Melihat Pernikahan dengan Lebih Nyata
Barangkali, terkadang, kita perlu mengisi otak kita dengan banyak kenyataan. Kenyataan yang menyadarkan.
Optimis itu perlu. Tetapi, membuka mata lebar-lebar juga sama perlunya.
Supaya kita tak terlalu naif
pada kehidupan ini
yang berisi banyak kisah dan kenyataan
Bahwa tak semua orang baik ternyata,
tak semua keadaannya ideal
tak semua kenyataan membahagiakan
Supaya kita siap mental
dan menguatkan lagi pondasi kita
dan lebih siap lagi dalam melangkah kedepan
Hari ini aku membaca banyak kisah di Quora, hanya dari trigger 2 pertanyaan.
Pertama, bagaimana rasanya menjadi single di usia almost atau lebih dari xx tahun?
Kedua, apakah kamu menyesal karena telah memutuskan menikah?
Diluar ekspektasiku, ternyata lebih banyak yang menyesal
dan cerita-ceritanya banyak yang bikin istighfar.
Oke, terimalah itu sebagai kenyataan
bahwa memang banyak yang tidak ideal
Kemudian lebih dari itu, apa yang membuat mereka menyesal? tentu aku ingin tau poin atau polanya. Bisa jadi pembelajaran.
Beberapa poin:
- perselingkuhan (baik yang dilakukan suami maupun istri)
- belum selesai dengan masa lalu, membanding-bandingkan
- suami kecanduan judi online, games
- suami tidak pengertian, menganggap istri terlalu manja
- ternyata suaminya gay
- suami tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap istri dan anak-anaknya
- suami masih menginginkan kebebasan seperti dia masih lajang (tanpa batasan)
- suami suka chatan dengan lawan jenis, masih suka menggoda perempuan lain di tempat kerja, menggunakan aplikasi dating bahkan pesan, mohon maaf, PSK
- suami temperamen, maen pukul dll (berkaitan juga dengan kecanduan judi, ekonomi)
- salah satu pihak (suami atau istri) menganggap sebuah masalah kecil namun dibesar-besarkan
- istri tidak punya sifat keibuan dan tidak menjalankan perannya sebagai istri
- masalah ekonomi, tidak ada peningkatan taraf kehidupan
Yang banyak membuat menyesal adalah karena mereka masih denial, belum legowo, masih berpikir "seharusnya, seharusnya, dan seharusnya". Pikiran itu yang mengungkung diri mereka sendiri.
- Seharusnya aku tidak menikah terlalu muda
- Seharusnya dulu aku meneruskan karirku
- Seharusnya dulu aku nggak ikut apa kata suamiku untuk resign, sekarang aku diselingkuhi
- Aku melihat temanku yang seusiaku masih bisa haha hihi kesana kemari, masih bisa nabung, kalo aku nggak nikah duluan dan langsung punya anak, mungkin aku kayak mereka
* di poin ini aku takut dan semakin tidak ingin menunjukkan apapun di muka publik. Karena ternyata apa yang kita tak terpikirkan sebelumnya ternyata bisa menjadi potensi hasad dan iri bagi mereka yang keadaannya sebaliknya dengan kita. Mungkin bukan maksud mereka demikian, tetapi hati tidak akan bisa dibohongi.
Yang menjawab tidak menyesal
- di awal mereka menjelaskan bahwa di awal memang berat, masih adaptasi. Keyakinan bahwa pernikahan itu sedang menuju kebahagiaan (baik di dunia maupun di akhirat ) yang membuat bertahan
Sifat dan sikap yang membuat bertahan:
- Suami yang pengertian, berusaha membuat istri nyaman
- Istri yang juga pengertian, berusaha juga membuat suami nyaman (dengan penataan rumah, dengan makanan, dengan pelayanan)
Poin simpulan: menikah dengan orang yang tepat adalah kunci pertama, jadi, identifikasi dulu. Identifikasi kebutuhan diri, dan identifikasi calon pasangan.
Menikahlah dengan penuh kesadaran akan tanggung jawab dan konsekuensinya. Ada tantangan lebih, ada juga kebahagiaan lebih.