka buruk, padahal hal-hal ini belum tentu terjadi. Apapun itu jalani saja dengan caramu sendiri, tidak perlu mengikuti saran orang lain bila tidak cocok.
Laki-laki yang mencintaimu tidak akan membuatmu bingung. Salah satu temanku pernah bilang kalau misalnya pria suka dengan seorang wanita, maka dia akan berusaha untuk tidak membuat wanita ini bimbang dengannya. Aku sangat mengiyakan hal tersebut dan kata-kata inilah yang membuatku tersadar.
Hal yang akan menjadi PR aku di tahun 2024 adalah sebagai berikut
Belajar untuk mencintai diri sendiri lebih dalam dibandingkan orang lain.
Belajar untuk mengenali kebahagiaan lain selain punya pasangan.
Belajar untuk tidak mencari validasi dari lawan jenis.
Belajar untuk tidak mempedulikan penilaian dari lawan jenis dan tetap hidup dengan versi terbaik diri kita.
Belajar untuk mencari apa yang disukai dan apa yang tidak disukai, sehingga kita dapat menolak seseorang yang tidak sesuai dengan kriteria kita.
Resolusi 2024
Dari 3 aspek yang sudah aku tuliskan, aku bisa menyimpulkan satu resolusi yang paling aku inginkan di tahun 2024 ini. Inilah resolusiku
"Mengenal Diri Sendiri Lebih Dalam"
Ini yang akan menjadi fokus utamaku di tahun 2024. Selama ini aku sadar kalau aku terlalu peduli dengan apa yang orang lain katakan. Aku mulai ketergantungan dengan validasi dan pengakuan orang lain. Hal terburuknya adalah ketika aku tidak mendapatkan validasi tersebut, kekecewaanku akan sangat besar sampai mempengaruhi keseharianku. Tingkat kepercayaan diriku akan merosot karena aku tidak sesuai dengan standar orang lain.
Aku juga selalu mementingkan kepentingan orang lain di atas kepentinganku secara berlebihan. Inilah yang membuatku sulit melangkah ke depan. Untuk saat ini aku akan lebih banyak berfokus kepada diri sendiri demi membayar waktuku yang sudah terbuang sia-sia demi orang lain. Sudah cukup aku terlalu bergantung dengan orang lain dan menjadi people pleaser.
Aku ingin hidup sebagai diriku sendiri π 2024 akan menjadi tahun terbaik untuk diriku sendiri.
"Aku mau mengucapkan terima kasih karena sudah menemaniku berproses selama ini. Kamu sudah mengajariku banyak hal soal hidup. Sekarang kamu tidak perlu khawatir, sebab aku sudah bisa mengandalkan diri sendiri."
Salah satu kelemahanku adalah overthinking. Yes, aku sering sekali overthinking kalau ada suatu masalah. Kalau aku ilustrasikan seperti ini. Ketika ada suatu hal, aku tiba-tiba kepikiran "gimana ya kalau hasilnya gak maksimal?", "gimana ya kalau misalnya ada kejadian ini apa yang harus aku lakukan?", dan masih banyak lagi hal-hal yang menjadi bahan overthinkingku.
Kalau jujur, ini menyiksaku. Karena inilah aku suka takut untuk mencoba hal yang "high risk". Selain itu, aku juga suka menyusahkan orang-orang sekitarku karena bahan overthinkingku. Aku juga sering dinasehatin "Jangan overthinking", "Jangan memikirkan sesuatu yang belum terjadi", dan lain sebagainya. Tapi ini seperti setelanku ketika menghadapi suatu masalah.
Sebenarnya, overthinking ini ada kaitannya dengan perfeksionis. Kita mau hal-hal yang kita lalui berjalan dengan sempurna sehingga kita cenderung akan memikirkan hal-hal buruk yang possible terjadi. Kombinasi ini cukup mematikan karena kita gaakan bisa mengambil step kedepannya.
Mungkin itu hal-hal buruknya. Tapi sebenarnya aku menemukan hal baik dari overthinking ini.
Pekerjaanku sangat berhubungan dengan attention to detail, karena overthinking dan perfeksionisku aku jadi bisa menemukan hal-hal yang tidak terpikirkan orang lain. Selain itu, aku bisa dengan mudah menemukan titik lemah dari solusi yang ada sehingga nantinya bisa dicarikan solusi alternatif yang minim risikko.
Karena overthinking dan perfeksionis juga aku bisa mengukur mana pekerjaan yang possible dikerjakan dan mana yang tidak, sehingga tidak membuang waktu dan biaya.
Fakta menarik lainnya, sebenarnya kita membutuhkan orang yang bisa membatasi overthinking kita. Misalnya, kita punya pertanyaan yang meragukan, orang lain bisa memberikan jawaban yang mendukung atau menyanggah pikiran kita. Atau orang tersebut dapat membatasi pikiran kita yang sudah sangat meluas.
Jadi, menurutku overthinking gak selalu buruk. Kuncinya adalah komunikasi dengan orang lain terkait dengan pikiran kita.
Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
β Live Streamingβ Interactive Chatβ Private Showsβ HD Qualityβ Free Actions
Free to watch β’ No registration required β’ HD streaming
"Aku tidak apa-apa jika ada yang meninggalkanku di saat aku sedang mencari kepingan diriku yang hilang. Hal yang terpenting saat ini adalah aku tidak kehilangan diriku sendiri lebih dalam."
- Fallen Lily -
Mengejar Validasi Lawan Jenis itu Terlalu Dangkal!
Beberapa hari ini, tidak, mungkin beberapa bulan ini aku merasa ada yang aneh dari diriku. Salah satunya adalah mencari validasi dari orang lain secara berlebihan. Pencarian validasi ini bisa dalam bentuk macam-macam. Salah satunya adalah aku terlalu banyak bercerita di sosial media tentang kesedihanku, lalu kemudian aku juga terlalu membanggakan prestasi-prestasiku di sosial media pribadiku.
Kedua aku selalu membandingkan diriku dengan perempuan lain yang lebih baik dari diriku. Bisa dibilang aku ini kurang beruntung masalah percintaan. Setiap ada laki-laki yang aku suka, pasti mereka akan menyukai/dekat dengan wanita lain yang lebih baik dari sisi attitude, penampilan, atau kecerdasan emosionalnya. Inilah salah satu hal yang membuat aku mencoba untuk mengambil persona dari wanita lain.
Sebenarnya membanding-bandingkan diri dengan orang lain ini bagus, karena dengan perbandingan ini aku bisa upgrade diriku ke arah yang positif. Aku jadi lebih rajin belajar dan berkarya. Namun, ada sisi negatif yang aku rasakan
Aku jadi tidak sabaran untuk menjadi versi yang lebih baik, sehingga aku cepat frustasi jika ada tantangan saat proses upgrade diri.
Ketika aku mempublish sesuatu namun tidak mendapatkan atensi dari pria aku akan merasa stress dan kecewa. Atensi disini bisa berupa pujian atau ketertarikan mereka untuk mengobrol denganku.
Aku masih sering terintimidasi kalau ada perempuan yang jauh lebih baik dariku, sedangkan aku masih "gini-gini" aja.
Karya yang aku hasilkan rasanya tidak maksimal, karena ingin cepat-cepat dapet validasi dari orang lain. Aku jadi sulit untuk menyelesaikan karya yang inspiratif dan memberikan kesan yang dalam.
Lalu aku evaluasi diriku kembali. Apakah proses upgrade diri seperti ini sehat untukku? Ternyata tidak sama sekali. Aku berpikir seharusnya aku upgrade diri untuk kesejateraan diriku sendiri, bukan karena ingin validasi lawan jenis ataupun orang lain. Misal, aku belajar ini itu karena aku penasaran, bukan karena ingin dianggap wanita cerdas. Atau misalnya aku olahraga karena ingin sehat fisik dan mental, bukan karena ingin memenuhi body goals yang pria suka.
Kalau aku upgrade diri untuk diri sendiri, maka aku akan lebih bersyukur dan menikmati prosesnya. Aku akan mensyukuri setiap langkah kecil yang sudah aku lakukan dan jauh menikmati hobiku saat ini. Entah mengapa, aku merasa lebih puas karena berhasil menyelesaikan karya yang mendalam.
Ketika aku menggunakan prinsip ini, aku merasa lebih baik. Aku berhasil membaca buku lagi setelah berbulan-bulan kena reading slump. Aku berhasil menggambar secara mendetail. Kemudian aku berhasil untuk mengalahkan rasa takutku untuk menulis blog lagi (Dulu aku terakhir menulis blog di blogspot waktu masih SMA).
Prinsip ini berbanding terbalik dengan konten wanita high value yang seringkali lewat di sosial mediaku, yang mostly upgrade diri selalu dikaitkan dengan relationship dengan lawan jenis. Aku gak mengatakan kalau ini salah tapi aku merasa kurang cocok dengan pemikiran tersebut. Namun aku tidak munafik, aku ingin pasangan yang berkualitas dan sefrekuensi denganku.
Karena aku ingin pasangan yang sefrekuensi denganku, aku ingin nyaman dengan prinsipku sendiri dulu (asal bukan prinsip yang menyimpang norma). Aku juga harus tau apa yang aku suka dan apa yang tidak aku suka. Namun, aku juga selalu terbuka untuk mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakukan.
Intinya, konsepku adalah
"Buatlah rumah yang nyaman untuk dirimu sendiri, Tamu yang tepat akan datang"
Yap, bagiku hidup hanya berfokus untuk menjadi wanita terbaik untuk dipilih pria itu terlalu dangkal. Aku ingin hidup sebagai diriku dan ingin melakukan sesuatu semaksimal mungkin tanpa memikirkan validasi pria.
Kata ini sering aku jumpai di twitter. Istilahnya sih teman untuk ngobrol dan bertukar cerita. Aku sendiri suka membahas tentang diriku sendiri di depan teman-teman. Aku juga gak segan-segan buat mendengarkan cerita teman-temanku. Sejujurnya punya someone to talk itu melegakan beban pikiran yang kita pikul.
Tapi, semakin kita dewasa ternyata punya someone to talk itu bisa dibilang sangat sulit. Teman-temanku semuanya sudah sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Ada yang sudah berumah tangga dan fokus dengan pekerjaan mereka. Bahkan ada yang fokus dengan teman-temannya yang baru. Hal ini merupakan challenge bagi kita-kita yang suka ketakutan berlebihan untuk mengenal orang baru, karena kita sudah nyaman sharing ke orang-orang yang akrab dengan kita.
Sebenarnya untuk survive dari someone to talk ada beberapa hal yang sudah aku coba.
Menangis ketika beban sudah berat. Cara ini bagiku yang paling ampuh karena emosi negatif dalam diriku akan keluar ketika nangis. Setelah menangis rasanya lega sekali.
Menulis, dulu aku suka menulis di IG ataupun di twitter. Tapi aku sadar juga kalau nulis dengan vibes-vibes melankolis seperti itu aku akan menyebarkan aura-aura negatif ke orang lain. Yap ini salah satu alasan mengapa aku bikin tumblr supaya bisa menumpahkan sisi melankolisku tanpa dijugde orang yang kukenal.
Solat? Yap terdengar klasik tapi solat fardhu yang serius dengan tumaninah bisa membuat hati tenang. Gak bisa dipungkiri lagi. Selain itu, bergantung kepada Allah SWT akan menghilangkan ekspektasi berlebih terhadap manusia.
Mencoba kegiatan-kegiatan positif tapi menyenangkan. Aku suka olahraga lari buat menghilangkan beban di pikiranku.
Ini adalah 3 cara yang aku lakukan ketika mau survive tanpa someone to talk.
Tapi, kalau aku benar-benar butuh someone to talk aku suka pergi ke event komunitas dan mengobrol dengan orang-orang di sebelahku. Itu juga membuatku sedikit lebih baik. Lalu ketika teman-temanku membuat story kadang suka aku reply hehe.
Mengobrol dengan psikolog di aplikasi kedokteran juga hal yang aku suka. Mereka suka memberikanku prespektif baru tentang kehidupan. Biayanya juga terjangkau, yang paling murah adalah 50 ribuan.
Saat ini aku sedang proses untuk tidak bergantung terhadap orang lain. Aku mau coba-coba stress release yang cocok untuk diriku sendiri tanpa menyengsarakan orang di sekitarku. Karena aku ingat aku selalu mengeluh di depan sahabatku sampai ia menjauhiku. Sedih tapi biarlah ini pembelajaran untukku.
Well, doakan aku agar bisa mencapai ketenangan dalam hidup π
Di awal blog aku, aku mau memberikan pandangan terkait apa yang aku alami di usia quarter life crisis lebih sedikit ini.
Topik ini tidak ada bosan-bosannya ya. "Relationship"
Beberapa hari ini, aku melihat satu-persatu teman-temanku dilamar atau melamar pujaan hatinya, bahkan ada yang sudah sampai jenjang pernikahan. Beberapa sudah punya anak dan hidup bahagia. Aku tidak masalah malahan aku senang karena mereka sudah mengambil langkah besar untuk hal itu. Tapi ternyata...
Di sisi lain aku iri dengan mereka. Mungkin ketika usiaku masih baru lulus kuliah aku santai-santai saja. Tapi sekarang ini aku merasa tertinggal. Kadang aku menyesal kenapa aku tidak menjaga penampilan saat di bangku kuliah (Dulu aku memang tidak suka berpenampilan menarik karena hanya memikirkan survive dan berkarya saat kuliah), kenapa aku tidak mencoba untuk "centil" dengan cowok, dan masih banyak lagi penyesalanku tentang hal itu.
Apalagi aku ditakut-takuti oleh salah satu postingan twitter yang mengatakan bahwa "Cari pasangan itu lebih mudah saat kuliah". Yap, aku juga tidak bisa menyangkal fakta tersebut karena aku melihat sendiri kalau teman-temanku lebih memilih orang-orang yang sudah dikenal semasa kuliah.
Belum lagi isu-isu tentang 30 tahun akan sulit punya anak. Belum lagi nantinya aku harus menerima kenyataan kalau orang tuaku akan semakin tua. Semakin terpojoklah diri ini.
Aku merasa kalau aku terlambat dibandingkan dengan teman-teman lain. Aku merasa insecure karena jarang ada lawan jenis yang mendekatiku. Akupun juga tidak tahu mengapa mereka hanya mengganggapku sebagai teman, tidak lebih. Padahal aku ini wanita setia dan bisa diandalkan lho.
Dan insecureku yang kedua adalah, teman-temanku pintar menjaga hubungan dengan orang lain dan punya empati besar. Sedangkan aku? Aku masih gagal menjalankan hubungan dengan orang lain dan empatiku masih belum sebesar teman-temanku. Punya teman pria saja hanya sebatas buat task-task kuliah/kerja atau transfer ilmu.
Insecureku yang lainnya adalah melihat teman-teman priaku yang menggandeng wanita yang lebih cantik dan attitudenya mungkin lebih baik dariku. Atau ketika teman priaku menceritakan tentang kehebatan wanita lain. Di situlah aku sering memunculkan pertanyaan ini "Kapan giliranku buat dicintai sepenuh hati oleh pria? Apakah aku kurang cantik di hadapan mereka? Apakah aku kurang asyik? Apakah aku orang aneh? Kapan aku dibangga-banggakan seperti itu?" Itulah hal-hal yang merasuki pikiranku.
Meskipun begitu, terkadang juga muncul kesadaran mengapa aku belum diberikan kesempatan untuk menjalin hubungan dengan pria dan mengapa aku suka gagal dalam hal tersebut
Allah melindungiku dari pergaulan yang membahayakan keselamatan diriku. Untuk aspek ini aku bersyukur sekali dijauhkan dari narabahaya masa kini.
Aku tidak perlu memberikan kabar setiap hari kalau misalnya aku benar-benar sibuk. Agak effort untuk multitasking soal ini.
Aku diberikan kesempatan lebih untuk berkarya. Mungkin kalau semasa kuliah aku hanya berfokus terhadap lawan jenis aku gak akan menghasilkan beberapa karyaku dan aktif di kampus.
Aku diberikan kesempatan untuk mengenal diri lebih banyak dari siapapun, baik melalui kegiatan komunitas maupun pekerjaanku saat ini. Pengenalan diri ini akan lebih mudah bila kita masih sendiri.
Aku diberikan kesempatan untuk berkenalan dengan banyak orang hebat, tanpa ada yang mencemburuiku.
Aku juga mendapatkan banyak waktu untuk me time (karena aku anak yang suka eksplorasi sendirian)
Hehe itu bagian-bagian kerennya. Tapi kalau bagian-bagian insecurenya adalah ini.
Ada sifat-sifatku yang masih bermasalah saat menjalin hubungan dengan manusia. Sehingga aku perlu belajar tentang itu.
Emotional Intelligenceku masih belum bagus. Kadang aku masih struggle dengan pengendalian emosi dan penyelesaian konflik.
Aku belum punya empati yang besar sama seperti teman-temanku.
Aku agak tertutup sebenarnya, jadi hubungan dengan manusia seringkali hanya sebentar.
Masih ada perasaan gak enakan dalam diri ini, walaupun sudah sedikit berkurang dibandingkan dulu.
Aku terlalu mengandalkan diri sendiri, bahkan enggan untuk minta bantuan ke orang lain (Prinsipku adalah selama ini bisa kukerjakan ya akan kukerjakan)
Bagian insecure ini cukup banyak ya. Bagian-bagian ini aku anggap sebagai bagian dari diriku yang hilang. Mungkin 6 bagian inilah yang menjadi challenge untukku bisa menjalin hubungan dengan orang lain.
Aku juga sadar diri, kalau aku ingin disukai cowok bukan karena aku siap menjalani hubungan. Tapi aku hanya ingin validasi diri aja. Aku bingung juga kenapa aku haus validasi. Mungkin kalau sudah ketemu jawabannya aku akan cerita di bagian selanjutnya.
Tapi intinya, aku mau menjalin hubungan kalau aku sudah menemukan pieces yang hilang dari diriku. Aku mau menjadi diri sendiri sehingga aku bisa menentukan siapa yang akan jadi pendampingku.
Kurasa belum saatnya untuk komitmen dengan orang lain.