Nostalgia dikit, ada banyak hal yang ketika kita masih kecil, ternyata memberi pelajaran tentang arti hidup. adapun satu diantara pelajaran itu adalah "menyiapkan jawaban", saya menyebutnya seperti itu. :).
apa maksudnya ? saya coba jelaskan ya.
setiap anak kecil pasti pernah meminta sesuatu pada ibu atau ayahnya entah itu uang, permainan, dan sebagainya. Dan tentu respon ibu dan ayah tak selalu sama. ada yang langsung memberi, ada yang jawabnya "nanti ya, nak" atau justru sering anak itu mendapatkan jawaban "jangan" atau "tidak", sesekali pun akan ditawarkan "bagaimana kalau yang ini saja".
Lalu apa respon sang anak ?
jika orangtuanya langsung memberi, ia akan sangat senang, jika tak diberi kadang sang anak menerimanya, kadang pula memprotes.
Tapi, ada tapinya, semua anak jika meminta sesuatu akan ditanya "untuk apa ?", "mau dipakai apa ?" kalau sudah seperti itu, maka kemungkinan dikasih atau tidaknya, adalah tergantung jawaban yang disiapkan oleh sang anak. benar tidak ?
kalaulah ia menjawab, untuk membeli buku, ibunya memberi atau tidak ? dan bagaimana kalau ia menjawab, untuk membeli layangan, ibunya memberi atau tidak ? lalu bagaimana kalau sang anak tak mampu menjawab pertanyaan orangtuanya ? tentu kemungkinan besar, tak akan diberi.
Selanjutnya setelah diberi uang, sang anak pun akan ditanya lagi, mana buku yang kamu beli, mana layangan yg kamu beli ?
Nah, berangkat dari penjelasan singkat itu.
Anak yang tadinya kecil, bergantung pada orangtuanya, ternyata kini sudah dewasa, dan bukan lagi meminta uang, bukan pula permainan, namun minta nikah. sekarang pertanyaan saya, jika sang anak meminta untuk menikah pada orangtuanya, apa yang akan ditanyakan padanya ? Sebatas "emangnya sudah siap ?," tentu tidak.
Sekarang kita bahas bagaimana kalau meminta jodoh pada Allah, bukankah sebenarnya terkabulnya keinginan kita adalah tergantung jawaban kita juga ? dalam do'a kamu berkata "Ya Allah karuniakan padaku jodoh yang shalih/ shalihah" tapi lupa, menjawab, kenapa Allah harus memberimu jodoh ? kalau kamu masih bingung jawabnya, atau jawabannya masih keliru, atau bahkan nggak punya jawaban sama sekali. wajar dong kalau jawaban Allah, "nanti, ya kalau kamu sudah siap".
Mengapa saya luangkan waktu untuk menuliskan hal ini, sebab saya tahu, diluar sana, banyak sekali anak muda terutama para wanita, para akhwat yang sering bertanya "kok jodoh saya belum datang ya, teman teman udah pada nikah" atau "kapan sih Allah karuniakan jodoh, umur udah semakin tua". sudah terjawab bukan ? Kalau jawaban kalian hanya sekedar "karena sudah berumur" atau "karena teman lain udah pada nikah". pantaskah permintaan jodoh itu dikabulkan ? Jawab sendiri ya.. :)
Sebenarnya tulisan ini masih akan sangat panjang jika ingin dijabarkan lagi, tapi mungkin kalian akan menjadi malas membacanya.
Sebagai catatan, dalam tulisan ini saya tidak bermaksud untuk menyamakan sifat Allah dengan orangtua sang anak, sebab Allah mencintai hambanya, melebihi cinta dari seorang ibu kepada anaknya. maksud saya jauh dari itu bahwa kepada orangtua saja kita ditanya, apalagi oleh Allah.
Tetap jaga do'a do'anya, persiapkan pula jawaban terbaiknya, dan siapkan pertanggungjawabannya. siap ?
Semangat mempersiapkan bekal untuk akhirat ya, kawan-kawan. jangan ada lagi pacar-pacaran. jika memang ridho Allah yang kau cari.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hasyr : 18).
Jauh dari segala hal itu perkara jodoh adalah ketetapan Allah, diantara Rezeki dari Allah, namun Allah pun menetapkan sesuatu yang lebih pasti dari jodoh, itulah kematian. fokus kita adalah mempersiapkan bekal menghadapi kematian, sebab rezeki kita ini akan lengkap, saat kematian tiba. Tak akan tertukar rezeki seorang hamba. termasuk jodoh. :)
Ditulis sembari menanti shalat isya. diterbitkan menanti shalat subuh.
Abi Dzar Al Gifari, Sulawesi Tenggara.