#2 Cek Toko Sebelah - Humor Antara Toko dan Cina
Bercerita tentang Koh Afuk (Kin Wah Chew) pemilik toko sembako yang akan mewariskan tokonya kepada putra bungsu dan kesayangannya yaitu Erwin (Ernest Prakasa). Sementara Yohan (Dion Wiyoko) tidak setuju dengan keputusan ayahnya. Yohan merasa lebih berhak mendapatkan toko tersebut karena dia dan istrinya Ayu (Adinia Wirasti) sering meluangkan waktu untuk merawat sang ayah. Erwin akhirnya bingung memilih toko atau karirnya yang sedang berada di puncak dan kekasihnya Natalie (Gisella Anastasia) yang tidak suka dengan kesedian Erwin untuk mengurus toko.
Sama seperti film yang sebelumnya, Ernest memasukan usur kecinaanya, cina di indonesia dan orde baru. Dalam Ngenest diceritakan bahwa dia dibully karena cina. Dalam film ini Koh Afuk sebagai korban diskrimi tokonya dirusak saat tragedi 98′. Judulnya saja sudah cina banget, kata-kata yang sering terlontar dari koko/cici ketika pembeli keberatan dengan harga yang ditawarkan. “Lu enggak percaya? Cek aja toko sebelah.” Koh Afuk. Pelit/perhitungan saat Koh Afuk memberikan minuman kepada tim penjuri, dan saat aman Koh Afuk mengambil lagi minuman tersebut.
Toko yang menjadi asal cerita juga tidak terlepas dari etnis tionghoa. Meskipun etnis tionghoa adalah etnis minoritas di Indonesia, tapi mereka mengendalikan sekitar 70% perekonomian Indonesia. Ide cerita ini mengingatkan saya vidoe youtube LastDayProduction (yang kebetulan juga menjadi pemain di film ini) edisi imlek, bahwa “Sekolah tinggi ujung-ujungnya disuruh jualan (jaga toko)”. Mungkin ini yang sering dialami etnis tionghoa yang akhirnya harus mewarisi toko orang tua mereka, hingga akhirnya menjadi inspirasi dalam film ini.
Membuat film bukan sesuatu yang murah, mungkin karena itu kenapa di awal film terdapat 2 video sponsor. Biasanya sponsor akan masuk kedalam sebuah film, tapi dalam film ini sponsor berada di luar film. Entah ini terjadi karena perjanjian atau memang Ernest tidak ingin sponsor tersebut berada di filmnya. Tapi setting film ini berada di toko sembako, yang pastinya banyak barang/produk. Alih-alih memasukan sponsor dalam film menjelma sebagai barang dagangan Koh Afuk, Ernest malah membuat produk yang kocak seperti: Tje Plok untuk kulit seputih telur, Boom deterjennya youtuber.
Ernest berhasil menyeimbangkan porsi komedi dan drama dalam film ini. Film ini dipenuhi dengan drama, keputusan yang baik ketika dramanya diimbangi dengan komedi. Bene Dion sebagai konsultasi komedi telah berhasil menyampaikan dan memaksimalkan potensi yang ada. Materi komedi yang digunakapun cukup menarik dan fresh. Komedi verbal seperti “Jancuk”, “heh sek to.” saat Naryo (Yusril Fahriza) membentak Kuncoro (Dodit Mulyanto) serta kecadelan Rohman (Anyun Cadel) dan Komedi dewasa seperti: biji, dada, toket yang dibahas tipis-tipis.
Berbeda dengan film karya komika yang lain, Ernest memasukan unsur-unsur komedi yang lebih dewasa seperti tepung terigu tjap segitiga pengaman (lengkap dengan gambar sempaknya)
Sama seperti Ngenest, entah kenapa ketika adegan drama (nangis atau marah) adegannya terlihat “maksa banget”, seperti dibuat-buat.
Ketika menonton film ini sedikit kecewa dengan peran yang dibawakan gisel. terlihat bahwa gisel kurang “luwes” menjadi Natalie. Tapi karena ini adalah film pertamanya, saya rasa tidak terlalu buruk untuk film pertamanya. Saya rasa Gisel akan lebih ahli di filmnya selanjutnya.
Ernest berhasil memaksimalkan peran-peran pemeran pendukung yang baru main film seperti kaesang, aci resti dan arafah, tapi kenapa peran yang malang melintang di dunia film Adinia Wirasti tidak dimaksimalkan perannya.
Film ini adalah film kedua Ernest Prakasa setelah film sebelumnya yaitu Ngenest (2015). Dari segi gambar, Cek Toko Sebelah tidak jauh beda dengan Ngenest tidak memiliki tampilan sinematik dan grading yang biasa. Dari segi artistik Cek Toko Sebelah lebih menarik dari Ngenest, suasana, pemilihan dan tata letak properti rumah dan toko Koh Afuk, apartemen Erwin, rumah teman Yohan menyelamatkan gambar yang tidak terlalu menarik.
Plot dari awal sampai tengah film ini menarik. Semua tokoh dikenalkan dengan jelas siapa apa peran mereka dalam film bahkan sampai tokoh yang terkecil bahkan figuran seolah memiliki peran yang besar. Tapi sayang dari konflik ke ending film ini semakin tidak menarik. Ketika Erwin melihat hp Anita yang wallpapernya foto Anita bersama anaknya, Erwin berkesimpulan bahwa Anita bukan orang yang suka memakai pakaian sexy. Sebenarnya dari adegan ini sampai ending logika filmnya masuk akal. Tapi adegan ini menjadikan film ini “maksa banget”. Ketika kita mengenal seseorang yang selalu berpakaian sexy, kemudian kita melihat dia berpakaian sopan (meskipun dengan anaknya). Apakah kita bisa menilai bahwa orang tersebut tidak suka berpakaian sexy?
Film ini cukup menghibur, meskipun ada sesuatu yang terasa janggal ada kurang. Ernest Prakasa telah berproses menjadi sutradara yang baik. Cek Toko Sebelah memiliki kualitas yang lebih baik dari film Ernest sebelumnya. Bisa jadi film Ernest yang selanjutnya akan lebih baik dan menarik.