Kaca terpal yang nyaris tak terlihat itu menjadi satu-satunya pembatas yang membuat perempuan itu tak basah. Di luar sana rinai hujan menari-nari, mengetuk-ngetuk kaca seakan mengundangnya keluar untuk menari bersama. Si perempuan tersenyum.
Ritual berbagi kebisuan dengan hujan, katanya. Hal yang tak pernah bosan ia lakukan. Meskipun yang ia lakukan hanyalah duduk diam sambil memandang rinai-rinai hujan yang menari di luar.
Sementara aku, hanya bisa menarik nafas dalam sambil menemani di sampingnya. Alasan itu bohong. Ia bukan memandang rinai-rinai hujan. Ia sedang menggali kenangan. Ia memanfaatkan efek psikologis dari hujan untuk membangkitkan kenangannya yang perlahan memudar.
Namanya Rein, singkatan dari Reinaldo. Aria yang memberi nama panggilan itu. Katanya, laki-laki itu mirip hujan.
Aku tertawa ketika mendengarnya pertama kali. Apa maksudnya, mirip hujan? Mana mungkin ia menyamakan manusia dengan fenomena alam?
Namun kenyataannya memang seperti itu. Pendeskripsiannya akan laki-laki itulah yang membuatku yakin. Laki-laki yang bisa memberikan ketenangan hanya dengan berada di sampingnya. Laki-laki yang bisa menghadirkan rasa sejuk hanya dengan melihat sosoknya. Ia bahkan tak perlu berbicara. Layaknya menikmati hujan, berbagi kebisuan saja sudah cukup.
Aria nampak sangat bahagia ketika ia bersama dengan Rein. Aku pun turut bahagia.
Sampai takdir berkata lain.
Rein menghilang. Layaknya kemarau yang menggantikan musim penghujan. Ia lenyap begitu saja, dan tak pernah kembali.
Aria yang sejak awal memiliki mental yang lemah kehilangan satu-satunya penstabil emosinya. Ia menjadi kacau. Nyaris tak terselamatkan. Meraung-raung setiap hari, memanggil-manggil nama Rein.
Satu-satunya penenang baginya hanyalah hujan. Ia akan benar-benar diam untuk memandang hujan dengan khidmat dari balik kaca terpal yang menjadi dinding kamarnya itu. Hanya saat itulah aku bisa mendekat padanya.
Dengan segala keanggunan yang melekat pada dirinya, Aria menoleh. Rambut hitam panjangnya bergoyang sedikit, menutupi salah satu matanya. Tanganku pun bergerak pelan, menyampirkan helaian rambut itu ke belakang telinganya. Kedua bola matanya yang berwarna cokelat membulat sempurna, dan nampak berbinar.
Entah karena apa, setelahnya senyum tipis terkembang di wajahnya. Ia pun menolehkan kepalanya lagi, ke arah kaca terpal. Melanjutkan memandang hujan.
Dulu, jika hujan seperti ini Aria akan menyeduhkan dua cangkir cokelat hangat. Dilanjut dengan menyeret selimut tebal super besar favoritnya dari kasur, lalu menyuruhku menemaninya duduk di sampingnya. Di atas sofa merah marun yang sangat empuk, ia akan berceloteh riang sambil menyeruput cokelat hangatnya. Persis di depan kaca terpal ini. Meringkuk di balik selimut, memandang hujan.
Atau, jika aku dan dia sedang beruntung, ditambah dengan sepotong kue. Entah itu kue cokelat, cheesecake, apple pie, tiramisu, cupcake, atau apa pun.
“Makanan yang enak akan selalu membuatmu bahagia. Orang bilang, hujan itu identik dengan hal sedih. Jika ditemani makanan enak, maka kita tidak akan sedih kan?”
Bahkan aku sampai ingat ceramah singkatnya yang selalu ia utarakan tiap kali kami ‘menonton’ hujan bersama.
Aku tersenyum pahit mengingatnya. Aria yang kini berada di depanku, masih dengan segala keanggunan dan kecantikannya, nampak sangat hampa seperti boneka porselen. Kenapa seperti ini? Ke mana Aria yang dulu?
Tanpa kusadari Aria sedang memandangku dengan tatapan cemas. Sebelah tangannya menepuk-nepuk pundakku, seakan mencoba menenangkan. Aku terkejut.
“Sudah kubilang kan, Do? Orang tak akan pernah mendapat kembali apa yang sudah ia sia-siakan. Begitu juga denganku. Aku tak akan pernah mendapatkan Rein lagi.”
Aria mengucapkannya dengan suara yang sangat jernih, dan sorot mata yang menyiratkan ketegaran yang dalam. Entah sudah berapa lama berlaul sejak aku merasa Aria se-‘manusia’ ini.
Ponselku bergetar. Aku merogoh sakuku, mengambilnya. Sebuah SMS.
Reinaldo, sudah saatnya kau menyuntikkan obat bius pada Aria. Hujan ini tak akan berhenti dalam waktu singkat. Pasien retrogade amnesia harus banyak istirahat.
Aku mengangguk, lalu bangkit dari sofa. Aria hanya memandangku berjalan menuju laci tanpa berkata apa-apa. Sementara aku mengambil jarum suntik dengan gerakan pelan, sebisa mungkin mencegahnya melihatnya.
Aku kembali. Aria masih menatapku, kali ini dengan senyuman.
Dari Reinaldo menjadi Rein. Dari Rein menjadi Aldo. Dari sumber segala kebahagiannya menjadi penghancur hidupnya. Dari segalanya baginya menjadi bukan siapa-siapa.
Dengan gerakan cepat namun lembut aku menusukkan jarum suntik ke lengannya. Aria meringis. Perlahan ia menyandarkan badannya ke badanku.
“Aria, mungkin kelupaanmu ini memang hukuman untukku. Aku tidak seharusnya menghilang. Ar, kumohon maafkan aku... kembali... pulang... Ar...”
Hening selanjutnya. Aria tertidur sepenuhnya. Hanya terdengar dengkurannya.
Mungkin ini memang hukuman untukku. Akan tetapi... untuk berapa lama? Perlukah semenyakitkan ini?
Diikutsertakan untuk suatu kompetisi menulis flash fiction (cerpen yang sangat pendek dengan kurang lebih hanya 800 kata) dengan tema merindu tanpa kata rindu. Saya lupa lombanya diadakan di mana, kalau tidak salah saya terpilih sebagai salah satu pemenang... This is back on year 2012 maybe?
But anyway here you go and thanks for reading.