Dear nafs, I want to go to war with you and win. — Yasmin Mogahed
Game of Thrones Daily

Origami Around

⁂
Acquired Stardust
trying on a metaphor
Today's Document
hello vonnie

Product Placement

Kiana Khansmith
art blog(derogatory)

Discoholic 🪩

Andulka

Janaina Medeiros
cherry valley forever
Three Goblin Art
taylor price
Peter Solarz
Cosimo Galluzzi

roma★
seen from United States

seen from Türkiye

seen from Australia

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Indonesia
seen from United Kingdom
seen from Côte d’Ivoire

seen from Austria
seen from United States
seen from United States
seen from Australia

seen from United States

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from China

seen from United States
@adenulis
Dear nafs, I want to go to war with you and win. — Yasmin Mogahed

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Ayo Jadi Lebih Baik
Sudah berapa banyak dosa yang kamu hasilkan dari kedua matamu Khairi?
Adab, Nak.
Kalo punya anak nanti, hal di luar agama yang pingin gw tekankan ke anak gw adalah bagaimana berliterasi dan menyuarakan pendapat. Melihat carut marut pertengkaran manusia di ruang media dengan kata - kata yang membuat mengelus dada, gw curiga mungkin gw juga seperti itu. Mungkin gw juga sering melakukan itu, mencaci maki, berdebat sana sini, membela apa yang dipercaya padahal itu menyakiti. Padahal akademis, tapi bertengkar alih - alih beropini dengan realistis. Padahal Berbudaya, tapi amarah dan makian menjadi senjata.
“Ibumu ini kurang baca Nak, jadi sering nulis yang aslinya gak dipahami. Ibumu ini kurang mengumpulkan istilah sopan, sehingga banyak menggunakan kata - kata jahat sebagai bentuk ketidaksukaan. Ibumu ini meski punya data tapi tidak tahu cara membahasakannya kepada manusia dengan bahasa yang sewajarnya. Ibumu ini mempertarungkan ego dan mencari kepuasan dengan melampiaskan kemarahan di ruang publik supaya musuh tercoreng moreng namanya.
Puas Nak, puas memang ngata - ngatain. Tanpa Ibumu sadari, kesalahan dan kekurangan milik semua orang. Tanpa Ibumu sadari, informasi yang ibu dapatkan begitu terbatas. Tanpa ibumu sadari, aib yang ibu hujat - hujat barangkali hanyalah perjalanan seseorang untuk menjadi lebih baik dari penghujat manapun di muka bumi. Dan kepuasan itu seperti api yang menguapkan air, menguap sudah kebaikan dan ilmu Ibumu.
Adab Nak, adab. Adab itu harus di depan ilmu. Di revolusi industri 4.0 ini, ilmu begitu mudah didapatkan. Tapi adab kian terkikis oleh banyaknya manusia yang merasa penuh pengetahuan.”
Dalam suatu diskusi pagi itu, aku teringat sebuah nasehat yang ia lontarkan pada kami, tentang doa;
“Mendoakan orang yang kita cinta, itu namanya keikhlasan… Tapi mendoakan orang yang membuat kita terluka, itu namanya kedewasaan.”
Ternyata untuk benar-benar menjadi dewasa tidak mudah. Mana mungkin kita bisa mendoakan kebaikan pada mereka yang justru membuat luka? Terdengar seperti toxic relationship bukan?
Dan penyelaman makna atas nasehat ini pun berjalan panjang dan rumit. Ketika kita terluka, bahkan untuk memaafkan saja sulit. Mendoakan kebaikan untuknya? Bercanda.
Hingga waktu berlalu, pemahaman hadir berangsur. Bahwa menjadi pemaaf memang tampak tidak keren. Kita seolah menjadi orang yang kalah. Namun sesungguhnya ada kemenangan besar dibaliknya. Tentang mengalahkan ego.
Jika kamu bertanya mengapa aku sering meminta maaf, sederhana, karena aku tidak ingin membiarkan setitik ego menang. Kita lebih penting dari sekadar aku atau kamu.
Lebih jauh, mari kita belajar dari seorang sahabat yang dijamin surgaNya lantaran ia selalu menjaga kebersihan hatinya dari prasangka tidak baik. “Tidak pernah aku menutup mata untuk tidur, sebelum mengikhlaskan kesalahan orang-orang yang berbuat tidak baik terhadapku dan mendoakan kebaikan untuk mereka.”
Kita belum ditahap itu, tapi mari terus mendekat. Surga tidak pernah diraih dengan mudah.
02.35
Delapan bulan empat
Sebuah pelajaran untuk menjadi dewasa. Ketika kecil, kita begitu ingin menjadi dewasa. Namun, ketika tumbuh dewasa dalam hal umur, rupanya untuk menumbuhkan kedewasaan dalam segi ego dan pemikiran itu begitu sulit.
Selamat menjadi dewasa!

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Al Fatihah Adalah Tentang Kita
Resume oleh Heru Wibowo
Di terjemahan Al-Qur'an yang biasa, Rabbil ‘Aalamiin diterjemahkan sebagai Tuhan seluruh alam. Atau, Tuhan semesta alam.
Di Bayyinah TV, Ustadz Nouman membangun argumentasi yang begitu indah, bahwa kata 'Aalamiin itu, yang dimaksud adalah people.
Argumentasi pertama menyoroti akhiran “-iin” di Al-Qur'an yang secara konsisten menunjukkan human beings. Manusia. Mu'miniin, muhtadiin, kaafiriin, zhaalimiin, khaasyi'iin, just to mention some of them.
Di ayat pertama QS Al-Furqaan, ada Lil 'Aalamiina Nazhiiran. Jika 'Aalamiin diartikan sebagai alam semesta, maka termasuk di dalamnya adalah gunung, pohon, lebah, onta, langit, laut, awan, ikan, dan lain-lainnya.
Coba yakinkan aku, apakah awan di langit, ikan di laut, dan laut itu sendiri, apakah mereka itu semua perlu “diingatkan”?
Rabbissamaawaati wal ardhi memang banyak ditemukan di Al-Qur'an. Tapi Allah tidak memilih kata-kata itu di Al-Fatihah. Karena Fatihah bukan tentang semua benda langit dan benda bumi yang lain. Fatihah adalah tentang people. Fatihah adalah tentang kita. Fatihah adalah spesial untuk kita.
Today, I fall in love with Fatihah, like never ever before.
#noumanalikhan #noumanalikhanindonesia #resumekajian #nakindonesia
https://www.instagram.com/p/BvnNBbEAur4/?utm_source=ig_tumblr_share&igshid=nxumik7f9qf0
Demotivasi
Sesungguhnya istilah ini gw dapat dari seorang sahabat, Idin. Ceritanya minggu lalu gw maen ke rumahnya, terus dia nanya gimana rasanya menikah. Gw bingung menjawabnya, sesungguhnya gw juga gatau musti ngomong apa. Menikah itu, buat gw aneh. Ya pasti ada senengnya, ada ujiannya. Gw bukan tipe yang akan mengagung - agungkan keenakan menikah saja. Bukan, gw tipe yang realistis dan sering obyektif (walaupun pada banyak hal subyektif juga).
Kalo kata Ria Jamin, menikah itu membuka kesempatan beribadah makin banyak dan mudah. Itu sih yang bikin gw bersyukur. Pamit ke suami beli kerupuk depan gang aja, udah dapat pahala. Kedip - kedipin mata ke suami aja, kalo suami jadi hepi dan ridho, dapat pahala juga, kalo dia ga hepi paling mata lo dicolok. Senyum sambil ngomong dengan gayah mantjahh aja, kalo suami hepi, jadi pahala, suami gw sih senewen liat gw jadi kayak cacing dicubit gitu.
Kalo punya suami yang memahami dasar - dasar agama, jadi ada yang mengendalikan keliaran kita sebagai perempuan. Jadi punya partner untuk mewujudkan mimpi, atau mendampingi dia mewujudkan visi misi hidup berkeluarga, and it’s really nice. Banyaklah senengnya.
Makanya bodoh sih kita yang udah menikah terus gak meniatkan semua yang dilakukan dalam rumah tangga itu dalam rangka ibadah.
Susahnya, ya berat, jangan dikira. Itu kenapa, kalo niat menikahnya ga jelas, kayak gw ini, jadi gampang sambat (ngeluh), karena tekadnya kurang bulat (ga digoreng dadakan sih).
Balik lagi ke Idin. Secara global gw cerita susah - susahnya sih, ini secara global, bukan permasalahan rumah tangga. Misalnya, waktu masih single rasanya bebas mau ambil jalan yang mana aja. Atau ngeluh kalo dapat suami yang perjalanan ke rumahnya lebih susah daripada ke Zimbabwe. Sampe dia bilang, “kok Max (panggilan gw) mendemotivasi Idin sihhh?”
Karena gw tahu Idin belum punya calon suami tapi sudah didesak keluarga untuk menikah. Itu juga yang gw lakukan ke Nina, sahabat gw yang udah pingin punya pasangan tapi belum juga punya calon. Atau ke Zunanik, dia sampai bilang, “Kak, kok kamu jadi setan sih?”
Gw menghindari memberi nasihat klise, ‘mungkin lo belum siap,’ atau ‘mungkin lo banyak maksiat,’. Aduh Buuuk, yang kayak gini bikin hati orang pedih dan ngerasa dirinya rendah. Kita kan bukan ustadz yang berhak ngomong gitu. Gw udah nikah apakah berarti udah siap? Ga juga keleeeees. Temen gw, salihah masya Allah, aktivis di jalan Allah, pinter, pinter jaga kesehatan, dan ibu-able, belum nikah jugaaaaaa. Sesimple, belum rejeki aja, Allah pasti sedang siapin hikmah.
Sebenarnya ya bukan demotivasi, hanya mencoba memberikan sudut pandang realistis. Karena sudut pandang utopis tentang pernikahan sudah banyak diberikan oleh orang lain. Yang nikah itu enak lohhh, nikah itu ibadah lohhh, dan sederetan kenikmatan lain yang menurut gw kadang terlalu naif walaupun itu betul, tapi cara penyampaiannya itu loh. Apakah dengan menikah, lo sudah jadi orang yang lebih baik? Apakah dengan menikah lo udah pasti akan lebih bahagia dan imannya bertambah tebal? Ga juga kan, balik lagi ke niat.
Gw ga bicara tentang yang gamau menikah ya, gw berbicara tentang yang ingin menikah tapi takdirnya belum ada. Gw mencoba menghibur, bahwa jadi single juga bisa hepi kok, walaupun yang menikah juga bisa hepi. Menikah itu lebih baik, tentu. Ya tapi kalo calonnya belum ada terus mau apa Buuuuuk?
Yang menikah mudah mendapat jalan ibadah. Yang single butuh tenaga lebih besar untuk mencari jalan ibadah, sering sampai menangis mengiba karena perjuangannya berat (walaupun pada banyak pasangan, pernikahan jauh lebih berat). Belum lagi harus puasa untuk melindungi diri dari zina. Tapi bukannya Allah ga pernah sia - siakan usaha kita? Barangkali usaha para jomblo fisabilillah mencari jalan pahala itu sudah diitung pahala sama Allah karena niat dan upayanya. Bisa jadi kita yang menikah malah minim pahala karena tidak meniatkan semuanya untuk ibadah.
Menikah itu perintah agama, pasti banyak baiknya. Tapi kalau nasib belum mempertemukan dengan jodohnya, apa mau dikata? Pasti Allah sudah siapin hikmahnya.
Menulis itu seperti berbicara pada diri sendiri, menggambarkan pikiran yang tidak bisa terucap, dan tentunya sarana mencari teman yang sejalan.
@shafiranoorlatifah
Pujian orang lain terhadap kita sebenarnya sekali lagi adalah bukti betapa Allah selalu menjaga aib aib kita.
Abu Bakar berdoa saat dipuji orang lain: “Ya Allah jadikan aku lebih baik dari sangkaan mereka dan ampuni aku dari apa-apa yang tidak mereka ketahui”
#tentangpernikahan: Mempersiapkan Diri
Suatu hari, aku pernah begitu bersedih mengapa hari-hariku tak kunjung membaik dan tak sesuai dengan harapanku. Penyesuaian ini begitu lama rasanya.
Aku baru saja lulus, setelah hampir 6 tahun jauh dari rumah (walaupun tidak berbeda pulau, tapi tetap jauh kan?) yang menghabiskan waktu hanya untuk kuliah-koas-organisasi-dan menghibur diri. Aku begitu akrab dengan segala hal yang instan dan anti ribet, tapi mie instant tidak termasuk di dalamnya. Dalam artian, aku tidak pernah mengurus pekerjaan rumah yang begitu ribet, seperti belanja ke pasar, memasak, dan kegiatan membersihkan rumah lainnya, karena.. ya aku tidak tinggal di rumah. Aku senang membereskan kamar kos, hanya sebatas merapikan dan menyusunnya, menyapu, mengepel, tidak termasuk membersihkan kamar mandi karena sudah ada pengurus yang membersihkannya. Makan tinggal delivery atau keluar kos dan mencari bapak batagor ataupun sate. Bukan berarti aku tidak bisa membersihkan kamar mandi atau memasak, tetapi aku tidak terbiasa. Dan rupanya itu menjadi sebuah masalah baru.
Kemudian setelah merasa telah lama kuliah dan mengeluarkan tenaga serta biaya yang banyak, ketika harus mengikuti suami di domisili kerjanya, aku menganggur alias tidak punya pekerjaan dari ‘hasil kuliahku’ selama ini. Dan rupanya hal itu membuat pikiran bahwa rasanya sia-sia dan tidak berguna. Usaha sana-sini, cari informasi, melihat teman yang sudah berprofesi, semua kolega menjawab “sabar, pasti ada tempat nanti.”
Nanti. Nanti itu kapan, batinku.
Karena mas bekerja dari pagi-sore, membuat aku sering merasa kesepian. Ditambah aku yang lebih senang berada di rumah daripada di luar rumah, bila tidak ada kegiatan. Sejak dulu, aku memang jarang sekali pergi sendiri. Teman-temanku yang akrab pasti tahu kalau aku paling anti diajak ke mall hanya sekedar jalan tidak ada tujuannya dan nonton ke bioskop. Tetangga juga tidak ada yang seumuran. Dan rata-rata pun bekerja.
Suatu saat pernah datang arisan, kemudian ditanya umur, dan dijawab “wah masih muda sekali.”
Pernah juga main ke rumah tetangga, tapi ternyata bahan obrolannya setelah kehabisan bahan, jadi malah membahas tetangga yang lain.
Mungkin memang benar, bila wanita keluar rumah itu setan langsung siap mengikuti. Itulah mengapa memang sebaik-baiknya wanita adalah yang di dalam rumahnya.
—-
Perasaan sepi dan sendirian, tidak ada kegiatan, bingung harus gi mana, rupanya bukanlah hal yang ku takutkan sendirian. Mba @ajinurafifah beberapa kali di instagram juga pernah membahas ini, beberapa teman yang telah menikah pun menceritakan hal yang sama. Mungkin ini yang dinamakan jet lag.
Dulu kupikir ini adalah hal yang mudah, namun ternyata menjalaninya tak semudah itu. Suatu kali ketika benar-benar down dan posisinya juga lagi sensitif, akhirnya pertahanan itu pun pecah.
Mas bilang, “Siapa bilang kamu ngga berguna? Nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, masak itu juga karir, karir rumah tangga dan itu ibadah. Kamu sangat berguna.”
Semenjak menikah, memang semua pekerjaan rumah aku selesaikan sendiri. Mencuci awalnya pakai tangan, ternyata lama-lama capek juga, akhirnya ibuk menyarankan untuk beli mesin cuci front loading saja. Aku pun belajar belanja ke pasar, awalnya sangat kaku dan kagok. Mencoba sedikit pakai bahasa jawa, ternyata pun yang jual malah pakai bahasa Indonesia. Kadang salah menyebutkan nama bahan yang ingin kubeli. Sungguh ini perlu keahlian, yang sering kusesali kenapa jarang ikut ibuk belanja ke pasar atau setiap kali belanja ke pasar aku hanya terfokus buat beli pukis.
Bisa itu bukan berarti terbiasa dan sanggup melakukannya.
Aku juga pernah mendengar, temanku yang sudah menikah dan punya ART. Tak terima hanya 1, bahkan lebih. Ditambah sopir. Ya nggapapa, suaminya memang mampu. Dia bisa juga seperti aku tapi tak terbiasa, dengan adanya pembantu, dia menjadi cukup terbantu, walaupun juga ada saja ceritanya tentang ARTnya yang tak telaten, sulit diajari, masakannya tak cocok, sampai tiba-tiba minta resign.
Sampai aku sadar bahwa untuk menjadi besar, kita membutuhkan proses bertumbuh. Begitu juga dalam pernikahan, untuk siap mendampingi suami yang hebat, kita pun perlu menjadi istri yang hebat. Harus bisa berpikir bagaimana caranya makan ketika pak sayur tidak lewat, atau harus menghitung-hitung kelengkapan rumah apa saja yang butuh dibeli, daj juga harus mempersiapkan bahan-bahan bulanan. Terkadang, itu pun tak dirasa mudah oleh sebagian orang.
Beberapa tips yang mungkin berguna buat teman-teman yang belum menikah:
1. Gunakan uang dengan bijak, biasakan menghemat.
Kamu ngga akan pernah tau akan mendapat pasangan yang lebih, cukup, atau kurang nantinya. Setidaknya, kamu sudah siap bila harus menghadapi itu, dan rela mengeluarkan uang tabunganmu kalau kurang, dan tidak menjadi boros serta bermewah-mewahan kalau memang lebih. Tapi, kita semua berharap dan berusaha ingin memberikan yang terbaik buat pasangan kan?
2. Sekali-kali cobalah memasak, dimulai dari belanja ke pasar hingga ke supermarket.
Supaya tau nama-nama bahan, nama lainnya, penggantinya bila tidak ada, dan juga harganya. Mana yang ada di pasar dan tidak, harganya murah mana antara pasar dan supermarket, lebih nyaman belanja di mana. Buat para calon suami juga gitu, biar pada ngga curiga kenapa uang bulanan cepat sekali habisnya. Karena kebutuhan rumah tangga itu terlihat sedikit padahal ya cukup banyak. Dan ini benar perlu keterampilan untuk merencanakan pembeliannya, supaya tidak boros juga.
3. Biasakan dengan lingkungan rumah dan tetangga. Jangan terus-terusan pergi ke mall.
Kalau masih kos, ya paling tidak akrab dengan penjaga kos, atau tetangga kos yang mungkin umurnya terpaut lebih tua. Ternyata menjalin komunikasi dengan yang lebih tua, yang mana kita baru kenal, dan hidup bersama 24 jam ngga mudah loh. Kurangin hobi pergi naik taksi online ke Mall atau jalan-jalan tanpa tujuan, biar betah di rumah dan ngga jadi hobi keluyuran sendiri.
4. Sebagai calon suami dan kepala keluarga, wajib mempersiapkan lingkungan yang baik untuk keluarga.
Sangat lebih baik telah mempersiapkan tempat tinggal yang layak dan hunian yang nyaman untuk keluarga, bila berencana tidak tinggal bersama ayah dan ibu. Mulailah survey tidak hanya satu tempat, bagaimana lokasinya, tetangganya, banjir atau tidak, rumahnya bocor atau tidak, cahayanya cukup atau tidak, paling penting adalah nyaman atau tidak. Menyiapkannya sudah bersih walaupun isinya belum lengkap pun sangat menyenangkan. Pikirkan juga bagaimana akan mengisinya.
5. Sebagai calon istri dan ibu, sangat perlu sebelum menikah untuk menanyakan masalah tempat tinggal, keuangan, dan rencana hidup.
Inilah mengapa kita perlu mencari yang sekufu, termasuk dalam masalah prinsip harta. Kita harus realistis, hidup memang butuh uang. Berapapun uangnya, ya pasti cukup, tapi kebutuhan pun akan semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Apalagi ketika sudah hamil dan memiliki anak. Uang bisa dicari dan akan datang, pertanyaannya apakah pasangan mau untuk berusaha seperti itu, atau hanya berprinsip menunggu rezeki datang tanpa dicari? Apakah siap bila diajak hidup sulit, dalam artian kalau selama ini ada ART yang membantu setrika misalnya, tetapi ternyata penghasilan tidak cukup untuk memenuhi itu, atau ketika biasa mencuci menggunakan mesin cuci tapi ternyata harus mencuci dengan tangan karena belum ada rezeki untuk membelinya, apakah sanggup, beda yah hanya mencuci cucian 1 orang dan 2 orang, termasuk mencuci selimut dan seprai kalau tidak ada biaya laundry juga. Kapan akan mempunyai rumah sendiri, apakah seumur hidup mau terus mengontrak atau tinggal bersama orang tua. Jangan sampai prinsip kecil seperti ini menjadi sumber masalah nantinya, terlihat sepele, tetapi bila sudah berumah tangga segala hal yang sepele itu bisa menjadi besar, dan uang sering menjadi masalahnya. Sementara, masalah ini sangat bisa dihindari sejak sebelum menikah, melihat apakah pasangan memang mampu atau tidak, dan bagaimana ia bisa menyelesaikan masalah ini. Juga masalah kendaraan, kalau terbiasa naik mobil sendiri dan tiba-tiba tidak ada mobil, pasti akan jadi bulan-bulanan juga.
Dan sebenarnya, semua hal di atas sudah sangat dijelaskan dalam Islam, sehingga mengapa sangat penting memahami agama sebelum menikah. Termasuk memahami hikmah mengapa laki-laki wajib shalat di masjid dan mengapa perempuan lebih mulia di rumah. Karena telah dijelaskan pula dalam Islam bagaimana cara memuliakan suami atau istri, bagaimana menjadi suami atau istri yang qana'ah, cara manajemen keuangan islami, dan sebagai macamnya. Tak semua memang paham agama dan sanggup menerapkannya.
Mas juga pernah bilang,
“Aku ngga khawatir kalau kamu ngga masak atau ngga nyapu, aku khawatir kalau kamu menunda shalatmu dan tidak tepat waktu.”
Saat itu aku yakin, aku tidak salah pilih.
—-
Sementara buat yang sudah menikah dan merasakan sepi, lebih baik tidak terlalu aktif di instagram dan mantengin story terus supaya berhenti membandingkan kehidupan orang lain ya bu ibu. Solusinya adalah mute akun-akun yang suka pamer kehidupan duniawi, move on follow akun-akun yang mengingatkan akhirat dan dunia parenting aja hahaha. Cari kegiatan di luar rumah minimal seminggu sekali. Sosialisasi akan membantu menyembuhkan perasaan tidak berguna. Kalau di rumah, lakukan hal-hal yang bermanfaat dan membuat hati senang tanpa perlu membicarakan orang lain atau menebar kebencian.
Terus kalau pengen dapat kerja sesuai profesi yang deket rumah, udah nyari ngga dapet-dapet, coba kalau pagi baca surah Al-Waqi'ah dan malam setelah isya/sebelum tidur baca Al-Mulk. Dengerin muratalnya juga gapapa deh biar biasa. Semoga tiba-tiba dapat tawaran kerjaan yah atau ada rezeki yang datang, tiba-tiba ada notif grup yang ngasih kabar kerjaan atau kegiatan positif, aamiin. Membiasakan hal ini ketika sebelum menikah juga akan sangat membantu ketika telah menikah nanti loh, karena dapat membantu membuka pintu rezeki dari Allah.
—-
Semoga dalam tulisan ini ada kebaikan yang dapat diambil. Kita semua berproses dan belajar. Melakukan salah itu tidak apa-apa, yang terpenting adalah mau mendengarkan dan belajar kembali. Start to love yourself no matter what!
@shafiranoorlatifah | 25 Maret 2019
Yang masih belajar dan terus berbenah.

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Saya bahagia ketika berbincang perihal karakter (rasanya sungguh menenangkan diri sendiri). Saya sering bilang sama diri sendiri kalau lagi ngerasa lelah banget “gpp sayang, kamu gpp, semua baik baik aja, meskipun kamu terlihat aneh dan atau sulit di mengerti”.
Saya yang kalau udah lelah banget akan memilih mundur, memilih pergi, memilih menutup diri :’) bisa bisanya saya mengambil keputusan yang aneh ini. Saya ngga suka dicari, ngga suka dikenal :’) tapi saya suka ketika saya bisa berbincang dari hati ke hati, salah satunya dengan menulis. Tapi lagi lagi saya ngga suka di kenal! ini sering bikin lelah.
Saya ngga suka perihal penerimaan! ini juga melelahkan sekali. Membuat saya seringkali merasa tidak pantas, minder dan mau bersembunyi aja rasanya :’) hehe.. saya yang sulit hidup dengan banyak orang, tidak tertarik mengetahui banyak hal bila itu hanya akan menyakiti, dan saya yang sulit sekali memberikan kepercayaan. Maka, bila saya mengijinkan engkau tau banyak tentangku! percayalah, engkau istimewa untukku. Dan Menulis adalah salah satu caraku bertahan. Disaat berulang kali aku hampir kalah dan menyerah. Menulis begitu melapangkan hatiku. Bersembunyi disana tanpa takut aku akan dihakimi karena tulisanku. Bersembunyi disana tanpa khawatir orang akan mengetahui bahwa itu tulisanku.
Si Introvert yang sangat menghargai sebuah ketulusan, sangat sangat menghargai. Bahkan disaat ketulusan itu sendiri mulai memudar, aku ingin selalu mengupayakannya. Aku akan memilih menepi, menghilang dan tidak ingin dicari sampai aku membaik. Sampai aku mengerti aku harus bagaimana. Aku bahagia bisa berjalan sendirian, menikmati langit sore, menyapa mentari yang mulai meredup. Ada bahagiaku disana, pada rasa sepi meski aku berada di antara keramaian. Aku mendapat banyak energi kala aku bisa berdialog dengan diriku sendiri. Berdamai dengan rasa syukur, dengan menerima atas bagaimana manis pahitnya hidupku. Ada bahagia pada sepi yang begitu menenangkan hati.
Mungkin yang sudah mengikuti Menyapa Mentari semenjak 3 atau 4 tahun yang lalu sedikit paham ya. Bila tiba2 akun sosial media Menyapa Mentari hilang. Bila tiba2 nomor whatsapp tidak lagi bisa dihubungi :’) ini bukan keanehan. tapi memang demikianlah. Ada waktu dimana hanya ingin menepi untuk kembali menguatkan diri sendiri. Dan akhir2 ini keputusan yang saya ambil adalah meninggalkan following saya, Sedih dan berat pada awalnya. Tapi nyatanya lambat laun justru aku merasa begitu tenang. Khawatir itu berkurang. Dan lagi lagi, aku mengerti bahwa tidak tahu banyak hal adalah salah satu ketenangan hati. nyatanya ini adalah cara melindungi diri sendiri dan menjaga hati :’)
Si Introvert yang benar2 menghargai keberadaan seseorang yang di anggapnya berharga. Yang akan sangat2menjaga. Si introvert yang tidak butuh lingkaran yang luas. Melainkan lingkaran kecil namun tidak pernah pergi, namun hadir dengan ketulusan seutuhnya. Maka membiarkan diri untuk tetap bersembunyi adalah ketenangan. Biarlah setiap karya kita tetap menyapa, tapi tidak hidup kita. Biarlah mereka menyapa nama kita, tapi tidak hidup kita. Biarlah aku tetap bersembunyi namun engkau tetap merasakan kehadiranku melalui tulisanku. Tanpa perlu tahu aku seperti apa, rumahku dimana, bekerja apa, dan bagaimana hidupku lainnya. Terimakasih untuk tidak menghakimi keputusanku kali ini, Tetaplah bersinar. 🌻
Always ❤️
Litaskunuu Ilaihaa
Jika memang kamu mencari kemantapan, tak perlu berlebihan mencari tahu perihal gadis atau pria yang kamu kagumi. Melalui perantara, biodata, cerita-cerita orang terdekatnya cukup menjadi bahanmu bermusyawarah dengan Yang Maha Mengarahkan.
Jika memang kamu mencari ketenangan, jangan memilih hanya karena kelebihan yang tampak darinya. Sebab ia manusia, seiring kamu menua bersamanya, waktu akan menyingkap segala perbedaan dan bagaimana kamu menerima. Maka sebuah hikmah berkata, “A great relationship doesn’t happen because of the love you had in the beginning, but how well you continue building love until the end.”
Jika memang kamu mengharap kebahagiaan, ketahuilah berkeluarga itu berjuang. Lelah, sulit, khawatir, sedih, haru, bangga, bahagia, akan terus menjadi pupuk-pupuk kisah kita. Bagaimana sikap dan kebijakanlah yang kemudian mengantar bahtera ibadah rumah tangga tidak terbatas pada kebahagiaan, tapi juga keridhoan dan keberkahan.
Jika memang kamu mencari kasih sayang, ingatlah kita tercipta dari yang lainnya. Bagaimana kamu terhadapnya, seperti itu pula ia bercermin dan memancarkan kasih sayangnya. Bagaimana kamu menjaga perasaannya, seperti itu juga ia menjaga dirinya untukmu.
Teori di atas mudah saja tertulis tapi realita selalu mengajarkan kita berlapang dada. Lapang ketika diuji dengan sesuatu yang kita yakini, lapang ketika mau belajar serta memperbaiki meski kita sudah mengetahui.
Selamat bertumbuh di pekarangan rumah tangga. “Because we don’t just get to grow old together. We get to grow up together. And that’s the real adventure.”
Teorinya begitu.
Daily Reminder.
Pernah denger kalimat, “Perempuan tuh harus bisa masak bla bla bla?”
Bukan memasak dan berdandan yang mesti dipelajari perempuan sedari dini sehingga membuatnya merasa jadi perempuan. Karena kalau mau, beberapa kali mantengin akun youtube masak atau beauty vlogger dandan, jamin perempuan bisa cepet ngikutin tinggal dilatih rutin supaya mahir. Udah naluri soalnya hehe.
Yang dia butuhkan sedari dini untuk menjadikannya merasa jadi perempuan ialah menata pikirannya. Mengisinya dengan ilmu, memperindahnya dengan kebijaksanaan dan kesabaran. Memperhalusnya dengan kemahirannya mengontrol emosi dan perasaan. Sehingga ketika perannya berganti menjadi istri dan ibu, ia mampu melembut dan mendidik meski dalam amarah, ia mampu menyayangi meski kecewa, ia mampu bersabar disaat sempit, ia mampu menguatkan disaat khawatir. Ia mampu berpikir logis ketika diajak mencari jalan keluar.
Jadi, tak perlu memaksa perempuan untuk pandai masak dan dandan saat masih gadis. Karena kelak, jika ia sayang padamu ia akan lakukan itu dengan rela dan usaha yang begitu keras hingga kau suka masakannya dan mengatakan dirinya cantik. Perempuan itu senang dipuji cantik oleh suaminya, jadi ga perlu disuruh pun dia akan diam diam dandan. Percaya deh :)
Alizeti, Jakarta

Anya is live and ready to show you everything. Watch her strip, dance, and perform exclusive shows just for you. Interact in real-time and make your fantasies come true.
Free to watch • No registration required • HD streaming
Tau ga
Apa yang paling menarik dari seseorang
Adalah ketika mereka menjadi dirinya sendiri
Bercerita antusias ttg apa yang dia senangi, passionnya dengan mata membelalak
Ataupun
Kata2 menenangkan setelah ia menang dari egonya
Tentang kesukaannya
Tentang buku favoritnya
Tentang dunia yg sudah dia jelajahi
Tentang orang yg dia sukai
Ketika ia berhasil mengikuti kata hatinya
Ketika banyak orang diluar sana yang bising berkata
Ini yang benar
Itu yang benar
Ini yang hebat
Itu yang hebat
Tapi ia tetap mencoba berjuang dalam setiap langkahnya
Katanya, tak apa jika lelahnya berjuang di jalan yang baik.
Sesekali ia memastikan bahwa tidak ada yg dikorbankan. Keluarganya, pasangan yang mendukung, teman, dan kalau pun ada yg bertentangan, mencoba mencari jalan tengah atau memang ada satu atau dua ego yang harus diredam dahulu.
Seringkali selalu berdoa kepada Tuhan semoga selalu menunjukan jalan yang terbaik untuk dirinya dan orang yg disekitarnya. Berdoa agar setiap kegiatannya diberkahi dan Semoga selalu mendapat ridho dariNya
Bahkan tentang bagaimana sehariannya belajar penuh dengan rasa syukur
Meskipun banyak terbentur sana sini, apapun dan bagaimana pun caranya ia akan belajar untuk terus ‘berpegangan’
Bahkan bukan hanya tentang kebahagian
Sorot mata ketulusan ketika ia menceritakan tentang lelahnya
Namun ia hanya sekedar menumpahkan
Supaya tenang
Supaya tidak ada beban pikiran
Supaya tidak menyalahkan dirinya
Bahwa yang berlalu jadikan pelajaran
Auranya beda!
“Pada hari dinampakkan segala rahasia”
—
QS At-Thariq: 9
Sungguh beruntung orang yang rahasia-rahasianya pun adalah kebaikan
(via udashidiq)