2 Jam Keresahan Ingin Menikah
Kemarin, tepatnya Senin 2 April 2018, Saya pulang ngantor tepat waktu, jam 17.03 WITA, perjalanan pulang ke rumah sangat melelahkan, berkat kemeriahan bising kendaraan dan keleluasaan pengguna kendaraan bermotor yang tak sabaran hingga melawan arus dari arah yang berlawanan, membikin perasaan saya letih sambil ingin bernyanyi, "kuingin marah~, melampiaskan~, dan teriak di telinga mereka satu persatu, "dasar benih merica kalean-kalean ini". Mengumpat dengan kekata kasar rasanya sia-sia juga, jadilah tanggungan yang memedihkan itu menyusup di hati Saya yang masih polos ini.
Saya tak akan merincikan kendaraan apa saja yang Saya lalui ketika berada di jalan pulang, sidang jamaah pembaca tak usah repot untuk menerka-nerka, Saya jamin itu adalah informasi nirfaedah yang teramat sangat tulul.
Setibanya di rumah, motor Saya "off"-kan demi menjaga lingkungan agar tetap ramah, sekaligus membantu kampanye Go-green oleh NGO-NGO internasional yang sedari dulu tetap setia mengumandangkan misi mulia ini (serah lu dah ngomong apa). Daun pintu yang tidak terkunci paripurna membuat otot tangan Saya tidak perlu bekerja extra untuk membukanya, lumayan untuk nyimpan cadangan hari esok, fiuhh~.
Di dalam rumah, adik Saya terlihat berpesta dengan melahap masakan yang ia buat sendiri, menunya terdiri dari ikan kakap merah yang dicampur kunyit, ditambah dengan air, jadilah kuah berwarna kuning renyah sensasi Pallumara (jenis makanan khas Makassar), dibalur dengan bawang goreng khas dari kota Palu, topping lauknya ia buatkan dari jagung yang telah dikoyak, dicampuri tepung terigu, sedikit potongan daun bawang, dijadikan adonan, dengan sentuhan akhir pada wajan yang berhiaskan minyak panas sekira 250ml.
Tentu saja pesta sepi ini tak Saya tunda barang semenit. #Crunchy
Jam 21.15, Saya dichat oleh seorang sahabat perempuan, ia salah seorang yang sedang asyik-masyuknya menunaikan ibadah kuliah disalah satu institut ternama di kota Bandung. Ia memulai dengan obrolan seperti ini,
"mau tahu kabarnya sampeyan di pulau seberang", balasku.
Sontak ia memberikan balasan yang tidak Saya duga,
"di Makassar-ja ini", terangnya.
Tanpa berfikir lama, dan sedikit rasa curiga, Saya menelpon nya secara tiba-tiba, Saya menanyai nya, mendesaknya dan memaksanya berkata jujur, syalalala~ ini itu, pun kami janjian untuk bertemu di Toko Agung akhirnya.
Saya membawanya untuk bersantap ria disudut jalan yang terbilang tua di kota Makassar, yaitu di jalan Sulawesi yang terkenal dengan Mie kering yang dimasak oleh bara api, dibumbui seuprit kebengisan oleh sang koki, dihidangkan oleh kekakuan sang pelayan, jadilah kemeriahan acara santap mie kering ini patut dirayakan dengan cara yang tidak dimengerti.
Kami bertukar cerita, beradu selisih, berhadap-hadapan, bergosip sambil cekikikan. Ia mulai dengan cerita keresahannya sebagai kaum Hawa yang berusia 20-an menuju matang (Ada bahasa yang lebih proporsionil gak?) untuk beregenerasi seperti Homo Sapiens pada umumnya, ia sedang dipuncak kejenuhan untuk memilih antara menyelesaikan tesis ataukah bersiap dilamar oleh pejantan yang sudah siap secara ideologi dan agama, nafkah juga ding~.
Ia datang ke Kota Makassar untuk melepas penat, dan menghabiskan beberapa hari sebelumnya di pantai yang berlokasi di Bulukumba. Sedarinya itu, dia bercerita bahwa teman sekelas dimasa kuliah sarjananya sebut saja si Fulan, sedang ingin mendekat dan ingin menyatakan rasa suka padanya, namun kampretnya dia tak menyukai si teman lelakinya itu (poor Fulan), sedang disatu sisi ia mantap beradu kasih dengan teman lelakinya dari jenis lain, sebut saja Baging, sialnya si doski sekelas juga dengannya.
Gengs, kalian paham khann?, jangan dibuat rumit. Jadi, kisah ini boleh dikata cinta segitiga tak beraturan, tiga teman sekelas, yaitu Fulan yang menyukai sahabat perempuan saya, namun sahabat Saya tak menyukai si Fulan, sedang Baging dan Sahabat saya saling menyukai,
Jangan protes keanehan tata bahasa Saya, ini buat naskahnya sambil ngetik di smartphone buatan Cina lho. Berat anjasss.
Ia mulai bingung dengan kesendiriannya, kalau boleh dikata, dia ini tipe perempuan jujur, cerdas, namun kadang bersifat konyol dan bikin dongkol, yang terakhir ini lebih sering dia alamatkan ke Saya, ia ingin segera bersuami, ingin dipeluk oleh tipe lelaki alpha dengan ikatan yang telah halal, pun lebih dirincikan, kalau sudah bersuami katanya dia ingin membuat tesis sambil dipeluk suaminya dari belakang, dalam hati Saya ingin mencak-mencak sebab bagaimana bisa tangan dia mengetik kalau si suaminya memeluknya sambil memegang tangannya, eh lo pikir bisa ngetik pake jempol kaki, kan kzl, ih. Anjass emang (lah si Anjas ngongol lagi, sekali lagi lo nongol, kuberi martabak kau nanti).
Saya menyaraninya beberapa alternatif, buat buah pikirnya di hari depan.
1. Kalau memang siap menikah tahun ini, baiknya persiapkan diri kamu dengan ikhtiar, boleh jadi memantaskan diri dengan mempercepat pengerjaan tesis, salah satu jalan ikhtiar (takbir~)
2. Kejenuhan kamu bisa jadi karena tujuan hidupmu belum sempat lagi kamu temukan, pikirmu nikah merupakan jalan satu-satunya untuk bahagia, no it's not, ini bukan kisah fiksi romantis yang penuh dengan fantasi ababil khas Disneyland.
3. Ingat baik kata-kata ini, urusan menikah itu bukan perkara dunia dua mahluk, ini merupakan silaturahim antara dua keluarga besar, kata bang Puthut Ea sikk seperti ini:
"tidak selalu ada hubungan antara pernikahan dengan cinta. Cinta ya cinta. Menikah ya menikah. Hanya orang beruntung jika bisa saling mencintai lalu menikah". *Disadur dari novel Seorang Laki-laki yang Keluar dari Rumah.
Setelah menyantap mie kering, dia memohon untuk dibawa berkeliling kota Makassar di daerah pantai Losari hingga sejam lamanya. Saya memboncenginya menggunakan kuda besi yang sebentar lagi bakal masuk bengkel, sebab olinya sudah lama tak diganti. Saat naik motor Saya merasa letih.
Iya letih, karena selangkangan saya sudah perih mendidih, mennn sejam naik motor, ente pikir gak sakit tuh!