Hari ini, yang ke-22
Ah, hari ini akhirnya datang jua.
Tak ada ucapan,
Tak ada peringatan,
Mungkin sudah terlupakan
Atau dilupakan
Tak pernah berharap akan datang seperti ini
Pertama kalinya dalam hidup, menunggu hari ini di rumah sakit
Tak ada yang ingin, tak ada yang mau
Dengan segala beban di pundak, kepala, dan segala isinya
Ku pura-pura lupakan seakan hari ini telah terlewat bak hari lainnya
Seperti kemarin-kemarin
Yang aku lupa bahwa ia telah berlalu
Dibandingkan meresapi sendunya menunggu
Hal yang tak akan kunjung ada padaku
Tidak boleh ada kecewa
Karena semua berlaku manusia
Diawal detik yang manusiawi ditunggu
Berkecamuk pada kenyataan bahwa hampa tak ada pengingat
Tak ada yang mengingat
Seakan ku ingin menghilang
Ironinya aku masih mengingatnya
Sejujurnya hal yang ku pikirkan setiap tahunnya
Mungkin tak akan ada di pikiran
Tak akan terwujud di kenangan
Aku yang bukan siapa-siapa dari siapa-siapa
Tak patut kecewa, tak patut berharap, tak patut kesal
Kau, tak perlu menuntut dari manusia lainnya
Dirimu sendiri, aku, apakah sudah memperingatinya?
Semoga segala benak dalam setengah senduku berbunga
Dalam hening terpejam mata
Berputar angan mengitari benak
Semua yang ingin ku semogakan
Segala yang baik dari yang tepat
Semoga terjadi baik adanya
Aku, yang belajar lepas dari kecewa pada manusia
Memaksa sadar akan satu titik angan di depan mata
Aku, jangan sampai goyah
Buktikanlah bahwa akan ada waktunya aku dan hari ini ramai diperingati
Akan ada waktunya namaku dan hari ini kan terwujud sebagaimana yang terjadi di pikiran
Seperti orang-orang, katanya
Manusiawiku, menginginkan hal kekanakan, yang ku impikan
Sabar, perbaiki diri dan berusaha
Semoga hal itu tiba
Dengan AKU yang lebih baik, membanggakan, dan berguna
Selamat memperingati hari ini
Dari AKU, untuk AKU
β€οΈ22














