Barangkali, Allah memanggil kita (utk Haji / Umroh) bukan karena kebaikan kita, bukan karena keikhlasan kita. Tapi karena dosa² kita, maksiat² kita. Sebab Dia ingin memaafkan kita, Dia kasihan sama kita, Dia ingin kita berubah.
- Ust Salim A Fillah
Alisa U Zemlji Chuda
🪼
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Three Goblin Art
Not today Justin

tannertan36
I'd rather be in outer space 🛸
tumblr dot com

titsay
Game of Thrones Daily
RMH
occasionally subtle

if i look back, i am lost

ellievsbear

blake kathryn
Keni
Sweet Seals For You, Always
Show & Tell
TVSTRANGERTHINGS
seen from Singapore

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Chile
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Netherlands
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Canada
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Brazil
@closerwithprincess
Barangkali, Allah memanggil kita (utk Haji / Umroh) bukan karena kebaikan kita, bukan karena keikhlasan kita. Tapi karena dosa² kita, maksiat² kita. Sebab Dia ingin memaafkan kita, Dia kasihan sama kita, Dia ingin kita berubah.
- Ust Salim A Fillah

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Cochem, Germany
not sad enough to explain, not fine enough to enjoy anything
You are not a limited person. Anytime you get the urge to limit yourself question where that thought came from. Was it something you truly believe about yourself or something you were taught, shown, or conditioned to accept? Limits are borrowed. Picked up from other people’s fears, other people’s experiences, other people’s ceilings. But none of that defines what you’re actually capable of
Just because something hasn’t happened for you yet doesn’t mean it can’t. Just because you haven’t seen it done a certain way doesn’t mean it’s impossible. You are allowed to outgrow the version of you that thought smaller
Expansion doesn’t come from forcing or struggling, it comes from deciding you no longer agree with the version of reality that keeps you confined. And that can be scary because you built a whole world around that reality. You don’t need to become someone else. You just need to stop shrinking who you already are
Ya Allah berikan keberkahan, mudahkan dan lancarkan sehingga penuh berkelimpahan. Aamiin

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Perjalanan
Perjalanan terbaik yang bisa kita dapatkan dalam hidup adalah perjalanan antara hati dan pikiran. Kedua hal ini seperti dekat, tapi terasa begitu jauh seiring bertambahkan umur hidup. Seolah realita yang kita terima, memaksa kita menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Dan perjalanan tersebut, mematahkan semua kekhawatiran dan keraguan. Mengubah kita menjadi orang yang sepenuhnya berbeda, sesuatu yang bahkan tidak kita sangka bahwa orang yang berbeda itu adalah diri kita sendiri.
Kemana diri kita yang lama? Ia tetap ada di dalam diri kita, menjadi masa lalu yang layak untuk disimpan. Bagaimanapun diri kita yang kemarin, ia tetaplah diri kita yang layak untuk dipeluk.
Perjalanan saat ini, adalah perjalanan yang selama ini kita inginkan dalam hidup. Hanya saja, kita tidak pernah menyangka bahwa bukan kita yang menentukan, Allah-lah yang memperjalankan dengan caraNya. KG
Berbahagia Tanpa Tapi
aku ingin berbahagia saja, tanpa perlu repot-repot mengukur dengan "standar" kebahagiaan orang lain
aku ingin hidup tenang, berbahagia pada apa yang aku lakukan tanpa sibuk mengharap pengakuan
aku ingin meraih segala yang aku upayakan, tanpa harus merasa lebih baik dari siapapun aku ingin berbahagia saja ya, bahagia saja, tanpa tapi
sometimes the most attractive thing is someone doing exactly what they said they would
Sacrifice The Queen
Sejak mulai bermain catur, aku punya gaya pandang baru dalam membaca realitas, salah satunya saat meng-capture dinamika Nabi Ibrahim. Untuk pengetahuan umum, di catur tuh ada yang disebut taktik dan strategi.
Strategy is the long-term, high-level plan designed to achieve a specific, overarching goal (the "what" and "why"), while tactics are the concrete, short-term actions and steps taken to execute that plan (the "how"). Strategy focuses on direction and positioning, whereas tactics focus on day-to-day execution and immediate wins.
Dari yang aku berhasil capture, Nabi Ibrahim tampaknya adalah pribadi yang strategis, end-to-end (hulu ke hilir), dan idealism-oriented. Sejalan kan ya, dengan perannya membangun sebuah pondasi dan kerangka peradaban yang terarah.
Untuk perbandingan, Nabi Musa mengalami dinamika yang berbeda. Pendekatan beliau lebih taktikal, task based, dan present-oriented, kelihatan dari cara beliau merespons perintah-perintah Allah secara real-time di situasi yang dinamis dan penuh pressure. Perbedaan ini juga bisa kita lihat kok dari doa-doa mereka.
Disclaimer: Aku menggambarkan Ibrahim sebagai sosok yang "strategis" dan Musa sebagai sosok yang "taktikal" bukan berarti meniadakan dimensi lain dari keduanya ya. Ibrahim tentu aja punya ketajaman taktis dalam bertindak, sebagaimana Musa juga punya kerangka strategi dalam misinya. Klasifikasi ini semata-mata pendekatan analitis untuk menyorot kecenderungan dominan dalam kisah masing-masing, supaya kontrasnya lebih terlihat dan mudah dipahami.
Nah tadinya kupikir ujian terberat seorang strategis adalah jika harus menghadapi worst scenario. Namun aku salah gengs wkwkwk.
Soalnya sebagai orang yang cukup relate secara kognitif dengan Ibrahim, menurutku ketakutan akan worst scenario itu bisa direduksi dengan memperbaiki pertimbangan dan pengambilan keputusan, melakukan persiapan, atau merencanakan alternatif. Mirip-mirip di catur lah, takut melakukan blunder/bad moves atau takut moves-nya lawan ternyata brilliant/good bisa diatasi dengan deep calculation. Dan aku yakin, Ibrahim adalah seorang deep calculator yang bisa handle worst scenario yang datang dari luar.
"Sacrifice the queen!" mungkin itulah perintah Allah pada Ibrahim, dalam metafora catur.
Queen sacrifice baru bisa disebut brilliant/best/good moves kalau bisa ngasih keuntungan yang lebih besar daripada nilai queen itu sendiri. Biasanya ada 4 kondisi, entah itu menuju skakmat lawan, menang materi, menang posisi, atau seenggaknya itu satu-satunya langkah yang menyelamatkan posisi. Dan pemain catur profesional manapun nggak akan mau melakukan queen sacrifice tanpa kalkulasi 4 kondisi tadi. Yang ada malah blunder entar.
Ibrahim 2x mengalami ini. Pertama, saat meninggalkan Hajar dan Ismail ke lembah Bakkah (Mekkah sekarang). Kedua, saat diperintah menyembelih Ismail.
Back to Ibrahim as strategist, dengan beliau menikahi Hajar pun artinya Hajar sudah menjadi his most important piece (Sarah dan Luth juga sih btw). Ketambahan lagi dengan lahirnya Ismail, di catur mah ini bisa diibaratin jadi pion promosi. Jadi kebayang yah betapa Ibrahim hampir all-in seluruh grand design-nya ke situ.
Sekarang di peristiwa pertama, Allah suruh Ibrahim sacrifice his queen, and also his promoting pawn. Jujurly, menurutku ini tuh nggak masuk akal dalam kalkulasi Ibrahim.
Bentar tiba-tiba nangis wkwkwk. Kenapa ya mendalami cerita ini tuh selalu menggetarkan akal budi, kek setiap movement-nya tuh obvious. Aku yakin Ibrahim nangis waktu itu, mungkin di momen after ninggalinnya. Kalo dibayangin mah ekstrem banget situasinya, baik secara kognitif maupun emosional.
Secara kognitif, "jika Ismail adalah awal penggenapan janji, bagaimana mungkin jalurnya justru diarahkan ke tempat yang tampak tidak menopang kehidupan? Bagaimana aku bisa menilai movement ini relevan ketika bidak-bidak andalanku justru dipisahkan dari pusat permainan?"
Secara emosional, "Ya Allah tempat ini tidak ramah kehidupan. Aku tidak melihat sebab yang cukup untuk menjaga mereka. Bagaimana aku bisa memastikan keselamatan orang yang aku sayangi, ketika aku tahu bahkan variabel-variabel di lembah ini mostly mengarahkan mereka pada kematian?"
Nah aku ingat salah satu komentar coach caturku waktu aku masih awal-awal main. Kata beliau, "aku lihat-lihat game Giza, pelajaran hari ini adalah jangan takut korbanin." Yah namanya juga pemain amatir wkwkwk masih sayang sama semua pionku. Di bayanganku, Ibrahim saat itu, diperjalankan Allah dari fase "gimana caranya mempertahankan semua pionku?" menuju fase, "kalau Sang Pemilik papan meminta pengorbanan ini, berarti ada jalur kemenangan yang belum saya lihat."
Maka beliau percayakan kalkulasi ini kepada Allah. Ditinjau dari doa beliau di QS 2 : 126 dan QS 14 : 35-38 mah sih, beliau masih bisa bayangin, "oh mungkin ada kompensasi posisi" alias masih ada harapan di situ. Walaupun dipikir-pikir secara duniawi lembah itu nggak menguntungkan, Ibrahim masih belum kehilangan orientasi strategisnya.
Masuklah ke ujian kedua.
Di sini posisinya Ismail had already been promoted to a queen. Blueprint peradaban semakin jelas dan lengkap, dari opening, midgame, sampai endgame. Udah kebayang gitu si idealisme tersebut kek apa dan gimana mencapainya.
Dan untuk kedua kalinya, Allah perintahkan lagi, "sacrifice the queen!"
Dua peristiwa itu mirip bentuknya, tapi menurutku beda kedalaman ujiannya. Masalahnya, di catur, pengorbanan menteri yang dianggap jadi good move itu hampir pasti dilakukan oleh pemain yang udah kebayang step selanjutnya bakal apa. Atau minimal ada feeling, "ini bakal worth it".
Sedangkan Ibrahim saat itu disuruh korban menteri (lagi), sambil harus tetap punya cita-cita untuk menang, sambil nggak tau gimana merekonstruksi rencana yang variabel utamanya tiba-tiba nggak ada. Gap antara realitas - idealitas yang sebelumnya udah dikalkulasi, malah disuruh dikosongin. Terputus aja gitu. Gimana coba fill the blank-nya?
Rupanya ujian terberat seorang strategis adalah saat diminta untuk menghapus rencana terbaik yang dia udah invest banyak di situ, tanpa tau alasannya.
Oke lah, di perintah pengorbanan yang pertama, blank-nya belum total kosong. Masih ada harapan/ekspektasi. Masih diam-diam bergantung ke hasil akhirnya.
Sedangkan di perintah pengorbanan yang kedua, Ibrahim literally nggak dikasih akses ke langkah berikutnya. Buat orang yang strategis dan terbiasa kalkulasi langkah, nggak dikasih variabel untuk deep calculating lagi tuh menyebalkan. Lalu dengan apa kita dapat mendebat keputusan itu ketika kita bahkan nggak bisa pretelin proses decision making-nya Allah? Di titik itu, Ibrahim bener-bener dipaksa melepas kebutuhan untuk memahami mekanisme kemenangan tersebut.
Ini penting karena langkah-langkah yang sebelumnya diperintahkan Allah dan dilakukan Ibrahim seolah sedang mengonstruksi masa depan melalui Ismail. Kalau Ismail mati (apalagi di tangan Ibrahim sendiri) sebelum punya keturunan, jadinya kontradiktif kan? Soalnya perintah penyembelihan itu sama aja dong kayak membongkar bangunan yang sedang disusun-Nya sendiri. Kalau Ibrahim nggak sopan, mungkin bakal mikir, "Allah mah aneh." Tapi kan enggak gitu ya?
Jadi situasinya, ada 2 identitas Ibrahim yang diuji di sini. Masing-masing identitas diuji melalui logika internalnya sendiri sampai batas ekstrem.
Pertama, identitas sebagai nabi, yang bahkan diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, nabi yang harus menaati perintah Allah ini adalah nabi yang sama yang harus bercita-cita tinggi. Lantas bagaimana ketika ketaatan itu tampak mengancam kesinambungan proyek kenabian yang sedang beliau bangun?
Kedua, identitas sebagai ayah, yang juga diuji melalui identitas ini sendiri. Maksudnya adalah, ayah yang pengen anaknya selamat dengan menaati perintah Allah, adalah ayah yang sama juga yang pengen sang anak tetap hidup, atau setidaknya nggak mati di tangannya sendiri.
Bayangin pergolakan kognitif-emosional-spiritual Ibrahim di rentang mimpi pertama, kedua, dan ketiga. Like.. peristiwa itu sebagai "mimpi" aja pun rasanya nggak mau deh keulang.
Terus Ibrahim ngapain? Ya udah, tetap laksanakan perintah sambil percaya bahwa janji Allah tetap benar (bahwa akan ada kelanjutan, peradaban, dsb.) dan cara terjadinya janji itu sepenuhnya bukan urusan dia.
Menariknya, nggak ada doa dengan pengharapan spesifik saat melaksanakan perintah menyembelih Ismail.
Kan waktu ninggalin Hajar dan Ismail di Bakkah, kita masih mendengar doa-doa yang spesifik ya, kayak minta keamanan, minta rezeki, minta hati manusia condong kepada mereka, dan minta dijauhkan dari penyembahan berhala. Artinya di sana Ibrahim masih mengartikulasikan harapan supaya Allah menjaga mereka dengan cara ini, ini, dan ini.
Tapi di kisah penyembelihan mah nggak ada, Al-Qur’an nggak mencantumkan monolog emosional kayak gitu. Ibrahim nggak lagi meminta skenario alternatif, nggak lagi menyebut outcome yang diharapkan, maupun mencoba merumuskan bentuk penyelamatan. Beliau bahkan nggak tahu lagi harus meminta bagaimana. Zero expectation. Beliau bener-bener berlepas diri dari ketergantungan terhadap makna yang dibangun dari objek itu. Penyerahan total. That's so crazy, man!
(aduh kenapa yah agak familiar dengan perasaan ini, dengan scalability yang lebih kecil sih wkwk that's why kayaknya aku bisa menulis ini dengan baik.. karena bisa eskalasi konteksku kalo ditarik ke scope konteks Ibrahim yang lebih megah dan luhur)
Dan justru malah Ismail yang berdoa, "mudah-mudahan kau mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar." Ah, betapa indahnya kalimat itu. Bayangin betapa nangis bangganya Ibrahim. Bangga pada Hajar yang telah mendidiknya dengan sangat baik hingga Ismail punya rasa hormat sedalam itu kepada ayahnya dan kepada Allah. Bangga pada Ismail bahwa risalah itu benar-benar sudah hidup di dalam diri anak ini.
TAPI JUGA JADI MAKIN SEDIH DAN NYESEK. Kek.. serius nih Ya Allah.. anak sesholeh ini, anak se-"udah jadi" ini justru harus dieliminasi dari rencana semegah itu, (apalahh aku nangis lagi), dan kalau ngedidik anak baru yang lain pun belum tentu nyampe kualitasnya segini, apalagi usia Ibrahim semakin tua juga (dan ingat ya, belum ada Ishaq juga saat itu).
Qur'an merangkum dinamika ini melalui dua pernyataan Ibrahim yang sangat mirip. Di surat Al-An'am : 78 (إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُونَ) dan di surat Az-Zukhruf : 26 (إِنَّنِى بَرَآءٌ مِّمَّا تَعْبُدُونَ). Tapi kedua ayat itu pakai mufrodat yang berbeda untuk frasa "berlepas diri".
Ust. Nouman Ali Khan bilang, barii’ (بَرِىٓء) adalah kata sifat. Seseorang yang 'tidak terkait' disebut barii’ (بَرِىٓء). Sedangkan kata yang digunakan dalam Surat Az-Zukhruf adalah baraa' (بَرَآء). Dan baraa' (بَرَآء) dalam bahasa Arab bukan 'seseorang yang tidak terkait', tetapi gagasan 'ketidakterkaitan' itu sendiri. Levelnya udah berbeda. Mudahnya, di film Cars, alih-alih mengatakan, "I am really fast," Lightning McQueen justru mengatakan, "I am the speed itself."
Dalam satu kasus, Ibrahim berkata, "aku tidak terkait dengan itu". Di kesempatan lain, dia berkata, "aku adalah konsep 'ketidakterkaitan'/detachment/disassosiation itu sendiri." Nah kalau lihat timeline, barii' vs baraa' ini adalah before vs after beliau menjadi nabi.
Jadi setelah kenabian, seakan dirinya menjadi manifestasi dari "berlepas diri" itu sendiri. Maka, sejak itulah hidup Ibrahim sendiri dibentuk menjadi proses pelepasan terus-menerus. Cocok ya, dengan benang merah kisah beliau dalam Qur’an, mulai dari syirik (udah jelas lah ya harus berlepas diri dari itu mah), ayahnya, kaumnya, negerinya, istrinya, anaknya, kontrol atas rencananya, bahkan logika dan perasaannya sendiri. Setiap ujiannya adalah pendalaman makna baraa’ itu sendiri.
Di kemudian hari kita mengenal istilah al-wala wal-bara. Pada Ibrahim, dua-duanya berjalan beriringan. Semakin dalam bara'-nya, semakin total pula wala'-nya. Artinya kita nggak akan bisa berserah total untuk sesuatu, kalau kita belum bisa berlepas total dari sesuatu yang lain. Pantesan aja beliau disebut khalilullah karena hatinya telah dikosongkan dari tandingan-tandingan loyalitas itu.
Grandmaster Ginger di chess(dot)com mengatakan,
"A queen sacrifice means we have to bravely give up our most important piece in order to create some magic on the board."
Queen sacrifice sebagai brilliant move memang sangat sulit ditemukan. Wajar aja kalau di momen penyembelihan, Ibrahim pun nggak nemu kalkulasi sejauh itu dengan variabel-variabel yang juga masih se-hidden itu.
Namun magic on the board itu datang kemudian. Ismail diganti dengan sembelihan lain, Ishaq lahir, Ka'bah pun dibangun. Dan rangkaian al-wala' wal-bara' satu keluarga itu akhirnya diabadikan dalam satu rukun Islam yakni ibadah haji.
Siapa sangka, ribuan tahun kemudian, jutaan manusia masih berlari kecil mengikuti jejak Hajar, masih menyembelih hewan kurban untuk mengenang kepatuhan Ibrahim dan Ismail, dan masih menghadap Ka'bah yang berdiri di lembah yang dulunya tak bisa ditaruh ekspektasi apa-apa. Satu keluarga ini pun selalu disebut oleh milyaran manusia dalam sholat.
Masih sangat banyak yang bisa diperas dari cerita ini. Belum kubahas bagaimana perspektif Hajar dan Ismail sebagai subjek sekaligus objek ujian. Belum pula kubahas Ismail dan Ishaq sebagai dua operator yang menjalani misi spesifik berbeda dengan spesifikasi berbeda. Tapi ini dulu aja. Kekeliruan datangnya dari Giza, kesempurnaan dan kemegahan datangnya dari Allah.
— Giza, overwhelmed banget sama kemegahan kisah-kisah ini, gokil juga udah lama nggak processing sesuatu sekenceng ini. Thanks to seseorang yang menginspirasinya bermain catur. Also thanks to Hikaru Nakamura, streamer catur yang menyenangkan untuk ditonton.
Things don’t always work out the first attempt, and that’s okay! Let’s persevere and stick with it, and we’ll learn and grow on our way towards success!
Chibird store | Positive pin club | Instagram

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Bismillah come back stronger to Andalan Group 💪🏻💪🏻💪🏻.
Can do can do can do 🤝
Notes : Comeback setelah haid 3 minggu akibat stress akut dan bedrest (baru mengalami hal ini pertama kali seumur hidup).
Ya Allah tolong mampukan, lancarkan dan sukseskan. Aamiin.
semakin dewasa diri ini belajar dan mulai mengerti tentang banyak hal. salah satunya, tidak ada yang selamat dari perkataan manusia. meski kita sudah merincikan kebenarannya bahkan detail sekecil apapun dengan runut, dengan hati-hati, dengan tenang. tidak menjamin itu akan selamat dari celaan manusia.
manusia dengan prasangkanya akan selalu saja menemukan celah meski itu kecil, sekecil lubang jarum untuk menjahit pakaian. jadi tak usah berlelah-lelah hanya untuk dinilai baik oleh manusia. kamu tidak akan selamat. sekalipun engkau berdiri dalam kebenaran, kamu tidak akan selamat dari celaan mereka.
maka benar, ya, untuk selalu meluruskan niat karena Allaah sekecil apapun. hanya untuk Allaah, karena Allaah bukan untuk manusia. keridhaan yang tidak akan pernah kamu dapatkan. dan celaan manusia tidak akan menjatuhkanmu, sebab sekalipun seluruh makhluk berkumpul dan bersatu untuk menjatuhkanmu jika Allah tidak menghendaki. kamu tidak akan jatuh, kamu akan tetap baik-baik saja.
bukankah kamu selalu menuliskan bahwasanya apapun yang terjadi, kamu akan terus menulis. menulis dengan perasaan murni bukan karena kepentingan siapapun. namun untuk mengatakan kebenaran dengan sudut pandang dan cara yang kamu yakini.
jangan berhenti, sayang, ku mohon. melangkah lah kembali, jika terlalu berat untukmu. berhentilah sejenak, tak apa jika harus mundur beberapa langkah ke belakang. untuk itulah pesanku agar selalu kau ingat, mintalah pertolongan Allaah, mintalah petunjuk Allaah dalam setiap keputusan dan luruskan niat setiap kali engkau memulai penamu untuk menulis. Allaah bersamamu. Allaah akan selalu bersamamu. jangan berputus asa dan jangan lemah. melembutlah selalu, wahai diriku..
never underestimate the power of:
• eating fruits and veggies
• going outside
• opening your windows and letting the fresh air in
• cuddling with your pet
• catching up with your sibling or parent
• complimenting someone you don’t know
• exercising
• journaling
• cleaning out your fridge and cabinets
• listening to happy music
• putting yourself first
• making and eating a home cooked meal
• washing the dishes/putting the dishes away
• washing/brushing your hair
You probably weren’t told to settle for less. You were told:
“be grateful for what you have.”
“don’t ask for too much.”
“relationships take sacrifice.”
“no one is perfect.”
“at least they didn’t…”
“you’re lucky to even have someone.”
“don’t be so picky.”
“you’ll regret it if you leave.”
“good things are hard to find.”
“just be patient, they’ll change.”
“love means sticking it out.”
“stop expecting so much.”
“other people have it worse.”
And slowly, your standards didn’t feel like standards anymore… they felt like problems
You weren’t told to be a people pleaser, you were told:
“be nice.”
“don’t make things awkward.”
“keep the peace.”
“think about how they feel.”
“don’t be selfish.”
“just let it go.”
“it’s not a big deal.”
“why are you so sensitive?”
“be the bigger person.”
“don’t start drama.”
“just say yes, it’s easier.”
“they didn’t mean it like that.”
“you’re overreacting.”
“don’t make everything about you.”
“be easy to be around.”
“no one likes difficult people.”
And without realizing it, you learned that being loved meant being low maintenance… quiet about your needs and easy to keep
You weren’t told to abandon yourself. You were told:
“don’t be dramatic.”
“you’re fine.”
“just ignore it.”
“stop overthinking.”
“it’s all in your head.”
“you’re too emotional.”
“calm down.”
“it’s not that deep.”
“you’re making it bigger than it is.”
“just be positive.”
“don’t dwell on things.”
“shake it off.”
“you’ll get over it.”
“focus on the good.”
And slowly you stopped trusting your own feelings… and started questioning your own reality
You weren’t told to shrink yourself. You were told:
“be humble.”
“don’t show off.”
“not everything needs to be shared.”
“be lowkey.”
“don’t make people feel bad.”
“you don’t need all that attention.”
“stay grounded.”
“be chill about it.”
“don’t get ahead of yourself.”
“act normal.”
“not everyone needs to know your business.”
“be modest.”
And over time your confidence started to feel like too much… and your light started to feel like something to dim
One of the hardest adult lessons is that you still have to show up, no matter what you're carrying.
Do it scared. Do it unsure. Just make sure you do something. Get uncomfortable. Comfort is the enemy of growth. Do it sad. Do it grieving. Do it exhausted. Life doesn't pause to spare you, it keeps moving, so you keep moving too.
Just remember, depression can't hit a moving target, so let's go on a side quest.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
decenter everyone and center yourself