Hidup Tak Melulu Tentang Jawaban —Wait, What? Dan Pertanyaan Mendasar Lain dalam Hidup
Sebuah resensi oleh Ghina Hasna Afifa (instagram.com/oghinaa) Jumat, 31 Januari 2025
“Meski orang lain bosan mendengarnya, atau tidak bisa menjawab, jangan berhenti memberikan pertanyaan itu kepada diri sendiri.” Wait, What? Dan Pertanyaan Mendasar Lain dalam Hidup Halaman 35
Identitas Buku
Judul Buku : Wait, What? Dan Pertanyaan Mendasar Lain dalam Hidup Judul Asli : Wait, What? And Life’s Other Essential Questions Penulis : James E. Ryan Penerjemah : Annisa Cinnantya Putri Tahun Terbit : 2018 Penerbit : Gramedia Pustaka Utama ISBN : 978-602-06-4421-9
Sinopsis
Dengan menggunakan contoh dari bidang politik, sejarah, budaya populer, dan gerakan sosial, juga kehidupan pribadinya, James E. Ryan menunjukkan bagaimana pertanyaan-pertanyaan penting ini menghasilkan pemahaman, memicu keingintahuan, memulai kemajuan, memperkuat hubungan, dan menarik perhatian kita pada hal-hal penting dalam kehidupan. Dengan secara teratur mengajukan lima pertanyaan penting ini, Ryan berjanji bahwa kita akan lebih mampu menjawab pertanyaan hidup yang paling penting. Buku ini adalah kebijaksanaan yang menginspirasi, yang akan mengubah cara Anda memikirkan pertanyaan untuk selamanya.
Resensi
Manusia seringkali membebani diri dengan ekspektasi, entah dari lingkungan atau dari diri sendiri, tentang menjadi sosok yang serba tahu dan seakan harus memiliki jawaban atas segala hal. “Sindrom Juru Selamat” adalah istilah yang digunakan penulis untuk menjelaskan fenomena ini. Mengapa kita selalu menjadikan jawaban sebagai pilar dalam hidup, ketika sejatinya peran pertanyaan ternyata sama pentingnya?
Ryan mengibaratkan pertanyaan sebagai kunci. Pertanyaan yang tepat jika disampaikan dengan cara dan pada saat yang tepat, akan membawa kita kepada hal-hal yang belum kita ketahui, yang acap kali tak kita sadari, yang bisa jadi kita lewatkan jika kita tidak ‘bertanya’. Terbagi ke dalam lima bab saja, penulis membuka buku ini dengan menjelaskan terlebih dulu mengapa pertanyaan dan bertanya itu penting untuk menjadikan hidup lebih baik. Jika dirangkum, kurang lebih seperti ini:
(Pertanyaan yang baik) menghidupkan pengetahuan dan menyalakan api rasa ingin tahu;
Memaksa kita agar tidak terpaku pada jawaban yang konstan serta mengungkap probabilitas lain yang tak terlihat;
Menjadi hal yang memanusiakan kita, sebagaimana bertanya adalah hasil dari proses berpikir sekaligus merasa yang hanya dapat dilakukan oleh kita manusia.
Ryan menyatakan ada lima pertanyaan penting dalam hidup dengan tujuan dan manfaatnya tersendiri. Masing-masing disampaikan dalam satu bab khusus untuk tiap pertanyaan dan dilengkapi dengan berbagai peristiwa personal penulis yang berkaitan sebagai contoh.
Eh, Bagaimana? (Wait, what?)
Berbeda makna tergantung dari pada intonasi yang digunakan. Bisa jadi berupa ekspresi penekanan untuk mengulangi perkataan lawan bicara atau mengonfirmasi sesuatu fakta. Pertanyaan ini penting sebagai langkah dalam memahami pendapat atau ide agar kita dapat berpendapat dengan yakin tanpa perlu merasa ragu atau keliru, memperdalam hubungan dengan orang sekitar, dan menghindari konflik yang tak perlu akibat kesalahpahaman.
Kira-kira…? (I wonder…?)
Pertanyaan yang bersifat mendasar dan merupakan wujud dari rasa tahu itu sendiri. Dapat menjadi cara kita lebih terhubung dengan dunia sekitar, menemukan peluang dan kebahagiaan yang bisa saja terlewat, dan menjadikan diri kita lebih menarik di mata orang lain.
Bisakah kita setidaknya…? (Couldn’t we at least…?)
Sifatnya sangat krusial karena dengan menanyakan ini, kita akan bisa memulai sesuatu yang tadinya kita ragu dan enggan untuk lakukan. Lewat pertanyaan ini, kita akan terhindar dari rasa penyesalan karena berdiam diri, karena tidak membiarkan diri ini mencoba dulu. Satu pertanyaan, dan kita siap untuk maju.
Bagaimana saya bisa membantu? (How can I help?)
Alih-alih menawarkan pertolongan sebagai pertanyaan, Ryan memberi pencerahan mengapa menyampaikannya sebagai pertanyaan lebih penting. Dengan menawarkan diri, lawan bicara tak akan merasa tertekan dan kita akan dapat membantu secara efektif sesuai dengan yang dibutuhkan. Bahkan jika ditolak, pertanyaan itu sendiri sudah berupa uluran tangan dan menunjukkan bahwa kita peduli.
Apa yang benar-benar penting? (What really matters?)
Hal yang sering dilupakan di tengah dunia yang hiruk-pikuk dengan segala distraksinya. Ryan menganjurkan pembaca untuk meluangkan waktu, menyempatkan diri, untuk bertanya pada relung hati, “Apa yang sebetulnya penting bagi kita?” Penulis mengingatkan kita perlunya fokus untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan yang diidam-idamkan.
Terakhir, penulis menyediakan satu pertanyaan bonus nan pamungkas yang hanya bisa dijawab jika kita sudah menanyakan kelima pertanyaan tersebut dan menemukan jawabannya. Lewat 130 halaman buku ini, Ryan mengajak pembacanya rehat sejenak dan merenungkan hidup dengan bertanya. Dan meski tak ada yang menghiraukan atau tak seorang pun mempunyai jawabannya, teruslah bertanya.
Kelebihan Buku
Pembahasan yang diberikan cukup padat tanpa banyak membawa detail yang tak relevan dan bisa dengan baik menjaga fokus dan minat pembaca untuk membaca buku ini sampai habis. Contoh yang diberikan beragam dan diambil dari berbagai bidang sehingga bisa banyak menjangkau pembaca dari kalangan berbeda.
Penulis juga secara konsisten menaruh pengingat jika hendak membahas kembali topik, kejadian, atau seseorang yang sudah pernah disebut sebelumnya lengkap dengan titik koordinat, seperti di bab berapa dan menyangkut kisah yang seperti apa sehingga pembaca tak perlu memusingkan diri untuk mengingat seandainya ada detail yang terlewat.
Kekurangan Buku
Ada bagian saat penulis mengatakan bahwa, “Menurut para ilmuwan sosial, rasa ingin tahu baik untuk kesehatan dan rasa bahagia.” Akan tetapi, penulis tidak secara spesifik menyebutkan judul penelitian atau artikel yang disebut dalam bentuk catatan kaki (footnote), sehingga kutipan atau fakta tersebut diragukan kredibilitasnya.
















