Petani kopi kita, petani kopi nusantara, yang menyuapi kita, terpaksa membubuhkan air mata, dipaksa mengkhianati cita rasa dengan tangis dalam setiap dulang yang mengaliri darah kita. Mereka diekspolitasi dengan membiarkan tak terdidik. Kesejahteraan Petani hanya bisik kelu dalam dengung alam mimpi, dan berhenti di sana. Kami, dengan kerendahan hati, meminjam ilmu pengetahuan, insyaf, menyadari bahwa "kebalauan sensitif terhadap kondisi mula". Petani adalah kondisi mula itu, sekaligus--yang dengan manis pernah kita ingkari--mereka merupakan benteng terakhir kemandirian pangan bangsa. Keberaksaraan mereka adalah prasyarat, keniscayaan. Kami, bersama petani kopi nusantara dan siapa saja yang bernalar sehat, bergumul bersama dalam cita-cita akan hidup yang berkelanjutan, memperjuangkan Martabat. - Yogyakarta, 20 Mei 2015 https://www.instagram.com/p/B0cmPI6FWHx/?igshid=98swm6ionm8s

















