Tujuan kami adalah sebuah upacara kematian Rambu Solo seseorang dari Tokapua–golongan bangsawan–di Sangalla.
Setelah sepeda motor kami menempuh hampir 30 km Rantepao-Sangalla dengan peta buta, berputar-putar, kami tak kunjung juga tiba. Hilir mudik truk-truk membawa rombongan berbaju hitam atau kerbau dan sepeda motor membawa babi membuat kami frustasi: kemana orang-orang ini pergi.
Kami memutuskan ikut arah salah satu mobil rombongan yang juga membawa babi. Karena mereka pasti ke sebuah Rambu Solo. Dan setelah bertanya, ternyata benar.
Tapi mereka ke Rambu Solo seorang indo (ibu) dari Tobuda, kasta terendah di Toraja. Upacara terlampau sederhana dan baru saja usai begitu kami sampai. Bukan Rambu Solo yang kami tuju.
Kami tersesat di bulan Desember, bulan rimba perayaan kematian bagi orang Toraja di segala kasta.