"Aku menyukaimu. Banyak hal yang aku suka, dan aku tertarik untuk memulai hubungan denganmu".
Dia melempar banyak pertanyaan. Kenapa, apa bagaimana, dan banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan yang entah ia ragu atau ingin memastikan kalau aku benar menyukainya.
Setelah beberapa hari berlalu, dia tidak pernah membalas pernyataanku. Bahasan kami hanya seputar kegiatan yang kami lakukan, masalah yang sedang kami hadapi dan sedikit tentang bagaimana aku bisa menyukainya. Tentunya dengan pertanyaan berbeda yang masih senada. Sesekali dia juga membahas tentang masa lalunya.
Satu waktu, sikapnya berubah. Seperti menganggap kalau kehadiranku sangat mengganggunya. Apa yang biasa kami bicarakan pun menjadi tidak menarik lagi. Apa ini sebuah penolakan secara tidak langsung? Atau ada hal yang sedang mengganggunya?
Aku berusaha mencairkan suasana yang sangat canggung ini. Membuat lelucon atau bertingkah lucu agar ia tertawa. Dan ya, itu berhasil. Untuk beberapa menit. Sampai aku terdiam mendengarkannya.
"Aku membutuhkan seseorang untuk melupakan masa laluku. Aku membutuhkanmu".
Dia mengatakan itu. Dari banyak kalimat yang dia ucapkan, pikiranku terpaku pada satu kalimat itu. Sebenarnya apa yang dia cari? Dalam rentang waktu singkat ini, terlalu cepat untuk mengatakan bahwa kami saling membutuhkan. Aku tidak tahu dia membutuhkan apa. Bahkan aku tidak tau apakah ia menyukaiku atau tidak. Aku juga tidak tahu peran apa yang akan dia kasih padaku. Sekedar teman kah, atau lebih.
Akan mudah bagiku mencernanya jika dia mengatakan aku juga menyukaimu, aku juga tertarik padamu, atau aku ingin mempunyai hubungan yang serius denganmu. Jawaban sederhana yang biasa diucapkan ketika ada seseorang yang menyatakan perasaannya.
Sebenarnya apa yang dia butuhkan? Hal apa yang terjadi padanya? Sampai-sampai, dia ingin melupakan masa lalunya? Atau mungkin melupakan perasaannya? Apa dia butuh pelampiasan?
Aku tidak bisa banyak menanggapi atau menanyakan tentang masa lalunya. Aku berusaha mengerti, mungkin masa lalu baginya sangat menyakitkan. Tentang mantannya kah. Mungkin. Aku merasa tidak yakin bisa memberikan apa yang dia butuhkan. Menyembuhkan luka masa lalu masih menjadi masalah juga untukku.
Tapi mengingat wajah cerianya, sangat mungkin dia sedang menyembunyikan luka yang sangat dalam. Ceria hanya topeng yang sedang dia gunakan sekarang.
Kali pertama aku melihat wajah seriusnya. Seakan dia mengatakan ingin terlepas dan bahagia tanpa harus menanggung beban apapun.
"Aku serius dengan hubungan kita"
Butuh waktu lama sampai aku bisa mengatakan itu. Bukan jawaban iya, tapi aku ingin membuktikan dan menanggapi semua yang dia inginkan dengan serius. Aku merasa bisa, maka dari itu aku mengatakannya.
Ekspresi wajahnya yang membuatku berpikir, aku harus melakukan sesuatu. Melihatnya susah payah menyembunyikan kesedihan, membuatku ingin mengubur setiap jengkal perjalanannya yang menyedihkan. Menghapus setiap detik kenangan buruk di pikirannya.
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari bahwa aku pun membutuhkannya. Terlepas dari banyaknya alasan yang kami ucapkan. Kami saling menemukan satu sama lain. Meskipun dengan keadaan hati yang sangat rapuh.
Masa lalu yang terus menghantui, membuat kami mengerti bahwa hanya orang-orang yang bernasib sama yang dapat mengerti. Aku mengerti rasa takut apa yang sedang dia rasakan. Dia pun mengerti bahwa pembicaraan tentang hal yang lalu itu selalu menyesakkan untukku.
Perasaan yang dibalut dengan rasa sakit, membuat kami saling membutuhkan satu sama lain. Dan kami pun mengerti, hubungan yang sedang kami bangun ini akan sangat rumit. Bukan cuma ornamen masa depan yang akan menghiasi, tapi kelamnya masa lalu pun akan menjadi bagian dari dasar cerita yang akan kami lalui.
Dan tetap saja. Aku ingin kami tetap bersama.