Sampai Menemukan Caranya Sendiri
Dulu, pernah berada di posisi yang kalau ada komentar negatif, overthinking seharian, bahkan nangis, sedih berkepanjangan. Mikir, saya salah apa sampai dia bisa bilang atau memperlakukan saya seperti itu?
Pernah suatu ketika, salah satu kenalan, sebut saja Berry. Saya merasa Berry memiliki kebiasaan untuk memberikan suggestions atau advise atau saran apapun itu tanpa diminta. Seperti saat Berry bertanya mengenai keberangkatan saya ke Malaysia untuk melakukan studi lanjut di tahun 2021. Dia memang beberapa kali bertanya. Sampai suatu waktu, tercetus kalimat kurang lebih seperti ini:
"Sebenernya kamu beneran dapat beasiswa kah?"
Perasaan saya campur aduk membalas pesan itu. Cukup tendensius. Saya sendiri juga masih dalam tahap memproses semua hal yang terjadi. Mendapat pertanyaan seperti itu, tentu saya sedih dan marah. Menangis sejadinya, sesedihnya. Membuat suami saya bingung (dan akhirnya saya ceritakan juga pada suami saya). Sayapun memberikan bukti pengunduran diri dan pengajuan penundaan kuliah saya haha. Seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, keberangkatan saya ditunda karena Shafiyyah pada saat itu masih di bawah 2 tahun dan membutuhkan ASI eksklusif.
Beberapa waktu setelahnya, Berry membalas cerita WhatsApp saya sekaligus memberikan saran (iya masih berlanjut):
"Coba deh, kamu tanya sama Apple. Dia juga akan berangkat ke Kota X, bawa anak seumuran anakmu dan suaminya juga ikut,"
Mendengar sarannya, saya hanya menjawab singkat, "Ok. Terimakasih," or something like that. Saya lupa. Saran tersebut sekilas terdengar biasa saja. Namun, saya merasa janggal. Merasa dibandingkan. Meskipun rasa sedih saya tidak sebesar sebelumnya. (Atau pertanyaan dan pernyataan-nya jauh sebelum ini). Saya mengira, saya telah terbiasa mendengar komentar dan pertanyaan semacam itu dari Berry. Nyatanya, saya tidak.
Tapi, itu dulu. Seiring berjalannya waktu, saya jadi lebih memahami, how to act, how to react, how to reply, when to reply, should i reply or not? Saya jadi lebih bisa membangun rasa yang lebih kuat.
***
Jadi kalau ditanya, sekarang gimana? Jauuuh lebih chill and don't even care terlebih jika saya merasa yang dia katakan tidak benar.
Contohnya ketika secara tiba-tiba dia membalas cerita Instagram saya. Ketika itu, saya mengeluhkan sekaligus memberikan peringatan terkait petugas salah satu BUMN (yang sering mengecek ke rumah), yang di daerah saya, beliau masuk tanpa mengetuk atau izin terlebih dahulu. Pasalnya, saat itu saya telah menjawab salam beliau namun sebelum saya sempat masuk memakai jilbab, beliau telah membuka gerbang terlebih dahulu. Saya marah. Dan, yeah, apalagi yang diharapkan. Petugas itu memasuki pekarangan rumah tanpa izin dan kemungkinan beliau melihat aurat (rambut) saya sepersekian detik. Terlebih ini sudah ketiga kalinya, dan sebelumnya sudah kami ingatkan.
In that condition, Berry meminta saya untuk tetap husnudzhan pada petugas tersebut. Terjadilah perdebatan panjang di antara kami. Intinya saya menjelaskan bahwa saya sudah berhusnudzhan, karna ini sudah yang ketiga maka dari itu saya bereaksi lebih kuat dari sebelumnya. Dia menjawab dengan beberapa kalimat yang mungkin bisa membuat saya menangis jika belum terbiasa menghadapinya pun terlontar seperti:
"Udah sedekah belum?"; "Mungkin hatimu lagi kotor,"'; "Kita nggak sefrekuensi,"; "Aku nggak cocok temenan sama kamu," dan banyak lainnya yang belum bisa saya sebutkan.
Setelah terbiasa dan tau bagaimana cara menanggapinya, tidak ada lagi air mata yang jatuh. Menanggapi dengan sekedarnya. Jika memang di posisi yang benar, ya sudah jelaskan. Tapi kalau sudah lelah menjelaskan, yaudah, iya-in aja. Jangan masukin hati (hal yang sebelumnya tidak bisa saya lakukan :')
Berry taught me a new lesson in my life. Peace comes when you stop letting others’ unfair words disturb your calm.
















