"Kamu kayak yang lebih 'hidup' sejak ngurus Bodjo." Celetuk suamik suatu hari. Aku hanya tersenyum getir. Kenangan lama terputar otomatis di dalam kepala. Bodjo adalah usaha kecil-kecilan yang selalu kami harapkan membesar hari ke hari. Sudah satu tahun lebih, benar-benar tak terasa. Ingat sekali dulu waktu memulai uji coba resep bisa berbulan-bulna sampai menemukan standar resep yang pas. Awal percobaan malah bukan dimsum yang jadi, melainkan cireng kukus, karena aku dengan pintarnya memasukkan tepung tapioka terlalu banyak. Tapi tak mengapa, kami sepakat bahwa selalu ada waktu untuk bangkit lagi setelah terjatuh. Gagal satu kali, coba dua kali. Salah satu kali, kami benarkan dua kali. Begitu terus sampai kami yakin untuk membuka kedai mungil kami. Awal mula Bodjo tayang, benar-benar kelelahan yang paling kami nikmati. Aku yang produksi dari pagi hingga sore, sore langsung bersiap buka kedai. Suamik yang kerja dari pagi sampai sore, alih-alih pulang istirahat, rebahan ndusel-ndusel manja, kami melanjutkan kerja jaga kedai sampai tengah malam. Tidur sebentar. Subuh sudah bangun dan bersiap melakukan rutinitas yang sama. Begitu saja setiap hari. Oh ya jangan salah, kami masih manusiawi, sesekali mengeluh sana-sini. Tapi semua keluhan kami selalu berujung pada "Semua orang juga capek kok, semua orang juga sama kayak kita; berjuang untuk hidupnya." dan itu cukup untuk melunakkan rasa ingin menyerah kami. Barangkali lelah-lelah ini lah yang membuat aku 'hidup' kembali. Beginilah nyatanya; menghidupkan Bodjo sama dengan menghidupkan aku yang sempat 'hidup-tak hidup' sejak awal menikah diboyong suamik ke kota gudeg karena luntang-lantung merasa useless menjadi seorang istri yang hanya selalu menerima. @bodjodimsum Photo source: @gembulfoodie #aksarannyta @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2102 (di Bodjo Dimsum) https://www.instagram.com/p/CJhl8LalyeL/?igshid=2m9hselxvpqu



















