Teruntuk kalian, yg masih saja mengait-ngaitkan. Aku tidak mengajak kalian merasa apa yg aku rasa, tapi mari lebih bisa menghargai sebuah rasa. Mohon jangan lagi kaitkan ku dg beberapa episode yg sudah terlewatkan, beberapa pemeran yg sengaja kuhindari, dan segala sesuatu yg memicu rasa sakit. Begini, apa kalian pernah memiliki orang terkasih yg mematahkan sebuah kepercayaan? Yang semula kalian agung-angungkan, nyatanya menghancurkan pengharapan lalu pergi meninggalkan sesuatu yg memalukan? Jika tidak, semoga jangan. Mengikhlaskan kepergian itu tidak sesederhana menimbun cabai jika busuk kita beli lagi. Meredakan rasa sakit itu tidak sesederhana kepahitan minum jamu, makan permen lalu sembuh. Melupakan sesuatu yg berarti itu tidak sesederhana ngapalin rumus trigonometri di sekolah begitu pulang ingatan selesai. Terperangkap, mencintai, menerima, menjalin itu memiliki beberapa tahapan, begitupun dg bangkit dari sebuah kehilangan. Prosesnya begitu panjang, kita dipaksa mematikan ingatan setiap lagu, rute jalan, lokasi atau apapun yg berkaitan yg bisa membangkitkan sebuah kenangan, kita dipaksa membiasakan hal-hal yg sebenarnya hati tak ingin, begitu sulit, setiap hari kita melawan perasaan, menyakiti diri sendiri, dan hanya dg waktu yg panjang kita akan mulai terbiasa, hingga rasa sakit sendiri yg kelelahan menyakiti kita, lalu pergilah rasa itu hadirlah sebuah keikhlasan. Lalu, tega kah kalian(yg masih gemar mengait-ngaitkan) mematahkan usaha semati-matian ini hanya dg satu ucapan? Bagaimanapun bunyinya kalau masih menyinggung tentangnya, tidak akan pernah berkenan. Jika terlanjur yasudah kumaafkan, jika belum kumohon jangan.. Dan mari lebih menghargai sebuah rasa. -FNS