Sari dan Wita #3: Buah Hatiku/mu
"Ibu" "Ya, Nak?" "Siapa sebenarnya Mama Sari? Kenapa aku harus panggil dia mama?" "Karena dia menyayangimu seperti aku menyayangimu, Nak" "Memang siapa dia, Ibu?" "..." "Jawab, Bu" "Anggaplah orang yang sayang padamu seperti aku sayang padamu" "Apa juga seperti Ayah menyayangiku?" "..." "Apa tidak bisa dia menggantikan posisi Ayah, Bu?" "Apa maksudmu, Nak?" "Ibu berharap bisa terbuka menyayanginya. Ibu tahu Ibu sedang bingung karena Ibu juga menyayangi Ayah. Tapi Mama Sari lama sudah menjadi bagian penting dari diri Ibu. Ibu tak bisa lepas darinya karena Ibu butuh, Ibu bergantung padanya. Sejak saat itu, saat Ibu sadar bahwa sudah lama Ibu tidak tahu arah dan selalu butuh seorang pemandu, pengganti Ibu. Lalu Mama hadir, Mama datang sebagai penopang kapal Ibu yang selalu goyah, yang selalu terombang-ambing" "Apa yang kau bicarakan, Nak?" "Tapi Ibu enggan akui itu. Ibu takut menjadi hipokrit atas semua idealisme Ibu" "Kau ini bicara apa, Nak?! Jangan buat Ibu marah!" "Ibu tenanglah, sadarlah. Aku ini hanya buah pikiranmu."















