Seorang Ibu, Dan Kekasih Yang Menunggu
Jam dinding menunjukkan pukul 04:45 saat Saripah bangun dari mimpi anehnya. Seperti biasa, ia akan ke dapur untuk menyiapkan sarapan bagi Affandi begitu pengelihatannya telah jernih. Akan tetapi, hari itu pengelihatan Saripah tak juga jernih sekalipun kedua punggung tangannya telah berkali-kali mengucek sepasang matanya. Meski begitu Saripah tetap harus bangun sebab Affandi akan pergi ke sekolah untuk mengajar sebelum pukul 06:00.
Saripah tak perlu membangunkan Affandi, sebab Affandi pasti sudah bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Ia akan selalu tiba di surau sebelum orang-orang kampung datang, menunaikan ibadah subuh berjamaah. Meskipun Saripah tak pernah mengajarinya, tapi Affandi sudah bisa membaca sejak ia berumur enam tahun. Saripah tak pernah mengajari Affandi membaca, bukan karena ia tak ingin melakukannya, melainkan karena ia sendiri baru bisa membaca setelah Affandi mengajarinya. Sejak Affandi bisa membaca, Affandi tak pernah berhenti membaca, juga membaca kitab yang kemudian membuatnya tak pernah terlambat menunaikan ibadah, lima kali dalam sehari. Dari lima kali itu biasanya Saripah hanya mengikutinya untuk ibadah yang keempat dan kelima. Affandi sendiri tak pernah mengajak Saripah. Saripah mengikuti Affandi, sebab perempuan-perempuan lain juga akan pergi ke surau pada saat-saat seperti itu. Saripah akan selalu ingat senyum Affandi pada kali pertama ia mengikutinya pergi ke surau. Dan, untuk senyum itulah, Saripah akan selalu mengikuti Affandi pergi ke surau.
Pagi itu Saripah tak perlu membangunkan Cak Muklis, sebab Cak Muklis memang sudah tidak bisa bangun sejak lama. Saripah tak tahu sejak kapan tatapan Cak Muklis berubah menjadi kosong, sekosong tatapan orang kesurupan. Atau, barangkali Saripah tahu, tapi ingatan Saripah sepertinya telah sama aus dengan pengelihatannya pagi itu.
Saripah bangun dan duduk di tepi ranjang, menyelopkan sepasang kakinya pada sandal jepit yang berada di bawah dipan, dan mengambil napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya secara perlahan. Sejak Cak Muklis tak bisa bangun Saripah akan selalu tidur di tepi ranjang yang menghadap ke pintu kamar sedangkan Cak Muklis tidur bersisian dengan tembok. Sebenarnya, Saripah tak lagi ingin tidur di sisi Cak Muklis, tetapi itu bukan disebabkan karena ia tak lagi mencintainya. Saripah tak lagi mau tidur di sisi Cak Muklis sebab Cak Muklis sering berak dan kencing di tengah tidurnya. Tetapi demi cinta, yang tak lagi semewah dulu, sebab bagi Saripah perasaan semacam itu telah menjadi sama sederhananya dengan tai yang selalu menyundul lubang pantatnya setiap pagi, Saripah tetap harus tidur di sisi Cak Muklis. Sesungguhnya Saripah hanya tak ingin Cak Muklis berguling lagi di tengah tidurnya, lalu jatuh dari atas ranjang dengan muka menghantam lantai. Saat itu terjadi Saripah jadi kesal sendiri, sebab hanya karena ia tak tidur di sisi Cak Muklis ia harus memanggil seorang mantri, yang tak hanya harus mengobati memar pada jidat Cak Muklis, melainkan juga membetulkan batang hidung Cak Muklis, sebab batang hidung itu bengkok setelah beradu dengan lantai. Duduk di tepi ranjang pagi itu Saripah memandangi Cak Muklis. Sepasang mata Cak Muklis masih terpejam, dan melalui gerakan dadanya Saripah melihat napas Cak Muklis masih berembus dengan teratur. Selain ketidakmampuannya untuk membawa pikirannya kembali ke dalam kenyataan, sesungguhnya tubuh Cak Muklis masih sangat sehat. Barangkali, hanya hidungnya yang terlihat agak aneh.
Saripah pergi ke dapur yang berada di bagian belakang rumahnya. Ia mengambil air dari tong di samping kompor, menuangkannya ke dalam panci di atas kompor, lalu menyalakan kompor tersebut, dan menyiapkan kopi hitam dalam cangkir di atas meja dapur. Dua sendok makan kopi hitam, dan satu sendok gula. Itulah takaran kopi hitam bagi Affandi. Untuk Cak Muklis, Saripah hanya perlu membawakannya segelas air putih. Mayat hidup, pikir Saripah, hanya perlu air agar seluruh bagian tubuhnya tetap segar.
Saat air dalam panci di atas kompor telah mendidih, Saripah mengangkat panci tersebut, lalu meletakkan panci lain yang berisi sayur lodeh sisa semalam ke atas kompor. Affandi suka sayur lodeh, terlebih jika sayur lodeh itu sudah menginap selama semalam, dan Saripah akan selalu suka melihat Affandi menyantap sayur lodeh, bersama sambal goreng dan ikan asin, dengan kenikmatan tak ada tara. Ah, ikan asin! Saripah ingat kemarin sore Marwan memberinya sekantong plastik ikan asin sebelum lelaki itu pergi melaut. Itu adalah ikan-ikan hasil tangkapannya yang tak laku di pasar. Marwan akan selalu mengasinkan ikan-ikan itu untuk kemudian ia berikan kepada Saripah secara cuma-cuma, sebab ia tahu Saripah suka ikan asin, seperti si Cemong, kucing piaraan Maemunah, cucunya. Ingat pada ikan asin tersebut, Saripah membuka lemari makan, mengambil lima lembar ikan asin dan menggorengnya di atas penggorengan dengan minyak goreng yang telah menghitam sebab di sepanjang pekan minyak itu sudah dipakai untuk menggoreng berkali-kali. Sekonyong-konyong aroma ikan asin mengental di udara. Hmm, baunya enak sekali, Mak, kata Affandi. Mendengar suara Affandi Saripah memutar kepalanya ke balik punggung tapi ia tak mendapati siapa-siapa di balik punggungnya. Dari jendela dapur Saripah melihat langit sudah mulai agak terang dan mendengar suara orang-orang di jalanan. Saripah bergegas menyelesaikan seluruh pekerjaannya di dapur sebab ia tak ingin Affandi berangkat mengajar tanpa sarapan.
***
Pemandangan di hadapannya siang itu mengingatkan Kartika akan siang lain, bertahun-tahun lalu. Kawat berduri, toa, puluhan demonstran, orasi, poster-poster tuntutan, dan barisan petugas keamanan dengan pentungan siap gebug barangsiapa nekad merangsek masuk ke dalam barisan mereka. Bertahun-tahun lalu Kartika akan berada di hadapan para petugas keamanan tersebut, bersama teman-temannya. Tapi, siang itu berbeda. Siang itu ia berdiri di luar panggung sebagai seorang wartawan.
Sepasang mata Kartika terus berpindah, dari layar ponsel ke pemandangan di hadapannya, hanya untuk kembali ke layar ponsel, sebelum kemudian balik lagi ke pemandangan di hadapannya. Melalui layar ponselnya Kartika membaca e-mail Aditya Akbar, redakturnya, yang memerintahkannya mengawal demostrasi di depan kantor pemilihan kota sampai selesai. Sementara itu, jam di sudut kanan layar ponselnya telah menunjukkan pukul 14:37. Kaus hitam Kartika telah basah dan kelihatan melekat, menyatu dengan tubuhnya. Kartika mengusap keringat pada dahinya dengan punggung tangan, memasukkan ponsel beserta penyimpan dayanya ke dalam tas punggung, lalu menebarkan pandangan ke sekitar untuk mencari tempat yang lebih teduh.
Kartika melihat gerobak es cendol di seberang jalan. Gerobak itu berada di depan halte di bawah pohon-pohon rindang. Ia memeriksa sekali lagi keadaan demonstrasi di depan kantor pemilihan kota. Tampak seorang pemuda, dengan ikat kepala berwarna merah, kacamata hitam, dan kemeja flanel berwarna hijau-hitam, sedang berorasi di atas mobil pikap, dengan toa di tangan kanan dan selembar kertas di tangan kiri. Itu adalah orator ketiga siang ini, pikir Kartika. Tuntutan mereka hanya satu; mereka ingin pemilihan walikota tetap berlangsung, sekalipun hanya dengan satu calon. Sepertinya masih ada beberapa orang lagi yang akan berorasi, pikir Kartika, lalu menghela napas, sebelum kemudian menyeberang jalan untuk menghampiri gerobak es cendol di depan halte.
Di halte itu suara para demonstran tak terdengar terlalu gaduh. Setelah memesan segelas es cendol Kartika mengeluarkan kembali ponsel beserta penyimpan dayanya dari dalam tas punggung. Melalui ponselnya Kartika membuka e-mail, bukan untuk melihat kotak masuk, melainkan untuk menulis berita pendek. Kartika melihat jam pada sudut kanan layar menunjukkan pukul 15:06. Sejam lalu ia telah mendapatkan konfirmasi dari anggota komisi pemilihan setempat melalui wawancara lewat Whatsapp tentang soal-soal administratif pemilihan walikota di kotanya. Itu cukup bagi Kartika untuk membuat dua atau tiga berita pendek sebelum kemudian ia menyusun berita yang lebih mendalam. Berita-berita pendek itu akan dimuat secara online oleh kantornya pada hari itu juga, sementara berita yang lebih mendalam akan naik cetak malam itu, dan diterbitkan dalam surat kabar esok pagi.
“Saya juga ‘ndak setuju kalau pemilihan diundur dua tahun lagi, Mbak,” kata si Penjual Es Cendol yang tiba-tiba telah duduk di samping Kartika dan menyerahkan segelas es cendol kepadanya. “Saya maunya Walikota yang sekarang ini tetep njabat sampai lima tahun ke depan.”
Kartika berhenti mengetik. “Kayaknya itu memang maunya setiap orang ya, Pak?” katanya, lalu mengisap es cendol dalam gelas di tangannya melalui sedotan.
“Haiya!” kata si Penjual Es Cendol dengan mantap. “Kota ini masih butuh orang kayak dia. Bahkan, mungkin, sampai dua puluh tahun mendatang kota ini masih butuh orang kayak dia, Mbak.”
Kartika meletakkan gelas es cendol di antara dirinya dan si Penjual Es Cendol, lalu kembali memandangi layar ponsel dan melanjutkan ketikannya. Ketikan itu salah berulangkali dan ia harus membetulkannya dan lama-lama Kartika jadi merasa kesal sendiri sebab satu berita pendek saja terasa sulit diselesaikan sementara jam di sudut kanan layar telah menunjukkan pukul 15:50.
“Kalau Mbak, mau milih siapa?” kata si Penjual Es Cendol.
“Kan, rahasia, Pak,” kata Kartika, memalingkan pandangannya ke si Penjual Es Cendol, tersenyum, lalu berkata, “jujur, adil, langsung, umum, bebas, dan rahasia.”
Si Penjual Es Cendol terkekeh. Ia mengisap dalam-dalam sebatang rokok di tangannya. Si Penjual Es Cendol menahan asap rokoknya agak lama dalam paru-paru, lalu mengembuskannya secara perlahan. Asap bergulung keluar dari bibirnya, dan dihirup kembali melalui lubang hidung. “Saya juga punya anak perempuan,” katanya kemudian, setelah mengamati wajah Kartika. “Mungkin umurnya sepantaran sama Mbak.”
Sekali lagi Kartika mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, memandangi si Penjual Es Cendol di sampingnya. “Kerja, atau ‘gimana sekarang, Pak?” katanya.
“Tadinya jadi TKI di Arab, Mbak,” kata si Penjual Es Cendol. “Tapi sekarang sudah kawin, sama pacar SMA-nya. Enggak boleh kerja sama suaminya. Hehehe...”
Kartika tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu mengembalikan pandangannya ke layar ponsel. Sepasang matanya menatap layar ponsel itu lama-lama, tetapi kedua jempolnya tak lagi mengetik.
“Mbaknya, sudah berkeluarga apa belum, Mbak?” kata si Penjual Es Cendol.
Kartika memandangi lagi si Penjual Es Cendol. Ia hanya tersenyum, dan melemparkan pandangannya ke arah para demonstran di seberang jalan.
***
Seluruh pekerjaan Saripah di dapur telah tersaji di meja makan. Semangkuk sayur lodeh semalam yang sudah dihangatkan, selepek sambal bajak (juga sisa semalam), sepiring ikan asin, sebakul nasi dalam magic jar, segelas kopi hitam, dan satu teko air. Saripah duduk di kursi menghadapi seluruh pekerjaannya, menunggu Affandi keluar dari kamarnya. Tetapi, Affandi tak juga keluar hingga nyaris pukul enam. Saripah memandangi jam dinding di atas pintu kamar Affandi. Lima menit lagi anak itu harus berangkat ke sekolah, pikirnya. Saripah beranjak dari atas kursi, menghampiri kamar Affandi.
“Pan?” kata Saripah di depan pintu kamar Affandi yang tertutup.
Saripah mengetuk pintu di hadapannya setelah tak mendengar jawaban dari balik pintu. “Pan?” katanya sekali lagi. Tapi ia tak juga mendengar jawaban. Cahaya langit pagi sudah semakin terang, menembus tirai jendela di balik punggung Saripah. “Pan?”
Saripah memutar kenop pintu di hadapannya dan pintu itu terbuka dan Saripah tak mendapati Affandi di dalam kamar. Hari ini adalah adalah hari kesekian Affandi berangkat ke sekolah tanpa sarapan, pikir Saripah.
Saripah kembali ke meja makan, memindahkan secentong nasi, dan dua sendok sayur sayur lodeh ke atas piring, lalu kembali ke dalam kamarnya. Di dalam kamar, di atas ranjang, sepasang mata Cak Muklis telah terbuka. Sepasang mata lelaki itu menerawang jauh ke langit-langit kamar, begitu jauh seolah tatapan itu menembus langit-langit, menatap dunia di mana Saripah tak bisa memasukinya. Saripah menghampiri ranjang, meletakkan piring berisi nasi dan sayur lodeh di atas bupet di sisi ranjang, lalu menyangga punggung Cak Muklis dengan setumpukan bantal. Tubuh itu begitu ringan, sangat ringan Saripah bahkan merasa ia hanya mengangkat guling saat ia mengangkatnya.
Duduk di samping Cak Muklis Saripah mulai menyuapi lelaki itu dengan nasi dan sayur lodeh. Saripah sengaja membanjiri nasi di atas piring di tangannya dengan kuah sayur agar nasi itu menjadi lunak sehingga lambung Cak Muklis bisa dengan mudah mencernanya tanpa Cak Muklis harus memamahnya dalam mulut terlebih dahulu. Bibir Cak Muklis terbuka ketika sendok di tangan Saripah menyentuhnya. Barangkali jiwa Cak Muklis memang telah lama meninggalkan kesadarannya namun sepertinya naluri tubuhnya untuk tetap bertahan hidup masih tinggal sehingga bibir itu akan selalu terbuka setiap kali tubuh itu membutuhkan asupan. Tetapi, biasanya bibir itu akan kembali tertutup setelah tiga atau empat suapan. Itulah saat bagi Saripah untuk berhenti menyuapi Cak Muklis.
Saripah mendudukkan Cak Muklis di atas kursi, yang, dengan bantuan Marwan, telah dirakit sedemikian rupa sehingga Cak Muklis bisa berak dan kencing tanpa harus mengotori apa-apa selain pispot yang telah Saripah letakkan di bawah kursi tersebut. Duduk di atas kursi itu tatapan sepasang mata Cak Muklis tampak seperti menembus tembok di seberangnya, seolah di balik tembok itu Cak Muklis menemukan sesuatu yang sedang ia cari tapi tak begitu yakin bahwa itu adalah sesuatu yang sedang ia cari. Saripah sedang membuka tirai jendela untuk membiarkan cahaya matahari pagi masuk ke dalam kamar saat ia dikagetkan oleh segumpal lumpur yang menghantam kaca jendela kamarnya. Saripah membuka daun jendela dan mencolek gumpalan itu dengan jari telunjuk dan saat ia menciumnya ia tahu itu bukan lumpur melainkan tai kuda.
“Orang gila...orang gila...orang gila...”
Saripah mendengar suara anak-anak kampung dari pekarangan rumahnya. Bocah-bocah itu, pikirnya, seharusnya sudah berada di sekolah dan tidak berkeliaran di jalanan dan meneriaki orang gila. Sejak Affandi mengajar anak itu tak pernah membiarkan anak-anak nelayan miskin di kampungnya berkeliaran di jalanan atau melaut bersama orangtua mereka. Affandi bersedia mengajar tanpa dibayar sebab ia ingin seluruh anak di kampung itu bisa membaca, menulis, dan berhitung. Tetapi pagi itu Affandi telah berangkat ke sekolah dan anak-anak itu masih berkeliaran di jalanan di dekat pekarangan Saripah dan meneriaki orang gila.
“Orang gila...orang gila...orang gila...” Dan Saripah, mendengar nyanyian anak-anak kampung itu dibubarkan oleh teriakan seorang perempuan. Itu adalah suara Padma, pikir Saripah. Tak lama kemudian Saripah mendengar pintu depan rumahnya diketuk dan ketika ia membuka pintu itu Saripah mendapati Padma berdiri di hadapannya.
“Ini dari Kang Marwan, Mak,” kata Padma, menyodorkan kantung plastik hitam kepada Saripah dan Saripah tak perlu melihatnya terlebih dahulu untuk tahu bahwa itu adalah ikan asin. “Dan ini sayur asem,” lanjut Padma sambil menyodorkan rantang kepada Saripah. “Kebetulan Padma bikin banyak tadi pagi.”
Saripah menerima pemberian Padma dengan senyuman lalu mempersilakan Padma masuk ke dalam rumah. Memasuki rumah Saripah Padma mencium aroma tua yang begitu pekat. Itu adalah aroma pisang yang terlalu matang dan pala. “Ada yang bisa Padma bantu, Mak?” kata Padma. Sepertinya Saripah tak mendengar kata-kata Padma sebab ia menyelonong masuk ke dapur begitu saja tanpa memutar kepalanya ke balik punggung.
Padma duduk di ruang tamu. Di samping kursi tempat duduknya Padma memperhatikan bingkai-bingkai foto di atas bupet. Dalam bingkai-bingkai itu ia melihat Cak Muklis yang masih sehat, dengan jaring penuh ikan tercangklong pada bahunya yang kekar. Padma melihat Saripah muda, dan Cak Muklis bersama Saripah berpakaian pengantin berdiri berdampingan di depan pelaminan. Pada bingkai yang lain Padma melihat Affandi, dan, sekonyong-konyong ia merasakan sesuatu menghunjam jantungnya dengan keras saat ia melihat dirinya sendiri dalam foto itu sedang berdiri di samping Affandi. Padma langsung melemparkan pandangannya ke pintu depan. Jari-jemari tangan kanan Padma memutar-mutar cincin emas yang melingkar pada jari manisnya di tangan kiri.
***
Para demonstran masih berkumpul di depan kantor komisi pemilihan saat Maman Nurjaman datang menghampiri Kartika. Sebenarnya, Maman Nurjaman bukan wartawan politik. Ia lebih sering bertugas di desc kriminal dan ekonomi dan kadang-kadang juga metro. Meski tak pernah bertugas di desc politik tapi Maman Nurjaman tak bisa menolak permintaan Kartika untuk menggantikan tugasnya meliput demonstrasi di depan kantor komisi pemilihan selama beberapa jam. Kartika cemberut memandang Maman Nurjaman saat lelaki itu menghampirinya di balik gerobak nasi goreng, dua meter dari tempat para demonstran berkumpul.
“Katanya jam enam nyampek,” kata Kartika.
“Gila,” kata Maman Nurjaman, “tahu, enggak? Aku baru selesai meliput kasus BS. Bela-belain langsung ke sini buat bantuin kamu.”
“Dih! Itu artis yang sedang tersangkut kasus prostitusi. Semua orang juga tahu siapa BS.”
“Apa kamu tahu, Hadar Nafiz Gumay?”
Kartika tak menjawab. Ia masukkan laptop di pangkuannya ke dalam tas, dan mengenakan jaket, lalu menghampiri penjual nasi goreng dan mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam kantong celananya.
“Langsung cabut?” kata Maman Nurjaman dengan tampang tolol.
“Kamu ini sudah telat hampir dua jam, tahu!” kata Kartika dengan mata melotot, kemudian berbalik memunggungi Maman Nurjaman, dan melenggang pergi.
“Tika!” kata Maman Nurjaman dari balik punggung Kartika.
Kartika menghentikan langkahnya, lalu berbalik. “Apa lagi?” katanya. “Aku tahu kamu pasti bisa meliput ini. Tulis saja apa yang kamu lihat sedang terjadi di sini dan nanti biar aku yang minta konfirmasi dari orang dalam, dan kalau kamu...,”
“Sudah tujuh belas tahun, Tik!” kata Maman Nurjaman, memotong kata-kata Kartika, dan berjalan menghampirinya. “Sampai kapan kamu bakal terus melakukan ini?”
Kartika diam, memandangi Maman Nurjaman. Maman Nurjaman juga diam, memandangi Kartika. Dua meter dari tempat mereka berdiri mulai terdengar para demonstran kembali berorasi. Lima orang fotografer tampak beranjak dari bangku di dekat gerobak nasi goreng, mencangklong kamera mereka pada pundak, lalu menghampiri kantor komisi pemilihan.
“Sampai kapan, Tik?” kata Maman Nurjaman, mengulangi pertanyaannya.
“Barangkali,” kata Kartika, memalingkan wajahnya dari tatapan Maman Nurjaman. Kartika melemparkan pandangannya ke jalan raya, mengambil napas dalam-dalam sebab tiba-tiba ia merasakan sesak dalam dadanya. Beberapa mobil polisi tampak melintas. Lampu sirene mobil-mobil itu menyala tapi tak mengeluarkan suara. “Barangkali sampai lima puluh tahun ke depan aku bakal terus melakukan ini,” kata Kartika, tersenyum, tetapi Maman Nurjaman melihat sepasang mata Kartika berkaca-kaca sebelum gadis itu kembali memunggunginya dan pergi meninggalkannya.
Di depan sederetan kawat berduri Kartika menghentikan taksi yang sedang melintas, lalu naik, masuk ke dalamnya, dan mengatakan kepada supir taksi itu ke mana tujuannya. “Bisa cepat, enggak, Pak?”
“Siap, Mbak!” kata si Supir Taksi tanpa menengok kepada Kartika.
Di balik kaca jendela pintu taksi Kartika melihat gedung-gedung dan lampu-lampu kota di sepanjang Jalan Merdeka berlarian ke arah belakang. Jalan Merdeka tak begitu ramai di jam itu sebab sejak siang polisi telah mengalihkan lalu-lintas di jalur tersebut karena adanya demonstrasi. Mesin pendingin taksi membuat Kartika kedinginan tapi ia tak mengatakan itu kepada si Supir Taksi. Sekali waktu ia pernah mengatakan itu dan supir taksi yang ia tumpangi pada saat itu menanggapi kata-katanya dengan banyolan mesum. Kartika menarik ritsleting jaketnya sampai ke bawah dagu dan memeluk tas ranselnya. Tak lama kemudian sepasang matanya mulai terasa berat dan ia pun terlelap di bangku belakang taksi.
***
Siang itu Padma membantu Saripah menuangkan wedang kacang ijo dari dalam panci ke dalam kantung-kantung plastik kecil. Entah sejak kapan, tangan Saripah tak lagi bisa mengikat kantung plastik yang telah berisi wedang kacang ijo dengan karet gelang. Tangan Saripah selalu bergetar setiap kali ia melakukan pekerjaan itu dan sejak tangannya bergetar Padma akan selalu melakukan pekerjaan itu baginya sementara ia sendiri akan membakar ujung kantung plastik lain yang berisi kacang telor dengan nyala api pada lilin.
“Tadi pagi,” kata Saripah di tengah pekerjaannya, “ketemu Pandi, enggak?”
Padma tak menjawab. Ia hanya sebentar memandang Saripah, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya mengikat kantung plastik berisi wedang kacang ijo dengan karet gelang.
“Hm?” gumam Saripah, memandangi Padma. Ia tak mendengar Padma berkata apa-apa tapi sejak tangannya bergetar, dan kini, sepasang matanya sepertinya juga sudah mulai rabun, Saripah berpikir bahwa sepertinya pendengarannya juga mulai terganggu dan merasa bahwa Padma telah menjawab pertanyaannya tapi ia tak bisa mendengarnya.
Padma kembali mengangkat pandangannya dari plastik-plastik di tangannya, memandang Saripah, lalu menggeleng, dan melanjutkan pekerjaannya.
“Pandi enggak sarapan lagi hari ini,” kata Saripah.
Barangkali wajar jika kedua tangan Saripah selalu bergetar, juga pandangannya mulai rabun, sebab sebenarnya umur Saripah sendiri sudah nyaris seabad. Tapi umur Padma belum juga genap tujuh puluh tahun pada saat itu, pada saat ia merasakan sepasang tangannya bergetar, seperti Saripah, dan pandangannya mulai rabun. Tapi sepasang mata Padma mulai rabun bukan oleh katarak, seperti Saripah, melainkan oleh air mata.
“Menurutmu, Pad,” kata Saripah, “si Pandi itu jarang sarapan apa gara-gara ikutan partai itu, ya?”
Padma tak menjawab. Ia hanya diam.
“Apa, Pad, namanya?” kata Saripah. “Kuminis, ya?”
“Enggak tahu, Mak,” kata Padma, dan ia pun segera meninggalkan seluruh pekerjaannya dan bergegas ke halaman belakang rumah Saripah sebab ia tak bisa lagi menahan air matanya tumpah dan tak ingin menangis di hadapan Saripah.
***
Toko roti Wijaya seharusnya sudah tutup sejak pukul 21:00 tapi malam itu toko itu masih tetap buka meski jam pada layar ponsel Kartika telah menunjukkan pukul 21:25. Dari seberang jalan Kartika tahu toko itu masih buka sebab rolling door toko itu belum juga diturunkan, dan lampu di dalam sana masih menyala seluruhnya. Kartika turun di seberang jalan sebab jarak dari toko itu ke patahan bulevar untuk memutar balik terlampau jauh dan ia sudah sangat terlambat.
Kartika tak mendapati siapa-siapa ketika ia telah berada di dalam toko roti Wijaya. Tidak mungkin para pegawai toko itu pulang, pikirnya, tanpa menutup toko. Ia berjalan menyusuri etalase dan memperhatikan beraneka macam roti di dalamnya.
Tiba-tiba, Kartika dikagetkan oleh suara seorang perempuan yang berkata, “Untuk hari ini, toko ini tak akan tutup sebelum kamu datang.”
Dari balik punggungnya Kartika melihat seorang perempuan tua datang menghampirinya dengan membawa seloyang roti ulang tahun. Perempuan itu tersenyum, dan senyum itu membuat sepasang matanya yang sipit memejam selengkapnya. Seluruh rambutnya telah beruban dan kerutan pada wajahnya tampak jauh lebih tua dari umur segala kehidupan. “Aku tak tahu berapa umurnya malam ini,” kata perempuan itu, “tapi tentu aku tidak bisa tidak memasang lilin, sebab kue tanpa lilin tentu bukan kue ulang tahun.”
Kartika memandangi perempuan tua itu dengan tatapan penuh tanya. Perempuan tua itu meletakkan kue ulang tahun di tangannya ke atas meja, lalu menghampiri Kartika. “Aku pernah melihatmu di beberapa Kamis di depan istana,” kata perempuan tua itu, “dan di depan istana itulah aku mengenal Bu Suci, ibunda Heru.”
Sekonyong-konyong air mata Kartika jatuh dengan deras, membasahi kedua pipinya, dan membuat seluruh tubuhnya bergetar, sehingga perempuan tua itu harus menuntun Kartika duduk di bangku di hadapan meja di mana kue ulang tahun Heru diletakkan. Keduanya duduk saling berhadapan dengan kue ulang tahun Heru di antara mereka.
“Mei Lin, putriku, juga meninggalkan aku di tahun di mana Hendra meninggalkanmu,” kata perempuan tua itu.
Mendengar kata-kata perempuan tua itu Kartika tahu ia tak perlu mengatakan apa-apa tentang masa lalu sebab tak ada yang lebih megah dibandingkan dengan merayakan kehilangan dalam kesunyian masing-masing. Perempuan tua itu tersenyum kepada Kartika, dan tiba-tiba Kartika merasa malu karena telah menangis. Ia segera mengusap sepasang matanya dengan sapu tangan dan membalas senyuman perempuan tua di hadapannya.
Kesunyian itu masih menemani mereka sampai kemudian Kartika merasakan ponselnya bergetar. Kartika mengambil ponsel dari dalam saku celananya dan melihat nomor Maman Nurjaman di layar. Kartika mengusap layar itu dan membaca pesan Maman Nurjaman.
“Jgn pulang mlm2. Nana g mau tdr kalo g sm ibunya,” kata pesan itu.