Meng-"apresiasi" itu penting
Teringat seorang teman yang bertanya “Ngapain sih lo sering banget bikin ucapan kaya gitu? Lo ngapresiasi orang sampe segitunya. Emang ngefek? Mereka ngasih keuntungan lo apa sih?”
Bagi sebagian orang mungkin mengapresiasi orang itu tidak penting. Tak ada untungnya. Tak ada efeknya.
Tapi, bagi saya mengapresiasi orang adalah suatu kepuasan tersendiri. Bahagia? Bisa dibilang begitu. Kenapa? Karena bisa melihat mereka tersenyum. Ada dorongan yang membuat mereka untuk terus bergerak dalam bidangnya, dalam hobinya, dan apapun yang mereka lakukan.
Berawal dari mata kuliah Manajemen Pelatihan yang harus mengetahui bagaimana mengelola seseorang, meningkatkan kinerja, menyiasati seseorang yang memiliki hambatan dalam pekerjaannya hingga meningkatkan motivasi seseorang. Ternyata mata kuliah ini unik. Hingga saya pun magang di bagian HRD di salah satu perusahaan pertanian. Ada hal yang membuat saya tertarik disana. Tentang meng-“Apresiasi” karyawan. Ya, tentu saja hubungannya dengan interpersonal. Adanya apresiasi yang diberikan oleh perusahaan, si karyawan ini semakin rajin untuk melaksanakan pekerjaannya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam kepala. Ke-kepo-an saya termasuk tingkat akut. Seakan-akan semua pertanyaan harus terjawab sebelum magang ini selesai. Saya bertanya pada Kepala Bidang HRD perusahaan tersebut dengan bahasa santai. Bukannya tidak sopan, hanya saja, beliau menganggap kami sebagai anak beliau.
“Pak, karyawan sini suka dikasih reward to?”
“Iya dek, sebagai bentuk apresiasi aja, kan mereka udah bekerja keras buat perusahaan ini. Kalo bukan kita ya siapa lagi?”
“Lah nanti rugi dong pak, kalo setiap karyawan dikasih reward?”
“Nggak lah, kan udah diperhitungkan dengan matang”
“Kalo nggak ada peningkatan gimana pak? Misal dapet kerugian gitu?”
“Ya nggak dapet reward. Soal rugi kita sih nggak pernah ya, karena substitusi dengan hasil penjualan yang lain”
“Gajinya dikurangi juga?”
“Yo nggak juga. Gaji mereka tetep, Cuma nggak dapet reward.”
Bisa dibilang ini salah satu cara memanusiakan manusia.
Semakin menarik. “Mengapresiasi seseorang”. Hal inilah yang membuat saya mengambil penelitian tentang motivasi.
Banyak para ahli yang mengemukakan teori soal motivasi. Seperti Maslow, Alderfer, McClelland, Herzberg, dan lainnya.
Intinya sama. Motivasi yaitu suatu dorongan yang timbul dalam diri seseorang dalam melakukan sebuah aktivitas. Semakin kuat dorongan atau motivasi dalam diri seseorang maka akan semakin menimbulkan dampak positif dalam suatu proses. Tingkat motivasi seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekitar baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal. Bedanya, ada yang khusus meneliti soal hierarkinya, kebutuhan pencapaian, kepuasan bekerja, ataupun harapan atas sebuah hasil.
Fakta dilapangan ketika kita ingin tahu tentang motivasi, setidaknya kita harus menjadi pendengar yang baik. Apasih yang sedang dialaminya? Apa yang ingin ia capai?
Alderfer dan Maslow saja mengatakan betapa pentingnya “Apresiasi”. Mereka meletakkan faktor tersebut dibagian paling puncak dari sebuah motivasi.
Saya punya kawan dekat yang hobi menulis. Tulisannya cukup bagus untuk dijadikan sebuah buku. Begitu puitis, sering tertampar karena tulisannya.
“Eh tulisanmu bagus.... Kalo kamu bikin buku, insyaa Allah bakal aku beli deh”
“Maasyaa Allah… Anaa.. Aamiin aamiin ya Allah.. tega kamu ya bikin aku mau nangis ini”
Pun dengan kawan seperjuangan yang sekarang menjadi orang keren di kampus saya. Sudah jadi pembicara dimana mana. Seorang kawan yang terjebak di Kedokteran dan menjadi penulis sebuah buku.
“…………Makasih banyak dukungannyaaaaaa”
Dan berbagai respon dari kawan-kawan lainnya yang menyatakan terimakasih dan saling mendo'akan agar bisa istiqomah.
Setidaknya penelitian saya ada gunanya. Ya apalagi kalo bukan memotivasi seseorang. Semoga menjadi ilmu yg bermanfaat.
Untuk siapapun kamu, yuk kita coba mengapresiasi orang lain. Bisa dalam bentuk kata-kata, hadiah, dan semacamnya.
Karena dengan mengapresiasi, kita membantu menumbuhkan potensi yang tertanam di dalam diri mereka, dan lahirlah orang-orang yang luar biasa.
Surakarta, 11 Januari 2020