Lebih dari Sekadar Ibadah
Sebenarnya aku nggak pernah menyangka bakal ngerasain sampai 3–4 waktu sholat saat bekerja. Walaupun kebanyakan cuma 2 waktu sih wkwk. Tapi dari situ sering banget keluar celetukan di antara kami, “memang benar ya, hidup itu cuma nunggu waktu sholat.”
Apalagi sekarang, saat Ramadhan. Aktivitas dan segala ritmenya ikut berubah tapi jujur buat aku memandang hal tersebut berbeda.
Awalnya rutinitas hidup ini terdengar sederhana. Tapi lama-lama aku sadar, mungkin memang hidup ini bukan sekadar tentang apa yang kita kerjakan di sela-sela waktu sholat itu. Mungkin yang diuji justru bagaimana kita mengisinya.
Dulu aku selalu percaya mimpiku bernilai ibadah. Karena pekerjaanku membantu mendidik anak-anak, meski nggak di ruang formal. Aku merasa itu jelas sekali ruang ibadahku. Rasanya inline. Rasanya tepat.
Tapi tahun lalu semuanya berubah wkwk.
Beberapa kali aku nangis karena merasa passion-ku kok nggak inline lagi sama “misi” yang selama ini aku yakini. Aku sampai butuh diyakinkan bahwa mungkin memang aku sedang berjalan di timeline-ku. Bahwa pekerjaan nggak harus selalu identik dengan misi besar yang kita bayangkan.
Pelan-pelan aku belajar memahami sesuatu.
Ibadah ternyata bukan cuma tentang berada di tempat yang terasa paling ideal.
Bukan cuma tentang kerja yang langsung terlihat dampaknya.
Bukan cuma tentang mimpi yang terasa heroik.
Di kantor aku bagian pelayanan. Ketemu langsung sama keluhan user. Kadang aku misuh-misuh kalau kerjaan nggak sesuai tupoksi. Teman-temanku tahu itu.
Tapi lalu aku berpikir lagi.
Kalau jawabanku bisa jadi wasilah seseorang mencari nafkah untuk keluarganya, berarti dampaknya nggak berhenti di satu orang. Bisa satu keluarga. Entah berapa orang di dalamnya.
Ini bukan sekadar rutinitas.
Dan bahkan bukan sekadar ibadah dalam bentuk ritual.
Amanah, integritas, tidak mencurangi siapa pun, tetap menjawab dengan benar meski lelah. Itu semua mungkin justru inti ibadah yang sesungguhnya.
Kadang muncul pertanyaan, “Ini gini aja nih?”
Atau, “Mimpi yang dulu mau diapain?”
Tapi mungkin mimpiku nggak hilang.
Mungkin dia hanya berubah bentuk.
Bisa jadi aku bukan lagi pelaku utamanya. Bisa saja suatu hari aku yang membangun sekolahnya, atau menyusun kurikulumnya, atau membentuk sistemnya. Aku masih percaya di jalur pendidikan adalah jalanku, tapi dalam versi yang berbeda.
Dan mungkin, proses hari ini adalah bagian dari persiapan itu.
Karena sejatinya, hidup ini memang bukan sekadar menunggu waktu sholat. Namun tentang ibadah apa yang kita iringi sambil menunggu waktu sholat.
Dan kerja ini bukan sekadar ibadah.
Tapi tentang bagaimana kita menjaga niat, amanah, dan integritas di sela-sela keduanya.