Keberanian Melangkah Lagi
“Lihat payung yang kubeli tadi siang. Mulai sekarang sepertinya hujan akan turun setiap hari. Bukankah kita harus sedia payung sebelum hujan?” kataku bersemangat menunjukkan payung berwarna ungu muda dengan motif polkadot putih.
“Untuk apa sedia payung sebelum hujan jika kamu tidak pernah lagi keluar dari sarangmu. Di bawah sini kamu akan terlindungi dari hujan dan dari panas. Memangnya kamu akan gunakan payungmu itu di sini? Di tempat kamu berusaha melindungi dirimu dari dunia luar di sekitarmu.” katamu datar bahkan kamu tidak menoleh sedikit pun ke arahku ketika kamu berkata-kata.
“Ah, bukan. Sepertinya bukan melindungi, tapi lebih tepatnya menyembunyikan diri.” lanjutmu dengan lagi-lagi tidak menoleh ke arahku. Kamu kemudian dengan santai menyeruput kopi hitam di depanmu lalu kembali membaca buku.
Aku berdiri kaku di tempatku berdiri. Memandang ke arahmu lekat-lekat. Kamu tetap asyik membaca bukumu sambil sesekali mengambil kue yang kusediakan kemudian menyeruput kopi sekali lagi. Menyadari aku tidak beranjak dari tempatku berdiri dan terus memandangimu, kamu sekali lagi menyeruput kopi lalu menutup bukumu tanpa lupa meletakkan pembatas buku di dalamnya.
Kamu menepuk-nepuk sisi kursi kosong di sebelahmu, memberi tanda untukku duduk. Aku masih belum menyambut. Kamu tersenyum sambil masih menepuk sisi kosong kursi. Luluh dengan senyummu itu aku mencair. Berjalan perlahan menujumu sambil masih memeluk erat payung ungu. Kemudian duduk di sebelahmu, memandangimu dengan masih tanpa kata-kata. Kuhela napas panjang lalu meminum kopi milikmu yang seperti biasa, pahit. Mukaku kecut menahan rasa pahit. Sedangkan kamu hanya tertawa kecil melihatku menahan pahit kopimu itu.
“Kamu marah dengan kata-kataku tadi?” tanyamu.
Kuangkat bahuku tanda tidak tahu. Tunggu. Aku meragu. Tanda tidak tahu ataukah aku ragu dengan jawabanku atas pertanyaannya. Kuambil dua potong kue. Satu potong kumasukkan ke mulut dan satu lagi kupegang di tangan. Kusandarkan punggung ke kursi. Mataku memandang kosong sembari mulut mengunyah kue. Pikiranku terbang melayang entah ke mana. Kembali kuhela napas panjang. Kumasukkan lagi sepotong kue yang ada di tanganku dengan mata masih memandang piring kue dengan pandangan kosong.
“Aku marah. Tapi entahlah aku marah padamu atau marah pada diriku sendiri.” kataku.
Kamu memandangiku dan aku tahu kamu menunggu kelanjutan kata-kataku. Kuarahkan badanku ke arahmu, kita saling memandang. Kamu hanya terdiam. Lagi aku menghela napas panjang menundukkan pandang lalu menutup wajahku dengan tangan. Kamu mengelus lembut bahuku sambil berkata, “Tidak apa jika kamu ingin menangis lagi.” Di luar langit yang sedari sore mendung dan gerimis kembali mengguyurkan airnya ke bumi. Kali ini tidak hanya gerimis, tetapi langit benar-benar menumpahkan kandungannya. Hujan deras.
“Aku takut. Ya, aku masih takut berada di luar sana. Aku takut kembali tersakiti atau kembali menyakiti. Aku takut akan peristiwa masa lalu. Jika nanti hanya akan membuatku tersakiti atau aku menyakiti orang lain, bukankah lebih baik aku di sini saja?”
“Bagaimanapun kamu menyembunyikan diri, kamu takkan bisa lari dari kenangan masa lalu. Dari semua peristiwa yang telah kamu alami di masa lalu. Karena ia hidup dalam pikiranmu, ia hidup dalam hatimu, ia bagian dari dirimu yang tidak akan pernah lepas.” katamu sambil memelukku.
“Kamu bisa terus bersembunyi. Namun, waktumu terus berjalan. Tidakkah kamu ingin kembali berjalan, menetapkan tujuan, merencanakan perjalananmu, mempersiapkan semuanya? Termasuk payung-payung cantikmu yang selalu kamu beli dan pada akhirnya tidak kamu gunakan. Hanya kemudian kamu berikan pada orang lain yang membutuhkannya. Payungmu itu cantik. Suatu hari nanti kamu yang akan menggunakan payung yang telah kamu sediakan itu dalam perjalananmu. Seperti katamu tadi, sedia payung sebelum hujan, dan itu hanya bisa kita lakukan jika kita berada di luar, sedang melangkahkan kaki dalam perjalanan hidup. Tidakkah kamu ingin melakukan perjalanan kembali menuju tujuan hidupmu yang pernah kamu tetapkan?”
Aku melepaskan pelukanmu dan memandangimu. Kamu tersenyum.
“Perjalanan hidup ini memang selalu akan memberikan kejutan. Suatu hal besar atau kecil yang bisa membuat kita tersenyum, tertawa, bahagia, kecewa, gagal, menangis, marah, membuat orang lain tertawa, orang lain menangis, mengecewakan, khawatir dan membuat khawatir. Setiap kita di masa lalu pernah merasakan kepahitan dan pernah memberikan kepahitan. Setiap kita pernah tersakiti dan menyakiti. Semua itu menjadi kenangan masa lalu yang tidak bisa kita lepaskan. Kita hanya bisa akan mengikhlaskan dengan damai ketika kita bisa mengambil hikmah dari semua kenangan masa lalu. Tidak ada yang bisa kita lakukan selain itu.” katamu sambil mengusap air mata di pipiku. Lalu mengambil sehelai tissu dan memberikannya kepadaku, menyuruhku membersihkan ingus di hidung.
“Maukah kamu tetap menemaniku melakukan perjalanan ini? Sampai pada akhirnya aku bisa berjalan sendiri dalam perjalananku menuju tujuan yang telah aku tetapkan. Aku tahu ada beberapa tujuan persinggahan sepanjang perjalanan ini yang berbeda untuk kita datangi.” kataku setelah membersihkan ingus di hidung.
Kamu mengangguk-anggukan kepala tanda setuju.
“Hanya jangan lepaskan genggaman tanganmu sampai aku keluar, benar-benar keluar dari tempat ini, keluar dari tempat persembunyianku. Selama ini aku berpikir memang aku harus terus berjalan. Waktuku terus berjalan seperti yang kamu bilang. Aku hanya tidak punya cukup banyak keberanian untuk melangkahkan kakiku. Kata-katamu ketika aku menunjukkan payungku seperti menamparku, membuatku kembali menjejakkan kaki setelah lama aku terbang melayang tanpa arah tujuan, tak tahu mau ke mana berjalan karena rasa takutku akan tersakiti dan menyakiti, akan melakukan salah dan menyalahkan dan berbagai pikiran lainnya.”
Aku dan kamu sama-sama tersenyum, menghela napas panjang. Kamu ingin menyeruput kopimu yang sayangnya ternyata sudah habis. Kuhabiskan ketika meminum kopimu. Kopimu itu, meskipun pahit, tetap enak dinikmati.
“Aku rasa aku harus banyak-banyak mencicipi dan meminta kopimu itu.” kataku.
“Tidak boleh. Kamu harus membelinya sendiri.” katamu.
“Hari ini kata-katamu sudah menampar dan menyadarkanku. Sama seperi kopimu. Kopimu pahit, tetapi nikmat dan harum wanginya. Ya, sama seperti sisi bagian hidup ini. Di masa lalu dan mungkin di masa depan nanti, kejadian-kejadian pahit dan sakit akan terasa nikmat ketika kita benar-benar menikmatinya….”
“Ikhlas menerima untuk mengambil hikmah dari apa yang terjadi.” kita mengucapkannya berbarengan lalu kita sama-sama tertawa. Hujan deras di luar meredamkan suara tawa kami.
Ah hujan. Jika sekiranya hari masih terang, belum gelap seperti malam ini, ingin rasanya aku keluar, menyatukan diri bersamamu wahai hujan di antara tetesan air tumpahan langit.
“Daripada kamu memikirkan untuk bermain hujan malam-malam lebih baik berdoa. Saat hujan turun adalah salah satu waktu berdoa yang mustajab. Daripada aku yang tidak selalu bisa menemani, ada yang lebih kamu butuhkan. Dia yang selalu ada untukmu kapan pun kamu membutuhkan-Nya. Dia yang selalu akan menemani dan memberikanmu kekuatan juga keberanian untuk melangkah. Bukankah pada akhirnya tujuan yang kita tetapkan akan kembali pada-Nya dan kita berharap saat itu dapat kita lalui dengan sebaik-baik kondisi iman. Dia yang selalu ada di dekatmu. Dia Tuhanmu, Allah Yang Maha Memberi Petunjuk dan Kekuatan.”