Cerita Ke-12
Malam ini entah kenapa terasa semakin berat, pikiran yang mengganggu semakin mengganggu yang kembali bahkan aku tidak tau ini tentang apa. Beberapa pertanyaan apa yang sedang aku cari, apakah sekarang aku merasa kehilangan, atau sedari awal memang aku tidak pernah menganggap ada. Sekarang baru tau apa yang sebenarnya aku cintai telah tidak ada di dunia. Tidak adakah yang bisa memberitahuku saat ini apakah yang sedang aku rasakan saat ini, menunggu jawaban yang aku inginkan iya tentu saja, semua orang memang ingin selalau mendapatkan jawaban yang dia inginkan entah tentang hal apapun.
Tapi ini tentang rasa kehilangan yang sudah kurasakan sejak ibu meninggal dunia karena sakit. iya sakit yang bahkan aku sendiri sangat menyesali hal itu, ketika seharusnya semua bisa diatasi jika saja aku peduli tentang hal itu.
"kawan penyesalan memang tidak akan pernah berujung ketika kau hanya memikirkan hal tersebut, entah bagian mana lagi yang kau korbankan hanya untuk memikirkan penyesalan tersebut, bisa saja itu akan menghancurkanmu tanpa kau sadari bukan ingin menggurui tapi layakah kau menjadi manusia?"
Sejak saat itu bahkan aku tidak pernah menangis menitikan sedikit air mata, atau mungkin ini terlalu dalam hingga tidak bisa di ekspresikan dengan air mata.
Ma sekarang mas bibi kangan mama.
"Kawan segera berbalik arah banyak masa depan yang menantimu selesaikan perlahan dan dengan penuh kesenangan seperti biasanya, ajak disekitarmu dengan tertawa jangan kau tampakan kesedihanmu jadilah seorang yang membuat ibumu bangga, kau tidak tau seberapa bangga beliau ketika kau bisa menerobos jurang setan itu, kemiskinan dan pengetahuan , kau berhasil menembus hal tersebut, tidakkah kau bangga berada di posisi yang tak mengaharuskanmu bekerja dengan otot?"
Benar bahkan Samudera akan terjadi Badai besar,
tidak akan ku tunggu hingga reda, akan kunikmati badai besar ini, hingga aku menemukan cahaya baru ma . . .










