Sauh Terakhir di Dermaga Surga
Kehilangan Nakhoda hidup ( Ibu )
Selama ini aku berlayar dengan tenang, Karena tahu ada satu Nakhoda yang selalu terjaga di anjungan doa.
Kau adalah Peta yang membaca arah saat pandanganku buram oleh kabut, Dan Sauh yang menjagaku tetap teguh saat ombak dunia mencoba menghanyutkan.
Namun hari ini, laut terasa begitu luas dan mencekam. Kursi di anjungan itu kosong, heningnya lebih riuh dari badai.
Kau telah merapatkan kapalmu di dermaga yang paling tenang, Melepas sauh terakhir di pelabuhan yang tak lagi mengenal rasa sakit.
Ibu, Kini aku adalah kapal yang harus belajar membaca bintang sendiri.
Meski kompas di tanganku terasa berat tanpa bimbinganmu, Aku akan tetap berlayar membawa seluruh ajaran kebaikanmu sebagai bekal.
Sebab aku tahu, meski engkau telah bersandar lebih dulu, Cintamu adalah Mercusuar yang akan selalu menuntunku pulang.









