di waktu ahad hari rehat, aku tahu ada kecenderungan tidak suka saat aku memilih jalanku, pun saat mencantumkan nilai di rapor dengan alasan kekerabatan
banyak hal, aku pikir, setidaknya itu cara pikiranku memanipulasi semuanya
kamu masih ingat saat kita berbincang melalui telekomunikasi malam-malam? aku menangis hingga tersedu, berkali-kali minta maaf, ku pikir saat itu mungkin akan ada jalan putar balik
aduh, berantakan sekali tulisanku.
memutuskan mengakhiri semuanya secara sepihak membuatku tidak bisa tidur, cukup menghantui hingga saat ini, saat itu memang terkesan logis bagi akal sehatku (atau egoku?) aku berpikir, diantara banyak perempuan, mengapa harus rekan semejaku?
aku menyesalkan, tidak membuka pintu, mengabaikanmu, aku pikir, orang sebaik kamu tidak pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. dari situ aku menarik sebuah kesimpulan kembali, bahwa memang aku tidak pantas dengan orang sebaik kamu
di bulan bahagiamu, aku tidak cukup ingin tahu sebenarnya, tapi teman kita cukup informatif mengenai ini (walaupun sebenarnya aku berharap dia simpan saja semua informasi tentang dirimu)
di bulan bahagiamu ini, yang lima tahun lalu dst. merupakan bulan bahagiaku juga. aku ingin mengucapkan selamat! aku benar-benar sangat bahagia!
mungkin rasa bahagiaku saat ini merupakan wujud dari caraku menebus rasa bersalahku?
aku bahagia kamu menemukan pelabuhan terakhir, kamu berhak mendapatkan seluruh kebahagiaan di dunia ini. dengan latar belakang keluarga yang sederajat dan sama dengan keluargamu, dengan latar belakang pendidikan yang sederajat dan sama denganmu. dari situ aku berulang kali berpikir, sepertinya bukan masalah rekan semeja yang memisahkan kita, tetapi memang seharusnya pisah saja? aku merasa dari awal semesta memang tidak mendukung
karena hari ini aku memutuskan untuk menulis tulisan ini, aku akan menuliskan semuanya, untuk terakhir kali.
aku masih ingat hangat rasanya bekal nasi goreng dari kamu, yang kita santap dengan percaya diri di tengah-tengah batas kelas kita yang bersampingan. kamu mengajariku banyak hal untuk tidak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan tentang diri kita
aku masih ingat bagaimana kamu dengan bersemangat mengajakku jalan-jalan naik motor gigi itu, ke hutan pinus, ke pantai, bahkan kamu mengajariku naik motor gigi juga. kamu sangat bersemangat karena kamu tahu itu adalah hal pertama bagiku, kamu tahu bahwa aku jarang menghabiskan waktu diluar
aku masih ingat bagaimana kamu mengajariku mati-matian, meminjami bukumu untuk aku fotocopy karena tahu aku tidak mengikuti bimbel, bahkan mengindahkan ideku untuk mengajariku dan kedua temanku karena kamu sangat jago matematika dan fisika!
aku masih ingat kamu sangat ingin menjadi mahasiswa teknik mesin di salah satu universitas lokal terbaik, aku masih bersedih sampai sekarang kamu tidak menjadi mahasiswa teknik mesin, namun rasanya semua itu justru mendekatkanmu kepada jodohmu, jadi aku akan mengingatnya sebagai hal baik sekarang
aku pun masih ingat dengan jelas bagaimana dulu kamu suka menjual kartu perdana, dengan keuntungannya untuk kamu traktir makan ke aku. kamu sering traktir makan olive, dan selama itu pula aku selalu memesan sayap (paling murah hehe) aku tahu sejak saat itu, kamu memiliki keahlian untuk berdagang, terlebih dari cara kamu membagi keuntunganmu buat aku, ternyata kamu juga pejuang
aku masih ingat menemanimu ujian mencari kuliah, makan warmindo kita setelahnya!
dan banyak lagi kebaikan tentangmu yang aku ingat.
aku masih sedih karena membuatmu kecewa saat itu, melimpahkan kesalahan (yang kalau dipikir, itu bukan kesalahan) kepadamu habis-habisan! di sisi lain, tanpa kejadian itu, mungkin tidak akan menjadi seperti sekarang bukan?
kamu pernah bilang, tidak akan merelakanku kecuali kepada orang yang lebih baik darimu?
ini saat yang tepat untuk aku bilang kepadamu hal yang sama, kan?
berbeda denganmu yang memiliki banyak teman, kenangan masa sekolahku sebagian besar berisi kamu
di waktu ahad hari rehat, senang pernah berselingan takdir denganmu, semoga setelah ini kita tidak pernah benar-bener bertemu kembali.