Mengumpulkan kembali sifat baik perempuan yang kini terserak
Perempuan itu kuat dan menguatkan,
Memang seperti itulah diciptakan perempuan, untuk membenahi segala yang tidak beraturan, dengan tetap tersenyum dan memberi hangat, kepada sekitarnya.
Seperti Khadijah yang menyelimuti Rasulullah saat beliau menerima amanah terberatnya,
Seperti Aisyah yang kecerdasannya mampu berperan dalam membantu suaminya membangun peradaban islam,
Seperti Asiyah yang tetap kuat memegang prinsip kemuslimahannya, walau lingkungan sekitarnya berkebalikan dengannya,
Seperti Maryam yang walau semua orang menuduhnya berbuat hal buruk, ia tetap percaya bahwa setiap ketentuan Rabbnya adalah yang terbaik,
Seperti Fatimah yang amat dalam mengasihi ayahnya saat menerima ujian dari musuh-musuh islam,
Seperti itulah peran para perempuan hebat di masa dahulu. Uniknya, sifat-sifat baik perempuan sekarang tak lagi selengkap dulu. Seiring perubahan zaman, para perempuan sudah sedikit demi sedikit beralih fokus dari sifat baik yang sesungguhnya.
Perempuan itu kuat dan menguatkan, itu benar. Namun bisa menjadi salah jika sosok yang dikuatkan adalah ia yang masih belum menjadi mahramnya.
Perempuan itu lembut dan melembutkan, tepat sekali. Namun jika kelembutannya diberikan untuk sosok yang belum pasti menjadi teman sehidup sesurga, akhirnya menjadi kurang tepat.
Perempuan itu teduh dan meneduhkan, betul sekali. Namun jika waktunya habis untuk meneduhkan sosok yang belum halal baginya, lalu kemudian melupakan prinsip islam, tentu ini tidak benar.
Menjadi perempuan yang cerdas tentu tidak hanya diukur dari segi pikiran, tetapi juga dari segi pengendalian hati dan pengambilan keputusan yang mengacu pada keteguhan berprinsip.
Dibalik kekuatannya, perempuan seringkali bersedih karena hal-hal yang disebabkannya sendiri.
Dibalik keteguhan dan keteduhannya, ada air mata yang seringkali jatuh karena kelalaian yang diciptakannya sendiri.
Lalai lalu kemudian bersedih karena pernah menempatkan sosok lain di hati, kemudian dengan teramat sungguh berdedikasi akan mendukungnya di setiap perjalanan hidup, padahal ditakdirkan bersama dengannya nanti saja belum pasti benar terjadi.
Wahai perempuan, dengan kemampuan besar yang telah dititipkan Allah kepadamu, tentu sebaiknya dituangkan ke hal yang memang tepat dan benar.
Wahai perempuan, kuatmu, teguhmu, dan teduhmu sungguh lebih mulia dan lebih terhormat untuk diberikan kepada sosok lain yang jelas memang membutuhkan peranmu. Seperti masyarakat, misalnya. Dari lingkungan kecil sekitarmu, bahkan sampai ke ruang yang lebih luas dari itu.
Bahwa banyak sekali hal-hal tidak beraturan yang menunggu uluran peran perempuan yang kuat, teguh dan meneduhkan. Iya, peranmu sebagai perempuan hebat sesungguhnya lebih tepat diarahkan kesana ketimbang diarahkan ke sosok yang belum halal bagimu.
Karena itu, menjadi perempuan, sebenarnya adalah sebuah anugerah dan amanah dari Allah kepada kita. Agar bisa tetap menjaga hati lembut, pikiran yang bisa berfungsi di banyak hal, jiwa yang kuat, dan bahu yang teguh untuk senantiasa diarahkan ke hal-hal baik.
Dalam dunia yang tentunya tidak selalu baik-baik saja, perempuan punya kemampuan untuk tetap kuat dan baik-baik saja. Untuk itu, wahai perempuan, sadarilah hal ini dan teruslah berproses menjadi hebat hari demi hari.
Masa depan peradaban, ada di tanganmu. Lalu, dengan kekuatan, keteguhan dan keteduhanmu wahai perempuan, akan kau kemanakan bangsa ini?
Kairo, 20 Desember 2019 || 00.09 clt