Letters : Goodbye, January
Kubuka lembar pertama di 2023 dengan perasaan cemas. Hingar bingar keseruan perayaan tahun baru terasa hampa bagiku. Telingaku serasa tuli. Bunyi terompet dan petasan lebih terasa seperti deru angin, sementara malam itu pikiranku berputar tidak karuan.
Bapak masuk rumah sakit karena serangan jantung. Meskipun Bapak bukan ayahku, tapi tetap aku khawatir. Bagaimana keadaannya? Siapa yang menunggunya?
Mas Pandu. Bagaimana keadaan Mas Pandu?
Lebih buruk, tidak ada yang bisa kulakukan untuk membantu Mas Pandu kala itu, atau pun untuk Bapak. Aturan jam malam memaksaku untuk tetap di rumah. Dan lagi, memangnya aku siapa? Aku sudah tidak bersama dengan Mas Pandu lagi.
Yang bisa kulakukan hanya bertanya perkembangan kabar Bapak. Beberapa hari berikutnya sesekali aku datang menjenguk Bapak di rumah sakit, menemani Bapak barang sebentar. Bertukar cerita, berdiskusi. Bapak adalah seorang yang cerdas. Obrolan dengan Bapak tentang beragam hal mengalir lancar begitu saja.
Tidak hanya sekali itu Bapak masuk rumah sakit. Dalam sebulan, mungkin dua-tiga kali Bapak dibawa ke sana dan dirawat inap. Sekali waktu, aku berkesempatan menemani Bapak hingga malam, bergantian dengan Ambar dan Ibu Sri yang sudah terlihat lelah. Aku menemani Bapak sambil menunggu Mas Pandu datang.
Malam itu, seperti biasa, Bapak membicarakan soal Mas Pandu.
Malam itu, Bapak meminta maaf padaku tentang Mas Pandu.
Malam itu, Bapak berpesan padaku, "Bapak titip Egar, ya."
Malam itu pula, tanpa Bapak tahu, aku dipatahkan oleh Mas Pandu sendiri.
Tapi semua kekhawatiranku pada kondisi Bapak bukan semata karena Mas Pandu. Semua yang kulakukan untuk Bapak, untuk Mama, adalah karena aku menghormati mereka seperti orang tuaku sendiri. Bapak dan Mama memperlakukanku dengan sangat baik, makanya aku merasa nyaman dengan mereka.
Jadi, akan kuhabiskan Januariku dengan bersikap seperti biasanya pada Bapak dan Mama. Tidak masalah seperti apa sikap Mas Pandu padaku, aku hanya ingin menunjukkan rasa hormat dan terima kasihku pada Bapak dan Mama.
Tapi ternyata, Allah berkehendak lain.
28 Januari yang lalu, Bapak kembali pada-Nya.
Dan aku ada di sana untuk menyaksikan kepulangan Bapak.
Bapak bukanlah ayahku, tapi aku ikut hancur melihatnya berpulang.
"Bapak udah gak sakit lagi. Bapak udah enak di sana."
Itu semua hanya kalimat penghiburan semata. Hati yang hancur tetap hancur.
Rasanya aku baru sebentar mengenal Bapak, meskipun sejak kecil sebenarnya aku sudah kenal Bapak. Waktu kecil dulu, aku tidak banyak mengobrol dengan Bapak. Sekarang, rasanya aku ingin meminta lebih banyak waktu untuk bisa bertukar cerita dengan Bapak. Aku ingin mendengarkan lebih banyak pikiran Bapak, aku ingin lebih banyak berdiskusi dengan Bapak.
Tapi garis takdir tidak bisa dilawan. Kita hanya manusia, punya kuasa apa?
Bapak orang yang baik. Allah menyayangi Bapak dan tidak mau melihatnya terus kesakitan, maka Ia memanggil Bapak untuk segera pulang ke tempat ternyaman. Begitu lebih baik untuk Bapak.
Di akhir Januari ini, aku hanya ingin menyampaikan selamat jalan untuk Bapak. Bapak sudah tidak kesakitan lagi, kan? Bapak baik-baik saja di sana, kan? Bapak ketemu Dwi nggak? Dwi itu adikku, Pak. Kalo Dwi bandel, jewer aja kupingnya. Hehehe
Bapak titip Mas Pandu ke aku, insya Allah akan aku jalanin sebisaku ya. Aku gak masalah buat jagain Mas Pandu. Dengan senang hati, tanpa diminta juga pasti aku jagain. Tapi aku gak bisa maksa Mas Pandu kalau Mas gamau dijagain sama aku. Bapak pasti ngerti, kan?
Tapi aku akan tetap kayak biasanya kok ke Mama, ke adik-adik dan kakak-kakaknya Mas Pandu. Terutama ke Ambar yang udah kayak adikku sendiri. Aku akan tetap ada buat mereka kapanpun mereka butuh aku.
Dan untuk kamu, Mas Pandu,
sejauh ini aku belum lihat kamu nangis. Bahkan Mama juga bilang kamu gak nangis. Mungkin udah, tidak di depanku, tidak di depan semua orang. Atau mungkin kamu menahannya?
Yah, Bapak pernah bilang sama aku, Mas, "Egar itu anak Bapak yang paling kuat. Cocok dia sama namanya. Pandu Tegar."
Memang benar, Mas, aku pun mengakui bahwa kamu sangat kuat, sangat tegar. Tapi menahan luka seperti itu juga tidak baik, Mas Pandu. Kalau kamu ingin menangis, maka menangislah. Hatimu tidak harus menyimpan luka sendirian, matamu tidak harus menampung seluruh air mata yang seharusnya bisa dikeluarkan.
Aku mengerti, beban di pundakmu begitu besar. Aku mengerti kamu takut jika adik-adikmu melihatmu menangis, maka mereka juga akan merasa rapuh. Percayalah, aku tahu rasanya. Itu juga yang kurasakan sebagai anak pertama. Itu juga yang membuatku tidak bisa sembarangan menangis di rumah meskipun hatiku terpecah-belah.
Mas, kalau kamu merasa tidak bisa menangis di depan Mama dan adik-adikmu, ada aku. Kalau kamu mau, kamu bisa menangis di depanku sepuasmu, selepasmu. Tidak perlu ditahan. Luapkan saja semuanya padaku.
And, that was my January.
Really, January. What's wrong with you?
Dulu Theo, sekarang Bapak Pram. Kamu mengambil terlalu banyak orang yang berharga bagiku.
But it's not that bad, I guess, as I survive in the end. Hehe.
How's yours?