Bismillah. Lembar demi lembar yang aku baca dari buku Ibunda Para Ulama kali ini benar-benar sarat hikmah dan pelajaran. Masya Allah. Kendati aku sudah pernah membacanya, tapi untuk melewatkan satu huruf saja rasanya aku tak mau. Berikut beberapa hal yang membuat aku terkesan kembali.
Pertama, kisah seorang ibu shalihah yang mendidik anak-anaknya dengan adab dan akhlak Islami. Ketika anak-anaknya bertengkar, maka beliau ajak berdialog anaknya dengan mengingatkan bahwa perbuatan yang buruk akan menjadikannya teman syaithan. Dan hanya istighfar kepada Allah yang dapat menghapusnya. Masya Allah. Betapa mulia akhlak ibu tersebut.
Kedua, pada bab 1 ini aku membaca kisah empat orang ibunda hebat yang atas izin Allah dari didikan mereka terlahir para ulama yang cemerlang. Mereka adalah Ummu Sulaim (ibunda Anas bin Malik), Asma binti Abu Bakar (ibunda Urwah bin Zubair), Ummu Salamah (ibu susu dari Hasan Al Bashry) dan ibunda dari Hasan bin Shalih bin Huyay.
Adapun Ummu Sulaim, beliau telah memberikan Anas bin Malik untuk menjadi pembantu Rasulullah. Yang mana keputusan tersebut telah mengantarkan Anas bin Malik pada kebaikan yang banyak.
Asma binti Abu Bakar, sebagaimana yang kita tahu, bahwa hidup beliau penuh dengan nilai pengorbanan. Dari rahim beliau terlahir pejuang Islam, Abdullah bin Zubair. Dan tentu saja adiknya, Urwah bin Zubair, tokoh tabi’in yang takwa dan luas ilmunya.
Salah satu kisah menarik dari Urwah bin Zubair adalah ketika beliau dengan tabahnya menerima dua cobaan sekaligus. Yakni kematian putra beliau yang berbarengan dengan beliau harus kehilangan salah satu kakinya.
Berikutnya adalah Ummu Salamah. Yang dengan izin Allah, Hasan Al Bashry kecil sempat mendapatkan ASI dari beliau. Dampaknya masya Allah luar biasa. Hasan Al Bashry pun tumbuh menjadi sosok tabi’in yang cerdas. Masya Allah.
Mengenai sumber ASI dan makanan ini rupanya amat berpengaruh pada perkembangan seorang anak. Rasulullah telah menegaskan dari kisah seseorang yang tidak dikabulkan doanya yang salah satu penyebabnya ia dibesarkan dari harta haram. Karenanya penting untuk kita memastikan makanan yang kita makan tak hanya sehat dan bergizi, tapi juga didapatkan dengan cara yang halal.
Terakhir adalah ibunda dari Hasan bin Shalih bin Huyay. Sungguh yang tergambar dari keluarga mereka adalah potret kekompakan dalam beramal shalih. Bahkan budaknya saja telah terbiasa dengan aktivitas qiyamul lail di setiap sepertiga malam. Masya Allah.
Ketiga, beberapa quote menarik bertabur hikmah dari para ulama turut melengkapi lembar demi lembar bacaanku kali ini. Berikut diantaranya.
“Tersebutlah dalam hikmah: ‘Hendaknya ucapanmu selalu manis, dan wajahmu selalu berseri; niscaya kau akan lebih dicintai orang daripada seorang dermawan.’ “
Urwah bin Zubair, hlm. 71.
“…. setiap kebaikan akan menghantarkan pelakunya pada saudaranya, sebagaimana maksiat juga menghantarkan pelakunya pada saudaranya.”
Urwah bin Zubair, hlm. 72.
“Berbuat baik akan menimbulkan kekuatan badan, cahaya dalam hati dan mencerahkan penglihatan. Sedang berbuat jelek membikin loyo badan, menggelapkan hati dan membutakan penglihatan.”
Hasan bin Shalih, hlm. 102.
.
📚 Catatan dari buku Ibunda Para Ulama karya Dr. Sufyan bin Fuad Baswedan, MA. (hlm. 17 - 105).
.














