Sesungguhnya ini hanyalah cerita sederhana di antara hari-hari kita yang penuh dengan cerita, Nak. Usiamu tujuh tahun, di hari ketiga Engkau di bangku 1 SD.
Tapi penting bagi Bunda mengabadikan potongan cerita sederhana ini, untuk mengenang betapa baiknya Allah menampakkan fitrah baik di dalam dirimu. Barangkali suatu hari engkau Allah beri kesempatan membaca tulisan ini, engkau akan selalu ingat untuk menjadi pribadi baik, dan akan selalu kembali kepada-Nya yang Maha Baik.
"Bunda, besok bekalnya apa?" pertanyaan rutinmu sehari sebelumnya.
Seperti biasa, hari sebelumnya pun, sebelum pertanyaan itu terlontar, Bunda berusaha membayangkan akan menyiapkan bekal makan untukmu esok hari; agar harimu tetap kuat, agar gizi masuk ke dalam tubuhmu yang sedang di masa pertumbuhan, dan agar kau tetap bersemangat bermain dan belajar bersama ibu bapak guru juga teman-teman shalihmu.
Ya, Bunda masih ada stok beras ketan di kotak persediaan bahan makanan. Bunda akan buatkanmu ketan kesukaanmu.
"Mau ketan apa? Pakai abon dan bubuk?"
Ekspresimu menunjukkan kurang setuju.
"Hmm apa mau pakai keju dan susu?"
"Wuaaah.." nampaknya engkau sangat berbinar mendengarnya.
Baiklah, protein Bunda ganti ke dimsum, untuk melengkapi perbekalanmu agar gizi lebih seimbang.
Ibu guru bilang, setiap hari akan selalu ada piring berbagi. Engkau dan teman-teman shalihmu akan selalu membagi isi bekal untuk diletakkan di piring berbagi, sehingga teman yang lain dapat saling mencicip isi bekal teman lainnya.
Sebab itulah, ketan yang sedianya Bunda letakkan langsung di tempat bekalmu, kali ini Bunda sengaja cetak kecil-kecil, agar mudah bagimu membagi kenjusu (ketan-keju-susu) itu dan meletakkannya di piring berbagi.
Bunda lengkapi kenjusu dengan hiasan cokelat chip di atasnya. Berharap semakin menarik sekaligus menambah lezat rasa. Sekadar untuk sesekali Bunda merias perbekalanmu. Biar 'lucu' hihi..
Ternyata, sepulang sekolah, di sink dapur Bunda dapati tempat bekalmu yang susun dua itu penuh dengan tempelan cokelat chip. Ah.. rupanya kenjusu lucu mu itu tak lagi lucu ketika kau buka tempat bekalmu tadi?
Lalu suara spontan Bunda yang tersentak kaget justru membuatmu baru menyadari bahwa ternyata cokelat-cokelat chip itu masih ada di tempat bekalmu (yang sudah terlanjur terguyur air kran cuci piring), dan engkau jadi bersedih. Ah.. anak shalihku yang lembut hati.
Engkaupun mulai menangis.
Bunda tanya kepadamu, adakah di antara enam potong tadi yang masih utuh dengan cokelat chipnya?
Kau bilang, hanya ada satu. Dan satu itulah yang engkau letakkan di piring berbagi.
Bunda yang kerapkali reaktif ini, belumlah memedulikan gejolak emosimu, justru merespon,
"Ya kalau memang kamu suka, Nak, boleh kok kamu simpan itu untuk dirimu. Kau boleh bagi yang lainnya lagi."
Nampaknya engkau semakin bersedih. Beberapa menit kemudian, engkau menghampiri Bunda dan ingin memeluk Bunda. Bunda sambut pelukanmu, Nak. Dan di sinilah engkau utarakan isi hati baikmu,
"Tadi yang ada cokelat chipnya cuma ada satu, Bunda. Dan kakak bagi yang ada cokelat chipnya itu, biar enak.." kau lanjut dengan sesenggukan.
Nak.. kau paham sekali kah rupanya, bahwa jika kita memberi maka kita mesti memberikan yang terbaik?
Kau memilihkan satu makanan yang menurutmu terenak dan terbaik, sehingga kau relakan itu agar temanmu yang lain boleh menikmatinya.
Maasyaa'Allaah Nak, barakallahu fiyk Shalih.. pilihanmu sungguh tidak salah. Pun keputusanmu, sama sekali tidak salah. Bunda hanya berharap, suatu hari engkau akan paham apa itu batasan (boundaries), sehingga engkau dalam melangkah pun tidak sampai abai pada diri.
Tapi bunda yakin Allah Al-hafidz Maha Menjagamu, Nak. Di saat-saat engkau mengutamakan orang lain atas sesuatu yang engkau sukai, di situlah Allah ganjar kebaikan yang banyak untukmu. Insyaa'Allaah.
Anas berkata,
“Ketika turun ayat,
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Lalu Abu Thalhah berdiri menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia menyatakan, “Wahai, Rasulullah, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali Imran: 92)
Sungguh harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh aku wakafkan kebun tersebut karena mengharap pahala dari Allah dan mengharap simpanan di akhirat. Aturlah tanah ini sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberi petunjuk kepadamu.
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bakh! Itulah harta yang benar-benar beruntung. Itulah harta yang benar-benar beruntung. Aku memang telah mendengar perkataanmu ini. Aku berpendapat, hendaknya engkau sedekahkan tanahmu ini untuk kerabat. Lalu Abu Thalhah membaginya untuk kerabatnya dan anak pamannya.”
(HR. Bukhari, no. 1461 dan Muslim, no. 998).
Bakh maknanya untuk menyatakan besarnya suatu perkara.