Selamat istirahat teman-teman, selamat memasuki malam ke-21 Ramadhan. Inget, malemnya fokus ibadah ya. Niatin juga kerjanya buat ibadah
DCM
Sade Olutola
d e v o n
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
dirt enthusiast
Cosmic Funnies
cherry valley forever

★


blake kathryn

Peter Solarz
he wasn't even looking at me and he found me
🪼

PR's Tumblrdome
DEAR READER

pixel skylines
taylor price

oozey mess
Jules of Nature

seen from United States
seen from Netherlands

seen from Türkiye
seen from Japan
seen from Lithuania

seen from Uzbekistan
seen from Bangladesh
seen from United Kingdom
seen from France
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Brazil
seen from Vietnam

seen from France
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Russia
@astarindri
Selamat istirahat teman-teman, selamat memasuki malam ke-21 Ramadhan. Inget, malemnya fokus ibadah ya. Niatin juga kerjanya buat ibadah
DCM

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Overthinking dan Cemasan
Setiap manusia memang diberi akal untuk berpikir. Namun, apa jadinya jika kita kebanyakan mikir?
Itulah salah satu traitku yang memiliki 2 mata pisau. Kadang menjadi penyelamat, kadang pula jadi perusak mood, penghambat langkah kecil maupun besar, bahkan pemicu konflik di rumah tangga. Kalau aku lagi kumat, yaa mikirnya berputar-putar, diinternalisasi, galau sendiri, berpikirnya kadang malah jadi ga logis sampai orang terdekat geleng-geleng kepala.
Ini juga yang memicuku jadi cemasan. Takut salah, ga enakan, takut nyesel, kira-kira di masa depan nanti aku sanggup ga yah.
“pengen kabur bentar ah dari pikiran ini”
Buka sosmed, siapa tau nemu inspirasi. Alhasil makin cemas karena malah membandingkan diri sendiri dengan orang lain dari sisi pencapaian. Emang dasar manusia. Udah gitu malah berdiam diri ga melakukan apapun selama…. Cukup lama. Hahahaha.
Siapa hayooo yang gini?
Sebenernya, ini salah satu sisi diriku kalau lagi ga waras. Biasanya begitu aku menyebutnya. Jangankan hal-hal besar, hal-hal kecil seperti lupa mencuci sesuatu aja nyeselnya bisa makan waktu. Akhirnya ga fulfilling juga karena waktu terbuang, nyeselnya tetep nyangkut. Dibilang me-time yang berkualitas juga engga. Ruginya berlipat-lipat bukan?
Tapi yah, aku juga ga memungkiri sisi diriku ini pun berkali-kali menjadi penyelamat karena aku bisa berpikir lebih jauh lagi dari kebanyakan orang. Dari sesederhana ga kena hujan kalau lagi di luar, sampai akhirnya memutuskan untuk ga jadi nikah dengan seseorang yang sangat direkomendasikan ibuku kala itu padahal akunya ga mau. Some of them was my best decisions, ever.
Kalau sudah mengganggu, memang harus kita yang ambil alih. Kita memiliki kuasa atas pikiran dan keputusan kita sendiri. Kalau pikiran itu muncul, bisa kita internalisasi atau bisa kita lewati gitu aja tanpa harus kita tangkap dan berlarut-larut memikirkan itu.
Setiap overthinking atau kecemasan kumat, kita perlu sadar, selalu ada yang bisa dan tidak bisa kita kontrol. Yang bisa kita kontrol, yaa itulah ranah yang bisa kita atur. Yang ga bisa? Yaudah, lepaskan. Mau dipikirin segimanapun hanya membuang waktu dan energi saja.
Diam pun ga membuat pikiran kita tenang atau kecemasan kita hilang. Memang kita perlu bergerak untuk mengurai semuanya satu persatu. Iya tahu, mungkin ini ga akan memberikan solusi terbaik. Tapi setidaknya, ini bisa mengubah kondisinya menjadi lebih baik. Setidaknya ada yang berubah. Perkara masalah baru? Itu nanti dulu deh.
Satu lagi, live in the moment. Ada kalanya aku menanyakan “kapan balik?” kepada orang yang baru datang. Termasuk suami, wkwk. Iya, aku takut dengan perasaan sedih dan kosongnya ketika orang tersebut balik. Tapi yang ada, aku rugi kalau berlarut-larut dengan perasaan takut itu. Waktuku dengan orang itu ga 100% ternikmati, kesenangannya ga dapet, lelah juga secara mental. Yaah, being present emang sepenting itu buat kaum overthinking maupun pencemas. At least tarik nafas perlahan. Sadari nafasnya, sadari udara yang masuk dan keluar. Kalau ada waktu, bisa juga dengan menulis jurnal. Tulis satu-satu apa yang ada di pikiran.
Hal ini udah berkali-kali diingatkan di komunitasku maupun sama suami, hahahaha. Tapi namanya manusia, pasti ada aja lupanya. Sengaja aku taro di sini biar jadi pengingat jika suatu saat aku buka akunku. Dan semoga bisa jadi pengingat juga buat yang sedang mengalami hal yang sama di luar sana.
Kalau kamu merasa keputusanmu benar, dan kamu sudah sepakat dengan orang-orang 'kunci' di sekitarmu, kamu bisa dengan mudah menjawab pertanyaan orang lain tanpa tapi atau 'seharusnya', dan tidak memperdulikan tanggapan mereka. Namun hati-hati dan jangan lupa, hampir semua hal di dunia ini sifatnya abu-abu. Tidak ada yang betul-betul 'benar' (putih) dan tidak ada juga yang betul-betul 'salah' (hitam).
AFW
Yang aku liat, kamu itu pembelajar sejati, Ndri. You are. Don't forget to say thank you to yourself
N
:”
Ruang untuk Diri Sendiri
Hari itu, aku kesal sekali. Banyak hal sepele yang tidak bisa aku kendalikan, kerjaan banyak, waktu amat terbatas. Ditambah, orang rumah terus bercerita keluhannya kepadaku. Padahal aku lagi ga siap menerima keluhan orang lain. Aku sendiri ga tau mau mengeluh ke siapa.
Saking membuncahnya, aku bersih-bersih kamar sambil menahan tangis. Begitu selesai, begitu aku tahu orang rumah lagi di kamar masing-masing, akhirnya tangisku pecah sembari makan siang. Walaupun tetap ditahan agar suaranya ga terdengar, setidaknya ada yang keluar.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Jam ke-25.00
Pernah mendengar jam ke-25.00?
Sehari semalam, 24 jam menjadi jatah waktu untuk semua makhluk didunia. Lalu jam ke-25 itu miliknya siapa?
Mungkin beberapa dari kita pernah atau barangkali sering mendengar pencapaian targetan para manusia-manusia sibuk yang juga bisa tetap terlaksana.
"Gubernur A tu, sehari semalam menargetkan tilawah al-quran minimal 3 juz perhari, dan biasanya beliau bisa mencapai 5 juz dalam sehari semalam ditengah padat kesibukannya."
"Kak B dengan aktivitas nya dakwahnya yang segudang selalu bisa menamatkan buku seminggu sekali atau dua kali."
Heran tidak sih, bagaimana waktu bisa tersedia untuk mereka ditengah kesibukan yang bertumpuk-tumpuk juga saling berlomba berdatangan.
Jam ke-25.
Dari sekian banyak aktivitas yang susul-menyusul itu, pasti ada saat-saat yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan utamanya.
Nah, waktu itu memang singkat, tapi jumlahnya banyak. Waktu-waktu itu biasanya berada di antara dua pekerjaan besar, yang seringnya waktu-waktu itu terbuang dengan sangat percuma.
Contoh, jadwal antara kelas pertama dengan kelas selanjutnya tersedia 10 menit untuk pergantiannya, maka 10 menit itulah jam ke-25! Perjalanan dari tempat kerja ke rumah memakan waktu 15 menit, maka 15 menit itu juga jam ke-25! Menunggu kereta sampai, sepanjang perjalanan di angkutan umum, menunggu giliran antrean mandi, bahkan sampai menunggu pesanan nasi goreng kita selesai di masak pun adalah jam ke-25!
Nah di jam ke-25 itu lah bisa kita manfaatkan untuk membaca buku, mendengarkan murotal untuk membantu mengulang hafalan, tilawah, dan berbagai kegiatan bermanfaat lainnya. Sedikit sekali ya tampaknya, tapi coba koreksi kembali seberapa sering kita membiarkan jam ke-25 kita tanpa melakukan apa-apa atau menggunakannya untuk hal yang melenakan lagi tidak berguna dalam jangka waktu yang berkepanjangan.
Orang-orang sukses biasanya sangat lihai dalam menkonversi jam ke-25 dalam hidupnya dengan memanfaatkannya menjadi waktu yang produktif.
Kalau kita sampai membiarkan jam ke-25 kita terlewat begitu saja tanpa melakukan apa-apa, bersiaplah untuk menanti sebuah bencana.
Selama ini, jam ke-25 yang kita lewati, kita pakai untuk apa?
"....Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (QS. Al-Anbiya : 90)
20.09.2022
—semoga ada manfaat yang Allah hadirkan untuk diambil
Disabilitas dan Keterbatasan (2)
Masuklah ke hal-hal menyangkut desain. Apa aja yang diperhatiin biar accessible, prinsipnya apa aja, tools yang biasanya kita pake, dan bagaimana mereka mengakses suatu aplikasi. Contoh yang banyak ditunjukin adalah disabilitas terkait penglihatan, karena apps banyak membutuhkan tampilan visual untuk ngasih informasi. Uniknya, sang narasumber langsung memberikan contoh seorang netra untuk memperagakan gimana dia mengoperasikan aplikasi.
Gimana caranya?
Mereka pake text-reader yang memang udah ada di iOS atau android. Text-reader tersebut akan membacakan semua tulisan maupun icon yang muncul di layar. yang menurutku bisa jadi masalah adalah, text-reader tersebut berlogat inggris. Jadi, kalau appsnya berbahasa Indonesia, dibacakannya pakai logat ala-ala. Ketika text-reader tersebut run, ya ampun. Aku sendiri ga bisa catch-up dengan teksnya karena ga biasa. Akhirnya kecepatan pembacaannya diperlambat, menjadi 30%-an. Text-reader tersebut benar-benar membaca semua teks dan icon yang ada dengan lambat.
Pikiranku melayang, gimana kalo orang tersebut lagi sendiri, buru-buru, perlu pakai apps tersebut? Untuk membuka apps dan klik button yang dia maksud aja udah makan waktu. Belum kalo ada kesalahan klik, bisa ngulang dari awal, ada yang ga sengaja kehapus, atau ada kejadian fatal lainnya. Atau, sedang ada di tempat yang berisik. Di tempat umum. Gimana cara mereka mecahin masalahnya ya?
Akhirnya aku nangis di bagian ini. Ya Allah, punya mata teh nikmat banget yah. Ga bisa digantiin sama apapun, dan selama ini aku jarang banget bersyukur punya mata yang sehat.
Ini baru netra. Gimana tuli? Gimana dengan disabilitas lainnya?
Ya Allah, bener yah. Lengkap the nikmat pisan. Sehat teh emang ga bisa dinilai nikmatnya. Tapi aku jarang banget bersyukur atas nikmat-nikmat ini. Ditambah sombong lagi, suka mandang orang-orang disabilitas itu berbeda. Sadar atau ga sadar. Atau mungkin, ketika kita bertemu mereka, kita malah mandang mereka nyusahin atau ngerepotin karena membuat waktu kita kebuang untuk nunggu mereka selesai ditolong.
Maafkan kami, ya Allah. Ampuni kesalahan kami, kesombongan kami, yang kami sadari maupun ga kami sadari 😭
Tulisan ini dibuat sebagai pengingat untuk diriku sendiri. Nikmat yang udah kita terima teh banyak banget, sampe kita ga bisa merinci secara lengkap satu persatu. Semua nikmat ini juga sebenarnya given, jadi rasanya ga ada alasan yang membuat kita layak menjadi sombong.
Bandung, 20 Juli 2022
Disabilitas dan Keterbatasan (1)
Disability isn’t the question of IF, but WHEN.
They’re not minority. It’s us. Either degenerative, or something happen to us.
Disability isn’t personal health condition, but mismatch human interaction.
Hari ini, aku dateng ke webinar yang diadain sama kantorku sendiri. Judulnya “Introduction of Digital Accessibility”. Tadinya, kupikir bakal tentang gimana caranya kita desain riset atau produk digital untuk teman-teman disabilitas. Kalopun apps-nya bukan yang khusus buat mereka, dikasih caranya lah biar 1 apps bisa accessible buat mereka.
Ternyata, di webinar itu, aku dapet jauh lebih banyak dari itu.
5 kalimat di awal adalah pembuka webinar itu. Jujur, baru paparan awal aja aku merinding. Mungkin, selama ini kita menganggap disabilitas itu hanya orang-orang yang memang memiliki kekurangan di panca inderanya secara fisik. Dan asumsiku juga, orang-orang dengan disabilitas itu kondisinya memang begitu sejak lahir.
Ternyata tidak.
Sang narasumber memberikan contoh-contoh kondisi sederhana yang bisa dikategorikan sebagai disabilitas. Misal, kondisi tangan kita yang penuh, sedangkan HP kita bunyi karena telepon masuk. Atau, kita nonton drama di tengah jalan tanpa pakai earphone. Jadi kita hanya baca lewat caption. Atau, tangan atau kaki kita digips sampai kita sulit melakukan sesuatu. Contoh lainnya, perhatikan orang tua kita yang mulai terbatas seiring berjalannya waktu. Entah matanya yang semakin buram, atau fisiknya yang ga kuat berjalan sejauh dulu. Atau mungkin, mulai sering lupa.
Hal-hal ini bisa banget terjadi pada diri kita, kan? Mungkin di antara kita pun pernah ngalamin hal itu. Aku pun pernah, yang paling berasa ketika kaki diperban hanya karena keseleo. Bahkan narasumber pun cerita, 20% dari rekan-rekan netra yang bekerja dengan dirinya tidak netra sejak lahir. Ada yang dari anak-anak, remaja, juga dewasa.
Wah. Ini tamparan pertama buatku, bahwa betul. Selalu ada kemungkinan untuk kita menjadi orang yang termasuk disabilitas. Yes, that’s true. It’s not if, but when.
Selanjutnya, narasumber ngasih paparan tentang jenis-jenis disabilitas. Ternyata ga hanya tuna netra atau tuli aja, tapi ada banyak banget yang mungkin kita sendiri ga sadar kalo orang itu punya disabilitas. Misalnya, dyslexia, buta warna parsial maupun total, gangguan pendengaran walaupun ga total, masih banyak lagi. Aku jadi berpikir, kenapa kita mendiskreditkan kata disabilitas ya, sadar maupun tidak? Mereka juga bagian dari society kita kan?
Berbeda di Hari Raya
Sidang Isbat sudah selesai, tanggal hari raya sudah ditetapkan. Takbir mulai menggema di seluruh penjuru. Suka cita pun dirasakan oleh mayoritas muslim di dunia, terlebih kondisi pandemi yang insya-Allah membaik karena pembatasan sudah dilonggarkan. Mudik sudah diperbolehkan, tradisi halal bihalal dan kumpul keluarga mulai kembali menggeliat. Bisa kita lihat linimasa sosial media yang begitu penuh dengan foto-foto keluarga, mulai dari keluarga kecil hingga keluarga besar.
Berbicara mengenai tradisi, belum tentu semua orang merasakan tradisi berhari raya yang sama. Ada saja di antara kita yang berhari raya dengan kondisi maupun ritual yang berbeda. Entah tidak bisa pulang walaupun pembatasan dilonggarkan, menu khas lebaran tidak lengkap, tidak bisa foto keluarga karena personilnya tidak utuh, ataupun kondisi-kondisi ‘tidak lumrah’ lain yang mungkin membuat rasa suka cita di lebaran ini tidak semeriah orang-orang pada umumnya.
Untukmu yang merasa berbeda karena tidak bisa pulang,
Semoga jihadmu di tanah perantauan berbuah pahala yang terus mengalir. Semoga kondisi ini membuat hubunganmu dengan keluarga justru semakin erat. Semoga kamu tetap bertemu dengan orang-orang yang baik, yang tetap dapat menghidupkan suka cita hari raya.
Untukmu yang merasa berbeda karena tidak bisa foto keluarga,
Tak apa, kawan. Apapun alasannya, kamu masih bisa menyimpan kenanganmu dengan keluarga dalam bentuk yang lain. Tak ada foto keluarga bukan berarti tak dapat berhari raya, bukan? Semoga kamu tetap bisa mengukir kenangan yang manis dengan keluarga dalam bentuk lain. Dan tentu saja, semoga kamu dan keluarga senantiasa dalam kondisi yang sehat.
Untukmu yang merasa berbeda karena minder dengan pertanyaan basa-basi,
Tak apa kalau kamu belum punya jawaban yang pasti. Tidak ada yang menuntutmu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan ekspektasi si penanya. Ekspektasi mereka sudah di luar kuasamu. Kalau pertanyaan tersebut memang mentrigger emosimu segitunya, semoga kamu tetap bisa mengatur emosimu, menjawabnya dengan elegan dan mengalihkan pembicaraan. Semoga kondisi ini tidak membuatmu trauma untuk berkumpul dengan keluarga. Jika butuh jarak, gapapa untuk menciptakan jarak sejenak.
Untukmu yang merasa berbeda karena belum bisa berbagi sebanyak itu,
Tak apa, kawan. Lagi-lagi, ekspektasi mereka sudah di luar kuasamu. Bukan berarti kamu akan dicoret dari garis tahta keluarga besarmu karena belum bisa berbagi sebanyak itu, kan? Berapapun yang kamu bagikan kepada keluargamu, atau mungkin tetanggamu, semoga dicatat sebagai amal dan mengalirkan rezeki yang lebih deras lagi.
Apapun kondisimu yang ‘berbeda’ di hari raya, semoga tidak mengurangi rasa suka citanya. Berbeda bukan berarti kamu tidak berhak merasakan berhari raya, bukan?
Taqabbalallahu minna waminkum. Mohon maaf atas segala kata maupun perbuatan yang selama ini kurang berkenan. Selamat berlebaran, selamat berkumpul silaturahim dengan keluarga :)
Bandung, 3 Mei 2022
Jatuh Bangunnya Proses Belajar
“selamat datang di universitas kehidupan. Di dunia nyata yang sesungguhnya.”
Begitulah ucapan yang kuterima saat kelulusan sarjanaku. Lepas sudah satu tanggung jawabku untuk menyelesaikan pendidikan. Tapi, tugas belajarku belum usai.
Aku sadar betul akan hal itu. Belajar memang proses sepanjang hayat, tidak ada ujungnya selama kita masih punya waktu di dunia. Apapun jalan hidup yang dipilih. Apapun profesi yang disematkan pada diri kita. Tapi, tak terbayang rasanya belajar di universitas kehidupan. Tanpa kurikulum, tanpa jadwal yang terstruktur.
Bidang apa yang akan dipilih? Bebas. Banyak pilihan.
Karir seperti apa yang mau dibangun? Entahlah. Ternyata, masih banyak yang aku ga tau. Bahkan, aku ga tau kalo karir itu ga se-rigid mencapai suatu titel tertentu. Makin kesini, aku semakin sadar kalau karir itu dibangun dari diri sendiri dan sesuai dengan purpose kita. Titel hanyalah penamaan resmi, dan levelling kompetensi kita ga sesederhana digambarkan dengan titel kita saja.
Pivot? Either jalur profesi, industri, bidang? Ga ada salahnya. Worth it kok kalo emang kita punya passion yang diiringi dengan kesadaran diri akan potensi yang kita miliki. Tapi, konsekuensinya cukup panjang. Siapkah kita menanggung sederet konsekuensinya?
Semakin bertambah usia, aku pun sadar kalau quarter life crisis itu ga hanya di usia 20-25an tahun saja. Kecemasan kita akan masa depan akan selalu ada. World is constantly changing, right? Kita ga pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Yang aku tahu hanyalah, setiap amanah, tantangan, dan cobaan tidak akan melebihi kapasitas yang kita miliki.
Semakin aku merasa ga tahu akan suatu hal, selalu ada rasa blaming ke diri sendiri. Kemana aja selama ini? kok baru tahu? Ada proses yang diloncat kah? Apa yang salah ya?
Sebenernya ga ada yang salah. Hanya aku yang kurang sabar dengan proses belajar dan emosi yang dirasain selama ngerasa ga tahu itu. Iya, yang kurang enak itu. Seringkali rasanya ingin cepat-cepat skip proses ini aja dan langsung jadi pro. Tapi yah, ga bisa. Justru di sinilah seninya belajar.
Tapi, proses belajar ini rasanya bisa menjadi lebih ringan kalau kita punya supporting system yang mendukung. Entah orang yang selalu menyemangati kita, bertemu orang-orang yang align dengan journey kita, yang sedang di fase yang sama atau orang-orang yang secara-ga-langsung menjadi mentor kita. Yang bisa memvalidasi rasa ga enaknya dalam proses belajar itu dan paham apa yang sedang kita alami.
Apapun fase kita, apapun yang sedang kita kejar, semoga kita bersinggungan dengan orang-orang yang dapat support kita dan dikuatkan sama Yang Di Atas. Semoga, semangat belajar kita selalu menyala bagaimanapun kondisinya. Saling mendoakan ya, mumpung bulan Ramadhan nih.
Bandung, 10 April 2022

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Namanya berjuang tidak pernah mudah. Selalu ada kerikil dan bebatuannya masing-masing. Akan terus ada tantangan yang harus diselesaikan, dan mungkin ada tembok besar sebagai pertanda bahwa memang harus selesai.
Seperti memperjuangkanmu, yang tidak sesederhana itu.
Bagaimana kita seharusnya bersabar dan menanti?
Bersabarlah dan menantilah seperti seorang yang berpuasa dengan sempurna. Karena seorang yang berpuasa pasti yakin bahwa adzan magrib akan tiba dan ia mendapatkan 2 kebahagiaan.
Seperti itulah orang yang bersabar dan menanti dengan penuh pengharapan pada-Nya, pasti ada ujungnya ia menemukan bahagia dari sabar dan penantiannya.
Selamat menanti dan memperbaiki, untukmu dan untukku.
@jndmmsyhd
Logika VS Rasa
Sejak kecil, aku terbiasa untuk memendam rasa. Senang? Ga perlu lebay lah. Marah? Ga boleh meledak. Sedih? Boleh nangis, tapi jangan sampai ketauan orang lain. Kesal? Sepertinya berlebihan, ga ada yang perlu reaksi berlebihan seperti itu. Takut? Coba, apa yang membuatmu takut? Ga ada kan? Bisa diselesaikan kan?
Hal ini terus terjadi hingga aku dewasa. Termasuk ketika masuk masa PMS. Sekalinya emosi tak nyaman itu muncul, harus diredam dengan logika. Banyak emosi yang muncul yang menurutku tak masuk akal ketika PMS. Marah karena PMS? Itu jelas bukan alasan yang bisa aku terima. Rasanya terlalu kekanak-kanakan kalau hanya menyalahkan PMS. Ga profesional. Dan ga semua orang akan mengerti juga, menurutku.
Kurasa karena itulah, sejak kecil aku senang mendengar orang lain bercerita maupun curhatan orang lain. Hampir semua orang, tanpa pandang usia dan latar belakang. Orang boleh menumpahkan emosinya kepadaku, melalui cerita dan curhatan mereka. Senang rasanya bisa berempati dan ikut merapikan pikiran dan emosinya mereka. Kurasa, ini adalah saranaku belajar tentang kehidupan yang ga banyak aku peroleh dari keluargaku sendiri.
Dulu, aku hampir ga pernah menolak orang-orang yang ingin curhat. Rasanya ga enak kalau sampe nolak.
Sampai akhirnya, aku perlahan tersadar kalau beban emosiku sudah terlalu besar. Terlalu berat untuk dibawa kemana-mana, hingga terengah-engah. Sudah harus dikuras, dan perlu cara tersendiri untuk mengolah emosi yang datang.
Tak lama kemudian, aku berpindah fase dengan seseorang yang sering aku curhatin juga sejak lama. Dia pun sering berbagi cerita denganku sejak di bangku sekolah, jadi kurasa mungkin ga terlalu sulit untuk beradaptasi. Walaupun kita banyak diuntungkan dengan fase pertemanan yang sudah lama, ternyata tetap saja ada PR besar yang perlu diselesaikan berkaitan dengan emosi ini, terkait keterbukaan.
Seringkali aku mengabaikan emosi ga nyaman yang muncul, dengan dalih kalau emosi tersebut ga penting dipermasalahkan. Kalau dalih ini masih membuat ga nyaman, aku akan mencari alasan logis mengapa emosi ini ga perlu jadi masalah, atau mencari penawar lain. Tapi ternyata, rasa itu akhirnya mengalahkan logika.
Padahal, apapun emosi yang kita rasakan itu valid. Semuanya. Dan cara kita menyayangi diri sendiri adalah meregulasi rasa tersebut.
Terutama saat di fase baru, aku sadar bahwa kebiasaan memendam rasa itu pasti akan menjadi masalah di kemudian hari. Mengharapkan relationship yang ‘stabil’ tanpa konflik akibat rasa itu terlalu muluk. Semakin banyak yang dipendam, semakin banyak yang disembunyikan, akan menjadi bumerang di masa depan. Sedikit demi sedikit, aku masih mencoba membiasakan untuk jujur dan terbuka soal rasa dengan cara yang ga menyakitkan siapapun. Memang sulit dan ga nyaman, tapi memang begitulah proses bertumbuh.
Tak apa jika logika kalah dengan rasa. Apapun yang kita rasakan itu valid, termasuk rasa yang menurutmu amat tidak logis. Mungkin itu sinyal kalau diri kita emang butuh menaruh beban emosi yang terlalu berat. Tak perlu juga denial terus-terusan dan keras kepada diri sendiri. Pasti Tuhan menciptakan rasa dengan maksud dan tujuan yang mulia, bukan?
Coba bayangkan bila dunia, dan kita semua tercipta tanpa rasa. Tanpa emosi yang tak nyaman yang biasa kita hindari. Akan seperti apakah dunia ini berjalan?
Bandung, 13 Maret 2022
Ekspektasi, Menggenggam dan Melepaskan
Semakin bertambah usia tiap harinya, semakin paham bahwa tiga kata ini adalah hal yang emang selalu jadi bahan pembelajaran seumur hidup.
Ekspektasi untuk mendapatkan ini dan itu, di aspek apapun, dengan cara apapun. Rasanya ingin menggenggam semua hal yang ada di sekitar kita, agar ekspektasi kita terpenuhi. Padahal, tangan kita ga muat menggenggam semuanya. Apalagi dalam waktu yang lama. Nanti merah, sakit, perih, pegal. Oleh karena itu, kita perlu melepaskan apa yang perlu kita lepaskan. Melepaskan sesuatu pun ada seninya. Ada hal-hal yang perlu kita lepaskan, ada juga hal-hal yang perlu kita pertahankan gimanapun kondisinya.
Ekspektasi terlalu rendah pun tidak selalu baik. Seringkali kita harus mengorbankan hal-hal yang seharusnya kita pertahankan agar kita tidak kehilangan diri sendiri. Terkadang, cara dunia bekerja pun ga seburuk yang kita bayangkan.
Tak semua hal pun bisa kita genggam. Apalagi urusan hati. Kita bukanlah pemilik hati orang-orang di sekitar kita. Kita pun ga bisa memprediksi, apalagi mengatur isi hati orang biar sesuai dengan keinginan kita.
Melepaskan pun tidak selalu buruk. Bukan berarti kita menjatuhkan harga diri kita karena melepaskan apa yang sudah kita miliki. Seringkali, kita perlu melepaskan sesuatu karena kita sudah terlalu serakah.
Sebisa mungkin, lepaskan hal yang ingin kamu genggam kepada Sang Pencipta ya. Hanya Dia yang tahu mana yang terbaik buat kita. Bisa jadi kita dapat sekarang, bisa jadi nanti. Bisa jadi sesuai ekspektasi kita, bisa jadi lebih rendah, atau bisa jadi jauh lebih baik.
Bandung, 21 Februari 2022
Hello again, February
at first, i think i won’t get much time to think and reflect to myself, as February is ‘my’ month. bcs of my own current position and tasks, also my quite-long-term project. but Allah Guide my mind to reflect in just a short time.
contemplating, what has been done especially in past one year.
thinking about my wishes and plans, what has been done to achieve all that.
remembering blessing that I got for the past 27 years.
reflecting, what kind of person i wanna be. what kind of impact that i wanna give to surroundings.
and also, meaning of adulting and all roles that I ‘play’.
it’s always a roller coaster mind-travelling. soaking my energy, emotion, and tears. but also, it’s always satisfying and relieving. hopefully, i got all the answers as soon as possible.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
You will think you have fallen in love with someone and that it will be all smooth sailing from then on as long as you two try your best, but then life will throw you curve balls that you never see coming. So all we can do is cherish the time we have with our loved ones while we can, and deal with the obstacles as they come, and hope that we may possibly get a happy ending even if that was not what you expected.
Hello February, 2022 (via valinakhiarinnisa)
untuk adik-adikku yang mau menikah:
cinta itu diperjuangkan berdua. perjuangannya tidak berhenti saat ijab kabul, justru baru dimulai saat itu. jangan mau menjadi satu-satunya pihak yang berjuang. mungkin awalnya kamu akan bilang tidak apa-apa, tak masalah. kamu akan bilang kamu senang menjadi yang mencintai, yang mengasihi.
pada satu titik kamu akan lelah dek. sebab mencintai itu membahagiakan, mengasihi itu menyenangkan. tapi menunggu itu tidak. sementara, menunggu itu bagian yang besar dari perjuangan cinta.
menunggu seseorangmu mencintaimu dan mengasihimu dengan cara yang sama. menunggu seseorangmu menceritakan cerita kesehariannya kepadamu. menunggu seseorangmu melibatkanmu dalam seluruh bagian hidupnya. atau, sekadar menunggunya memberi kabar. kalau kamu berjuang sendirian, kamu akan terus-terusan menunggu.
ciri-ciri cinta yang diperjuangkan berdua adalah kamu dan seseorangmu sama-sama tidak ingin membiarkan yang lainnya menunggu. kalaupun terpaksa, kamu dan seseorangmu akan sama-sama memberi kabar untuk saling melegakan.
jika kamu sudah terlalu lama terus menunggu tanpa kabar, saranku, coba renungkan ulang. jangan mau menjadi pihak yang berjuang sendirian.
it feels like a warm message from my own sister. well said kak Uti, thank you for writing such a thoughtful advice!