ProyekTKB #2: Pemikiran tentang Jodoh
Usai lulus universitas, kita tidak hanya disibukkan dengan keseruan memilah dan memilih hendak melanjutkan kuliah lagi atau bekerja terlebih dahulu. Ada kalanya, satu pilihan lain muncul dan menjadi alternatif jalan hidup usai menyelesaikan studi di perguruan tinggi. Menikah. Menikah seringkali menjadi salah satu pilihan para mantan mahasiswa. Pemikiran tentang pernikahan ini bisa jadi muncul karena beberapa hal. Pertama, karena merasa sudah membutuhkan dan sudah mampu. Kedua, karena memang sudah rindu (yaelah). Ketiga, karena pengaruh teman-teman (biasanya kawan-kawan dekat yang menjadi kompor, memberi motivasi, men-cie-cie-kan-mu dengan seseorang hingga kau terbawa perasaan, seolah-olah setelah pulang wisuda kau bisa langsung menikah saja rasanya). Keempat, karena dorongan orang tua.
Dalam kasus saya, pemikiran tentang pernikahan muncul pertama kali karena hal keempat, dorongan orang tua. Kemudian semakin diperparah dengan alasan ketiga, pengaruh teman-teman dekat. Lamanya dikompor-kompori kemudian meluluhkan hati, membuat jadi rindu. Hahahaha. Apasih.
Apapun alasannya, munculnya pemikiran tentang pernikahan dalam alam pikir seorang manusia berumur 20-an adalah hal yang wajar. Bahasa klisenya, memang sudah saatnya, sudah masanya. Sama seperti ketika kita berumur 12 tahun, sudah saatnya masuk SMP. Atau saat kelas XII SMA, sudah saatnya ikut les atau belajar lebih giat untuk masuk perguruan tinggi. Pemikiran itu muncul begitu saja karena sudah saatnya. Tapi, menikah itu sendiri, saatnya kapan bagi tiap-tiap orang, masih menjadi rahasia #boooom #kemudian #baper
Bicara tentang pernikahan, tentu kita tidak sedang membicarakan diri kita sendiri. Menikah, seperti yang pernah disampaikan oleh (Yang Mulia Ayahanda) Pidi Baiq, tidak sama seperti menjadi pilot yang (hanya) dengan masuk sekolah penerbangan saja kemudian lulus kemudian bisa menjadi pilot (sendiri). Pemikiran tentang menikah tentu tidak lepas dari pemikiran tentang jodoh (jangan baper please, jangan). Iya. Bagaimana kita bisa menikah jika tak ada partnernya? Kan enggak ya. Makanya, pernikahan itu nggak sederhana karena membutuhkan kesediaan orang lain.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia:
jodoh/jo·doh/ 1 n orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan ; 2 n sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan ; 3 a cocok; tepat.
Sedangkan dalam Al-Qur’an, jodoh dibahasakan dengan istilah lain, yaitu zauji (suami) dan zaujah (istri).
Di umur saya yang 23 tahun (1,5 tahun lalu maksudnya) ketika pemikiran tentang jodoh itu muncul, hal-hal yang ada dalam bayangan adalah bahwa pernikahan merupakan kumpulan dari berbagai hal bahagia yang mengganda seiring adanya teman hidup. Pemikiran itu muncul tidak lepas dari pengaruh banyaknya tulisan dan ‘kajian’ yang menyajikan indahnya menikah (menikah muda khususnya). Jarang sekali yang dengan tegas dan lugas menjelaskan bahwa menikah itu menggandakan kebahagiaan sekaligus kewajiban (atau mungkin saya aja kali ya yang waktu itu tidak gencar mencari tahu?). Banyak lho teman saya yang bapernya sampai baper banget gara-gara kenyang dijejali kajian yang isinya indah-indahnya menikah muda saja. Jadi, menurut saya, mungkin ada baiknya materi kajian pemuda itu jangan itu-itu mulu yang dibahas. Karena hidup bukan hanya tentang itu (azek!). Dan, sebagai anak muda, ada baiknya jangan cuma datang ke kajian yang ngebahasnya menikah-menikah aja. Datang juga ke kajian lain yuk. Semangat yuk!
Pemikiran tentang jodoh terus berkembang seiring dengan bertambahnya umur (ceilah). Menuju seperempat abad, pemikiran tentang jodoh menjadi tidak sederhana. Benar bahwa seiring bertambahnya usia, kita menjadi kurang idealis dan cenderung realistis. Saya bukan penganut faham realistis dalam hal percintaan (malah cenderung berfaham romantis-melankolis wkwk). Tapi seiring waktu berjalan, kedewasaan yang bertambah dan pandangan yang menjadi lebih luas, realitas menjadi tidak bisa dipisahkan dalam hal memilih jodoh.
Paling tidak, ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan dalam menilai apakah seseorang adalah jodoh yang baik (khususnya memilih suami, karena saya perempuan). Ini adalah kesimpulan pribadi, dengan ilmu yang masih sedikit.
1. 4 hal pertimbangan sesuai syariat: Fisik, Harta, Nasab dan Agama
Kesesuaian fisik menjadi salah satu kriteria dalam memilih jodoh. Meski bukan hal yang sangat prinsip, kecenderungan terhadap hal ini penting dalam menjaga pernikahan. Dengan adanya kecenderungan terhadap seseorang, kita akan selalu ingat alasan kita ketika memutuskan memilih sehingga tidak sibuk menghitung kekurangan-kekurangan yang muncul dalam perjalanan pernikahan yang memakan waktu setengah kehidupan itu. Merupakan hal fitrah jika kita menyukai seseorang karena fisiknya, asal tidak menjadikan kita lupa bahwa agama tetap menjadi yang utama.
Terlebih dalam memilih suami, harta merupakan sesuatu yang patut dipertimbangkan. Harta di sini, dalam prinsip saya pribadi tidak saya artikan berdasarkan banyaknya. Harta yang menjadi pertimbangan di sini adalah harta yang halal dan berkah serta berkaitan dengan kesungguhannya mencari nafkah. Dia yang pekerja keras bukankah patut dipertimbangkan? #eeaa
Makanya, kamu, semangat ya kerjanya~
Peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya mungkin tidak selalu benar. Ada kalanya buah jatuh jauh dari pohonnya karena berbagai hal: terhembus angin kah, dipetik koala lalu dilempar kah dan sebagainya. Namun, peribahasa ini juga tidak salah. Sama dengan logika buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, nasab menjadi salah satu pertimbangan dalam mencari jodoh yang baik. Anak yang baik biasanya lahir dari keluarga yang baik. Anak yang bertanggung jawab biasanya dididik oleh ayah yang mampu memberi contoh bagaimana bertanggung jawab. Namun, sekali lagi, di dunia yang serba tidak terduga ini, tidak semua A akan B atau semua C akan D. Cukuplah ini menjadi pegangan kita seraya bersiap dengan kejutan-kejutan tak terduga.
Tentu bukan menjadi khilafiyah lagi jika agama merupakan hal prinsip yang harus dipertimbangkan dalam memilih jodoh. Pemahaman yang baik tentang agama berpengaruh terhadap jalannya pernikahan serta tujuan akhirnya. Dalam hal ini, agama yang dimaksud bukan hanya tentang pemahaman yang baik dan ilmu yang banyak saja, namun juga tentang kesungguhannya dalam belajar. Pernikahan adalah ibadah yang panjang yang di tengah jalan banyak sekali ujian. Untuk menghadapi berbagai ujian itu, tentu membutuhkan upgrade diri yang tidak hanya sekali-sekali, tapi berkali-kali dengan semangat dan kesungguhan yang tidak boleh main-main. Di sinilah point pentingnya, penilaian agama bukan tentang yang dimiliki saat ini, namun juga potensi berkembangnya di tahun-tahun yang panjang kemudian.
2. Interaksi dengan Ibunya, Anak-Anak dan Teman Dekat
Simpelnya, interaksinya dengan Ibu (yang telah mendidik dan melahirkannya) akan memperlihatkan kemungkinannya berinteraksi dengan perempuan lain, yaitu istrinya. Pun dari sini, kita dapat melihat bagaimana potensinya dalam mendidik anak laki-laki kita untuk menghormati kita di kemudian hari. Interaksinya dengan anak-anak memperlihatkan kemampuannya mendidik, menyayangi dan meredam ego. Sedangkan, interaksinya dengan teman dekatnya menunjukkan dari lingkungan seperti apa dia dibentuk.
3. Prinsip Hidup: Apa dan Sejauh Mana?
Menikah adalah ibadah yang memakan waktu lebih dari setengah kehidupan. Dalam waktu yang panjang itu, kita membutuhkan partner yang mempunyai prinsip hidup yang jelas: apa dan sejauh mana? Prinsip hidup ini merambah prinsip dunia hingga akhirat. Melihat sampai mana ia berfikir tentang tujuannya menikah, dapat memberikan gambaran bagaimana ia memandang sebuah pernikahan dan bagaimana ia akan membawa keluarganya. Pun dari sini kita bisa melihat kemungkinannya apakah kita bisa berkembang bersama dengannya atau tidak.
Seorang wanita (hanya) membutuhkan ayahnya untuk menikah, sedangkan seorang laki-laki tidak membutuhkan siapapun untuk menikah. Akan tetapi, sebaiknya pertimbangkan pula restu dari orang tua, terutama Ibu. Khususnya bagi laki-laki karena sampai kapanpun Ibu akan tetap menjadi Ibu. Tanggung jawab anak laki-laki terhadap Ibunya tidak terlepas pasca dia mempunyai istri. Hal ini berkaitan dengan poin selanjutnya (poin ke 5).
Sebagai seorang istri (nantinya) hal ini menurut saya menjadi penting untuk diperhatikan oleh setiap perempuan. Dalam beberapa kajian pernikahan yang pernah saya ikuti, ada banyak topik yang menyinggung tentang hubungan menantu perempuan dengan Ibu mertuanya. Tidak jarang hubungan keduanya bermasalah. Mulai dari hal kecil seperti “Kok kamu jarang masak?” sampai hal biasa yang kalau kita nggak paham hukumnya bisa-bisa menggelincirkan kita ke dalam dosa, seperti “Memangnya nggak boleh ya kalau gaji suamimu yang juga anak ibu sebagiannya untuk ibu?”. Satu hal yang harus dipahami oleh setiap perempuan adalah: Sampai kapanpun, suamimu itu tetap anak Ibunya. Dan, satu hal paling mendasar dalam menilai hubunganmu dengan (calon) Ibu mertua adalah “Apakah kamu bisa mengalah padanya?” Sebab posisi seorang perempuan sebagai istri tidak akan pernah bisa menggantikan posisi seorang Ibu bagi anak laki-laki. Seperti keinginan setiap perempuan untuk terus dihormati oleh anak laki-lakinya kelak, seperti itu jugalah yang beliau rasakan. Jawaban dari pertanyaan tadi mungkin bisa menjadi pertimbangan dalam melanjutkan proses atau tidak, tentu setelah melalui pertimbangan-pertimbangan pribadi.
Hal ini pun penting dipahami oleh laki-laki, sebab banyak pula konflik antara menantu perempuan dengan Ibu mertuanya yang justru disebabkan karena seorang suami tidak memahami mana yang harus diprioritaskan (justru membentak ibunya karena lebih mencintai istrinya), tidak memahami cara memberikan pengertian yang baik kepada istri (justru memarahi istrinya yang mungkin khilaf dan kurang sabar) dan tidak memahami bagaimana menemani istrinya dalam perjuangan mengalah tersebut (justru dibiarkan sendirian dalam sedih dan sepi yang berkepanjangan).
Sama pentingnya dengan interaksi seorang istri dengan Ibu mertuanya, interaksi seorang (calon) suami dengan Ayah mertuanya pun sama pentingnya. Sebagai perpanjangan tangan dari seorang ayah atas tanggung jawabnya dalam menjaga anak perempuan tercinta, tentu hubungan, komunikasi dan pola pikir antara seorang laki-laki dan seorang ayah harus sejalan dan baik. Hal ini bisa dilihat dari cara keduanya berinteraksi satu sama lain.
7. Hubungan dengan Keluarga Besar
Menikah bukan hanya tentang dua orang. Lebih luas, menikah adalah tentang dua keluarga. Oleh karena itu, meski menikah adalah terkait janji antara dua orang manusia, sejatinya menikah adalah tentang menyatukan dua kultur yang berbeda. Karenanya, interakasimu dengan keluarga besarnya serta interaksinya dengan keluarga besarmu menjadi hal yang bisa dijadikan pertimbangan dalam memilih jodoh yang baik. Bukankah akan sangat membahagiakan bila dua orang dapat menyatukan dua keluarga besar sehingga kedua keluarga tersebut bisa saling membantu dalam kebaikan? Aih luar biasa pastinya.
Beberapa point tersebut adalah yang bisa kita jadikan pertimbangan dalam memilih jodoh yang baik. Tentu point-point tadi penuh dengan subjektivitas saya sebagai penulis. Sangat mungkin point-point ini tidak sama dengan yang orang lain punya. Pun point-point ini bisa jadi berubah seiring saya mendapatkan asupan ilmu baru.
Jika point-point tersebut ada dan bernilai positif dalam diri seseorang, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dialah jodoh yang baik. Dialah yang ditunjukkan Allah pada kita sebagai laki-laki atau perempuan yang suami-able atau istri-able.
Setelah mendapat kesimpulan: DIA JODOH YANG BAIK
Pertanyaannya sekarang adalah: JODOHNYA SIAPA DIA?
Nah. Kalau itu, jawabannya cuma Allah aja yang tau. Kita hanya bisa mencari tau dengan membulatkan keyakinan, membuat langkah-langkah ikhtiyar dan memaksimalkan doa. Wkwkwk.
Selamat Menemukan.
Semoga Dimampukan, Disegerakan.
tentang ProyekTKB di sini
1. ProyekTKB #1: Memilih Jalan