Color is to the eye what music is to the ear.
Samudra tidak pernah benar-benar mengerti kalimat itu.
Samudra pernah menemukan kalimat itu entah di mana—mungkin dalam buku lama milik Satya, atau terukir di dinding sebuah kafe yang terlalu berusaha tampak artistik. Ia tak pernah benar‑benar menangkap maksudnya. Bagi dirinya, musik masuk akal; ia bergetar, dapat diukur, dan terdengar. Tetapi warna? Warna hanya ada.
Di antara sekian banyak hal yang ia anggap penting—stabilitas nilai, rutinitas latihan yang teratur, serta masa depan yang terencana rapi—warna tak pernah masuk dalam daftar. Baginya, warna hanyalah sifat fisik suatu objek, setara dengan berat atau dimensi. Merah pada lampu lalu lintas menandakan berhenti, hijau menandakan boleh melaju; sesederhana itu. Ia menganggap fungsi warna berhenti di situ. Selebihnya, warna hanyalah gangguan visual yang sering dilebih-lebihkan orang.
Pada suatu siang yang terik, ketika panas aspal hampir memantulkan bayangan seperti kaca buram, Satya Nugraha muncul di sampingnya dan berkata dengan nada yang terlalu serius untuk percakapan santai, “Warna berhubungan dengan perasaan.” Samudra menoleh, alisnya terangkat seolah menanti penjelasan ilmiah yang masuk akal. Satya tidak terdengar bercanda, namun juga tak memberikan teori yang dapat diuji. Kalimat itu menggantung di udara panas, samar seperti kabut. Samudra mengerutkan dahi, tak sepenuhnya menolak, namun juga tak menemukan alasan untuk mempercayai.
Beberapa hari kemudian rasa penasarannya kembali muncul—lebih karena gangguan kecil di pikirannya daripada minat sejati. Ia menanyakan lagi, berharap Satya akan menjelaskan maksudnya secara konkret. Namun pemuda yang lebih tua setahun darinya itu hanya tertawa pelan, bahunya bergetar ringan, lalu berkata bahwa Samudra akan mengerti sendiri suatu hari nanti. Tidak ada definisi, tidak ada contoh, hanya senyum tipis yang terasa seperti rahasia. Satya memang begitu; ia suka melontarkan pernyataan setengah jadi dan membiarkan orang lain menafsirkannya.
Akhirnya Samudra mengangkat bahu dan memutuskan tak memikirkannya lebih jauh. Ia tidak menyukai konsep abstrak, apalagi yang tak dapat diukur. Bagi dirinya, hidup menjadi jauh lebih mudah bila segala sesuatu memiliki batas yang jelas. Mungkin itulah mengapa ia sering membayangkan dunia tanpa warna—seperti orang yang menderita akromatopsia, hanya melihat hitam, putih, dan abu-abu. Dunia yang bersih dari semburat merah yang menyala atau biru yang dalam. Dunia yang tak memaksanya merasakan spektrum luas yang seolah menuntut emosi tambahan.
Jika ia harus jujur pada diri sendiri, ketidaksukaan terhadap warna bukan sekadar masalah estetika. Warna sering melekat pada ingatan. Merah dapat berarti amarah atau kehilangan, biru terasa seperti jarak yang tak terjangkau, dan kuning kadang terlalu menyilaukan untuk hari-hari yang ingin ia lewati dengan tenang. Ia tak pernah meminta benda‑benda di sekitarnya menambah makna, namun orang‑orang terus menempelkannya. Semakin sering ia mendengar bahwa warna adalah perasaan, semakin ia merasa dunia berusaha memaksanya merasakan lebih dari yang ia inginkan. Karena alasan yang belum sepenuhnya dapat ia ungkapkan, bila ada satu hal yang paling ingin ia jauhkan dari hidupnya—
“Hei, Samudra, kenapa kau begitu membenci warna?”
Samudra membuka kedua matanya yang entah mengapa terasa jauh lebih berat setelah tertutup untuk sekian lamanya (sejak kapan ia mulai jatuh tertidur?). Membiarkan serangkaian warna yang didominasi hitam, putih, dan abu-abu meresap masuk ke dalam iris sehitam jelaganya. Ia terdiam sejenak dalam posisi yang canggung itu, memandangi plafon dengan kening berkerut tanda bingung.
Sejauh yang ia lihat, tidak ada tanda-tanda keberadaan dari sesuatu yang dinamakan warna. Coret itu, secara teknis mungkin ada. Namun, mereka hanya berputar pada tiga warna: hitam, putih, dan abu-abu, seperti yang ia harapkan jauh sebelum ia jatuh tertidur. Seolah-olah seorang peri kecil telah datang untuk mendengarkan permintaannya lalu diam-diam mengabulkannya.
Menyadarinya, ia tidak bisa menghentikan dirinya untuk tersenyum dengan lebar. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, ia merasa sangat senang. Ia tidak peduli pada kemungkinan-kemungkinannya memasukki dunia monokrom hitam-putih ini. Setidaknya, ia memberi jeda sedikit dengan mengangkat wajahnya ke atas untuk mendapatkan pemandangan plafon yang lebih baik, aku tidak perlu memusingkan tentang warna-warna memuakkan itu untuk sementara waktu.
“Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya. Siapa kau?”
“Aku Nalendra. Nalendra Swasti.”
“Nala. Panggil aku Nala.”
Hari‑hari berikutnya, Samudra menemukan dirinya terjebak dalam kebiasaan baru yang terbentuk tanpa sadar. Setiap pagi ia menggapai pemutar musik berwarna hitam‑nya—model lama dengan tombol yang mulai usang di tepi—lalu menancapkan sepasang earphone berwarna serupa. Di tangan kanannya, hampir selalu, terdapat sekotak jus anggur yang dibelinya di minimarket dekat stasiun. Rutinitas itu terasa tepat, terukur, seolah bila satu elemen terlewat, hari akan terasa pincang. Setelah semua siap, ia naik kereta menuju pusat kota, lalu kembali lagi saat matahari tepat berada di atas kepala, seakan‑seolah perjalanannya memang tak dimaksudkan untuk mencapai tujuan tertentu.
Ia hanya ingin menyaksikan panorama yang sama. Gedung‑gedung tinggi menjulang, tampak pucat dan kaku bagai potongan karton raksasa tanpa nyawa. Orang‑orang berlapis‑lapis mengisi trotoar dan peron, bergerak dalam irama yang hampir mekanis: pelajar berlari dengan tas yang berayun di punggung, orang dewasa melangkah cepat sambil menempelkan ponsel ke telinga, lansia berjalan santai seolah waktu tak lagi menekan mereka. Semua tampak sibuk dengan urusan masing‑masing, tenggelam dalam dunia kecil yang tak bersinggungan. Dan Samudra berdiri di tengah keramaian itu, menyaksikan tanpa benar‑benar menjadi bagian.
Anehnya, ia tak pernah merasa jenuh. Justru ada ketenangan dalam pengulangan itu. Hari ini sama seperti kemarin. Esok akan sama dengan hari ini. Lalu keesokan harinya lagi, dan lagi, dan lagi—hingga rangkaian waktu terasa seperti kaset yang diputar berulang tanpa henti. Ia tak perlu memikirkan kemungkinan baru, tak perlu bersiap untuk kejutan tak terduga. Dunia yang statis jauh lebih mudah dihadapi.
Pagi itu pun dimulai seperti biasanya. Earphone hitam terpasang rapi di kedua telinganya, jus anggur dingin menggantung ringan di genggaman. Ia memilih berdiri dekat pintu, satu tangan memegang pegangan yang berayun pelan mengikuti laju kereta. Ia selalu berdiri di sana; posisi itu memberinya akses tercepat untuk keluar, ruang napas yang sedikit lebih lega, dan jarak aman dari kerumunan yang terlalu padat. Tuhan tahu apa yang terjadi bila ia membiarkan diri terjebak di tengah tanpa jalur pelarian—paranoianya bukan hal yang bisa diabaikan begitu saja.
Dengan gerakan lincah, Samudra menghabiskan jusnya sebelum kereta mencapai stasiun ketiga. Ia melipat kemasannya, lalu menyelipkannya ke dalam celah tas selempang yang dipakainya. Namun entah mengapa, hari itu tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Seakan ada sesuatu yang tak terlihat menempel di pundaknya, menyerap energinya perlahan. Padahal ia terbiasa berdiri sepanjang perjalanan tanpa merasa lelah sedikitpun.
Setelah berdebat cukup lama dengan dirinya—antara mempertahankan kebiasaan atau menyerah pada rasa penat—ia akhirnya melangkah maju dan duduk di kursi kosong tepat di depannya. Kebetulan yang terlalu tepat, pikirnya samar, namun ia tak cukup peduli untuk menanyainya lebih jauh. Di telinganya, lagu “Alps” milik Novo Amor mengalun lembut, suara falsetto tipis dan melankolis mengisi ruang kosong di dadanya dengan sesuatu yang nyaris dapat disebut tenang.
Beberapa detik kemudian ia baru menyadari kehadiran pemuda di seberangnya. Senyumnya hangat—tidak mencolok, tidak berlebihan—tetapi cukup aneh di tengah ekspresi datar penumpang lain.
Tatapannya lurus pada Samudra, seolah sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.
Mata Samudra yang semula sedikit terpejam perlahan terbuka. Ia menoleh sedikit, memastikan kata itu memang ditujukan kepadanya.
“Warna dari lagu yang kau dengarkan adalah biru.” lanjut pemuda itu dengan suara tenang.
Sesaat, dunia terasa kehilangan keseimbangannya. Kata itu—warna itu—gema terlalu keras di kepalanya. Samudra tak sempat menanyakan bagaimana orang asing itu tahu lagu apa yang sedang diputarnya. Yang ia rasakan hanyalah nyeri tajam yang tiba‑tiba menghantam kedua pelipisnya, seolah kepalanya diremas dari dalam. Pandangannya bergetar, warna‑warna di sekelilingnya—yang biasanya ia abaikan—mendadak terasa terlalu terang, terlalu hidup.
Hal terakhir yang ia lihat adalah senyum pemuda itu yang sehangat mentari.
Lalu semuanya menjadi gelap.
“Apa kau pernah bertanya-tanya bagaimana rasanya melihat dunia melalui mataku?”
Tiga hari kemudian, Samudra akhirnya memaksa dirinya kembali ke rutinitas yang sempat ditinggalkannya. Ia harus mengerahkan lebih banyak tenaga daripada yang ingin diakui hanya untuk menyingkirkan selimut dan duduk di tepi ranjang yang terasa terlalu nyaman. Selama tiga pagi berturut‑turut, matanya menatap langit‑langit kamar sambil dipenuhi gema satu kata yang tak dia inginkan terulang. Namun logika—satu‑satunya hal yang masih ia percayai sepenuhnya—perlahan mengambil alih. Pertemuan itu hanyalah kebetulan. Di kota sebesar ini tidak mungkin dua orang asing bertemu lagi dalam situasi yang persis sama. Kemungkinannya kecil, hampir mustahil. (Atau setidaknya begitulah cara Samudra menenangkan dirinya.)
Hari itu ia memutuskan melakukan sedikit perubahan. Tidak drastis—ia bukan tipe yang suka perubahan besar—tapi cukup untuk membuktikan bahwa ia masih memegang kendali. Pemutar musik hitam yang sama tetap di sakunya, earphone yang sama tetap terpasang rapi. Hanya lagu dan bekal yang berbeda. Alih‑alih sekotak jus anggur dan Alpine milik Novo Amor yang melankolis, kali ini ia membawa sebotol besar jus jeruk dan memutar “Von” karya Yoko Kanno—lagu yang lebih dinamis, lebih cerah, lebih hidup.
Perubahan kecil itu menghasilkan efek yang tak terduga. Begitu kereta mulai melaju, ada energi aneh berdesir di bawah kulitnya. Bukan kelelahan yang menggerogoti seperti sebelumnya, melainkan semangat yang hampir berlebihan. Jantungnya berdegup lebih cepat mengikuti irama musik, dan sesaat ia merasa mampu melakukan apa saja—berlari keluar gerbong, tertawa tanpa alasan, bahkan menyapa orang asing di sebelahnya. Tentu saja ia tidak melakukan semua itu. Samudra masih cukup waras untuk menjaga citranya tetap utuh di depan publik.
Tanpa ragu, ia meluncur ke kursi yang sama seperti terakhir kali ia duduki. Kali ini bukan karena lelah, melainkan untuk membuktikan bahwa tempat itu tak memiliki arti apa pun. Hanya sebuah kursi di gerbong biasa. Tanpa takdir, tanpa kebetulan yang disusun khusus. Ia duduk dengan punggung lurus, dagu terangkat sedikit, seolah menantang sesuatu yang tak terlihat.
Semangat itu runtuh dalam sekejap.
Pintu kereta terbuka dengan desisan mekanis yang terlalu familiar. Di antara arus manusia yang masuk, Samudra melihatnya.
Wajah yang sama. Senyum yang sama—hangat, namun terasa seperti ejekan personal yang ditujukan khusus kepadanya. Langkahnya santai, seakan tidak membawa apa‑apa selain keyakinan bahwa ia memang seharusnya berada di sana.
Kata itu meluncur ringan, hampir lembut, tetapi dampaknya seperti palu yang menghantam bagian belakang kepala Samudra. Tidak ada rasa sakit yang memotong seperti sebelumnya, tidak ada dunia yang langsung kelam. Hanya sensasi mual yang perlahan naik dari perut, bergulung seperti ombak yang tak dapat dihentikan. Musik di telinganya tiba‑tiba terdengar terlalu keras, terlalu ramai, seolah tiap nada berubah menjadi kilatan warna menyilaukan.
Samudra tidak menjawab. Ia bahkan tidak yakin apakah pemuda itu benar‑benar berbicara atau hanya berbisik dalam kepalanya.
Kali ini ia pulang dengan kesadaran penuh. Tidak ada kegelapan yang menelannya, tidak ada kehilangan waktu yang misterius. Hanya rasa pusing yang menetap dan perut yang akhirnya ia kosongkan di kamar mandi rumah—meninggalkan setengah botol jus jeruk dan dua lembar roti isi tuna sebagai korban.
“Tentu saja. Aku ini, ‘kan, spesial!”
“Hei, Sam, apa kau mendengarku?”
“Tidak. Tidak. Mungkin belum saatnya.”
(Mungkin aku harus berhenti menggunakan kereta untuk sementara waktu.)
Entah kesialan apa yang menimpanya, namun pemuda itu terus ‘kebetulan’ berada di setiap tempat yang sama yang ia kunjungi: di toserba, di taman di depan gedung apartmennya (dia bahkan tidak tinggal disini!), di perpustakaan umum, di depan stand hotdog seberang jalan, bahkan dihadapan news stand tua yang hampir tak pernah memilikki pelanggan (sungguh? Apa yang ia sedang lakukan berdiri di depan sana seperti itu? Ia bahkan tidak suka membaca koran!) dan setiap waktu. Pemuda itu hanya akan melambaikan tangannya dengan senyuman ramah, mencoba membuat beberapa percakapan—tidak peduli seberapa sering Samudra mengabaikannya.
Lambat laun, eksistensi pemuda itu sudah menjadi bagian dari kehidupan barunya. Ia menemukan dirinya terlalu lelah untuk menghentikan pemuda itu dari menunjukkan satu persatu warna dari setiap suara yang ia dengar.
Ia hanya bisa berharap agar semuanya berakhir sesegera mungkin.
“Beritahu aku, apa kau pernah bertanya-tanya tentang warna suaramu?”
Tanpa terasa, ia pun telah sampai ke penghujung minggu. Jika Samudra boleh jujur, sebenarnya rasa bosan dan penat membuncah ruah didadanya. Mungkin jalan-jalan di sekitar pusat kota akan sedikit membantunya. Tetapi mengetahui Nalendra yang selalu muncul tanpa bisa ia tebak (dan di mana saja, demi Tuhan, seolah-olah pemuda itu tak mempunyai kegiatan lain selain mengganggunya!) Ia memutuskan kalau mungkin itu adalah keputusan terbaik untuk tetap tinggal di apartemennya kali itu.
Kepalanya terlalu berat untuk mendengarkan monolog tanpa henti sang pemuda. Samudra jatuh tertidur ditengah-tengah pertandingan sepak bola yang ia tonton dengan mode bisu.
“Nalendra. Nalendra Swasti.”
Sungguh mengherankan, memang. Sudah satu minggu berlalu dan tidak ada tanda-tanda bahwa pemuda yang telah mengganggu ketentraman hidupnya dalam beberapa waktu ke belakang itu nyata. Bukannya ia merasa tidak senang, justru sebaliknya, ia berharap hal ini adalah hal yang akan terjadi secara permanen.
Senyumnya mengembang dengan lebar, disusul dengan helaan napas lega. Ia membuka kedua kelopak matanya untuk menujukkan sepasang manik gelap yang menawan—dan menemukan manik hitam milik sang pemuda, Nala, balik memandanginya dalam jarak yang cukup intens.
Senyumnya jatuh secepat ia datang.
(Terlalu cepat seratus tahun, Bodoh!)
"Boom!" katanya dengan tawa kecil begitu Samudra melompat terkejut dari kursi yang ia tengah dudukki seorang diri. Samudra memberi jeda sebentar untuk membiarkan pemuda itu mengambil tempat kosong yang terletak bersebelahan dengannya, sebelum membalas dengan desisan dan kerutan di kening, "Apa yang kau lakukan di sini?" Ia balas menatapnya dengan tatapan yang seolah-olah berkata ‘apa-kau-sedang-bercanda’ sebelum kemudian menjawab "Konser," dengan ringan, sesuatu dalam nada bicaranya mengingatkan Samudra dengan kaki laba-laba yang menyentuh bahunya dua musim panas lalu.
Nalendra tidak mengatakan apa-apa lagi setelahnya, melainkan langsung menariknya untuk membelah kerumunan yang berada tak jauh dari kursi yang mereka berdua tempati tadi. Untuk beberapa alasan, entah mengapa semuanya membuatnya sedikit bernostalgia hari ini. Orang-orang berpakaian hitam yang datang untuk menonton konser itu seolah-olah berusaha mendatangkan memori tentang upacara pemakaman neneknya bertahun-tahun yang lalu.
"Sam," Nalendra kembali bersuara, tubuhnya bergerak mengikuti irama musik yang di mainkan oleh sebuah band rock di atas panggung. Suaranya terdengar sangat jauh di antara riuh rendah konser. Samudra hanya balas memandangnya dengan sebelah alis terangkat, memancing senyuman lebar ciri khas lawan bicaranya.
"Suara akan lebih baik kalau diberi warna." lanjutnya dengan enteng.
Samudra hanya diam membisu, tak berani membayangkan kelap-kelip warna-warni di hidupnya.
“Samudra, coba tutup matamu. Bayangkan ada begitu banyak kembang api kecil warna-warni di hadapanmu tiap kau mendengar sebuah suara. Hanya jika kau sudah siap untuk melihat warna dari persepektif yang berbeda, kau boleh membuka matamu.”
Ia melakukan tepat seperti yang Nalendra katakan, satu intruksi ke intruksi yang lain, hingga sampailah ia pada tahap di mana ia harus membuka matanya. Sepasang manik di balik kelopak yang selalu terlihat mengantuk perlahan-lahan membuka, dan ia menemukan dirinya merasakan berbagai macam sensasi yang berbeda yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Seolah-olah ia berada di dunia yang lain.
Semuanya masih sama sejauh mata memandang: hanya hitam, putih, dan abu-abu yang menguasai. Kemudian, seorang wanita dewasa di sebelahnya bersuara dengan cukup keras, disusul dengan sebuah kembang api samar berwarna oranye terang yang menghilang secepat kedipan mata.
"Nala, aku melihatnya!" Samudra berseru senang, yang dibalas dengan anggukan tak kalah bersemangat dari pemuda yang dipanggil Nala.
Kemudian, semua suara yang berada di sekitarnya terdengar dengan sangat jelas—dan kembang api berbagai macam warna bermunculan tanpa henti di hadapan mereka, menghujani keduanya tanpa henti.
Samudra meneriakkan nama sang pemuda berulang-ulang dengan semangat baru yang perlahan-lahan memudar.
“Ya. Pemandu. Setiap otak manusia mempunyai pemandu.”
“Memandumu, Tuan. Kau akan selamat.”
“Selamat. Keluar dari sini. Cepatlah, aku mulai muak terjebak disini.”
Suara mesin berderu terus-menerus, berirama seperti metronom yang tak mau berhenti. Aroma antiseptik mengisi udara, berpadu dengan ketegangan yang tebal menggantung di dalam ruangan.
“Puji Tuhan! Satya, Samudra telah sadar!”
“Yudha, panggilkan dokter! Segera!”
Kelopak mata yang tertutup selama sebulan akhirnya bergetar perlahan, lalu terbuka. Lampu putih kamar rumah sakit langsung menyilaukan pandangannya, hampir menyakitkan. Dunia yang dulu gelap dan tak berwujud kini kembali memiliki garis, bayangan, dan—warna. Dua pupil hitamnya bergerak perlahan, berusaha menyesuaikan diri. Ada tirai biru pucat yang menutupi ranjang, dinding putih dingin, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Namun, ia tidak merasa terganggu.
“Sam!” Suara Satya menghantam kesadarannya, pecah oleh tangisan yang terpenjara lama. Suara-suara lain mengikuti—doa terhenti, isak lega, langkah tergesa‑gesa.
Samudra mengangkat tangan dengan gerakan kaku, masih berat, lalu menyentuh udara di antara dirinya dan Satya. Di sana, samar tampak seperti percikan kembang api kecil, warna oranye lembut berpendar setiap kali Satya berbicara.
“Oranye,” gumamnya perlahan.
“Hah? Kau bilang apa?” Satya menghentikan tangisnya, wajahnya yang peluh menjadi bingung.
“Warna suaramu,” bisik Samudra, suaranya serak karena lama tak dipakai. “Warnanya oranye.”
Kerutan di dahi Satya semakin dalam.
Suara baru memotong percakapan mereka. Seorang dokter berusia lanjut melangkah masuk, jas putihnya sedikit berkerut, garis‑garis kelelahan tampak jelas di wajahnya. Namun, tatapannya tajam, penuh rasa ingin tahu yang belum padam.
“Tampaknya, kecelakaan yang membuat Tuan Samudra koma selama sebulan telah memicu sinestesia pada dirinya.”
“Sinestesia?” ulang beberapa orang di ruangan hampir bersamaan. Kebingungan terlihat jelas di wajah mereka—kecuali Samudra, yang tampak tenang, seolah semuanya masuk akal.
Dokter itu tersenyum tipis, nadanya berubah lebih sabar, hampir seperti guru. “Sinestesia adalah kondisi neurologis langka di mana persepsi seseorang tercampur. Rangsangan pada satu indera dapat memicu pengalaman pada indera lain. Pada kasus Tuan Samudra, ia tampaknya mengalami voice‑to‑color synesthesia—ia melihat suara sebagai warna.”
Ia melanjutkan dengan tenang, “Beberapa penelitian menunjukkan kondisi ini muncul karena konektivitas yang lebih kuat antara area‑area tertentu di otak. Area yang memproses suara dan warna berada cukup berdekatan. Jadi ketika satu aktif, yang lain ikut tersulut. Ini bukan hal yang berbahaya.”
Ruangan kembali hening, hanya diisi bunyi monitor detak jantung.
Sepuluh menit berlalu dalam percakapan lembut dan pemeriksaan singkat. Tekanan darah dicek. Respons pupil diuji. Beberapa pertanyaan sederhana diajukan dan dijawab perlahan namun tepat.
Samudra menatap langit-langit, berusaha memahami dunianya yang baru. Setiap suara di ruangan itu meninggalkan jejak warna yang berbeda—lembut, transparan, namun nyata. Isakan tertahan Yudha tampak kebiruan. Bunyi bip monitor berkilau putih kebiruan seperti cahaya neon. Langkah sepatu perawat di lantai memercikkan abu‑abu keperakan.
Tidak ada rasa sakit. Tidak ada pusing. Hanya… berwarna.
“Hijau, Dokter,” katanya tiba‑tiba.
Semua mata kembali tertuju padanya.
Dokter itu berhenti menulis catatan. “Maaf?”
Samudra tersenyum lebar—senyum yang belum pernah terlihat sejak kecelakaan. Senyum ringan yang nampak tanpa beban.
“Warna suaramu,” katanya pelan namun jelas. “Hijau.”
Dan untuk pertama kalinya sejak ia terbangun, ia tidak ingin berlari menjauh dari warna‑warna itu.
“Sayang sekali, padahal aku menyukai warna suaramu.. warnamu mengingatkanku pada warna seseorang.”
Semuanya berlalu begitu cepat, seolah-olah kecelakaan yang hampir melayangkan nyawa Samudra beberapa bulan yang lalu tidak pernah terjadi. Tiba-tiba saja, semuanya kembali seperti sedia kala. Satya yang sama yang masih menggunakan pilihan kata yang kompleks, Hanung dan Yudha yang masih mengganggu hari-harinya—semuanya persis seperti kondisi sebelum ia mengalami koma.
Perbedaannya hanyalah, tidak ada seorang pemuda bernama Nalendra dengan senyuman seratus watt dan cara pandangnya yang mengganggu terhadap warna. Tidak peduli berapa sering ia berusaha mengulangi rutinitas yang ia jalankan di dunia monokrom hitam-putih, ia masih tidak bisa menemukan tanda-tanda kebenaran eksistensi Nalendra.
Oh, betapa ia merindukan cengiran bodohnya.
Namun, Samudra Prabasena bukanlah orang yang mudah menyerah, ia akan membuktikan dan menemukan keberadaan Nalendra bahkan jika ia harus mencarinya sampai ke ujung dunia pun. Nalendra telah memberikannya pandangan yang baru, jelas, dan menyengarkan terhadap warna, dan dia secara tidak langsung berhutang kepada Nalendra karenanya.
Jadi, hari itu ia tetap mengulangi lagi, dengan kalimat ‘mungkin hari ini berbeda’ terulang-ulang di dalam benaknya. Kali itu ia tengah mendudukki kursi taman yang membelakangi air mancur raksasa yang dibuat dengan batu pualam, dengan sebungkus keripik kentang dan sebotol besar jus jeruk. Matanya mengamati tiap pergerakan yang lewat di hadapannya dengan teliti.
(Mungkin hari ini berbeda.)
Ketika ia berpikir untuk mengakhiri harinya lebih cepat karena rasa frustasi yang membuncah di dadanya, ia melihat sebuah kembang api berwarna samar cokelat gelap meledak didekatnya, dan matanya dengan lancang mengikuti ke arah sumber suara. Ia langsung merasa kecewa begitu menemukan bahwa cokelat gelap itu ternyata datang dari suara gonggonggan anjing kecil menawan berawarna putih.
Tidak mengharapkan itu, pemuda itu langsung melompat terkejut begitu mendengar suara yang anehnya terdengar cukup familiar dari belakangnya—menumpahkan sebagian besar jus jeruknya ke tanah. Ia berbalik, tengah bersiap-siap untuk mencaci maki siapapun yang berani mengagetkannya saat itu ketika ia menemukan sepasang manik gelap familiar yang memandangnya dengan tatapan bertanya.
“Maaf mengagetkanmu,” kata Nalendra dari dunia nyata. “Aku hanya ingin bertanya.. apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku merasa seperti pernah mengenalmu di suatu tempat.”
Samudra berkedip beberapa kali. “Aku yakin belum.”
“Tapi, aku yakin sekali aku pernah melihatmu di suatu tempat—“
“Nala, ini bukan saat yang tepat untuk menggoda seseorang,” sebuah suara yang dingin mengintrupsi. “Ayo pergi.”
“Biru tua..” Samudra tanpa sadar berbicara saat keduanya bersamaan menoleh ke sumber suara.
Nalendra mengalihkan pandangannya ke arah Samudra dan memandangnya dengan keterkejutan luar biasa, yang hanya di balas dengan seringai kemenangan ciri khas Samudra.
“Besok, jam sepuluh pagi,” Samudra memotong dengan cepat. “Di tempat ini. Aku tidak menolerir keterlambatan.”
Nalendra di dunia asli terkekeh kecil. “Keren, aku suka jam sepuluh. Sampai jumpa besok, um..?”
“Sam,” balasnya. “Namaku Samudra Prabasena.”
Meskipun berkata begitu, Nalendra tetap menyusul pemuda lain dengan surai hitam yang dipanggil sebagai ‘Jagat’, masih dengan senyuman bodohnya. Kedua pemuda berbeda tinggi itu kemudian mulai berjalan menjauh, namun, setelah beberapa langkah, Nalendra kembali berbalik dan melambaikan tangannya ke arahnya.
“Kuning pucat!” teriaknya, suaranya terdengar samar-samar. “Warnamu! Kalau kau belum tahu, kuning pucat itu langka. Kau itu langka, Sam!”
(Mungkin, jawab Sam di pikirannya begitu punggung keduanya menjauh.)
“Hei, Sam, kenapa kau begitu membenci warna?”
Sebelumnya, jika seseorang bertanya hal seperti itu lagi kepadanya, Samudra tidak pernah tahu harus memberikan jawaban apa. Namun, ia mengadahkan kepalanya untuk melihat warna biru dan putih yang bercampur di langit, sekarang aku sudah mengerti apa maksud Satya waktu itu.
(Sebaliknya, aku benar-benar menyukai warna. Aku bisa menjelaskan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan melalui kata-kata dengan menggunakan warna.)