Belajar Ikhlas.
Ikhlas. Satu kata yang banyak dipelajari orang semua orang, namun sulit menerapkannya. Banyak orang yang berkata ia ikhlas namun sebenarnya mereka tidak benar-benar ikhlas. Saya tau bagaimana belajar menjadi orang yang ikhlas. Bagaimana cara untuk merelakan yang tidak seharusnya kita miliki. Melepaskan apa yang seharusnya tidak kita genggam. Di umur yang ke 23 tahun ini, saya banyak belajar. Belajar dari kehidupan yang sedikit demi sedikit membangun karakter yang akan saya pegang ke depannya. Saya banyak belajar sabar dan ikhlas untuk sesuatu yang belum tentu saya miliki. Belajar bagaimana rasanya mencari rezeki pekerjaan yang sampai saat ini belum saya sentuh. Belajar ikhlas tidak mendapatkan pekerjaan yang saya pikir saya mampu mendapatkannya. Belajar sabar dan tetap menunggu sampai saat itu saya akan mendapatkan rezeki yang akan menjadi hak saya ke depannya. Bagi sebagian orang hal tersebut akan mengganggu. Awalnya saya berpikir tidak, hal ini tidak akan mengganggu saya, namun setelah saya merasakan hampir satu tahun mengulik tempat pekerjaan dan hampir keseluruhannya gagal, akhirnya saya setuju dengan sebagian pendapat orang. Saya kurang dekat dengan sang maha pemberi rezeki. Doa-doa saya belum dikabulkan. Saya mencoba menghibur diri saya sendiri. Mencoba menyemangati agar kelak apabila datang test berikutnya, saya harus siap dan melewati test tersebut dengan percaya diri. Ternyata Tuhan belum mengabulkan doa-doa saya. Tuhan ingin saya lebih dekat lagi dengannya. Saya berpikir hal ini harus dijadikan cerminan ke depannya, saya tidak boleh meremehkan hal-hal seperti ini. Walaupun pada akhirnya saya masih terombang-ambing seperti ini, saya harus tetap sabar dan tabah. Apapun itu hasilnya, apapun itu keputusannya apabila memang bukan hak saya, saya harus ikhlas. Allah tidak akan pernah meninggalkan umatnya. Allah akan terus bersama umat-umatnya. Saya yakin, Allah punya rencana yang lebih baik untuk saya. Allah menyayangi saya. Allah percaya dengan saya seperti ini akan membuat saya berpikir lebih dewasa dan tidak akan menyia-nyiakan keadaan ke depannya.
Di tengah keadaan saya seperti ini, saya membutuhkan seseorang yang menyemangati saya. Namun saya tahu, tidak mungkin semuanya bisa berada di sisi saya setiap saat. Sekali lagi saya harus merelakan dan mengikhlaskan perasaan tersebut. Saya banyak belajar dari nilai kehidupan yang saya rasakan saat ini. Saya dituntut untuk lebih mandiri, lebih dewasa, lebih fleksibel dan tegar. Saat ini, saya hanya menggantungkan segala pengharapan dan rasa lelah ini kepada Allah Subhanahuwataβala. Saya yakin, hanya Ia yang mampu mengerti perasaan saya. Menggantung perasaan saya kepada manusia tidak akan menghasilkan apa-apa, yang ada hanya perasaan sakit.
Saya menulis ini semata-mata untuk bahan renungan ke depannya. Saya menulis untuk melampiaskan unek-unek yang saya rasakan selama ini. Kalau hal ini bisa membuat saya lebih lega, saya bersyukur. Semoga hal ini tidak terjadi di kehidupan kalian. Semoga hal ini bisa jadi bahan pelajaran. Banyak bersyukur tentunya. Banyak orang diluar sana yang merasakan hal yang sama seperti yang saya rasakan. Dan bagi kalian yang sudah memiliki rezeki pekerjaan, Alhamdulillah.. Bersyukurlah kalian diberi rezeki dengan cepat. Semoga Allah selalu memberi rahmat serta hidayahnya kepada kita semua. Aamiin...












