WHERE WOULD YOU MOST LIKE TO VISIT ON YOUR PLANET?
Mecca, Medina and Al Aqsha
AnasAbdin
styofa doing anything

titsay

⁂
Claire Keane
wallacepolsom
tumblr dot com

blake kathryn
Jules of Nature
I'd rather be in outer space 🛸
Mike Driver

shark vs the universe

ellievsbear
taylor price
Monterey Bay Aquarium
he wasn't even looking at me and he found me

Love Begins
RMH
KIROKAZE
Stranger Things

seen from Netherlands
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Finland

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Brazil

seen from Canada
seen from Brazil
seen from Argentina
seen from Türkiye
seen from United States
seen from Ireland
@dianhumaira
WHERE WOULD YOU MOST LIKE TO VISIT ON YOUR PLANET?
Mecca, Medina and Al Aqsha

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
“Aku pernah hinggap di banyak hati. Aku pernah menetap, aku pernah memilih pergi, atau bahkan pernah diusir tanpa rasa hormat sama sekali. Namun sayangnya, hati yang sepertimu tak pernah aku jumpai dalam diri mereka. Mungkin memang benar, kau itu istimewa. Hingga berkali-kali jatuh cinta saja tetap membuatku melihatmu sebagai yang paling sempurna.”
— (via mbeeer)
Dear, Pak Joko. ILY 🤭
“Semoga Allah berikan pasangan hidup yang bertaqwa. 😊”
—
Alhamdulillah.
Terus ketemu inspo kamar ini di toped. Terus terinspirasi buat kamar kos sementara nanti. Dududududuu ngekos lagi 🙈
Alhamdulillah lulus tes CPNS di Kota yang ga jauh dari tempat dinas suami. Masya Allah tabarakallah walhamdulillah. Lulus di tes ke 4 yang saya coba ini rasanya campur aduk tapi enak seperti es campur, atau es yoghurt so*r Sally dengan topping buah manis. Kebayang kan enaknya?! *Buat yang ga suka ya kita memang ga satu frekuensi aja
1 Januari 2022

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Beberapa kali tulis kata-kata romantis untuk suami, sudah diketik, diniatkan mau diupload di instastory, gagal. Sungguh, sering sekali terjadi.
Beberapa kali merasa, "Kok aku ga pernah up load mesra sama ayang beb kayak rangorang itu ya?" Dalam detik itu juga, "Upload, aaah", singkat kemudian, ga jadi. Begitu terus terulang sampai sekarang.
Mulai awal nikah sampai sekarang memang jarang banget share kehidupan berdua. Poto, puisi, cerita, dsb. Sungguh. Kadang ku iri sama manteman yg mudah banget upload kemesraan nya. Setidaknya ga overthinking kayak aku gitu. Ya aku irinya di situ. Kalau soal mesranya kami, hohohoho, sungguh, kuingin pamer, tapi ... Astaghfirullah, buat apa???
Nah, itu dia, kata "Buat Apa??" Adalah kata yang berkai-kali bikin ketikan kata-kata mesra dihapus ga jadi up load.
Buat apa mesra di mata publik? Apa ngejamin mereka yg lihat bakal like? Apa yg like beneran suka? Gimana kalau ga? Yang paling penting lagi, apa mesra ini akan selamanya?
Jujur, beberapa waktu belakangan saya ga pernah aktif di akun IG pribadi yg isinya kawan2 sekolah dan kuliah dulu. Saya aktif di akun review skincare bujoko. Begitu saya aktif di akun pribadi, saya tercengang, rupanya sudah banyak yg berubah. Ada yg udh nikah bahkan ada anaknya udh nambah. Ada kebahagiaan ada juga kehilangan. Salah satu yang bikin saya nangis Bombay, ada yg bahkan sdh tidak bersama pasangannya lagi. Sedih nangis Bombay depan suami saya sejadi-jadinya.
Kenapa kok segitunya??
Pertama, itu jadi bukti saya ga keep in touch dgn teman2 saya.
Kedua, saya terkejut sekaligus tersadar, rumah tangga rupanya bukan sekedar romantisme belaka. Terkejutnya saya, up load an mesra ga menjamin rumah tangga akan abadi selamanya, pencitraan bahagia ga selamanya wujud kelanggengan. Sedih, sungguh saya sedih.
Cepat cepat saya langsung berkaca ke rumah tangga kami yang masih seumur jagung ini. Masya Allah. Kemudian sambil nangis langsung minta maaf sejadi-jadinya ke suami atas segala khilaf. Meminta agar diingatkan bila saya sdg lupa. Meminta utk sabar dan senantiasa meridhoi saya.
Sedikit lega, banyak cemasnya. Oleh karenanya, saya minta ke suami, "Mas, saat hubungan kita renggang nanti, tolong ingatkan adek sama Allah. Tolong, sama-sama kita minta kekuatan kepada Allah agar yg renggang Allah kuatkan lagi, Allah kokohkan lagi.
Jadi, makin ke sini makin mikir utk upload apapun soal kemesraan berdua. Makin merasa, "Buat apa?"
Desa Pundu, Kalimantan Tengah
Agustus 2020
Demotivasi
Sekarang giliran mau demotivasi untuk punya anak, setelah kemarin norak pamer kesenengan. Semua harus seimbang atuh informasinya, biar sudut pandangnya fair.
Jadi, dulu ketika belum hamil, gw pernah curhat sama seorang sahabat, Mba Maria. Dia menghibur gini, “nikmati aja masa berdua Din bulan madu, ntar kalo hamil kadang-kadang suka ga boleh ena-ena dulu loh, wkwkwk.” —> nasihat macam apa ini???
Tapi setelah gw pikir-pikir, intinya tuh bener juga. Setiap fase tuh punya gain and pain sendiri-sendiri, punya get and lost yang berbeda-beda. Kayak orang menikah, mendapatkan pasangan tapi juga mungkin kehilangan kebebasan. Punya anak, mendapatkan kebahagiaan tapi juga kehilangan kesenangan-kesenangan yang lain. Orang dapat kerjaan bagus, mendapatkan uang banyak tapi mungkin kehidupan sosialnya terenggut.
Di sini gw coba paparkan kasus gw sendiri yang secara obyektif mah biasa aja, karena banyak yang lebih parah. Awal - awal hamil, gw pernah merasa ‘kok hamil sih, enakan masih berdua aja.’ Kalo masih berdua aja, perhatian suami cuma ke gw, gak setiap malam cari jabang bayik anaknya yang berbentuk manusia aja waktu itu belum. Gw mual sepanjang hari dan tubuh tidak berdaya selama berminggu-minggu sehingga kerjaan terbengkalai, kontrakan berantakan, makanpun setiap hari jadi beli. Kami juga sudah punya rencana pergi-pergi awal tahun ini mumpung belum ada anak, yang gagal karena hamil lalu pandemi.
Yang cukup parah waktu itu adalah ketika pertama kali USG, dokter memberi resep vitamin dan obat penguat kandungan yang harganya sekitar 700.000. Apa coba yang ada dalam pikiran gw?
Mayan juga ya harganya, ini mah mending gw beliin Kiehls.
Gila gak tuh otak gw? Gw nangis karena gw punya pikiran kayak gitu. Di saat itu, gw menyadari bahwa gw belum siap menjadi ibu. Gw menyadari bahwa ketika manusia diberi sesuatu yang diharapkan, belum tentu dia pantas mendapatkannya, bisa jadi itu cuma ujian. Di luar sana, ada banyak perempuan yang lebih pantas jadi ibu, tapi belum dikasih kesempatan.
Yang paling parah, pernah ada sekelibat pikiran bahwa kalo bisa sih bayi ini ga jadi lahir. Gila gak gw? Gw gak bayangin apa jadinya nanti kalo anak ini sudah lahir dan gw harus menghadapi baby blues. Tanpa partner sesolid suami gw di masa-masa ini, mungkin gw udah stres karena ngerasa hamil sendirian.
Makanya buat yang lakik, kalo istrinya hamil, tolong beri dia perhatian yang membuat dia merasa gak hamil sendirian. Simpel aja, elus perutnya, perhatian sama apa yang dia makan, bantu ngerjain kerjaan yang sudah tidak boleh dia kerjakan seperti angkat-angkat barang, tanyain apa masih mual, ga usah komentar negatif kalo dia sesekali ngeluh.
Sekarang menginjak usia kehamilan yang mulai akan merasakan kesulitan lagi. Tidur miring kiri si bayik protes, miring kanan dia berisik, telentang jelas gak boleh, mau tidur macam apa? Kayang? Belum lagi keluhan kandung kemih yang bikin ga bisa tidur. Semalam aja, gw pipis 4 kali, dan kadang sakit kalo dia bergerak terlalu aktif. Ini belum lahir, apalagi nanti mengurus anak?
Ibu memang adalah madrasah pertama anak, tapi anak barangkali adalah madrasah bagi ibu seumur hidupnya.
Bukan ngeluh, pingin aja cerita kalo setiap fase kehidupan itu ada pain and gain. Kita bisa menikmati setiap tahap dalam hidup ini, bisa ngeluhin juga, bisa nano-nano pokoknya. Gak masalah mana yang kita pilih dan kita dapatkan dari Tuhan, kehidupan akan selalu mengajarkan bagaimana bahagia harus ditukar dengan satu dua hal ujian.
Have I told you that H-1 pernikahan, gw pingin minggat dan minggu-minggu pertama menikah gw nyesel cuma gara-gara perkara kecil semacam lokasi kampung mertua gw yang jauh banget? True story. Kapan-kapan gw ceritain. :D
Istri adalah orang yang mampu membuat seorang laki-laki berhenti dalam berdakwah. Istri jugalah orang yang mampu membuat laki-laki terus istiqomah dan terus semangat dalam berdakwah. Maka, pastikan kita memilih Istri yang tepat, yang senantiasa membawa kita berkembang.
- Choqi Isyraqi
Suami adalah orang yang mampu membuat seorang perempuan berhenti berdakwah. Suami jugalah yang mampu membuat istri Istiqomah dan terus semangat dalam berdakwah. Maka, pastikan kita memilih suami yang tepat, yang senantiasa membawa kita berkembang.
- Ardianti Ahmad
Masak
Jadi besok aku diminta ngisi sharing session Ramadan. Terus pas aku lihat-lihat video sebelumnya, moderatornya nanyain ke pemateri sebelumnya
Moderator : gimana mbak, sudah nyiapin buka?
Pemateri : sudah tinggal goreng-goreng lauk aja.
Mantaaaappp.
Aku : Mas, besok kalau aku ditanya 'gimana mbak, sudah nyiapin buka untuk suami?' aku jawab apa yaaa
Suamiku : jawab aja, suamiku mandiri mbak. Dia udah nyiapin sendiri.
😂😂😂😂
Tapi beliau bener juga, kayanya aku nyiapin buka buat beliau cuma dalam hitungan jari. Sampai kalau ibu-ibu pada post menu buka pusa yang udah disiapin, aku minder sendiri hahahahahah.
Aku sudah nggak merasa bersalah lagi, karena kondisiku memang nggak memungkinkan buat nyiapin sesemarak yang lain. Susah juga punya dua batita dalam satu rumah, tanpa asisten, kalau mau nyiap-nyiapin. Sementara aku juga sadar diri, masak--kalaulah itu bukan skill yang harus dipunya untuk bertahan hidup, aku nggak akan mati-matian belajar😂 salah gak sih kalau nggak passion sama masak hahaha. Kasihan ibukku, dua dari tiga anak perempuannya minus banget disuruh masak🤣
Ada dua kategori dalam hidup ini jika dilihat dari segi masak : satu yang bertahan hidup dengan memasak, dua yang bertahan hidup dengan tidak memasak.
Dan aku memilih nomer dua. Sudah kusampaikan di awal (sebelum menikah) kalau aku nggak bisa masak. Dia menerima, dan syukurlah dia berkomitmen untuk tetap menerimaku di tahun-tahun berikutnya, bahkan tidak jarang mendukungku untuk nggak memasak wkwkwkwkwkwk
His magic words : udahlah kamu pesen makan aja, daripada kamu masak terus bete. Semua kena. Ahahaha ya mohon maaf pakkk.
Pelajaran yang bisa dipetik : tidak usah membandingkan dengan rumah tangga lain karena tiap rumah tangga beda-beda kondisinya.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bakti Pertama Laki-Laki dan Cinta Pertama Perempuan
Karena salah satu pertimbangan tersulit saat kelak kamu memutuskan menikah, adalah kamu harus meninggalkan orang tua yang kamu cintai, sementara kamu takkan pernah merasa cukup waktu untuk mengabdi
Beberapa hari silam, usai melantunkan Al-Ma’tsurot pagi, aku menghabiskan waktu di kamar ibuku. Sembari bercerita apapun, mendengar ceritanya, sambil memijitinya yang masih terlihat lelah usai memasak untuk sahur kami sekeluarga. Sepertinya beliau sudah mengantuk, lantas kubiarkan saja beliau agar tertidur. Saat tidur itulah, aku melihat lamat-lamat wajahnya. Pancaran cahaya semangatnya tetap tak pernah padam walau sudah dimakan usia senja. Rambutnya pun sudah memutih, menandakan beliau semakin tua. Kerutan-kerutan di wajahnya yang semakin terlihat. Saat aku memijatnya pun, ibu terlihat jauh lebih kurus. Porsi makan ibu sudah tak sebanyak dulu lagi, sudah mulai melakukan pembatasan makanan ini itu, karena alasan kesehatan. Wajah itu, yang tanpa sadar membuat air mataku menetes.
Aku menggenggam tangannya, yang sudah tak sekuat dahulu lagi. Merasakan tangan yang pernah menimangku kala dahulu masih bayi, menggandengku saat masuk TK kali pertama, mencubitku karena kenakalan-kenakalan yang pernah aku perbuat, mengobatiku saat aku sakit, menyuapiku bahkan saat aku disibukkan dengan tugas sekolah yang tak sempat membuatku makan, serta banyak kebaikan-kebaikan lainnya yang pernah dilakukannya.
Bagi laki-laki, ibu tentu saja adalah bakti pertama yang harus dihormati. Dari ketulusannya, menjadi supporting system bagi ayah, mengasuh dan mengasih saat kita di rumah, sudah jauh lebih dari cukup menjadi alasan untuk memuliakan dan menghormati.
Maka jika nanti seorang lelaki telah beristri, barangkali di awal akan ada kecemburuan-kecemburuan sesaat yang akan hadir dari ibu yang telah membersamainya bertahun-tahun. Ibumu tahu dan mengerti akan hal itu, namun ketulusan cintanya lah yang membuatnya pada akhirnya merelakanmu. Bahkan memberikanmu pertimbangan saat kamu mendiskusikan sebuah nama dengannya.
Tapi justru Ibumu akan mengikis rasa cemburu dalam hatinya, dengan memilihkan orang yang terbaik untukmu. Sebab ia tahu, ketulusan cinta istrimu, kelak yang akan membuatnya ia tenang. Membuatmu mampu tetap berbakti walau tak lagi intens setiap hari seperti sebelumnya.
Mungkin pula ibumu yang kelak justru bisa berubah menjadi cerewet terhadap istrimu, bukan semata-mata membencinya, namun justru karena masih terlalu mencintaimu, menganggapmu seperti anak kecil yang dahulu masih harus disuapinya. Dan kamu kelak, bukanlah pemihak ke salah satu, namun engkaulah yang akan menjadi perantara di antara keduanya.
Tak mau mengganggu ibuku yang sedang tertidur pulas, aku pun beranjak ke ruang keluarga. Di sana aku melihat ayah dan adikku sedang bercakap-cakap. Seperti biasa adikku curhat masalah kuliahnya yang susah, masalah teman-temannya di organisasi yang aneh-aneh, hingga terkadang masalah sepele. Aku tersenyum melihatnya, sementara ayahku mencoba mendengarkan walau aku tahu beliau sambil terkantuk-kantuk mengingat semalam beliau lembur.
Pemandangan tersebut membuatku merenung, dan semakin yakin, bahwa ayah memang benar dalah cinta pertama anak-anak perempuannya. Ayah yang akan menjadi pundak tempatnya bersandar akan segala permasalahannya. Ayahnya yang menampung segala curhatan dan air matanya. Ayahnya pula yang kelak akan menyeleksi calon menantunya agar memastikan bahwa putrinya akan dibersamai dengan orang-orang yang tulus melindunginya.
Kelak di hari pernikahan anak perempuannya, ayah pula yang akan menggenggam tangan seorang laki-laki asing, menyiratkan tanggung jawabnya yang kini berpindah pada sosok yang baru saja dikenalnya. Di masa itu, ayah pasti akan terlihat berupaya tegar, walau sesungguhnya ia ingin menumpahkan segala air matanya yang tertahan. Tidak, ia adalah seorang lelaki. Ia tak boleh menangis di depan putrinya. Ia harus tersenyum walau senyum itu terkesan dipaksakan.
Setelah membesarkanmu bertahun-tahun, melindungimu, menjadi sosok pengayom bagimu, kelak ayahmu lah yang justru menyerahkanmu kepada seorang laki-laki, yang barangkali belum teruji sama sekali komtimennya saat ia memintamu baik-baik.
Cinta ayahmu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan, terlebih saat kamu berbahagia dengan laki-laki lain. Tapi ia tak pernah mempersoalkannya, dan bahkan ia siap menjadi tempat kembali jika laki-laki pilihanmu malah mencampakkanmu.
Di balik wajah tenangnya, sesungguhnya ia harap-harap cemas, mungkin ia akan lebih banyak diam beberapa hari setelah kamu dibersamai oleh laki-laki yang baru ia kenal. Tapi lambat laun, ia pasti akan merelakanmu, hanya satu kalimat darimu yang mampu menenangkannya, *Aku melihat sosok ayah pada suamiku”
Bagi setiap orang tua, melepas anak-anaknya ke jenjang pernikahan sudah tentu bukan hal yang mudah. Butuh pertimbangan, butuh istikharah panjang, bahkan perenungan berhari-hari. Tapi mereka sadar, bahwa cinta kepada anak-anaknya adalah cinta karena illahi. Dan merelakan mereka ke jenjang pernikahan, barangkali adalah salah satu bentuk makrifat, untuk menggapai cinta Illahi.
Malang, 29 April 2020 09.55
tolong, ini siapa yang naruh bawang merah di sini? luber air mata
Kenapa menyalahkan Corona?
Hari ini saya merenung tentang sebuah keadaan di mana dulu tidak begitu saya ambil pusing. Sekarang lagi pandemi Covid-19. Awal mucul di China kira-kira Oktober tahun 2019 lalu (CMMIW), saya merasa mungkin virus ini ga akan masuk Indonesia. Setidaknya waktu itu saya bukan bermaksud sombong tapi sedang berharap saja.
Ternyata terhitung sejak penemuan kasus pertama Covid-19 tanggal 2 Maret 2020 sampai hari ini saya menulis, rasanya virus ini bukan sekedar membuat tubuh manusia sakit dan meninggal, tapi juga dapat berpengaruh pada aspek sosial bahkan politik dan ekonomi secara luas. Namun, benarkah demikian?
Hari ini saya sedang tidak ingin berbicara jauh dan sok pintar soal patologi apalagi politik dan ekonomi. Saya hanya sedang tiba-tiba tertegun oleh curhatan seorang teman yang sepertinya pernikahannya akan diundur tidak tahu sampai kapan melihat kondisi pandemic ini dia sedang jauh dari calon pendamping hidupnya dan tidak memungkinkan untuk menggelar akad nikah dalam waktu dekat seperti yang sudah direncanakan. Saya merasa iba.
Tapi tulisan ini sepertinya bukan soal perasaan iba. Saya tadi berpikir agak keras ketika dia dengan ekspresif mengatakan, “Hancur banget hati gue gara-gara corona ini”. Saya cukup prihatin karena pernikahannya diundur mengingat dia sudah menunggu cukup lama. Tapi akal saya tidak sampai pada kalimat bagaimana corona dapat menyakiti hati seorang perempuan?
Corona bagi saya adalah virus kecil kasad mata yang hanya bisa dilihat dengan alat khusus pun dengan berkali-kali pembesaran. Lantas bagaimana dia bisa menyakiti hati manusia?
Jujur, saya juga termasuk yang merasa sedih ditengah pandemic ini. Saya harus menetap sementara di rumah paman dan bibi saya, harus jauh dari suami karena waktu sebelum pandemic ini benar-benar dinyatakan ada di sini saya sedang ada ujian cpns di Jakarta, mengingat cerita ini, saya menyesal lagi karena tidak langsung pulang segera setelah ujian usai alih-alih menetap di sini menunggu hasil yang tak pasti, begitu hasil keluar malah dinyatakan tidak lulus, saya menangis tersedu-sedu, sedih sekali. Lantas, sekarang saya bisa apa? Saya Cuma bisa ikut PSBB. Bandara ditutup. Membayangkan keluar rumah paman saja saya sudah takut. Tapi yang membuat saya menangis bukan virus corona. Jujur, ini semua adalah kesalahan saya saat itu. Saya yang memilih untuk tidak segera pulang. Saya menyesal sungguh.
Kembali ke curhatan teman saya yang katanya hatinya hancur karena corona. Yang dapat menyakiti hati manusia adalah manusia lain atau manusia itu sendiri. Setidaknya itu yang saya pahami.
Di tengah pandemic begini harusnya kita sebagai manusia bisa lebih bijaksana untuk tidak menambah rasa sakit. Jangan menyakiti manusia lain. Virus ini hanya bertugas sesuai tupoksi menginfeksi saluran pernapasan manusia. Dia ga punya akal apa lagi hati untuk berniat buruk menyakiti manusia. Tolonglah, tidakkah ada yang sependapat dengan saya?
Lagi pula, kalau memang ini salah corona, terus mau gimana? Mau marahin corona, bisa? Mau nuntut hukum corona, bisa? Mau dipenjara itu corona? Ga, kan?
Kita sebagai manusia yang berpikir dan mengambil keputusan. Corona adalah bagian kecil dari alam tempat kita hidup. Kita sebagai ciptaan Tuhan yang berperan penuh dalam mengambil keputusan dalam hidup. Memilih untuk disiplin hidup sehat, tidak tertular dan tidak menularkan, tidak menyakiti manusia lain yang sehat apa lagi yang sakit. Itu peran kita. Jadi, masih mau nyalahin corona?
“Sudah seharusnya kita mengambil pelajaran, jika berjarak sementara saja dengan orang-orang yang kita cintai itu sangat tidak nyaman, lalu bagaimana ketika kita seumur hidup selama ini “menjaga jarak” dengan Tuhan?”
— 3 days before Ramadhan, Just Reminder Mushonnifun Faiz S, 2020
Mencuri Mimpimu
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Sudah lama ingin menuliskan ini, pada akhirnya malam ini memberanikan diri untuk menulis setelah perenungan ini berputar-putar dalam angan selama beberapa hari terakhir. Terlebih dengan kejadian terakhir, membuat hati ini kembali terngiang pesan salah seorang teman yang sudah menikah:
“Kalau kamu sudah memutuskan untuk menikahi seseorang, berarti kamu harus siap pula untuk menikahi mimpi-mimpinya”
Bagi saya hadis di atas sudah seyogianya menjadi alarm yang kuat untuk para lelaki kelak jika menjadi seorang suami agar benar-benar memuliakan istrinya. Saya menjadi teringat akan novel Love Sparks in Korea tulisan Bunda Asma Nadia yang pernah saya baca beberapa tahun silam
“Kau mencuri mimpi-mimpiku dan aku suka” - Hyun Geun pada Rania Timur Samudra
Bayangkan saja, seorang wanita yang mungkin baru mengenalmu, masih menganggapmu sebagai orang asing dan orang lain dalam kehidupan, memberanikan diri menerima tawaranmu untuk hidup bersama, setelah sudah tentu melalui istikharah panjang. Dia yang selama ini hidup bersama mimpi-mimpinya, dia yang selama ini memiliki kebebasan untuk beraktivitas layaknya manusia lainnya pada akhirnya harus mengabdikan diri dalam kehidupan rumah tangga. Dia yang selama ini hidup nyaman bersama keluarganya, memilih keluar untuk berjuang bersamamu.
Pada praktiknya memang sering demikian, pun ketika diskusi dengan ayah beberapa hari terakhir. Beliau berkata, dari pengalaman teman-temannya, kebanyakan adalah seorang istri yang nanti akan mengikuti suaminya. Jika nanti suaminya bekerja terlebih dahulu, maka setelah ritme kehidupan stabil dan menyesuiakan, istri baru bisa mengikutinya. Jika nanti suaminya melanjutkan pendidikan terlebih dahulu, dan menuntaskan semuanya, maka di situlah nanti istri menyusulnya mungkin baru beberapa tahun silam. Hal inilah yang cukup lumrah di kalangan teman-teman beliau, dan mungkin juga di kehidupan rumah tangga yang sudah terjadi pada umumnya.
Dalam Buku Men are from Mars, Woman are from Venus, John Gray menuliskan bahwa memang salah satu karakter penduduk venus adalah nantinya ia akan banyak memberi selama hidupnya. Hingga bisa jadi sampailah nanti pada suatu fase bahwa penduduk venus sadar bahwa ia sudah terlalu banyak berkorban dalam hidup. Demikian pula penduduk mars akan sampai pada fase sadar bahwa ia selama hidupnya sudah banyak menerima, kebalikan dari penduduk venus.
Barangkali sempat merasakan hidup di Swedia yang menjunjung tinggi equality, sedikit mengubah pola pikir saya tentang kesetaraan, bahwa kelak seorang istri pun berhak untuk berkarya bersama di masyarakat, mereguk pendidikan setinggi-tingginya, bertumbuh bersama-sama suaminya agar sama-sama menjadi orang yang bermanfaat. Bahkan Sayyidah Khadijah r.a. pun setelah menikah dengan Rasulullah tetap menjalankan semua bisnisnya yang kesemuanya dipergunakan untuk perjuangan dakwah Rasulullah. Namun sudah tentu tidak melupakan perannya sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya.
Hal inilah yang barangkali menjadi perenungan, sekaligus mungkin sempat menjadi ketakutan jika kelak kita menikah, apakah kita hanya sekedar menjadi pencuri mimpi-mimpinya, ataukah kita justru membantu melangitkan mimpi-mimpinya?
Pertanyaan ini terus terngiang mengingat betapa besarnya pengrobanan istri kita kelak di awal pernikahan, terlebih nanti saat sudah memilki anak, bagaimana ia harus menjalankan perannya sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya, membagi waktu dengan urusan rumah tangga, melayani suaminya, juga jika ia beraktivitas di luar harus mampu menyeimbangkannya. Barangkali sebab inilah Allah menciptakan wanita sebagai makhluk yang multi-tasking, yang terkadang saya sendiri masih dibikin takjub melihatnya, tidak usah jauh-jauh yaitu ibu saya sendiri.
Semoga tulisan ini senantiasa menjadi pengingat bagi para lelaki khususnya, agar kelak jika terbersit keinginanmu untuk menyakiti istrimu, jika kelak ternyata ada konflik antara dirimu dan pasanganmu, ingatlah tentang bagaimana saat kamu mengajaknya keluar dari istana nyamannya utnuk membersamaimu. Ingatlah bagaimana ketulusan dan keikhlasannya menunda mimpi-mimpinya untuk mewujudkan mimpi-mimpi baru bersamamu. Ingatlah, bahwa bilamana ketaatan istri adalah surga baginya, namun itu bukan menjadi alasanmu untuk bertindak semena-mena.
Jika dalam kitab Raudhatul Muhibbin, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah menulskan bahwa:
Hanya dengan cinta yang dapat menjadikan setiap permulaan menuju pada penyelesaian.
Maka semoga kelak dalam pernikahan:
Hanya dengan cinta yang dapat menjadikan apa-apa yang telah terlihat selesai, kembali menjadi awal untuk memperjuangkan dalam mahligai ikatan
Selamat berkontemplasi, Selamat berefleksi. Semoga kita semua tidak henti dan lelah-lelahnya untuk selalu mengukir sabar. Untuk selalu mengukir prasangka yang baik kepadaNya.
Malang, 25 April 2020 02.20
Air mata saya bergumul baca ini.
Selain Corona ada yang lebih membuat sakit. Rindu karena ga bisa pulang, takut pulang bikin yg disayang jadi sakit. Sungguh, itu sakit.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
#atruerosepetalblacktea https://www.instagram.com/p/B-KEwSnH6eM/?igshid=1gmst9jg41xit
Semakin hari ku semakin bersyukur memilikimu sabagai teman hidupku