Is it a memoirs or is it not?
Kata yang akhir-akhir ini terasa akrab.Â
Tidak hanya kepada diri sendiri, tapi juga teman-teman.Â
Bermigrasi. Atau mungkin yang dulunya dikenal dengan merantau.Â
Menurut KBBI arti merantau adalah merantau/me·ran·tau/ v 1 berlayar (mencari penghidupan) di sepanjang rantau (dari satu sungai ke sungai lain dan sebagainya); 2 pergi ke pantai (pesisir); pergi ke negeri lain (untuk mencari penghidupan, ilmu, dan sebagainya);~ di sudut dapur, ~ ke ujung bendul, pb pergi mencari penghidupan ke tempat yang tidak berapa jauh; sedangkan migrasi mempunyai arti kata migrasi/mig·ra·si/ n 1 perpindahan penduduk dari satu tempat (negara dan sebagainya) ke tempat (negara dan sebagainya) lain untuk menetap; 2 perpin-dahan dari satu tempat ke tempat lain bagi burung dan sebagainya karena pergantian musim;
Tidak semua orang pernah merasakan jadi perantau atau pergi merantau. Ternyata menjadi perantau di umur 17 mempunyai suka duka tersendiri. Suamiku bukan termasuk perantau. Dia baru merantau di usianya yang ke-31. Selama ini dia besar dan menghabiskan hidupnya di Bandung. Baru ketika istrinya ini (aku) pindah ke Jakarta dan dia memutuskan untuk ikut ke Jakarta denganku menjadi perantau.Â
Di usia 17 aku merantau ke negri sebrang. Tentu saja kebanyakan alasan orang merantau kalau tidak demi pendidikan, ya pekerjaan. Alasanku merantau waktu itu adalah pendidikan. Tapi ternyata hubunganku dengan jurusan yang dipilih waktu itu tidaklah mulus. Sehingga aku memutuskan untuk kembali pulang ke “rumah”. Karena pendidikan jugalah yang kemudian membuatku harus memutuskan untuk kembali meninggalkan rumah. Meninggalkan rumah untuk kemudian pindah ke Bandung. Di umur 18, aku sudah mulai hidup di Bandung. Hampir tidak ada satu orangpun yang aku kenal.Â
Memulai hidup di kota Bandung dan kota yang asing. Pada saat itu aku masih memiliki hubungan yang toxic dan tidak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa. Karena, 1 tahun di Bandung, bukanlah waktu yang lama untuk berjejaring dan kenalan dengan orang. Terutama berkenalan dengan orang-orang yang kelak bisa menjadi orang kepercayaan.Â
Menjadi perantau dan memiliki hubungan yang tidak sehat. Semakin membuat diri terasing ditengah kota yang sudah asing. Di umur 19, aku hamil. Di kota yang asing ini, aku tidak tahu harus mengadu kemana. Dan pada saat itu, belum ada orang yang dengan terbuka membicarakan isu kehamilan diluar nikah, pun feminisme. Kota ini semakin asing, aku semakin terasing.Â
Di umur 20, aku melahirkan. Untunglah aku memutuskan untuk datang ke dokter yang tepat. Yang kemudian mengenalkan aku dengan Ci Devi dan Ko Charles dari Yayasan Rumah Tumbuh Harapan. Anak yang kulahirkan di umur 20 itu bisa hidup sehat dan nyaman untuk sementara di yayasan tersebut. Kota ini pelan-pelan semakin tidak asing, ternyata ada orang-orang baik yang masih mau menolong orang asing.Â
Setahun menjadi ibu. Hal yang aku kenal dari kota ini sejauh Ciumbuleuit - Sulanjana - Dago. Setiap hari harus ke Sulanja untuk melihat anakku dan setiap bulan harus ke Dago untuk membawa dia vaksin. Pelan-pelan kota ini mulai ramah. Diumur 21 jugalah aku memutuskan, bahwa hubungan beracun ini harus berakhir. Karena anakku harus memiliki masa depan yang lebih baik dari ibunya. Di kota ini jugalah aku belajar, bahwa masih ada orang yang mau mengulurkan tangannya untuk membantu orang-orang asing. Orang-orang asing yang kurang beruntung.Â
Di umur 22, aku mulai berkenalan lebih jauh dengan kota ini. Berkenalan dengan orang baru, mencoba berbagai kegiatan baru, dan berpetualang lebih jauh lagi. Petualanganku tidak hanya sebatas ciumbuleuit-sulanja-dago lagi, tapi lebih dari itu petualanganku sudah sampai ke Purnawarman, Cisitu, dan Perintis Kemerdekaan. Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan berkenalan dengan penghuni kota lainnya. Ternyata kota ini begitu ramah.Â
Punya anak di umur 20, ternyata tidak menghalangiku untuk lulus kuliah tepat waktu. Aku bisa menyelesaikan kuliahku di usia tepat 23. 4 tahun waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan studi. Walau nilai pas-pasan, tapi kepuasan yang didapat karena berhasil melewati waktu 4 tahun ini dengan penuh tantangan tidak bisa diukur dari nilai yang tertera di ijazah. Pengalaman yang didapat jauh lebih tinggi nilainya dibanding angka apapun. Sebuah akhiran dari sebuah masa dan sebuah awalan yang baru. Haruskan aku tetap di kota ini, kembali pulang ke rumah, atau memulai petualangan baru?Â
Ternyata petualangan di kota ini masih harus tetap berlanjut. Bekerja, mengadakan beberapa kegiatan, dan kembali ketemu orang-orang baru lagi. Rute yang dilewati tidak hanya lagi ciumbuleuit-sulanjana-dago, dan sudah lebih jauh lagi dari purnawarman. Petualanganku sudah menjelejahi dalemwangi, dago bukit indah, ataupun sersan bajuri. Wah ternyata kota ini menyenangkan sekali.Â
Pelan-pelan mulai semakin menyayangi kota ini dan semakin menyayangi diri sendiri.Â
Di umur 23, kembali memutuskan untuk kembali belajar. Ternyata masih banyak hal-hal yang harus dicari tahu dan ditemukan jawabannya. Pertanyaan-pertanyaan dikepala membawaku bertemu dengan Antropologi. Antropologi yang akhirnya membawaku ke orang-orang baru dan petualangan-petualangan baru lagi. Menemukan jawaban, kenapa aku harus melewati hal-hal tersebut? Kenapa hal tersebut terjadi? Mulai memahami bahwa tidak ada yang salah dengan diriku. Bahwa aku yang sekarang baik-baik saja. Dan memang benar, aku baik-baik saja.Â
Kemudian aku dipertemukan dengan orang-orang yang pernah mengalami hal serupa. Akhirnya, apa yang sudah aku alami terdahulu bisa jadi pelajaran. Tidak hanya pelajaran buatku, tapi juga orang lain. Memulai sebuah tempat baru, sebuah ruang aman dan rumah bagi siapa saja yang disebut Samahita. Samahita untuk orang-orang yang kurang beruntung dan agar dia kembali menyayangi dan mencintai diri sendiri. Samahita sebagai sebuah tangan-tangan untuk orang-orang yang membutuhkan. Karena aku sendiri tahu rasanya menjadi asing dan merasa tidak ada jalan keluar. Dan tidak boleh lagi ada orang yang merasa seperti itu.Â
Berkenalan dengan orang, ruang, dan waktu baru. Membuka diri dan menyayangi diri sendiri. Kota yang asing ini sudah menjadi rumah. Menjadi perantau, bermigrasi, karena alasan apapun, rumah akan selalu menemukan tempatnya.Â
8,5 tahun di Bandung. Mengajarkan banyak hal. Mengajarkan menjadi kuat, mengajarkan berenang diarus yang kencang, mengajarkan bahwa tidak ada yang salah dengan keasingan, mengajarkan bahwa berpindah itu merupakan hal yang biasa. Terimakasih Bandung.Â