“Aku gendut, nanti kamu gak sayang aku lagi” Keluhmu sambil memegang perut yang memang sedikit membesar. Ekspresimu kesal, namun membuatmu lucu dan aku tertawa.
Teringat saat pertama kali aku bertemu denganmu di cafe itu, kau berjalan dengan begitu percaya diri menuju mejaku dan menyapaku yang sedang minum kopi sore itu. Aku ingat kau menggunakan kaos polos berwarna navy dengan jeans hitam dan sendal navy senada. Badanmu bidang, didukung dengan tinggi yang pas, rahangmu tegas, bahkan tulang-tulangnya begitu menonjol. Yaa dikala itu~
Aku juga ingat celana-celana skinny yang kau beli bersamaku—yang hari ini sudah tak muat lagi di badanmu—lalu aku ingat baju-baju medium size yang kau beli saat itu membuatmu nyaman dan percaya diri berjalan disebelahku, dan aku ingat bahkan perutmu tidak pernah sebesar itu. Haha
Seiring berjalannya waktu, kau dan aku bertumbuh bersama, melewati berbagai masa, menjalani banyak waktu, dan menghadapi semua masalah. Baik buruk tentangku kau sudah tau, dan baik buruk tentangmu aku juga tau. Meskipun begitu bukan berarti kita harus berhenti saling memahami, saling belajar, dan saling beradaptasi, tapi ini adalah awal untuk perjalanan panjang yang harus kita lewati dan hadapi selama beratus-ratus tahun lamanya. Untukku fisik bukanlah perkara besar, kau gendut, kau kurus, kau hitam, atau kau putih, buatku kau tetap kau. Kau tetap pemimpin yang akan selalu aku hormati, aku kagumi, aku kasihi, dan aku cintai seumur hidupku. Tak peduli sesulit apapun hidup bersamamu, sebesar apapun badanmu, aku akan selalu mencintaimu di susah maupun senangmu.
Percayalah. jangan takut akan ukuran badanmu karena itu tidak akan mengubah cintaku.