Melepas dalam Surat
Sudah hampir tiga jam dia berkutat di depan laptopnya. Entah apa yang sedang ia tuliskan. Wajahnya serius. Sepasang headphone terpasang di telinga kanan dan kirinya. Temanku itu memang penulis. Namun, baru kali ini ia benar-benar terlihat sangat serius sekali menghadapi tulisannya. Berkali-kali ia menghela napas panjang. Aku juga penulis. Kami terkadang menulis bersama. Bisa aku rasakan jika seserius itu ia menghadapi tulisannya, tulisan yang sedang ia buat adalah tulisan yang benar-benar penting. Kuperhatikan berkali-kali pula ia berusaha menahan air matanya. Aku ingat perkataannya pagi hari ini, “Hari ini aku sudah membuat keputusan.”
Udara kamarku cukup sejuk. Pendingin ruangan kunyalakan dan hanya kumatikan ketika udara sudah terasa dingin lalu kunyalakan lagi jika mulai terasa panas untuk menyejukkan diri kami di tengah cuaca panas sepanjang hari ini. Hujan tidak turun. Meski demikian, temanku yang sedari semalam menginap di rumahku dan sekarang sedang duduk di tengah tempat tidurku, tenggelam dalam tulisannya, seringkali kuperhatikan mengelap dahinya yang sebenarnya tidak berkeringat. Kutahu, dia gugup. Dan aku dibuat penasaran olehnya. Apa yang sedang dia tulis hingga membuatnya seperti itu.
Adzan dzuhur berkumandang. Selepas shalat Dzuhur, kutanya padanya, “Sudah selesaikah tulisanmu itu?”
Dia hanya mengangguk dengan senyum sumringah.
“Rasanya lega seperti sudah melepaskan bawaan yang berat. Setelah ini kita makan bakso yuk. Bukannya aku tidak mau makan masakanmu hari ini. Aku ingin makan sesuatu yang pedas menggugah selera. Aaahh plong sekali rasanya.” katanya sambil mengulat-gulatkan badan. Merenggangkan otot yang kaku, kemudian berbaring di atas sajadah, menatap langit-langit kamar.
“Memangnya kamu menulis apa?” tanyaku sambil melipat mukena.
“Kamu boleh membaca tulisanku.” katanya.
Aku mendekat ke laptopnya, ingin menjawab rasa penasaranku tentang apa yang ditulisnya.
“Aku benar-benar akan melepaskannya mulai saat ini dan melanjutkan jalan cerita hidupku sendiri.” katanya dengan mata masih menatap langit-langit kamar.
Perlahan kubaca tulisannya. Sebuah surat. Yang entah akan dikirimkan kepada orang yang dituju atau tidak. Namun, kupikir bukan itu yang terpenting. Dikirimkan atau tidak surat itu, adalah suatu kemajuan bagi temanku itu ketika dia bisa menuliskan ketetapan hatinya untuk kembali melangkah, menjejaki cerita hidupnya.
Kuucapkan tulisannya itu dengan pelan, tapi pasti, dan suara mantap dengan intonasi yang pas.
Semua angan-angan tentang kamu satu per satu harus bisa aku lepaskan. Di persimpangan ini aku berdiri. Di jalan ini aku harus memilih. Masih bisakah aku terus menunggumu. Sementara aku tidak tahu tentangmu lagi. Aku bertanya pada hatiku sendiri. Aku yakin dan percaya padamu. Seberapa besarkah keyakinan dan kepercayaanku padamu. Bagaimana kamu bisa meyakinkan hatiku untuk tetap menunggumu. Haruskah aku melepasmu sekarang. Di sini, di persimpangan ini. Rasanya keyakinanku padamu mulai menghilang sedikit demi sedikit. Kamu tahu atau pernah mendengar: tidak harus dengan dia, yang terpenting karena Dia.
Sampai aku menulis tentangmu ini, keyakinan dan kepercayaanku padamu masih ada. Namun, sampai kapan? Sampai kapan aku menanti datangnya dirimu untuk menghalalkan diriku bagimu. Sampai kapan aku harus menahan rasa. Sampai kapan aku harus membunuh perasaan yang tumbuh perlahan, perasaan yang belum bolah aku tumbuhkan saat ini. Sampai kapan aku harus menekan rasa-rasa untuk tetap berada di dalam, tidak keluar karena belum boleh bertemu. Sampai kapan tekanan-tekanan terhadap rasa ini harus dilakukan? Bisakah kamu menjawabnya sampai kapan. Kamu tahu itu menyakitkan dan menyedihkan.
Aku tahu kamu merasakan hal yang sama (mungkin). Hanya kepercayaan dan keyakinanku yang membuatku mengatakan seperti itu. Kamu juga merasakan dan melakukan hal yang sama terhadap perasaan dan rindu-rindumu. Sampai kapan kamu akan bertahan melakukannya? Sampai kapan kamu akan menghalalkan perasaan dan rindu-rindu itu padaku. Berapa lama lagi kita harus menahan semua ini.
Bimbang ini harus disudahi. Persimpangan ini harus dilalui. Kamu pernah bilang bahwa semua sudah ada yang mengatur. Segalanya harus diikhlaskan, apa pun yang terjadi pada kita. Meski pada akhirnya kita tidak dipersatukan. Meski pada akhirnya jalan yang kita lalui tidak membuat kita bisa bersama-sama. Masing-masing dari kita hanya perlu mengikhlaskan. Menerima segala ketetapan-Nya yang Dia berikan kepada kita.
Kita luruskan lagi niat-niat kita. Segalanya kita lakukan hanya untuk-Nya, untuk meraih ridha-Nya, keberkahan-Nya. Meluruskan niat-niat yang tersirat untuk selain-Nya meski hanya sebersit terlintas. Kita mohon ampun atas segala kesalahan dan kemaksiatan yang kita lakukan. Jika memang niat itu lurus karena-Nya, bukankah akan mudah bagi kita untuk menerima takdir-Nya meski terasa sulit untuk kita terima dan jalani.
Semuanya sudah berakhir dan harus diakhiri. Tidak bisa selamanya terus menggantung. Entah sampai kapan lagi aku bisa menunggu. Aku mulai goyah menunggumu. Keyakinanku perlahan terkikis. Yang terpenting semua harus karena Dia bukan? Jika melepasmu dan meninggalkanmu adalah jalan terbaik yang harus dilalui, karena semata karena Dia, berat tapi akan aku pilih jalan itu. Melepasmu. Menyudahi semua penantian ini.
Tidak ada lagi angan tentangmu. Tidak ada lagi bayang-bayang masa depan bersamamu. Semua harus dihapuskan meski dengan berat dan ada air mata yang menetes. Kamu jug ahrus melupakan aku. Lupakan semua kenangan-kenangan. Menganggap kita tidak pernah bertemu. Jika suatu hari nanti kita bertemu lagi, kita bertemu sebagai seorang asing yang dipertemukan untuk berteman.
Aku tersenyum mengeja tulisannya. Perkataannya pagi tadi bukan omong kosong. Dia benar mewujudkan pikiran dan perkataannya, terlebih lagi benar dia telah memantapkan hati dan pikirannya.
“Tulisanmu ini akan kujadikan pengingatmu ketika kamu goyah. Kamu harus berkomitmen dengan apa yang sudah kamu tulis di sini. Juga membuktikannya.” kataku padanya.
“Kali ini kamu yang harus mentraktirku makan bakso. Itu akan menyenangkan hatiku setelah menulis surat itu.” balasnya.
“Jika itu bisa membuatmu lebih baik dan lebih mantap melangkah, berapa banyak mangkok bakso pun, akan kubayarkan. Nanti kutambahkan es krim kesukaanmu.” balasku menjawab tantangannya.
Hari ini memang sangat panas. Namun, seperti selalu ada hujan yang menenteramkan, menenangkan.















