MBG
"Tidak Perlu Ahli Gizi"
MBG sudah ada sejak zaman Rasulullah, Khalifah Umar, Ottoman dan Sunan Kalijaga ada peran 'ahli gizi' juga.
MBG pada masa Umar bin Khattab
Khalifah Umar dikenal sering berjalan malam untuk memastikan tidak ada rakyatnya uanh kelaparan. Disebutkan, kisah Umar yang membawa makanan kepada seorang ibu yang tidak mampu memberi makan anak-anaknya. Umar bahkan menerapkan kebijakan pemberian makanan gratis kepada masyarakat miskin sebagai bentuk tanggung jawab pemimpin kepada rakyatnya.
Pada masa Umar bin Khattab, ada sistem seperti FOOD ALLOWANCE DAN FOOD SECURITY PROGRAM. Contohnya:
pembagian gandum gratis untuk semua warga,
jatah tambahan untuk anak-anak dan keluarga miskin,
negara menanggung makanan bagi mereka yang tidak mampu.
Umar bahkan pernah menolak memberi roti keras pada anak kecil dan menggantinya dengan makanan lembut yang mudah dicerna.
Kebijakan-kebijakan di atas menunjukkan ada pemahaman nutrisi praktis, meski tidak memakai istilah sains modern.
Pada masa Umar bin Khattab, sistem ini sangat maju:
ada dowan al-ata (badan distribusi makanan dan tunjangan),
ada program makanan gratis untuk bayi/anak tidak terjadi kelaparan,
bahkan ada dokumen henis makanan yang cocok untuk ibu menyusui dan anak-anak.
Jadi, apakah MBG pada zaman itu tidak ada/tidak perlu ada AHLI GIZI? Jawabannya ada dan perlu.
Adakah Dapur MBG?
Dapur Umum MBG dimulai pada masa Umar bin Abdul Aziz.
MBG pada masa Umar bin Abdul Aziz
Khalifah Umar bin Abdul Aziz, pemimpin dari Bani Umayyah, mebawa kebijakan ini lebih jauh. Ia mendirikan DAPUR UMUM untuk memastikan tidak ada seorang pun yang kelaparan di bawah pemerintahannya.
Kebijakan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga menciptakan rasa keadilan dan kesejahteraan sosial.
MBG pada masa Ottoman
Pada masa kekhalifahan Utsmaniyah (Turki Utsmani/Ottoman), makan gratis terwujud melalui DAPUR UMUM (IMARET) berbasis wakaf yang telah dibangun sejak abad ke - 14 sapai abad ke - 19, memastikan keberlanjutan pasokan makanan gratis. Pendirian Imaret merupakan wujud tanggung jawab negara untuk menyediakan makanan bergizi secar gratis bagi masyarakat. Imaret menjadi institusi penting untuk mendistribusikan makanan kepada berbagai kalangan, seperti pengurus masjid, guru, murid, sufi, pelancong dan masyarakat yang membutuhkan.
Imaret pertama kali didirikan di Iznik Mekece oleh Sultan Orhan. Belakangan Imaret didirikan bukan hanya para sultan, tetapi juga kalangan militer dan inisiatif individu sebagai upaya filantropis untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, anggaran negara dialokasikan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Di dalam baitulmal terdapat bagian-bagian yang sesuai dengan jenis hartanya.
Pertama, bagian fai dan kharaj yang meliputi ganimah, anfal, fai, khumus, kharaj, status tanah, jizyah dan dlaribah (pajak).
Kedua, kepemilikan umum meliputi tambang minyak, gas bumi, listrik, pertambangan, laut, sungai, perairan, mata air, hutan, serta aser-aset yang diproteksi negara untuk keperluan khusus, semisal sarana publik seperti rumah sakit, sekolah, jembatan dan lainnya.
Ketiga, zakat yang disusun berdasarkan jenis harta zakat, yaitu zakat uang dan perdagangan, zakat pertanian dan buah-buahan, serta zakat hewan ternak (unta, api dan kambing).
MBG pada masa SUnan Kalijaga
Caos Dhahar, tradisi makan gratis berlauk ikan, hidangan makanan untuk para tamu (kalangan raja, ulama, hingga rakyat) uang dipopulerkan Sunan Kalijaga di Demak, dilestarikan dan dijadikan model sedekah saat syukuran. Menu yang disuguhkan kesukaan Sunan Kalijaga yang berlauk ikan, diantaranya ikan lele bakar dan ikan asin petek bakar berbumbu pedas. Mengapa dibakar?
Pemilihan ikan lele oleh Sunan Kalijaga saat itu memiliki nilai filosofis. Lele hidup di perairan berlumpur yang umumnya di empang/kolam yang lebih rendah dari permukaan tanah. Lingkungan hidup lele memberi pesan hidup agar orang yang sedang mengalami kebahagiaan hidup tidak melupakan orang lain yang posisinya lebih rendah.
Kandungan gizi? Protein ikan istimewa karena mengandung semua asam amino esensial (lisin, leusin dan metionin), yang lebih tinggi dibandingkan protein yang terkandung dalam susu dan daging. Kandungan leusin ikan air tawar seperti lele sangat diperlukan anak-anak karena membantu perombakan dan pembentukan protein otot, sedangkan lisin membantu pertumbuhan.
(Martiana, 2015, Eksperimen Pembuatan Sosis Ikan Lele Dumbo [Clarias gaiepinus] dengan Penambahan Wortel, [Skripsi, Jurusan Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, Universitas Negeri Semarang], 26-27).
Pengolahan? Proses pengolahan ikan lele sebagai lauk pada menu Caos Dhahar juga relevan dengan penelitian ilmu gizi. Lele pada menu Caos Dhahar dimasak dengan cara dibakar atau dipanggang. Hasil penelitian di Amerika Serikat mengungkapkan bahwa cara pengolahan terbaik untuk menjaga mutu nutrisi dan rasa lele adalah dengan dibakar/dipanggang.
Adakah Ahli Gizi di semua zaman itu?
Tidak ada istilah ahli gizi seperti profesi modern karena ilmu gizi sebagai disiplin ilmuah baru berkembang abad ke - 19. Namun, ada peran yang fungsinya mirip ahli gizi. Umat Muslim saat itu memiliki otoritas pengetahuan tentang makanan, kesehatan dan kebutuhan fisik, seperti praktisi Thibbun Nabawi. Mereka memahami:
makanan apa yang cocok untuk kondisi tubuh tertentu,
mana yang harus dihindari,
Contoh, tokoh Al-Harith bin Kaladah, tabib Arab terkenal yang hidup pada zaman Nabi. Ia dikenal memahami hubungan makanan dan kesehatan.
Pada ,asa Khulafaurrasyidin hingga Umawiyah dan Abbasiyah, tabib memadukan ilmu Yunani, pengalaman empiris, ilmu kedokteran Arab. Mereka merekomendasi pola makan untuk anak-anak, orag sakit, pasukan perang.
Bagaimana dengan SPPG?
Ada penanggung jawab logistik dan makanan pasukan, ini sangat mirip dengan nutrisionis praktis:
mereka memastikan menu pasukan memenuhi kebutuhan energi,
mengatur distribusi gandu, kurma, susu, daging,
makanan apa yang cocok untuk kondisi tubuh tertentu,
mana yang harus dihindari,
Program FOOD ALLOWANCE dan FOOD SECURITY pada masa Umar bin Khattab menunjukkan bahwa ada peran yang mirip dengan SPPG.
Semua praktik pemberian makan bergizi gratis di berbagai zaman ini telah dimulai sejak zaman Rasulullah SAW.
Tradisi-tradisi tersebut ini bukan sekadar amal, melainkan manifestasi dari ajaran Islam yang mengedepankan kesejahteraan bersama, membangun masyarakat yang lebih peduli dan inklusif.
Jadi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah ada di zaman Raasulullah SAW. Beliau meneladankan praktik memberi makanan bergizi secara gratis kepada orang yang membutuhkan.
Dasar teologisnya?
"Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin."
(QS. Al-Maun: 1 -3)
Sebab turunnya ayat ini adalah terkait seorang pembesar Quraisy yang tiap pekan selalu menyembelih unta untuk makan malam. Namun, saat ada anak yatim atau fakir miskin yang meminta sedikit dari daging unta tersebut, ia malah menghardik dan tidak mau memberikan mereka makan.
Rasulullah SAW juga pernah mengatakan bahwa salah satu tanda keislaman yang baik ialah kesanggupan untuk memberikan makanan bagi orang yang membutuhkan.
"Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, "Islam bagaimanakah yang baik?" Beliau menjawab, "Kamu memberi makan dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang tidak kamu kenal."
(HR Bukhari dan Muslim)
"Sebarkan salam/kedamaian, berilah makanan, sambunglah silaturahim, salatlah di malam hari ketika orang lain sedang tidur, niscaya kalian masuk surga dengan penuh keselamatan."
(HR Ibnu Majah dan Ahmad)
Bagaimana dengan kualitas makanannya?
Beliau selalu memastikan makanan yang diberikan berkualitas, seperti daging terbaik dari hewan yang disedekahkan, untuk menunjukkan penghormatan kepada penerima.
Bagian terbaik yang diberikan.
Makanan yang diberikan adalah makanan bergizi yang biasa dikonsumsi masyarakat Arab pada masa itu, seperti roti gandum, kurma, susu, dan daging. Contoh, ketika ada seekor kambing yang disembelih untuk sedekah, Rasulullah meminta agar daging yang terbaik diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Ini menunjukkan betapa beliau memperhatikan kesejahteraan dan kehormatan orang miskin.
"Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan (mempersembahkan) sesuatu yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya." (QS Ali Imran: 92)
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makan kepada kalian hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kalian maupun ucapan terima kasih." (QS Al-Insan: 8 - 9)