KUDASAI - Call You Mine
Yang paling menakutkan Dari kepergianmu ini adalah..
Aku tak pernah bisa berhenti mencintaimu di kala kau sudah bisa pelan-pelan melupakan aku.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β ****
βAnuβ¦β
βANU APA?!β
βItuβ¦β
βITUNYA SIAPA?!β
Aduh kayaknya gue serba salah deh mau ngomong apaan juga. Tapi emang pada dasarnya gue yang salah sih. Kok bisa-bisanya gue lupa gak pake cincin itu lagi?! Sekarang gue harus gimana nih? Istri gue udah terlanjur kesurupan knalpot. Udah gak bisa dijinakin lagi.
βKali ini alasan kamu apa lagi?β
βNggβ¦ itu, aku tadi nyuci piring, terus akβ¦β
βNYUCI PIRING AJA TERUS APA GAK ADA ALASAN YANG LAIN?! EMANG GAK ADA YANG BISA KAMU SURUH BUAT GANTIIN KAMU NYUCI PIRING?! TERUS ITU ROMI KAMU BAYAR BUAT APA?! NYUCI PIRING TERUS EMANGNYA KAMU MAU TERNAK KUTU AIR HAH?!β
ββ¦β
βSekali lagi ketahuan itu cincin gak kamu pakai, aku suruh kamu telen bulet-bulet itu cincin!β
Gue langsung menelan ludah mendengar ancamannya barusan. Napasnya masih menderu, matanya masih menatap gue dengan perasaan kesal bercampur lelah terpampang nyata di kedua kantong matanya yang makin lama semakin menggelap. Meski sebenarnya gue tiap subuh pergi ke pasar buat cari bahan masakan, tapi di tiap gue pulang dari pasar, gue sudah menemukan istri gue diam di meja kerjanya dan mengerjakan kerjaannya.
Kami berdua sudah setahun lebih menikah, tapi alasan kami menikah tidak sesederhana karena cinta. Tidak. Bahkan kami tidak pernah kenal sebelumnya. Gue mengenal Twindy tepat di masa pertunangan kami. Alias, gue kenalan sama calon istri gue pas gue tunangan sama dia. Nah loh pusing kan lo? Gimana gue. Kawin sama orang yang gak gue kenal.
Gue akui dia memang cakep sih. Gue kira saat itu gue lagi dapet doorprize dari Tuhan. Itung-itung undian berhadiah. Dari bungkus luarnya sih cakep luar biasa, tapi waktu gue unboxing, ternyata dalemnya beeeuuuuhhh⦠serem banget kaya sopir mobil jenazah.
Dan kalian tau yang lebih parahnya? Kami tidak pernah punya malam pertama. Iya. You read it right. We never had sex before. Selain takut, gue juga sangat menghormati Twindy. Keadaan brengsek dulu yang membuat kami harus menikah memaksa Twindy mau tidak mau harus menerima gue sebagai suaminya. Tentu bisa kalian bayangkan, Twindy yang pintar, tidak terkalahkan, alpha female, tidak butuh pria sama sekali itu, sekarang harus dipaksa hidup serumah sama orang yang mukanya gak lebih ganteng dari ember tinju.
Di kamar kami pun kasurnya double bed terpisah. Gue memang satu kamar dengan Twindy, tapi gue tidak pernah tidur berdua dengannya. Kami selalu tidur terpisah. Bagaimana hari-hari pertama gue setelah menikah dengan Twindy? Wah jangan ditanya deh. Dia bahkan pernah marah hebat sama gue dan berakhir gue tidur di bath tub kamar mandi. Bangun-bangun tulang rusuk gue ilang empat.
Setahun kami menikah, lambat laun Twindy mulai menerima gue sebagai suaminya. Meski gue tau sebenarnya dia melakukan itu dengan alasan mau tidak mau. Sewaktu melihat Twindy sibuk mengurusi kerjaannya hingga menjelang subuh, gue selalu membuatkan Coffee Protein Smoothie untuk menjaga agar staminannya tetap penuh, juga kafein dari Coffee membuat matanya tetap terjaga. Tapi tak ayal minuman itu tidak disentuhnya sama sekali hingga ia pergi bekerja ke kantor. Kenapa gue tau? Ya karena gue juga tidak tidur.
Tiap Twindy begadang sampai subuh di meja kerjanya, gue duduk di pinggir kasur, mencari-cari resep masakan baru sambil sesekali meliriknya di tiap ia memukul pundaknya pelan-pelan karena pegal. Jika itu terjadi, gue selalu menawarkan pijatan. Hanya beberapa kali Twindy mau dipijat, sisanya muka gue ditabok pakai pensil alis kepunyaannya.
βMalam ini gak usah tidur di kamar!β Bentak Twindy sambil berlalu pergi ke arah tangga.
βEh?β Gue terkejut dan mengejarnya, βTerus aku tidur di mana nanti?β
βDI DAPUR! SAMA PANCI!β Ucapnya seraya melemparkan scarfnya ke muka gue sampai mata gue kecolok karenanya.
Yah beginilah rasanya jika kalian dipaksa hidup dengan orang yang awalnya tidak kalian cinta. Dipaksa menerima keadaan tanpa bisa menolaknya. Maka jika kalian bertanya kenapa Twindy mudah sekali meminta cerai, ya karena memang tidak pernah ada cinta di antara kami berdua. Tapi gue akui, meski berkali-kali meminta cerai, semua bisa berakhir dengan damai ketika gue sudah membuatkannya masakan. Mungkin, dari seluruh element yang ada di tubuh gue ini, satu-satunya yang bakal diselamatkan Twindy ketika semisal tubuh gue kebakar waktu lagi manggang kue, ya kemampuan gue buat masak itu. Soalnya hanya itu yang tampaknya bagian paling disukai oleh Twindy dari gue. Sisanya? Dituker sama jeroan ayam juga dia pasti rela.
Hari sabtu ini kantor Twindy libur. Tapi bukan Twindy namanya kalau tidak bekerja. Dia tetap mengerjakan seluruh proyek pekerjaannya yang berjibun itu. Pagi tadi Twindy bilang kalau koleganya akan datang ke cafe untuk rapat sembari membangunkan gue yang tidur di sofa depan sambil selimutan pake scarf yang nyolok mata gue di malam sebelumnya. Twindy meminta agar disisakan meja untuk dirinya dan koleganya. Gue hanya mengangguk tanpa berani membantah. Seumur pernikahan kami, gue tidak pernah membantah ucapan Twindy. Satu-satunya yang gue bantah adalah ketika dia mau masak. Dan dia setuju kalau gue saja yang masak.
Jadi di sini, gue yang jadi bapak rumah tangganya. Subhanallah sekali.. Aa Gym pasti bangga.
Suasana Cafe sangat penuh di siang terik hari sabtu begini. Menu minuman yang paling laris ketika panas bolong begini adalah Almond Butter Smoothie. Potongan pisang beku yang diiris tipis-tipis, ditambah dengan parutan pisang yang diblend bersama red berri. Sedangkan untuk herbs yang gue gunakan adalah daun mint yang sudah diiris tipis-tipis lalu ditaburkan di atasnya. Tak lupa juga Almond Butter untuk membuat perut terasa penuh tanpa perlu memakan kudapan yang lain. Ada resep rahasia yang gue pakai hingga membuat Almond Butter Smoothie kepunyaan gue jauh lebih laris ketimbang kepunyaan orang lain. Gue menggunakan sedikit jus bayam untuk campuran dasarnya. Sangat sedikit untuk membuat peminumnya tidak sadar jika ada bayam di dalamnya, namun lebih dari cukup untuk membuat peminum merasa ada yang berbeda di tiap teguk yang mereka rengkuh.
Semakin siang, gue melihat kolega-kolega kantor Twindy mulai pada berdatangan. Mereka langsung memesan beberapa makanan. Meski sebenarnya jabatan mereka tinggi-tinggi, tapi mereka tetap hormat sama gue karena gue ini suami bos mereka. Atau mungkin lebih tepatnya, istri bos mereka huhuhu :(
Gue perhatikan, dari jauh Twindy tampak serius sekali berbicara dengan koleganya. Jika sudah menyangkut pekerjaan, dia benar-benar menjadi Twindy yang berbeda seperti Twindy yang gue lihat di rumah. Menjadi wanita yang keras kepala, perfeksionis, demanding, bahkan pasti sangat menyebalkan untuk karyawan-karyawannya. Tapi jika di rumah, dia berubah menjadi anak SMA yang mudah mempermasalahkan masalah kecil. Dan sudah tentu gue yang jadi sasaran amarahnya. Kami di rumah itu benar-benar menjadi pasangan suami istri yang saling melengkapi. Keluarga yang sempurna. Twindy bagian marah-marah, gue bagian tobat sama Tuhan.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β ****
Oh iya, berbanding terbalik dengan Twindy, gue orangnya luar biasa senang bergaul. Senang bercengkrama. Senang berbicara di depan orang banyak. Senang berkenalan dengan orang baru. Tak segan menyapa duluan. Mudah tertawa dengan lawakan-lawakan yang tidak lucu. Atau lebih tepatnya, gue orangnya easy going sekali dalam segala hal yang berhubungan dengan sosial. Tentu alasan lainnya karena gue juga harus mampu membuat para pelanggan betah dan nyaman agar terus kembali ke sini. Jadi yaaa⦠tampaknya owner cafe memang pekerjaan paling tepat buat gue.
βA Chaaaaaaakkkkkβ¦.β Tiba-tiba dari pintu masuk gerombolan mahasiswi yang sudah gue kenal sejak lama. Mereka-mereka ini bisa dibilang veteran pelanggan cafe sini. Dari pertama buka, sampai sekarang, mereka sering menghabiskan uangnya di sini. Sungguh amalan yang termasuk dalam amalan Zakat Mal.
βYaah.. Mahluk beginian pada dateng.β Canda gue.
βGalak amat! Eh A Chak, aku dateng bawa temen-temen nih, dapet diskon lagi gak?β
βWoiya dong pasti dapet diskon.β
βAsiiiik!! Berapa persen?β
βDiskon parkir gratis.β
βIsh! Nyebelin. Aku cari tempat duduk kosong dulu yaaa.β
Gue mengangguk mengiyakan. Setelah rusuh dengan teriakan-teriakan ala mahasiswi dan berujung hanya mendapatkan meja untuk satu orang tapi dipakai sama lima orang, salah seorang mahasiswi tersebut mengacungkan tangannya memanggil gue.
βKalian ini berlima tapi malah sempit-sempitan begini kaya naek angkot.β Gue ngedumel sambil mendekat lalu bersandar di tembok yang tak jauh dari mereka.
βMakanya cafe laris tuh uangnya dipakai buat expanding tempat. Bukan dipakai buat maksiat.β Celetuk temannya yang lain.
βSembarangan!β
Mereka langsung pada tertawa. Meski umur kami cukup terpaut jauh, tapi gue tidak pernah membeda-bedakan customer gue yang datang. Gue tetap menghormati mereka, mencoba berbicara selayaknya umur kami sama.
βMau pada pesen apa? Kalau dari berlima cuma satu orang yang pesen dan sisanya wifian doang, usus lo gue kepang!β Ancam gue.
βGalaknyaaaaa.. Makanya cepet punya pacar biar gak senewen terus.β
Oh iya. Mereka masih berpikir kalau gue ini jomblo. Mungkin karena tampang-tampang kaya gue ini emang gak laku dipasaran kayaknya. Setelah semuanya memesan (karena gue paksa), mereka pada meminta wifi password yang sebenarnya paling males buat gue ucapin. Kayaknya tiap gue mengucapkan password wifi cafe ini, harga diri gue ilang setengah.
Gue kembali ke dapur sebentar membuatkan pesanan mereka lalu tiba-tiba ketika gue mengantarkan pesanan, apron gue ditarik oleh salah seorang dari mereka.
βA Chak.. Aku putus..β Katanya memelas dengan wajah disedih-sedihkan.
βLah? Bukannya baru jadian 3 bulan kemarin?β Tanya gue dan dia mengangguk, βYaelah kata gue juga apa. Cowok mukanya kaya serundeng gitu lo pacarin. Cari yang beneran dikit ngapa kaya gue. Udah cakep, cekatan, pinter masak pula.β
βIdih dia malah promo. Tapi gapapa, A Chak. Aku mau.β
βMau kumis lo gondrong. Terus kenapa putusnya?β
Akhirnya gue malah ngobrol sama mereka. Belum selesai satu yang curhat, yang lain jadi ikutan curhat. Ya beginilah gue, akrab dengan pelanggan gue sendiri yang kebanyakan wanita. Sudah lelah mendengarkan curhatan mereka, gue kembali ke meja barista yang menyatu dengan kasir. Eh gak lama setelah itu, datang lagi pelanggan yang gue kenal, cewek, dan dia tiba-tiba manggil gue lalu menunjukkan isi hpnya. Ia meminta pendapat tentang kos baru yang akan ia huni nanti.
Jadi entahlah, gue di sini jobdesknya sebagai apa. Sebagai owner cafe iya, tukang cuci piring sampe dikira ternak kutu air iya, dengerin orang curhat iya, tukang masak iya, tukang nyapu iya, suami-suami takut istri apalagi. Beginilah keseharian gue sebagai owner cafe sekaligus yang menjalankannya juga. Banyak sekali pelanggan yang datang untuk meminta pendapat. Gue heran kenapa mereka seneng banget minta pendapat gue yang padahal kebanyakan jawabannya akan ngawur.
βCurhat sama elo itu enak, Chak.β Kata salah seorang pelanggan wanita yang seumuran sama gue, βElo itu gampang banget ngebego-begoin orang. Ngetolol-tololin orang. Jadi mereka-mereka yang curhat gak akan dapet kata-kata manis, melainkan caci maki. Nah tapi karena itulah mereka jadi suka curhat sama elo. Karena mereka akhirnya pada sadar setelah dibego-begoin sama elo.β
Mendengarkan hal itu gue cuma bisa diem. Baru kali ini ada orang yang doyan gue bego-begoin. Warga negara jajahan VOC ini emang kadang bikin gue bingung sama kelakuannya sendiri.
Klenting~ Bel di pintu berbunyi menandakan ada orang yang datang. Gue yang saat itu lagi cuci piring (lagi), langsung nengok untuk menyapa. Tapi tiba-tiba kata-kata sapaan gue tercekat di tenggorokan. Kata-kata itu berubah menjadi rasa debar yang lebih besar ketimbang yang pernah gue alami bertahun-tahun ke belakang.
βGue nyari-nyari muterin kota selama dua tahun, ternyata elo ada di sini, Chak.β Ujarnya sambil berdiri di depan meja barista.
βAnet?β Gue mendekat perlahan, βElo beneran Anet, kan?β
βYaaaahβ¦ masa elo lupa sama mantan lo sendiri, Chak?β
βNgg.. Bukan gitu, Net.. Lo sekarang beda banget bentukannya.β
βGimana? Lebih cantik kan?β Ucapnya sambil memasang pose kaya model.
βMirip nasi uduk.β
βBangkeeeee!!! Masih sama aja mulutnya dari dulu. Gak pernah disekolahin!β Katanya sambil mencubit gue dan gue tertawa.
βLo ke mana aja, Net? Kok gak pernah keliatan?β Tanya gue penasaran.
βGUE YANG HARUS NANYA ELO ITU KE MANA?!! KAN ELO YANG NGILANG SELEPAS MUTUSIN GUE DULU BEGO!!β
βOh iya bener juga.β
βMalah bilang bener juga lagi nih si dekil! Kok elo jadi bersihan gini sih, Chak?! Wah sukses ya sekarang. Kerja jadi bagian apa lo di cafe ini?β
Gue terdiam. Anet ini mantan gue. Tepatnya, mantan yang terpaksa gue putuskan karena gue tunangan dengan Twindy. Gue melepas Anet dengan cara yang bisa dibilang jahat sekali. Anet selalu ada buat gue, dia ada ketika gue masih bukan siapa-siapa. Dia yang bantu gue untuk bayarin kost gue dulu. Dia juga yang selalu nyariin gue kerjaan ketika gue ditolak di banyak tempat kerja. Anet selalu menerima gue meski dulu keadaan gue benar-benar tidak punya apa-apa. Gue tidak bisa banyak berjanji hal-hal bahagia untuk Anet, karena apalah gue ini? Untuk makan sehari-hari saja bingunya minta ampun.
Anet jugalah yang mengajarkan gue memasak. Hidup miskin gue dulu membuat gue terpaksa mau tidak mau harus berhemat dalam hal makanan. Anet mengajarkan gue bahwa memasak adalah salah satu cara bertahan hidup yang harus bisa gue tekuni. Dan karena itu lah gue bisa berdiri di titik ini sekarang. Menjadi salah satu pencipta makanan terbaik di cafe-cafe sekitar sini. Yang bisa dengan sombongnya berani mengubah tiap menu seminggu sekali dengan masakan yang berbeda. Gak ada cafe yang berani seperti itu kecuali cafe ini.
Buat gue, Anet adalah harta karun terbesar yang harus mau tidak mau gue lepaskan. Dan cara gue melepas Anet dulu, adalah cara paling anjing yang pernah dilakukan seorang Chaka untuk membalas segala budi baik wanita yang sudah membuatnya berada di titik ini itu.
βGue jadi kokinya di sini, Net.β Ujar gue sambil terkekeh pelan. Anet gak boleh tau kalau gue yang punya cafe ini.
βAlhamdulillah, kalau gitu, buatin gue masakan terbaik elo dong. Bisa ga? Sekalian gue mau ngobrol sebentar.β
Gue mengangguk. Anet duduk tak jauh dari tempat barista. Katanya biar bisa melihat gue lebih lama. Ah brengsek, rasa bersalah gue rasa-rasanya makin besar saja kalau begini. Dua puluh menit berkutat di dapur, gue kembali dengan sepiring Roasted Parmesan Crusted Chiken. Sebuah kreasi masakan daging ayam dengan seni rasa krispi, gurih, dan daging ayam yang super lembut namun kaya akan rempah dan juicy ketika digigit.
βDuduk dulu, Chak. Bentar aja..β Pinta Anet waktu gue menaruh makanan itu di depannya.
Gue sebenarnya enggan, soalnya ada Twindy di sini. Tapi gue juga tidak mungkin menolak permintaan Anet. Akhirnya mau tidak mau gue duduk di sana juga sambil menghela napas panjang.
βDua taun, Chak. Dua tahun aku cari kamu. Kamu mendadak hilang. Kamu bahkan pergi dengan segudang tanda tanya di kepala aku.β Tiba-tiba mata Anet berair, βSetidaknya jika memang bukan aku yang kamu cari, aku ikhlas, Chak. Ikhlas. Tapi tolong, kasih aku jawaban agar ikhlas ini tidak terasa berat. Please, Chak. Kasih aku jawaban, kenapa kamu dulu pergi dengan cara seperti itu? Pergi di saat keadaanku seperti itu? Pergi ketika aku sedang jatuh-jatuhnya dalam hidupku! Kenapa, Chak? Kenapa?β
Dan seketika itu juga, Detak pada jam dinding terasa lebih nyaring ketimbang sebelumnya.
Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Β Bersambung
Part sebelumnya: INDEX














