Bismillaah... Setahun berlalu sejak saya resmi menjadi seorang mahasiswi Pendidikan Dokter FK UGM. Saya seringkali mendapat pertanyaan, "Kenapa nggak coba masuk FK UI aja? Kan keren. Lagian kan jadi banyak channel, banyak dokter-dokter yang terkenal lagi." "Kenapa harus FK UGM?" Apakah karena UI jelek? Tidak, tentu saja tidak. Slogan yellow jacket yang menggema dimana-mana saya kira cukup menjadi gambaran. Pun FK UI yang selalu memiliki passing grade tertinggi dalam tiap ujian masuk perguruan tinggi saya rasa tidak perlu lagi dipertanyakan kualitasnya. Hanya saja, ada satu hal yang saya cari, dan saya tidak mendapatkannya di UI. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas ada pada video tersebut. Video tersebut menampilkan kakak tingkat saya, mahasiswa Pendidikan Dokter FK UGM, yang sedang menjadi imam sholat. Video itulah yang akhirnya memantapkan hati saya untuk memilih FK UGM sebagai tempat menempa diri. Mungkin alasan saya terdengar (lebih tepatnya 'terbaca') klise. Saya ingin menjadi dokter yang paham tentang agama saya sendiri, hingga ke akar-akarnya, sampai saya dapat beragama dengan sebenar-benarnya. Dan dari penelusuran saya tentang lingkungan dan orang-orang yang ada dalam lingkungan tersebut, FK UGM lah yang lingkungannya paling mendukung untuk mencapai tujuan tersebut. Tak sedikit kakak tingkat, teman seangkatan ataupun dosen-dosen saya yang hafidz qur'an. Banyak dari dosen saya, yang memiliki gelar doktor dalam bidang kedokteran sekaligus jago bahasa arab dan menguasai kaidah-kaidah ushul fiqh. Tak jarang, saat saya mengikuti kajian-kajian tentang aqidah dan fiqh, sesuatu yang 'menakutkan' karena selalu berkaitan dengan dalil dan kitab-kitab ulama, dosen-dosen saya lah yang ternyata menjadi pematerinya. Mereka seakan-akan ingin membantah stereotipe bahwa orang yang berkecimpung dalam bidang kedokteran tak punya lagi waktu untuk memperdalam agama. Urusan akademis saja sudah susah, apalagi mendalami agama. Mereka dapat membuktikan, bahwa dengan kesibukan mereka menjadi seorang mahasiswa kedokteran dan tenaga kesehatan, mereka masih mampu meluangkan waktu untuk mempelajari agama yang haq ini. Dan hebatnya, mereka mampu menjadi orang-orang terbaik di kedua bidang tersebut. Contoh yang paling dekat, dua kakak tingkat saya, wanita, asisten praktikum, santri ma'had 'ilmi, penghafal qur'an, mampu membaca kitab berbahasa arab, baru saja lulus CUMLAUDE dan tepat waktu (3,5 tahun). Hal yang bahkan untuk mahasiswa 'normal', dengan kesibukan 'normal', hanya berkutat di akademis saja, merupakan hal yang sulit. Dikelilingi oleh orang-orang seperti itu mau tak mau akan memicu saya untuk terus belajar. Pun, sumber-sumber ilmunya menjadi lebih dekat. Bagaimana mungkin kita bisa belajar padahal di sekitar kita tak ada orang yang bisa mengajari kita? Pada intinya, FK UGM adalah tempat dimana dunia akademis dan pemahaman mendalam tentang agama mampu tumbuh subur, beriringan, dan saling menguatkan. Tidak bertentangan apalagi saling mematikan. "Kenapa harus menjadi dokter yang mendalami agama? Perlukah menjadi dokter yang seperti itu?" Di dunia ini, sudah banyak dokter yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Tapi berapa banyak dokter yang mampu menjawab dengan yakin dan mampu menyampaikan dalilnya secara tepat, ketika pasien bertanya bagaimana caranya sholat saat menderita sakit tertentu? Berapa banyak dokter yang mampu menjawab saat ditanya bagaimana hukumnya menggunakan vaksin yang menggunakan katalisator dari babi? Bagaimana hukumnya menggunakan nebulizer dan inhaler saat berpuasa? Apakah membatalkan puasa? Bagaimana seorang dokter harus bersikap saat pasien meminta dilakukan euthanasia (suntik mati)? Apakah infus, suntikan dan donor darah membatalkan puasa? Apakah orang yang koma selama 3 hari perlu mengganti sholatnya? Berapa banyak dokter yang mampu mengajari pasiennya untuk melakukan sunnah-sunnah nabi yg disarankan untuk orang sakit sebagai pelengkap pengobatannya? Dan beribu pertanyaan lainnya yang berkaitan dengan agama-medis. Saya yakin jawabannya adalah sedikit. Lalu apa yang membedakan dokter yang muslim dengan yang tidak? Asal tahu kalau sakit ini, diberi obat ini, terapinya ini. Asal suntik, yang penting suntik, padahal pasiennya puasa dan suntikannya termasuk jenis yang membatalkan puasa. Yang penting kasih obat, sudah ikhtiar, tapi doa dan amalan-amalan yang membantu mendatangkan kesembuhan tak disarankan untuk dilakukan. Dunia medis dan pengobatan menjadi hal yang terpisah dengan agama. Seakan-akan usaha dengan melakukan pengobatan sudah cukup, lupa kalau yang mampu mendatangkan kesembuhan adalah Rabb semesta. Itulah alasannya mengapa saya memilih untuk berusaha menjadi dokter yang 'sedikit' dan tak menjadi seperti dokter kebanyakan. UI atau UGM, lagi-lagi itu adalah soal pilihan. Saya memiliki tujuan dan saya memilih mana yang paling mungkin membantu saya mencapai tujuan tersebut. Tujuan saya dan Anda mungkin berbeda, karena itu pilihan kita pun tak bisa disamaratakan, bukan? Semoga tulisan saya kali ini mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terkadang hanya saya jawab dengan senyuman... Yogyakarta, 25 Juni 2014 Pukul 20.59 Ditulis dengan penuh kesyukuran atas kesempatan menuntut ilmu di kota Serambi Madinah.