Seperempat abad di dunia
1 Juli, hari dimana aku terlahir dengan segala perjuangan orang tua ku untuk menghadirkanku di dunia ini. Mungkin sedikit telat untuk berterima kasih kepada diri sendiri dan menuliskannya dalam sebuah tulisan. Tapi tidak papa, bukankah berterimakasih kepada diri sendiri itu seharusnya dilakukan setiap hari? agar tau seberapa berat perjuangan yang sudah dilalui..
Menjadi manusia seperempat abad ternyata tak semudah menulis angka 2 dan 5. Banyak helaan nafas yang sudahku hembuskan setiap detiknya dan keluhanku yang tak pernah usai. Banyak persoalan yang menghantui ruangan otakku, seakan-akan mengetuk dan memberi isyarat agar di selesai kan secepatnya. Persoalan ini bak peribahasa "Mati satu tumbuh seribu".
Hidupku sebelum memasuki seperempat abad sepertinya tidak serumit ini, hanya memikirkan "mau bermain apa besok?", "mau ngumpul bareng temen dimana?" dan "tempat ngopi yang enak di daerah mana?". Ketika hidup berlanjut ke angka 25, pikiran tersebut tergantikan dengan "apakah yang ku kerjakan hari ini sudah menjadi usaha yang paling maksimal?" , "Hidupku setelah ini bagaimana ya, apakah akan segila sebelum-sebelumnya. apakah aku bisa menghadapinya?" dan banyak pertanyaan-pertanyaan rumit lainnya
Waktu seperti lebih cepat berlalu dari biasanya, genap 2 tahun aku mencoba menjadi manusia pada umumnya mencari biaya untuk hidup agar tidak menjadi beban keluarga. Terimakasih kepada diriku sudah mau berjuang sampai detik ini. Semoga kedepannya akan banyak hal-hal baik mengisi kehidupan ini dan lebih bersyukur lagi kepada sang pencipta.. Jakarta, 29 Agustus 2022 (00:55)









