Ragu.
Hati-hati pada keragu-raguan yang menghampiri menjelang pernikahan. Tak jarang orang menanyakan kembali keputusan diri untuk meminang atau dipinang padahal hitungan hari sebelum akad dilangsungkan.
Menjelang akad, raguku hampir habis. Habis di tahun-tahun awal perkenalan. Ketika sibuk-sibuknya memberi tanda besar akan penolakan dengan alasan ketidakyakinan atas seseorang. Setahun uring-uringan. Kebingungan dengan diri sendiri yang entah apa maunya. Dikekang ketakukan-ketakutan dan banyak kemungkinan yang memaksa untuk tidak kemana-mana.
Aku diingatkan oleh seorang kawan, bahwa setan tak pernah senang jika ada dua insan yang bersatu dalam pernikahan. Sehingga kerjanya dua kali lebih giat untuk menggoda manusia agar menggagalkan rencana ibadah besarnya. Waktu itu aku tak percaya. Marah tiap kali ada yang menasihati untuk membuka diri. Berkeras hati kalau menikah itu harusnya dengan orang yang kita mau. Menuntut bahagia di dunia dan akhirat dengan dasar sok tahu. Merasa tidak cukup dengan tawaran yang diberi. Tanpa sadar ada yang berusaha menguasai hati.
Sampai akhirnya benar-benar berserah diri pada yang Maha Kuasa yang menguasai hati dan pikiran para hamba.
Setelah khitbah dilakukan, pikiran tak sempat kesana kemari, tinggal doa dan memasrahkan diri bahwa jalan yang kami lalui memang ketetapan Illahi. Terjadi ataupun tidak, semua ketetapanNya. Bermodal bismillah, memohon untuk menjauhkan dari perasaan yang bukan semestinya. Meminta agar hati dinetralkan saja, mengingat sebelumnya benci menguasai diri, tapi juga tak minta cinta langsung mengguyur dari kepala hingga kaki. Biar ia tumbuh sendiri.
Dua bulan berselang, suamiku tiba-tiba menanyakan apa yang ku rasa menjelang pernikahan dulu. Masihkah ada keraguan yang menggenang sesaat sebelum akad dilangsungkan? Aku jawab seadanya, “Tidak.” kataku, kemudian mengembalikan pertanyaan pada dirinya.
Tahu apa jawabannya? “Iya.” Beliau sempat merasa ragu yang entah dari mana datangnya.
Syukurlah keragu-raguan itu bisa kami lawan. Ada benarnya untuk tidak lepas doa ataupun merasa aman menjelang pernikahan. Justru ujian kadang datang di tengah kesibukan menyusun hari besar.
Tentu, setan punya tugas lain sekarang. Tapi kami punya Allah yang selalu kami mintai perlindungan.
Kalian yang sedang dilanda keraguan menjelang pernikahan, yang tetiba merasa telah mengambil keputusan yang salah, ataupun tiba-tiba bertemu tokoh ketiga, coba tanya pada diri, jangan-jangan itu hanya nafsu belaka hasil permainan syaitan yang tak ada habisnya. Jangan pernah lengah oleu tipu dayanya. Jangan pernah putus untuk selalu berdoa meminta perlindungan dan petunjukNya.
Mangat ya gaes. Dah gitu aja dulu ya. Hmm…kurang penutupnya ya? Dakpapa lah ya. Hmm…
Yang tengah menggelayut kini: ragu.


















