Rumah Tangga Konvensional
Ini sekadar list of keywords dan kutipan dari sebuah diskusi ringan sebuah keluarga besar… yang sharing adalah sepasang Papa dan Mama, Ipa dan Ima (Kakek dan Nenek).
Disclaimer: catatan ini sudah bercampur dengan pendangan saya dan jangan dibaca kalau belum (bulat bertekad) menikah.
Rumah tangga adalah sekolah yang tidak mengenal kata wisuda.
Keluarga konvensional: tidak detail ngomongin masa depan, kecuali pernak pernik ingin ini-itu yang sepele, tapi mengutamakan kasih sayang, komunikasi, dan komitmen.
Jenuh dengan pasangan? Emangnya baju bisa pakai bosan segala?
Kenali dirimu, kenali orang seperti apa yang melengkapi denganmu.
Jika kita melapangkan ciptaan Allah, Allah akan melapangkan hati kita.
Cari yang mau bertahan–diskusi, kompromi, mengalah for greater good–tanpa mengorbankan hal-hal prinsipil..
Saat penjajakan, kenali tipikal dan kepribadian calon istri mumpung belum akad.
Jangan ngotot dan jangan mengeluarkan kata-kata yang melukai, karena akan merusak diri sendiri.
Bahagia itu bersama, berbagi, mengenalkan, dan melibatkan.
Bahagia dunia akhir akherat dicapai dengan kerja keras dan tidak gampang menyerah.
Setiap manusia berakal punya preferensi, jadi ego-lah yang perlu diturunkan.
Perlu kesadaran merawat cinta sampai akhir hayat.
Berumah tangga adalah sebuah komitmen untuk siap menerima, menerima seseorang (dan keluarga besarnya) menjadi bagian dari diri kita.
Romantisme cuma tools cinta.
Bangun keluarga: tanggung jawab, kepedulian, kepercayaan, kehormatan, keikhlasan, kasih sayang.
Uneg-uneg dikomunikasikan.
Saling ajak ke acara me time, supaya saling kenal.
Tips bahagia: penyertaan, pemaafan, dan pengikhlasan.
Prioritas berubah juga cara pandang, dari aku jadi kita.
Berumah tangga diniatkan menyenangkan Allah dan ciptaan-Nya.