Tahu siapa yang hits di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB setengah dekade silam?
Namanya Khalifah. Ralat, Holipah. Kesalahan mengisi absensi di hari pertama masuk SD membuat ejaan namanya berubah sampai sekarang. Oktober 2016 dia lulus lebih dulu, tentu dengan predikat cumlaude. Dia adalah inspirator terbesar di hidup saya. Saya memanggilnya Ipeh.
Kami pernah tinggal satu asrama dan kini satu rumah. Sejak dulu dia meyakinkan saya untuk mengusir rasa gengsi. Karenanya, semasa TPB, kami berjualan donat setiap pagi dan itu pertama kalinya saya percaya diri jadi pebisnis. Tahun baru kemarin, saya sempat mampir ke kampungnya di muara kali Citarum yang hanya bisa dilalui oleh sebilah rakit dan memakan segala sesuatu yang bisa kami ambil sendiri dari kebun.
Saya mengenalnya sejak dia tidak punya referensi apa-apa selain sederetan judul lagu dangdut, juga sejak badannya tampak seperti tali jemuran, baju apa saja dia gantung. Norak sekali. Saya tahu betul bagaimana dia berjuang melawan disleksia untuk mengerjakan tugas kuliah. Saya seringkali menertawakannya setiap kali dia terbata-bata membaca buku. Mengeja namanya sendiri pun susah.
Sebenarnya dia cukup layak dijadikan bahan bully-an. Dosen mana yang tidak pernah marah dan merendahkannya? Sudah sering dia mendapatkan komentar jelek atas karya-karyanya. Dia lebih pantas menyandang gelar tukang jahit daripada Fashion Designer. Pada saat tugas akhir, dia mencari cara untuk lulus sidang dengan memanfaatkan limbah kain yang ada di saat teman-temannya menghabiskan puluhan juta untuk satu produk.
Dua minggu menjelang sidang, saya mengantarnya mengitari kota Bandung setelah dia dengan panik mengatakan karyanya ketinggalan di angkot. Sayangnya, kami kesulitan menemukan angkot yang dimaksud. Shibori atau ikat celup khas Jepang yang dia kreasikan selama berbulan-bulan raib begitu saja. Dan dia harus mengulang produksi dari nol!
Dulu, sewaktu pertama kali masuk jurusan, saya sering mendapatinya menangis sepulang kuliah. Beberapa dosen dan asdosnya kerap mematahkan semangatnya. Saya tidak mau dia menangis lagi kala itu. Saya ingin sedikit menghiburnya. Saat kami pulang dari perjalanan mencari karya yang hilang, saya melihat dia bergegas mengaduk bahan kimia. Tanpa kata. Dan tangannya terus bekerja.
Dia menoleh. Masih tanpa kata. Mungkin kalimat saya terlalu klise.
Belakangan, saya tahu bahwa dia menemukan ketukan magis di dalam sesaknya dada.
Ipeh menceritakan pengalamannya ini pada temannya yang lain dan saya tak sengaja menguping. βMungkin aku terlalu khawatir dengan perkataan dosen, dengan nilai, dengan kegagalan. Aku stres mikirin desain sampe aku lupa mikirin siapa yang ngedesain hidup aku. Dari situ, ya, aku ikhlas, aku serahin semuanya sama Yang Di Atas. Yang penting aku buktikan usaha aku segimana.β
Hebatnya, di saat-saat genting seperti itu, entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba rumah kontrakan kami yang kecil telah didatangi sejumlah orang baru. Rumah kami beralih fungsi jadi tempat bisnis cokelat stick. Teman kami salah satu ownernya. Mereka, teman-teman baru kami, memutuskan untuk menghentikan produksi cokelat sebentar dan membantu Ipeh menyelesaikan tugas akhir.
Dan Ipeh menitikkan air mata untuk itu. Untuk pertolongan dari langit. Untuk setiap pasukan yang dikirim Allah.
Ipeh kembali tertegun menyadari siapa saja dosen penguji yang akan hadir besok. Ada dua dosen yang paling ditakuti. Semua mahasiswa Textile Design tidak pernah berani berdeham di hadapan dosen-dosen itu. Ipeh bahkan tidak tidur, membuat presentasi dan memastikan apakah karyanya benar-benar layak atau tidak. Dia juga mengubah penampilannya semodis mungkin dengan sepatu hak tinggi rancangannya sendiri.
Sampai tiba waktu sidang, dini hari itu, rumah kontrakan kami kemalingan di saat para penghuninya sibuk mengantarkan Ipeh dan karyanya ke Aula Timur ITB untuk pameran. Uang tabungan, satu buah ponsel, dan tiga buah laptop berisi file penting ludes. Bisa saja kami kehilangan empat laptop kalau saja malamnya Ipeh tidak kembali ke rumah dan mengambil laptopnya untuk revisi skripsi.
βKamu beruntung banget,β celetuk saya.
Ipeh, dengan nada sedikit marah, berujar, βBukan keberuntungan. Ini kepercayaan Allah sama aku. Dia percaya aku bisa ngasilin sesuatu pake barang ini. Dan tanggungjawabnya lebih gede.β
Saya berdecak kagum, tidak habis pikir dengan kedewasaan dan perubahan pesat yang dialami sahabat saya ini.
Beberapa jam menjelang sidang.
Bisa kamu bayangkan sidang di ITB seperti apa? Uh! Raut wajah menyeramkan para dosen. Suasana menegangkan. Pertanyaan yang sulit dari para penguji. Keringat dingin.
Tapi kita tidak tahu skenario apa yang sedang ditulis Yang Maha Kuasa. Kita hanya makhluk perencana dan sibuk menduga-duga.
Dua dosen yang paling ditakuti yang tak boleh disebutkan namanya mendadak ada urusan. Yang satu ke luar negeri. Yang satu kedapatan tugas di ruangan lain. Sidang berlangsung selama beberapa menit. Tahu-tahu Ipeh keluar ruangan sambil memegang kedua pipinya, tidak menyangka.
Teman-temannya penasaran, βKamu ditanya apa aja, Peh?β
βEnggak ditanya apa-apa!β Dia memekik histeris, βAku cuma disuruh nyanyi tiga judul lagu dangdut.β
Teman-temannya sontak bengong.
Rupanya, sepatu haknya yang tinggi yang dia rancang sendiri membuat salah satu dosen penguji itu ingat bahwa Ipeh adalah mantan artis saweran. Dia ingat Ipeh suka sekali menyanyi-nyanyi kecil dan meributkan kelas.
Mendengar suara cengkoknya di ruang sidang, para dosen yang tadinya sibuk mengamati karya pameran setiap mahasiswa segera berkumpul untuk menonton mini konser Holipah, sang calon sarjana. Mereka bahkan sempat merekam dia bernyanyi dan me-request beberapa lagu.
Ipeh, sampai sepanjang perjalanan itu, mendapatkan nilai sempurna, setara dengan teman-temannya yang menghabiskan dana besar dan riset mendalam.
Siapa yang memberikan nilai itu?
yang juga adalah manusia.
Lalu siapa yang menggenggam setiap hati manusia?
Sahabat, ini bukan soal nilai di atas kertas. Ini adalah tentang nilai keikhlasan kita di hadapan Sang Pencipta.
Pantaskah kita takut dengan penilaian orang-orang di sekitar kita ketika Allah justru mencintai kita?
Dan, percayakah kamu bahwa ketika Allah sudah jatuh cinta, malaikat pun akan membentangkan sayap-sayapnya sebagai jalan tak terduga?