Cerita Cinta Pura - Pura, 2
Part 2: Mendiamkan Rindu
Itu sudah empat bulan berlalu. Akupun sudah menghapus semua chat history ku. Sebetulnya tidak semuanya, aku ingat beberapa ada yang pernah aku screenshot tapi aku terlalu malas untuk membasminya. Sebetulnya aku hanya menghindar, aku takut teringat tentangnya saja, aku tidak ingin terganggu dengan terus membaca-baca mereka dan membuat aku ragu. Aku sedang membulatkan tekad, untuk setidaknya membuat sedikit jarak.
Siang itu aku sedang menunggu seseorang, aku duduk diatas kursi panjang di sebuah koridor sempit yang hari itu terasa terlalu sepi. Padahal jam makan siang sudah berlalu sejak tadi, tetapi belum terlihat tanda-tanda orang-orang akan kembali. Kemudian terdengar suara sepatu yang beradu dengan lantai, suaranya bergema merdu dengan tempo yang teratur. Seperti memang menanti suara kaki, aku spontan menoleh kearah sumber suara dan mendapati dia bukan orang yang aku tunggu sedari tadi. Dia hanya orang yang paling tidak ingin aku temui. Saat itu, ditempat seperti itu.
Dia berjalan sangat pelan, langkah kakinya seperti menikmati setiap ayunan. Aku tahu dia menuju ke arahku, setidaknya panjangnya lorong memberi aku waktu untuk mengendalikan malu. Aku mengalihkan pandangan ke handphone ku, pura pura membaca sesuatu. Sesaat dia pun sudah berhenti tepat didepan bangku ku, dia diam sejenak untuk mengumpulkan suara.
"Lagi ngapain disini?" tanyanya sembari menatap tepat ke arah ku.
Beberapa detik berlalu begitu saja. Itu terlalu lama untuk menjawab sebuah pertanyaan sederhana. Pandangannya beralih kearah tangan kiri ku yang sedang menggenggam beberapa lembar kertas yang terjepit rapi, tanpa bertanya lagi, dia duduk di sampingku menemani.
Ini tempat yang sama saat dia pertama kali memperkenalkan diri. Aku ingat waktu itu dia terasa begitu bersahabat, tapi aku belum terlalu membuka diri dan hanya membalas sekenanya. Dia membuka beberapa topik obrolan, namun saat itu aku sama sekali tidak ada niatan memperhatikan. Aku sibuk berbicara dengan diri sendiri. Sebetulnya dipercobaan pertamanya, aku sudah berniat memberi peringatan. Buatku tidak masalah disebut jutek, lagi pula pikir ku dia bukan siapa siapa. Tetapi belum sempat aku mengambil keputusan, dia sudah dengan sopan menyudahi dan berlalu pergi.
Tetapi kali ini berbeda, hari ini aku seperti terjebak situasi. Padahal dulu kami sering sedekat ini, kini setelah sedekat ini aku baru menyadari ternyata kami sudah sejauh itu. Dia pun belum mengeluarkan suara sejak ikut ikutan duduk disini. Aku tahu ini canggung sekali, tapi gengsi ku terlalu tinggi untuk memulai percakapan lebih dulu. Dia mendiamkan aku, kami mendiamkan rindu. Aku pun yakin dia sebetulnya menunggu aku mengucap sesuatu. Itu memang tipikalnya, pendiam dan terlalu berhati hati. Mungkin butuh beberapa menit tambahan waktu baginya untuk merangkai nyali.
"Dari jam berapa?" tiba tiba dia bertanya kepadaku.
Aku benar benar tidak mengira hanya dari suaranya, logatnya, tatapan matanya, dapat membuat detak jantung ku meningkat seketika. Aku merasa seperti hutang rinduku lunas dalam sekejap sesaat setelah mendengar dia sekali bicara. Seperti sembuh semua luka yang selama ini menyiksa, aku tahu itu suara yang selalu aku tunggu. Air mataku aku tahan sekuat tenaga, aku coba kendalikan diri untuk tidak bereaksi lebih dari ini.
Aku masih tetap diam, hanya bisa terdiam kebingungan, sembari berpikir keras bagaimana cara menutup hati tanpa harus menutup suara. Aku benar benar tidak bisa berpikir jernih saat itu, aku tidak menemukan jawaban. Aku mencoba berpaling, tapi jujur saja koridor ini masih terlalu sempit untuk mengalihkan pandanganku darinya. Aku tidak bisa kabur.
Suasana benar benar terasa sunyi. Hening tanpa sedikitpun suara. Sampai sampai suara nafas kami yang sedari tadi berhembus silih berganti menjadi satu satunya hal yang bisa kami dengarkan. Aku sampai terkejut mendengar suara dia tiba tiba berdiri. Tanpa mengucap apa apa lagi, dia memutuskan berjalan berlalu pergi.
"Apakah dia marah?" pikiran ku langsung bertanya tanya.
Aku merasa sedikit bersalah mendiamkan dia. Tetapi yang lebih aku sesali adalah aku baru saja melewatkan kesempatan, setidaknya menghabiskan beberapa menit bersamanya. Entahlah, akupun tidak yakin skenario mana yang akan lebih aku suka.
Mungkin hari ini yang terakhir, mungkin tadi kesempatan terakhir. Entahlah, perasaanku rasanya seperti gagal dalam sebuah ujian untuk kesekian kalinya. Aku selalu saja tidak lulus dan itu membuatku marah pada diri sendiri. Pecundang.
Tiba tiba datang seseorang melambaikan tangannya ke arah ku, sebuah tangan dari orang yang aku tunggu. Melihatnya aku sedikit lega, seperti melihat seorang dokter yang sudah mengerti bagaimana cara mengobati luka. Air mata ku biarkan saja mengalir, aku mau kuras sampai tidak lagi tersisa semua sesak di dada.
Dia langsung menghampiri memeluk ku, di dalam dekapannya aku tenggelam. Entah kenapa, hari itu aku jadi tersadar selama ini akulah orang yang seharusnya menghindar. Pelukannya terasa erat, begitu erat, terlalu erat.
"Gengsi ku terlalu tinggi, sehingga aku selalu berakhir membohongi semua orang. Terlebih diriku sendiri".
















