Catatan Kritis atas Risalah Islam Berkemajuan bab Pendahuluan
Rislah Islam Berkemajuan adalah dokumen ideologis muhammadiyah yang baru saja ditetapkan saat Muktamar Muhammadiyah ke 48 di Surakarta pada tahun 2022 lalu, setelah saya membaca dengan seksama ada beberapa poin kritis yang saya catat terutama di bab pendahuluan, berikut beberapa catatan kritiss atas bab pendahulan dari "Risalah Islam Berkemajuan" milik Muhammadiyah tersebut.
1. Kalimat "Sejarah telah membuktikan bahwa pada kurun tertentu, umat Islam mengalami kejumudan dan bahkan kemunduran karena Islam yang dipahami dan diamalkan bukanlah agama yang membawa kemajuan". Apa benar penyebab kemunduran Islam adalah itu? Apakah ada fakta historisnya? Jika benar maka seperti apa wujud pemahaman Islam yang menyebabkan kemunduran saat itu?
2. Kalimat "kemajuan yang islami" Ini mengasumikan ada kemajuan yang tidak islami? Naskah ini tidak clear mendefinisikan makna maju dan kemajuan serta akar historis filosofis makna maju dan kemajuan ini.
3. Kalimat "Islam yang sesungguhnya adalah agama yang mendorong kemajuan dan karena itu ia harus menjadi kekuatan aktual yang menggerakan pemeluknya untuk memberi kesaksian atas keunggulan agama Islam." Apakah ada islam yang tidak sesungguhnya? Epistemologi apa yang digunakan?
4. Kalimat " Pemahaman dan pengamalan Islam yang sebenarnya" Apa maksud dari pemahaman Islam yang sebenarnya? Apakah ada pemahaman Islam yang tidak sebenarnya?
5. Kalimat "Islam Berkemajuan merupakan cara pandang bahwa Islam adalah agama universal yang mengajarkan kehidupan yang maju dan menuntut umatnya untuk mewujudkan kemajuan itu dalam semua aspek kehidupan pada tataran pribadi, masyarakat, umat, bangsa dan kemanusiaan universal." Seperti apa kehidupan yang maju ini diasumsikan atau digambarkan?.
Agar lebih elaboratif, catatan kritis dari saya di atas, saya minta untuk dielaborasikan oleh ChatGPT menjadi sebuah artikel, berikut artikel yang dielaborasikan oleh ChatGPT dari catatan kritis saya tersebut:
Islam Berkemajuan: Sebuah Gagasan Besar dan Pertanyaan-Pertanyaan yang Perlu Dijawab
Gagasan Islam Berkemajuan hadir dengan niat yang baik: menegaskan bahwa Islam bukan agama yang pasif, apalagi penghambat perubahan. Islam diposisikan sebagai agama yang mendorong umatnya untuk bergerak, berpikir, dan membangun peradaban. Semangat ini sejalan dengan banyak ayat Al-Qurâan yang memerintahkan manusia untuk berpikir, mengambil pelajaran dari sejarah, dan memperbaiki kehidupan. Namun, ketika membaca Bab Pendahuluan Risalah Islam Berkemajuan secara saksama, muncul sejumlah pertanyaan mendasar yang perlu diajukan agar gagasan ini tidak berhenti sebagai jargon normatif, melainkan berdiri di atas fondasi konseptual yang benar-benar kokoh.
Risalah tersebut menyebut bahwa umat Islam pernah mengalami kejumudan dan kemunduran karena Islam yang dipahami dan diamalkan bukanlah Islam yang membawa kemajuan. Kalimat ini tampak tegas, tetapi menyimpan persoalan serius. Ia mengandaikan bahwa kemunduran sejarah dapat dijelaskan terutama oleh faktor pemahaman agama. Padahal sejarah Islam, bahkan sejarah peradaban secara umum, tidak pernah bergerak dengan logika sesederhana itu.
Jika kita menengok sejarah pasca jatuhnya Baghdad pada tahun 1258 M akibat serangan Mongol, dunia Islam memang mengalami kehancuran politik yang luar biasa. Kekuasaan Abbasiyah runtuh, pusat dunia Islam hancur, dan dominasi geopolitik berpindah. Namun pada masa yang sama, tradisi keilmuan Islam justru mengalami pendalaman yang sangat signifikan. Di Mesir dan Syam, mazhab Syafiâi mencapai kematangan metodologis. Di wilayah Turki Usmani, mazhab Hanafi menjadi fondasi hukum negara. Ilmu ushul fikih disistematisasi secara ketat, sementara ilmu hadis berkembang melalui proses penyaringan dan pensyarahan yang sangat disiplin melalui tokoh-tokoh seperti an-Nawawi dan Ibn Hajar al-âAsqalani.
Fakta ini menunjukkan bahwa kemunduran politik dan ekonomi tidak otomatis berarti kemunduran intelektual atau keagamaan. Umat Islam bisa kalah secara militer, tetapi tetap maju dalam pengembangan ilmu. Maka pertanyaan yang tidak bisa dihindari adalah: ketika risalah berbicara tentang kemajuan, kemajuan dalam pengertian apa yang sedang digunakan?
Di sinilah letak persoalan paling mendasar. Istilah maju dan kemajuan bukanlah istilah yang netral dan bebas nilai. Secara historis, konsep kemajuan sebagaimana kita pahami hari ini berakar dari filsafat modern Barat, terutama sejak Pencerahan Eropa pada abad ke-17 dan ke-18. Dalam pandangan ini, sejarah dipahami sebagai gerak linier yang selalu menuju kondisi yang lebih baik. Manusia dianggap semakin maju seiring meningkatnya penguasaan atas alam melalui sains, teknologi, dan rasionalitas.
Cara pandang ini melahirkan keyakinan bahwa yang datang kemudian pasti lebih baik daripada yang sebelumnya, bahwa perubahan selalu identik dengan perbaikan, dan bahwa pertumbuhan material merupakan indikator utama kemajuan. Pandangan inilah yang kemudian menjadi fondasi modernitas, industrialisasi, dan kapitalisme global.
Namun, perspektif ini tidak sepenuhnya sejalan dengan cara Islam memandang sejarah dan kehidupan. Al-Qurâan justru berkali-kali menghadirkan gambaran masyarakat yang sangat maju secara material tetapi runtuh secara moral. Kaum âAd dikenal memiliki kekuatan fisik dan teknologi bangunan yang luar biasa. Kaum Tsamud mampu memahat gunung menjadi tempat tinggal megah. Peradaban Firâaun di Mesir mencapai puncak kemajuan arsitektur dan administrasi. Namun semua itu tidak disebut sebagai kemajuan sejati karena dibangun di atas kesombongan, kezaliman, dan penolakan terhadap kebenaran.
Dalam pandangan Islam, sejarah tidak bergerak secara linier menuju kebaikan, melainkan bersifat moral dan normatif. Sebuah masyarakat bisa naik atau jatuh tergantung pada keadilan, amanah, dan ketaatannya pada nilai kebenaran. Dengan kata lain, Islam tidak menilai kemajuan dari seberapa canggih sebuah peradaban, melainkan dari seberapa benar arah hidupnya.
Di titik inilah istilah âkemajuan yang Islamiâ menjadi problematis jika tidak dijelaskan secara filosofis. Apakah kemajuan yang dimaksud adalah kemajuan material yang kemudian âdiberi nilai Islamâ? Ataukah kemajuan yang sejak awal didefinisikan oleh nilai-nilai Islam sendiri? Tanpa klarifikasi ini, konsep Islam Berkemajuan berisiko menjadikan modernitas sebagai standar, lalu Islam hadir sekadar sebagai justifikasi moral.
Persoalan semakin kompleks ketika risalah menyebut bahwa âIslam yang sesungguhnya adalah agama yang mendorong kemajuanâ. Kalimat ini secara implisit membagi Islam ke dalam dua kategori: Islam yang sejati dan Islam yang tidak sejati. Padahal dalam sejarah Islam, terdapat beragam orientasi hidup yang sama-sama berakar pada ajaran Islam. Tradisi fikih, tasawuf, dan akhlak tidak selalu menempatkan ekspansi duniawi sebagai tujuan utama.
Nabi Muhammad  hidup dalam kesederhanaan, bukan karena tidak mampu hidup mewah, tetapi karena kesederhanaan itu sendiri merupakan nilai. Para sahabat seperti Abu Dzar al-Ghifari mengkritik penumpukan kekayaan, bukan karena anti-kemajuan, tetapi karena melihat bahaya ketimpangan dan kerusakan moral. Dalam tradisi tasawuf, pengendalian diri dan pembatasan hasrat duniawi justru dipandang sebagai kematangan, bukan kemunduran.
Jika kemajuan selalu dipahami sebagai pertumbuhan dan ekspansi, maka Islam berisiko direduksi menjadi agama yang sekadar mendukung arah sejarah modern. Padahal bisa jadi, tugas Islam justru adalah mengkritik arah sejarah itu sendiri.
Masalah yang sama muncul pada istilah âpemahaman dan pengamalan Islam yang sebenarnyaâ. Di sinilah pentingnya kesadaran epistemologis. Epistemologi, secara sederhana, adalah cara kita menentukan bagaimana suatu pengetahuan dianggap benar. Dalam Islam, kebenaran tidak ditentukan oleh satu sumber tunggal, tetapi melalui wahyu, akal, ijmaâ, qiyas, dan pengalaman sejarah umat.
Ketika sebuah risalah mengklaim membawa pemahaman Islam yang âsebenarnyaâ, publik berhak bertanya: dengan metodologi apa klaim tersebut disusun? Apakah ia lahir dari pembacaan teks, dari tujuan-tujuan syariat, dari tuntutan zaman, atau dari asumsi filsafat modern tentang kemajuan? Tanpa kejelasan epistemologis, klaim kebenaran mudah bergeser menjadi klaim ideologis.
Hal yang sama berlaku pada konsep âkehidupan yang majuâ sebagai tujuan Islam Berkemajuan. Kehidupan seperti apa yang dimaksud? Apakah kehidupan modern dengan industrialisasi dan teknologi tinggi? Ataukah kehidupan yang adil, bermoral, dan seimbang antara dunia dan akhirat? Dalam tradisi Islam, kehidupan ideal tidak selalu identik dengan pertumbuhan tanpa batas. Kesederhanaan, keadilan, dan pengendalian diri justru sering dipandang sebagai tanda kemajuan yang lebih hakiki.
Jika konsep kehidupan yang maju tidak didefinisikan secara hierarkis dan berbasis nilai, maka Islam Berkemajuan berisiko menyerap nilai-nilai modern secara selektif tanpa kritik mendasar, seolah setiap perubahan adalah kemajuan dan setiap kemajuan pasti Islami.
Pada akhirnya, Islam Berkemajuan adalah gagasan yang penting dan layak dikembangkan. Namun agar ia tidak kehilangan akar, gagasan ini perlu ditopang oleh kejelasan definisi, ketelitian sejarah, dan kejujuran epistemologis. Tanpa itu, Islam Berkemajuan berisiko menjadi Islam yang bergerak mengikuti arus modernitas, bukan Islam yang menimbang, mengarahkan, dan bila perlu mengoreksi arah sejarah itu sendiri.
Berpikir kritis terhadap gagasan keislaman bukanlah bentuk penolakan terhadap Islam. Justru dari tradisi kritik, perdebatan, dan ijtihad itulah peradaban Islam tumbuh dan menemukan momentumnya. Jika Islam Berkemajuan ingin menjadi kelanjutan dari tradisi besar itu, maka keberanian untuk mendefinisikan ulang apa yang dimaksud dengan âmajuâ dan âkemajuanâ adalah syarat yang tidak bisa ditawar.