"Mertua dan Menantu"
Rutinitas harian saya untuk bertanya kabar kali ini adalah mengakhiri obrolan dengan bertanya pendapat mama tentang 'menantu perempuan'.
Beliau sempat bertanya-tanya ketidakbiasaan saya bertanya tentang ini, lalu beliaupun tertawa, tertawa karena senang sepertinya :D
Alhamdulillahnya, beliau tidak pernah menuntut anak-anaknya yang belum menikah untuk cepat-cepat 'menghadiahi' beliau seorang menantu. Lebih sering 'membekali' dan memberikan teladan kepada anak-anaknya tentang hak dan kewajiban sebagai seorang hamba yang insya Allah nantinya akan menikah.
Kembali ke bahasan diatas, mama pun menjawab: "Intinya begini nak, setiap orang tua.. apalagi seorang ibu, tentunya yang paling utama adalah menginginkan anak lelakinya mendapatkan perempuan yang shalihah.
Dipastikan yang shalihah itu mampu menempatkan diri nantinya ketika menjadi seorang istri, ibu, menantu, dan juga seorang anak. Yang satu sama lain tidak berbeda pemahaman dalam menjalankan agama. Didukung keluarga dari pihak perempuan yang juga sama-sama memahami bahwa anak perempuannya ketika sudah menikah, baktinya akan beralih kepada suaminya.
Mama sama bapak sudah sering membahas apa hak dan kewajiban laki-laki ketika akan dan sesudah menikah bukan? Sepertinya tidak perlu mama bahas kembali, mama yakin sudah tercatat dan diingat dengan baik seperti biasanya. (Beliau ini selalu berprasangka baik dalam segala hal kepadanya anak-anaknya, ini yang justru membuat saya merasa 'ditampar' ketika melakukan sebaliknya).
Kebanyakan orang tua, terutama seorang ibu ketika anak lelakinya menikah itu takut 'kehilangan' nak. Dan disayangkan, terkadang ada seorang ibu yang 'cemburu' ketika anak lelakinya telah menikah, takut dan cemas posisinya dalam keluarga akan digantikan, dan hubungan dengan anak akan berubah.
Mama belum mengalami, jika pertanyaannya tentang menantu perempuan. Namun hal seperti itu seharusnya tidak perlu sampai terjadi. Mama setidaknya cukup punya pengalaman bagaimana rasanya melepaskan seorang anak perempuan.
Yang tepat adalah memposisikan diri menjadi ibu bagi menantunya. Kenali dan dekati menantunya dengan baik. Tapi juga memahami batasan sebagai orang tua yang anak-anaknya telah menikah. Jangan sampai 'masuk' kedalamnya dengan mengatur ini dan itu.
Seorang ibu baiknya mencukupkan diri untuk selalu memastikan, apakah anak lelakinya sudah menjadi imam yang baik? Apakah menantunya dijaga dengan baik? Dan memastikan agar menantunya tetap menjaga silaturahim dengan orang tua dan kerabatnya.
Karena ketika memutuskan menerima anak lelakinya sebagai suami, selain wajib mentaati Allah.. seorang menantu itu rela 'mengabdikan' hidupnya kepada anak lelakinya, membantu dan mendampingi suaminya untuk berbakti kepada orang tuanya (mertuanya), menomor-satukan baktinya kepada suami daripada kedua orang tua kandungnya. Itu bukan sesuatu yang mudah, nak."
How can I not love you, mama?
How lucky she is (your future wife) :)
Kelak menjadi gambaran bagaimana seorang mertua memposisikan diri bagi menantunya.
Melengkapi pembahasan, ketika anak perempuan menikah.
Memasuki umur di mana pertanyaan yang datang bukan lagi “Kamu kapan?” tetapi “Udah punya anak berapa?” di grup alumni teman-teman SMP tempo
Karena hidup adalah perjalanan yang mencakup proses belajar dan berjuang tanpa batas.
Masya Allah, laa quwwata illa billah.
Seperti yang bapak sampaikan kepada anak-anak perempuannya,
"Jika kalian nanti menjadi seorang istri, posisi kalian adalah 'perempuan kedua' di hidup suami kalian setelah ibunya.
Sehingga jangan sampai menuntut seorang suami untuk melepaskan hak seorang ibu atas anak lelakinya. Apalagi sampai membuatnya harus memilih antara ibunya atau istrinya. Jangan sampai demikian ya nak?
Karena dalam agama ini.. tidak ada 'sekat' antara dirinya dengan orang tuanya, terutama ibunya. Seorang suami wajib berbakti kepada orang tuanya.
Sedangkan seorang istri, bakti kepada suaminya diatas baktinya kepada orang tuanya.
Jadilah istri yang shalihah, bakti kalian kepada suami kalian, yaitu mentaatinya dalam perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah adalah sebagai tanda bahwa kami telah berhasil mendidik kalian. Bakti kalian kepada suami kalian adalah tanda bakti kalian kepada kami. Ridha suami kalian membuka pintu surga untuk kalian.
Salah satu yang bisa dijadikan contoh dari banyak contoh adalah mama kalian yang ketika itu sedang sakit, membutuhkan penanganan dokter spesialis di rumah sakit, lebih cepat lebih baik. Namun qadarullah bertepatan dengan nenek kalian yang membutuhkan bapak untuk membawa beliau ke rumah sakit yang berbeda. Padahal bisa saja bapak meminta anak² nenek yang lain untuk membantu, merekapun tidak akan menolak.
Apa yang mama kalian sampaikan?
"Kita tidak pernah tau umur ibu dan umur kita sampai kapan, ini salah satu kesempatan buat bapak, jangan memberikan 'kepercayaan' ibu sama anak²nya yang lain, yang beliau harapkan adalah bapak. Saya baik-baik saja, insya Allah.. jangan khawatir, ada Allah. Setelah urusan ibu selesai, baru kita kerumah sakit, utamakan kepentingan ibu. Jangan beritahu ibu kalau saya sedang sakit, khawatir memberatkan pikiran beliau."
.
.
Masya Allah, laa quwwata illa billah. Semoga kita dapat mengambil teladan yang baik dari orang tua kita. Dan "berilmu" terlebih dulu sebelum masuk ke gerbang pernikahan, yang mana didalamnya adalah ibadah yang paling panjang.
Dan karena Allah Ta'ala telah mengabarkan dalam Al-Qur'an, bahwa akad dalam pernikahan adalah Mitsaqan Ghalizan (perjanjian yang kuat), komitmen yang tidak main-main. Yang bukan hanya disaksikan manusia, tetapi juga kepada Allah Ta'ala. Karena ia akan menimbulkan konsekuensi lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Bismillah...














