Tidak semua yang kita anggap masalah , itu masalah.
Tidak semua yang kita anggap masalah harus kita selesaikan.
Tak perlu menghakimi dirimu terlalu banyak.
Sesekali biarkan yang kita anggap masalah itu menguap, menyelesaikan dirinya sendiri.

styofa doing anything
taylor price

Love Begins

titsay

izzy's playlists!
we're not kids anymore.

hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
$LAYYYTER
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year

roma★
Monterey Bay Aquarium
Xuebing Du
Game of Thrones Daily

@theartofmadeline

⁂

#extradirty

seen from Saudi Arabia
seen from Malaysia

seen from Germany

seen from Peru

seen from Malaysia
seen from United States
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany

seen from Netherlands
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Belgium

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Kyrgyzstan
seen from Uzbekistan
@antikmulyantik
Tidak semua yang kita anggap masalah , itu masalah.
Tidak semua yang kita anggap masalah harus kita selesaikan.
Tak perlu menghakimi dirimu terlalu banyak.
Sesekali biarkan yang kita anggap masalah itu menguap, menyelesaikan dirinya sendiri.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Liburan tanpa Ayah.. Sudah 2 minggu kegiatan sekolah libur. Dan sudah 2 minggu pula ranu hanya bisa bertemu ayahnya lewat video call. Iya. Ayahnya sedang bekerja (berdagang) dihari libur ini. Banyak yang bertanya "Bukannya sudah terbiasa ya, kan biasanya juga pisah kota ?" Itu dulu. Bagi kami yang setahun belakangan selalu bertemu setiap hari lalu tiba-tiba berpisah itu sulit lagi membiasakannya. Kami harus sama-sama bertahan. Ranu dan ayah sama-sama bertahan dalam rasa rindunya. Saya ? Bertahan dan sabar dalam menenangkan ranu yang selalu ingin bertemu dengan ayahnya. Puncaknya 2 hari ini. Saat harus berkunjung ke rumah neneknya (mertua saya) tanpa ayahnya. Dikarenakan disana berbeda dengan rumah orangtua saya yang banyak anak kecil, ditambah lagi ayahnya tidak ikut. Ranu luar biasa rewel karena kesepian. Semua aktivitas yang menurut saya bisa menenangkannya saya coba. Saya ajak ke kandang kambing, menggambar, main bola, dll. Tapi tetap saja. Dia merasa bosan, nangis susah berhenti menanyakan ayahnya. Sampai akhirnya saya menyerah. Saya telpon ayahnya. pulang cepat untuk jemput kami berdua agar bisa ikut berdagang saja. Dari sini saya belajar. Semandiri-mandirinya saya, saya sangat butuh sosok suami. Secuek-cueknya ranu, dia sangat butuh ayahnya. Sedekat apapun ranu dengan saya, ada ruang khusus di hati ranu untuk ayahnya seorang. Tak tergantikan. Semoga diluar sana mereka yang sedang berpisah dengan keluarganya akan dipertemukan kembali secepatnya~~ @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2102 https://www.instagram.com/p/CJi4OqbFBWo/?igshid=1rqmf9dmmx94i
Bukankah menarik melihat lini masa tetap ramai dengan harapan baik di masa penuh ketidakpastian ini?
Bahkan dalam gua tergelapnya, manusia memiliki kecerdasan untuk berjalan mencari cahaya.
Dalam kondisi terperihnya, manusia memiliki kemampuan ajaib untuk menertawakan dirinya.
Masa depan akan selalu penuh dengan tanda tanya.
Meski begitu, justru itulah yang membuat sebuah harapan jadi pantas dipelihara.
Apa yang bisa kita harapkan dari nasib yang seluruhnya telah kita ketahui?
Takut dan harap.
Khauf dan roja'.
Kita adalah pelaut yang berusaha berlayar di antara dua tebing itu.
Atau anak 10 bulan yang tengah belajar berjalan seimbang.
Sesekali jatuh.
Sesekali menubruk.
Lalu dengan ketidaktahuan di kepala, kita berjalan lagi.
Seolah semuanya akan baik-baik saja.
Namun, barangkali dua sikap itulah yang membuat kita memiliki resilience 'ketangguhan' yang sulit digoyahkan.
Ini adalah baris yang tepat untuk menyampaikan terima kasih kepada masa-masa sulit.
Karenanya kita jadi menemukan kekuatan yang tak kita sadari.
Ngomong-ngomong, bertahan hidup tak pernah jadi harapan yang sepele.
Begitu pula dengan mati dalam keadaan yang sebaik-baiknya.
10 ways to grow Iman.
1. Pray in the last third of the night. 2. Go to Fajr and Isha in congregation. 3. Say Adhkaar in the morning and evening. 4. Remember Death often. 5. Contemplate over the creation of Allah and how vast and beatiful his creation is. 6. Gain some knowledge of the Deen daily. 7. Remember the purpose of life 8. Fast Voluntarily 9. Pray as if it is your last prayer 10. Read Quran
Berulah Sendiri, Pusing Sendiri
Buat orang yang kadar feelingnya tinggi kaya saya, kadang apa-apa jadi nggak rasional. Yang dirasa jadi dipikir. Yang dipikir jadi dirasa. Akhirnya pusing sendiri. Gundah gulana syalala. Padahal, kita sendiri yang berulah. Kenapa enggak khusnudzan aja sama segala sesuatu? Mencoba merubah mindset dengan membiasakan prasangka ini dengan hal yang baik-baik. Kalau sedang ‘bersinggungan’ masalah dengan seseorang, kita bisa kan nggak mikir aneh-aneh tentang dia. Cuma kitanya aja yang malah memilih untuk mikir aneh-aneh. “Kayanya si A marah deh” “kenapa sih si B begini, emang aku salah apa?” “Ih gimana sih si C, jelas jelas harusnya begini. Kok malah jadi begitu.” Dsb. Kenapa nggak coba menenangkan diri dengan “Si A hanya butuh dikasih pengertian…” “Mungkin si B belum paham.” “Hmm yaudah aku kayanya harus fokus ke solusinya” Daan seterusnya
Padahal bisa jadi dia santai-santai aja disana, kitanya aja yang nggak woles. Haha. Karena apa-apa jadi beban pikiran. Yaaa memang nggak semua orang bisa kita puaskan. Nggak semua orang bisa kita buat bahagia atas kita. Kadang kita juga harus berbesar hati menerima kenyataan kalau kita sedang mengecewakan seseorang. Seenggaknya, kita sudah berupaya maksimal.
Selanjutnya tinggal bentengi diri dengan prasangka yang baik-baik. Biar semuanya tetap positif. Biar kita nggak oleng. Biar tetap jernih pikiran dan hatinya. Robbisrohli sodri, wa yassirli amri, wah lul uqdatan min lisani, yafqohu qouli.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Yang Terlewatkan
Semua yang telah terlewati, tidak dan jangan pernah ada yang menjadi sesal. Ada dan selalu ada hal-hal yang memang tidak bisa kita raih setinggi apapun kita berusaha melompat untuk menggapainya. Ada hal-hal yang tidak berjalan bersisian dengan harapan-harapan. Ada yang datang, ada yang pergi. Ada perasaan-perasaan yang memang tidak bisa selesai.
Biarlah semua itu mengalir seperti udara, menempati semua ruang yang mungkin untuk diisi. Dan kita bisa bernafas dengannya, menjalani hidup dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan secara harmonis. Menerimanya, mengakuinya, dan bersedia memeluknya.
Semua yang sudah terlewati tidak untuk diandai-andaikan. Tidak untuk dibayang-bayangkan. Biarkan itu menjadi bagian dalam hidup kita yang bisa menjadi pembelajaran berharga untuk siapapun yang mendengarkannya, mengetahuinya, melihatnya, bahkan yang turut serta menjadi saksi-saksi. Biarlah ia tetap seperti itu, seperti apa adanya.
Semua yang sudah terjadi, tidak perlu dikubur. Sebab itu bukanlah sebuah kematian, kenangan itu tidak bisa mati. Ia akan tetap hidup, semakin berusaha kita ingin membunuhnya, ia akan tetap hidup, justru semakin hidup.
Hari ini, memang rasanya tidak menyenangkan. Dan mungkin, entah sampai kapan. Tapi, sungguh ada satu hal yang harus diketahui. Bahwa kalau kita belum juga bisa memetik hikmah darinya, selama itu pula kita akan sulit menerima segala hal yang telah terlewati.
Yogyakarta, 1 Oktober 2017 | ©kurniawangunadi
Iya. Kenangan bukanlah sebuah kematian yang mudah dikubur~
7 tahun. Bukan waktu yang sedikit untuk mengikhlaskan segala kerinduan. Bukan waktu yang sebentar untuk melepaskan semuanya. Bukan waktu yang mudah untuk keluar dari zona yang sudah nyaman. Bukankah rindu tidak mudah dihilangkan begitu saja ? Ah. Doa terbaik untuk kalian dan selamanya akan selalu menjadi yang terbaik ya.
Ada lagi yang mengatakan "setelah aku menikah, Aku menjadi milik suamiku. Dan suamiku milik ibunya" Jadi seorang istri benar-benar harus ada yang dikorbankan bukan ?
Tentang taat~
saya tahu dan kita semua tahu. Jika sudah menikah, perempuan akan menjadi milik suaminya dan harus taat pada suaminya. Yang saya tanyakan, bagaimana cara membendung perasaan tidak relanya saya yang harus jauh dari orangtua saya ?
Tentang taat~
saya membenamkan muka di balik bantal. saya nggak ingin nangis. tapi toh, saya nangis juga. malam itu adalah malam terakhir kami bersama. besok paginya mas yunus akan berangkat ke Jepang dan saya akan pulang ke Bogor. dua bulan lamanya mas yunus akan belajar di sana. tidak tahu apakah saat pulang Kakak sudah lahir atau belum. tidak tahu sampai kapan kami akan tinggal berjauhan–karena setelah Kakak lahir, saya akan menetap di Bogor sementara mas yunus sekolah di Surabaya.
di antara hal-hal yang paling saya takuti, sendirian adalah salah satunya. saya takut sendirian dan takut merasa kesepian. jadilah saya menangis, membuang muka, sedangkan mas yunus mengusap-usap punggung saya.
setiap akhir minggu selama di Jepang, mas yunus mengirimi saya banyak sekali foto sambil bercerita. juga, berbagai foto barang-barang untuk bayi yang dibelinya. setiap hari kami ber-video-call. dan adalah saat-saat yang menenangkan ketika kami hanya menatap satu sama lain, tidak bicara apa-apa, melepas kangen diam-diam.
ternyata dua bulan tidak berjalan selama itu. mas yunus pulang dan memberikan saya kejutan, berkunjung sebentar ke Bogor sebelum harus kembali belajar. Kakak? ternyata Kakak belum menunjukkan tanda-tanda akan lahir. saya pun diajak mas yunus tamasya ke Taman Safari–kami menyebutnya bulan madu. ini adalah kali pertama kami bisa punya waktu bersama seperti ini. tidak bisa lama, mas yunus harus segera ke Surabaya.
saya kontraksi hebat dan saat itulah mas yunus datang lagi. mas yunus ada di sana, menemani persalinan, mengadzani mbak yuna, ikut mendengar tangisnya yang pertama. keesokan harinya, mas yunus (lagi-lagi) harus segera ke Surabaya.
semalam mas yunus selesai operasi jam 1. saat memberi kabar, saya tengah mengganti popok mbak yuna. mas yunus lalu menelepon (video-call), menemani saya. matanya lelah, tapi hangat sekali. mas yunus tidak berkata banyak, hanya menemani. sampai mbak yuna disusui, sampai mbak yuna tertidur lagi.
dan begitulah. kadang dan sering, kami berdua hanya saling melihat satu sama lain melalui layar kecil, menahan sekaligus melepas kangen. perasaan itu tidak lagi dibicarakan agar tidak lagi menambah beban. lima sepuluh detik saling menatap, sampai-sampai air mata saya keluar sendiri. sampai-sampai kami mencari bercandaan supaya tertawa, atau memilih menyudahi video-call-nya, agar tidak usah menjadi-jadi.
entah siapa yang sesungguhnya lebih tersiksa. seorang Bapak yang harus pergi belajar meninggalkan keluarganya, tinggal sendirian di rantau sana–atau seorang Ibu yang ditinggal suaminya, sendirian mengurus anaknya. sambil dua-duanya, menahan kangen setiap hari dan setiap malam.
bagi kami ini tetap anugerah. bisa saling menyabarkan dan saling menguatkan adalah anugerah. kami beruntung harus menjalani ini, kami yakin ini akan menguatkan kami. mas yunus selalu hadir untuk saya. jauh atau dekat, dirinya ada di samping saya, bersama saya. saya pun demikian.
semoga Allah selalu menjaga hati kami berdua, bertiga. semoga Allah menjadikan setiap rindu sebagai pahala.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tulisan : Perempuan Setelah Menikah
Barangkali dulu, ketika masih gadis. Di usianya yang telah memasuki kepala dua dan usia pernikahan, salah satu kekhawatirannya adalah tentang pasangan hidup. Entah bentuk khawatir seperti; apakah ada laki-laki yang mau menikahinya? atau apakah ia cukup siap untuk menjadi seorang istri? dan lain sebagainya. Dan kekhawatiran itu pun tumbuh subur seiring usianya yang merangkak naik, seiring banyaknya laki-laki yang datang silih berganti tapi tak satupun menarik hatinya.
Di bayangnya, kehidupan pasca menikah, apalagi menikah dengan laki-laki yang dicintainya adalah kehidupan yang segalanya indah. Padahal tidak demikian. Kata siapa bahwa selepas menikah, kekhawatiran perempuan akan sirna begitu saja? Justru sebaliknya, kekhawatiranya bertambah, semakin banyak. Dan ini menjadi sesuatu yang mungkin tidak akan pernah terbayangkan sebelumnya.
Khawatir ketika sudah menikah tapi belum juga hamil. Apalagi ketika melihat teman-temannya yang lain memperbarui halaman sosial medianya dengan berita kehamilan atau kelahiran. Lebih khawatir ketika ditanya oleh keluarga. Dan ini menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun, bahwa barangkali ungkapan kebahagiaan kita di sosial media bisa menjadi sebab ketidakbersyukuran seseorang yang melihatnya. Juga ini akan menjadi pelajaran berharga bagi semua perempuan yang menikah nantinya dan belum segera dikaruniai anak, ia akan menjadi lebih memahami dan lebih empati kepada perempuan yang lainnya.
Kekhawatiran ketika suami atau anaknya sakit. Apalagi ketika melihat mereka tidak bisa tidur tenang, tidak bisa makan masakan yang dibuatnya dengan susah payah.
Kekhawatiran ketika belum bisa memasak. Meski kita tahu bahwa memasak bukanlah sebuah hal paling penting dari kesiapan menikah seorang perempuan. Tapi bagi perempuan itu sendiri, memasak untuk keluarga, apalagi melihat keluarganya memakan apa yang ia buat dengan susah payah adalah kebahagiaan yang entah bagaimana menjelaskannya. Khawatir ketika suami tidak mau memakan masakannya, khawatir kalau masakannya tidak enak. Meski, sang suami berusaha untuk menganggapnya bukan sesuatu yang penting. Tapi tetap saja itu penting bagi istrinya.
Kekhawatiran tentang bagaimana ia bisa berbaur dan bergaul dengan keluarga suami. Entah tentang bagaimana ia bisa membuka pembicaraan dan mertua. Bagaimana ia bisa menjadi menyenangkan untuk saudara-saudara suami. Dan memang selama ini tidak ada panduan tentang bagaimana membangun hubungan antara istri dan mertuanya. Dan itu selalu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi perempuan yang akan dan baru menikah.
Ada begitu banyak kekhawatiran yang semakin hari semakin bertambah. Dan perempuan yang perasa, membuat kekhawatiran itu kadang tumbuh tak terkendali. Dan tugas laki-laki yang menjadi seorang suaminya nanti sebenarnya sederhana yaitu; jangan menambah kekhawatirannya. Jadilah laki-laki yang baik.
©kurniawangunadi | 10 Februari 2017
mungkin kita pernah salah, mungkin kita terus-terusan berbuat salah. mungkin kita banyak dosa, mungkin kita terus-terusan berdosa yang sama. mungkin ada kejadian-kejadian–kita sebut sebagai cobaan bahkan ujian–padahal sejatinya adalah hukuman, padahal sebenarnya adalah penggugur kekhilafan.
mungkin kita adalah yang terpilih karena kuat. mungkin kita adalah yang sedang naik derajat. mungkin kita memang hebat(?).
apapun itu yang datang kepada kita, entah silih berganti entah bertubi-tubi. apapun kita menyebutnya, entah bagaimana Tuhan sesungguhnya mengirimkannya. bagian hati manapun yang sedang ditatar, entah keikhlasan kesabaran atau kebersyukuran. bagaimanapun munculnya, bentuknya, waktunya, rupanya–
aku hanya ingin kamu mengingat satu hal: bahwa aku dan kamu adalah kita. kita bersama dan kita cukup bersama-sama. aku adalah kamu yang selalu ada untuk menolong, aku juga adalah kamu yang selalu ada untuk ditolong.
kita bersama-sama. kita akan terus melangkah dan harus. karena mungkin satu badai belum cukup menguatkan kita.
saat-saat perempuan kalah (dan menang)
sepanjang perjalananmu menikah kelak, akan ada banyak sekali yang harus kamu korbankan. itu sudah pasti. itu adalah keniscayaan. pada setiap pengorbanan yang kamu berikan, akan terbesit di hatimu bahwa kamu–kalah.
mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu harus mengganti cita-citamu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika kamu tidak bisa bersinar sebagaimana kamu mampu, sebab sumber cahayamu harus kamu bagi kepada anak-anakmu. mungkin yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah ketika pasanganmu bisa memenangkan dunianya, sedangkan kamu tidak. atau, ketika pasanganmu tidak lagi jatuh cinta kepadamu–meskipun dia masih menyayangimu.
percayalah, kami para perempuan sebelum kamu, sudah pernah mengalami perasaan-perasaan kalah itu. itu semua bukanlah “kekalahan” yang berarti. ada perasaan kalah yang sangat hebat–yang mungkin terjadi pada perempuan dan semoga tak pernah terjadi kepadamu–yaitu saat seorang perempuan, tak lagi menjadi yang satu-satunya.
sudah, tidak bisa kami ceritakan bagaimana rasa kalahnya. kami hanya bisa mengerti mengapa Rasul tak izinkan Ali menikah lagi. perasaan kalah itu tidak hanya akan menjadi milik sang perempuan sendiri.
kami tidak membenci poligami, kami hanya belum mampu untuk mengalaminya apalagi menjalaninya. pada semua jenis mengalah untuk menang, tidak menjadi satu-satunya tak ambil bagian. tidak menjadi satu-satunya seringkali adalah mengalah untuk benar-benar kalah.
sekiranya hampir semua perempuan sudah memahami bahwa ada dua cara baginya untuk menang: mengalah dan mengabdi. namun sekiranya semua laki-laki juga perlu memahami bahwa perempuan tak mampu menjadi yang pertama–perempuan hanya mampu menjadi yang satu-satunya.
ini adalah pesan untuk anak-anakmu kelak. kepada yang perempuan, mengalahlah untuk menang. sungguh semua yang kamu sebut sebagai kekalahan adalah tangga-tangga menuju kemenangan–jika kamu sabar dan ikhlas menapakinya.
kepada yang laki-laki, jangan ada yang kedua, ketiga, keempat–hanya Rasul yang bisa dan boleh–jangan pernah ada meskipun hanya terbesit di benakmu saja. sebab bagimu, ada dua cara untuk menang: menjaga dan menghargai. menjaga pandangan, lisan, pendengaran, dan kemaluanmu. menghargai setiap “kekalahan” pasanganmu.
dari generasi sebelum kamu, agar kamu mendengarkan dan memahami.
Jangan Cemburu
Sebab
aku rindu pada pesan yang kau sampaikan pada udara, yang ketika mampir di telingaku, yang terdengar hanyalah desisnya ketuk mesra.
Aku rindu pada rayu lucu yang kau ceritakan pada siapa saja yang tersesat di hutanmu, yang selalu membuatku menebak - nebak, apakah itu perihal aku.
Aku rindu pada caramu bercerita, tentang entah siapa di depan sana yang mengundang cemburu curiga.
Pagi ini, ada yang terasa hilang, seperti meninggalkan sebuah lubang. Ada yang terasa kosong, seperti mimpi buruk di siang bolong. Ada tangis kering, kehabisan air mata yang menguap di sepanjang malam yang dingin.
Aku tak lagi punya suaramu yang hangat. Aku tak sempat menyimpan langkahmu ketika dekat. (via jagungrebus)

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Aku ingin sepertimu.. Yang selalu mengingat-Nya disetiap keadaanmu Yang selalu menjaga sholatnya Yang setiap harinya menambah keimanan, ketakwaan, dan ketaatan pada-Nya Yang tak tergoda oleh kenikmatan dunia Yang ketika masalah datang, kau mensyukurinya. . . Kontribusi oleh @qonaahkatonh
#duniajilbab #semangat #hijrah #istiqomah
BACA KISAH INI, JADI MAKIN RINDU PADA NABI :’)
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya adzan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah saw. Setelah selesai sholat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang sangat berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata. Beliau berkata antara lain :
” Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan bapak yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum ia melakukannya di hari Kiamat nanti”
Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan pada ketiga kalinya barulah berdiri seorang laki-laki bernama ‘Ukasyah Ibnu Muhsin’. Ia berdiri di hadapan Nabi s.a.w sambil berkata :
“Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul lambung-sampingku; saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya…Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak melecut untamu sendiri ?”
Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah, ” Supaya Fatimah memberikan kepadaku cambukku ” kata beliau. Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkannya di atas kepalanya. Ia heran dan tak habis pikir, “Inilah Rasulullah memberikan kesempatan mengambil qishas terhadap dirinya!” Diketoknya pintu rumah Fatimah yang menyahut dari dalam : “Siapakah diluar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasullah” jawab Bilal.
” Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah kepada Bilal.
“Ya Fatimah ! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya ” Bilal menegaskan. “Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah ?” tukas Fatimah keheranan. Biarlah hamba saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.
Bilal pun mengambil cambuk dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan ‘Ukasyah Suasana mulai tegang… Semua sahabat bergerak…. Semua berdiri….
Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata melotot. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk.
Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai ‘Ukasyah ! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishas-lah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah!”
Mungkin saat itu Umar meraba pedangnya. Seandainya saja, diizinkan akan aku penggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah.
Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini : “Duhai sahabatku, Duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”
Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata. Kali ini lebih garang dari sahabat Abu Bakar : ” Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi s.a.w. Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”
Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah… ia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin.
Nabi pun menahan. ” Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali !”
Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. ” Hai Ukasyah ! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri !”
Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata “Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku!” Dan akhirnya Nabi berkata : “Hai ‘Ukasyah ! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!”
“Ya Rasul Allah ! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku” Kata Ukasyah. kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berpikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, ia malah meminta Rasul membuka baju. “Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya ini orang…”
Tanpa bicara…. Tanpa kata… Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan napas… Banyak yang berteriak sambil menangis…
Tak terkecuali…. Termasuk Ukasyah…
Ada yang tertahan di dadanya. Ia segera maju melangkah, melepas cambuknya dan…
Kejadian selanjutnya tatkala ‘Ukasyah melihat putih tubuh Rasulullah dan tanda kenabian di punggungnya, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya sambil berkata :
“Tebusanmu adalah Rohku ya Rasulallah, siapakah yang tega sampai hatinya untuk mengambil kesempatan mengqishas engkau ya Rasul Allah ? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka”
Akhirnya berkatalah Nabi saw “Ketahuilah wahai para sahabat! Barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka melihatlah kepada pribadi laki-laki ini!”
Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium ‘Ukasyah di antara kedua matanya. Rasa curiga berubah cinta. Buruk sangka berubah bangga. Berkatalah mereka :
“Berbahagialah engkau yang telah mencapai derajat yang tinggi dan menjadi teman Rasulullah s.a.w di surga kelak!”
*** Kami kesulitan mendapatkan sumber penulis aslinya, namun tulisan ini kami kutip dari windyhm.wordpress.com.
Semoga bertambah kecintaan kita pada Nabi Muhammad Saw :’)
One of my favorite sirah :“)